
Meski aku mengatakan pada Bayu jika aku sudah mengurus semua persiapan untuk bercerai, buktinya aku belum menuntaskan masalah itu. Aku masih berpikir untuk melangkahkan kaki ke bangunan gedung pengadilan agama, karena sekali saja melangkahkan kaki kesana tidak ada jalan untuk kembali, tekad ku harus sudah bulat untuk itu.
Sudah satu tahun lamanya, aku sama sekali tidak mendengar kabar dari Bayu. Aku sudah memantapkan hati untuk berpisah. Aku segera mempersiapkan semua persyaratan untuk memasukkan berkas perceraian dan membayar biaya yang harus ku tanggung. Setelah semua berkas masuk, perceraian pun diproses. Aku diberi waktu untuk melakukan persidangan dalam dua bulan mendatang.
"Gimana, kak, sudah beres?" Fahmi bertanya karena dia sudah menyalakan motornya untuk membawa ku kembali ke toko roti.
"Oke, yuk, balik" aku naik dan kami berangkat meninggalkan gedung pengadilan agama.
"Sebelum ke toko, kita makan dulu yuk!" aku hanya mengangguk.
Kami makan ditempat biasa, pesan makan seadanya dan mulai menyantap menu yang dipesan. Sambil duduk sesekali kami saling bertukar cerita. Banyak nasehat yang kuberi untuk Fahmi. Bagaimana membina hubungan rumah tangga, dan jangan sampai melangkahkan kaki ke tempat yang aku tuju tadi. Fahmi hanya mengangguk dan banyak bertanya perihal rumah tanggaku. Aku sebenarnya malas untuk membeberkan hal pribadi, tapi karena melihatnya bertanya dengan antusias, aku menjelaskan sedikit.
"Jadi begitu ya masalahnya?" dia mengangguk mengerti dengan posisiku karena memilih jalan perceraian.
"Iya, jadi, usahakan jangan sampai kesana, cari yang sayang dan mengerti sama kita, susah dan senang bersama, jangan maunya senang saja, terus pas sudah susah, dia meninggalkan kita, ah, jangan sampai lah" ucapku panjang lebar.
__ADS_1
"Insyaallah, kak, harus cari yang baik dan semuanya lah" dia hanya menyengir sambil meminum teh es.
"Terus, untuk selanjutnya bagaimana?" dia bertanya lagi.
"Ya, hidup harus berlanjut, santuy saja lah, jangan banyak berpikir" aku menepuk bahunya.
Kami beranjak dan kembali ke toko. Sesampainya, pekerjaan sudah menunggu. Bos menghampiriku dan bertanya perihal urusan perceraian yang aku ajukan. "Bagaimana tadi, lancar?"
"Lancar, bos, insyaallah dua bulan kedepan persidangan pertama" jawabku mantap.
"Sudah siap lahir dan batin, bos!" jawabku mantap.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, jalani dan jangan mundur!" bos berlalu dan meninggalkan aku yang sudah siap untuk bekerja.
Aku melayani beberapa pelanggan, sangat ramai hari ini. Hingga tidak berpikir lagi tentang kesibukan yang sudah lewat. Aku harus optimis dan menunggu dua bulan lagi dari sekarang.
__ADS_1
Setelah sepi pembeli, aku duduk dan mengambil ponsel dan mulai berkirim pesan kepada teman lama, Risma namanya. Risma yang terkejut dengan keputusan yang aku ambil, langsung menghubungiku dengan cepat. Aku yang sedang malas, menjawab panggilan itu dengan enggan.
"Hm, kenapa nelpon?" jawabku dengan malas.
"Serius kau? jangan bercanda lah, dulu kalian saling cinta kenapa sekarang malah bercerai, trus anak kalian bagaimana?"
"Ya namanya tidak jodoh! aku tidak main-main, untuk apa bercanda dengan masalah itu, kalau masalah anak, aku yang jaga, toh selama ini dia juga tidak pernah kasi nafkah!" jawabku ketus.
"Waduh, tidak seru kalau bicara ini lewat telpon, kapan-kapan pas libur, kita ketemuan yuk!" ajaknya dengan antusias.
"Hari Minggu saja, bagaimana?" aku menentukan jadwal pertemuan.
"Oke, nanti kau ceritakan semua ya!" dia langsung mematikan panggilan sepihak, aku mendengus kesal melihatnya.
Tanpa sengaja, obrolan yang aku bahas tadi didengar oleh Fahmi. Aku membalikkan badan dan sedikit terkejut saat Fahmi berdiri tidak jauh dari tempat aku duduk, seolah-olah dia sedang menguping pembicaraan ku. Aku memandangnya dengan serius.
__ADS_1