
Ponselku berdering, tanpa nama hanya nomor saja. Aku belum menjawab dan berniat ingin mendengar siapa yang menelpon. Hening sekitar lima belas menit, kemudian suara Bayu terdengar.
"Halo, dek"
"Halo, kenapa baru nelpon sekarang?" aku mencoba bersabar.
"Abang minta maaf, Abang benar-benar khilaf"
"Sudah, jangan dibahas, sekarang semua yang abang lakukan itu untuk siapa?" aku masih bernada lemah lembut.
"Abang janji tidak akan mengulangi lagi, anak kita dimana?" Bayu tidak menjawab pertanyaan yang aku berikan.
"Tidak perlu bertanya dimana anak, sekarang aku tanya sekali lagi, abang lakukan itu semua untuk siapa?! aku tidak pernah meminta banyak dan aneh-aneh, tapi apa sekarang, abang malah masuk penjara!" nada bicaraku naik satu oktaf.
Bayu terdiam, dan tidak lama suaranya terdengar lagi. "Jadi, abang tidak dimaafkan? jadi mau adek bagaimana?"
__ADS_1
"Pasti sudah tau apa yang aku mau, tidak perlu banyak bertanya jika soalan yang tadi tidak bisa kau jawab!"
"Ya sudah, kalau adek ingin pisah, urus saja semua" jawabnya dengan nada pasrah.
"Sudah aku urus! dan jangan khawatir dengan anak, aku lebih tau bagaimana cara nya mengurus anak!" panggilan aku putuskan sepihak.
Dadaku bergemuruh, sumpah sakit rasanya. Siapa yang ingin berpisah, tidak ada. Tapi, ini telah terjadi dalam rumah tanggaku. Dia yang khilaf sudah berkali-kali ku maafkan, dan masih saja melakukan hal yang aku sendiri tidak tahu untuk siapa dia melakukan itu semua.
Keputusan ku sudah bulat. Aku mengutarakan semua sama mama, dan mama merespon dengan baik. "Kalau itu sudah jadi keputusan kau, urus saja semua, kalau Amara jangan dikhawatirkan, kau kerja kan bisa tinggal sama mama".
Amara kini sudah mulai bertumbuh dengan baik, aku bekerja keras dan membiayai semua kebutuhannya. Aku tidak pernah mengeluh apalagi stress, pantang bagiku untuk pasrah terhadap hidup. Aku berpikir, selain aku masih banyak ibu-ibu tangguh diluar sana yang mampu menjadi tulang punggung keluarga. Itu yang membuat aku menjadi lebih semangat menjalani hidup.
Hari ini aku bekerja dengan giat dan penuh senyum tentunya. Penjualan di toko juga semakin meningkat dengan banyaknya pelanggan yang membeli. Aku bahagia dengan pekerjaan dan pencapaian ku selama bekerja, memiliki bos dan karyawan yang baik juga membuat hati menjadi tenang dalam bekerja.
"Kak, nanti malam aku antar pulang, ya" tawar Andi dengan gigihnya.
__ADS_1
"Tutup toko saja belum, sudah bahas pulang" aku tersenyum melihat tingkah konyolnya.
"Ya, hanya mengingatkan kakak, nanti tau-tau langsung hilang" dia membuat ekspresi kecewa.
"Tapi, terimakasih, kakak nanti pulang naik angkot saja" aku masih menolak secara halus.
"Ah, kakak tidak seru" dia berjalan sambil mengomel layaknya anak gadis yang tidak diijinkan ibunya keluar malam minggu.
"Jangan marah, ya, haha" aku sedikit berteriak sambil tertawa geli.
Aku melanjutkan pekerjaan, masih ada beberapa roti yang tersisa di etalase. Aku menyusun dan ingin mengambil roti kembali dari dapur. "Gimana, mi, sudah ada yang ok?" aku menepuk pundak Fahmi yang sedang asik dengan pekerjaannya.
"Sudah, kak" dia menyerahkan nampan yang berisi roti.
"Ok, dibawa kedepan, ya, sekalian kakak bungkus juga sebagian" dijawab anggukan oleh Fahmi karena dia masih fokus dengan rotinya.
__ADS_1
Sekilas Fahmi menatapku aneh dengan sedikit senyuman. Masih bisa kulirik sebentar. Aku hanya membalas senyuman aneh meski dia tidak melihat itu.