
Setelah meninggalkan Bayu dalam keadaan emosi yang tinggi, aku langsung menuju kerumah mama. Mama hanya memandangku sekilas dan tidak berkomentar apa-apa melihat perubahan raut wajahku, bisa jadi mama mendengar sedikit pertengkaran kami.
"Besok pagi, aku mau mencari kerja, ma, tadi juga udah telpon abang untuk mengantarkan ku mencari kerja" aku duduk dan memangku Amara.
"Ya, pergilah, Amara jangan di khawatirkan, tapi tadi abang mu nelpon mama, katanya ada toko roti yang membutuhkan karyawati"
"Benarkah? nanti langsung kesana saja, lowongan pekerjaan jangan disia-siakan!" mataku berbinar senang.
Sore hari aku baru kembali kerumah, aku masuk karena pintu tidak dikunci. Bayu tertidur dan aku tidak peduli lagi. Aku memandikan Amara, dan memakaikan bajunya. Tiba-tiba dia terbangun dan menatap kami berdua.
"Apa tidak masak?" tanya Bayu dan aku hanya diam.
"Belanja pakai apa, daun?!" ucapku dengan nada ketus.
"Duit yang kemarin mana? apa dibelanjakan sampai habis?" nadanya naik sedikit lebih tinggi.
"Haha, sembilan ratus ribu mau dibaca? bukannya tidak bersyukur ya, bang, lima ratus ribu saja sudah bayar uang kontrakan rumah, maaf ya, bang, meski kita menumpang disini, semua tidak gratis, aku membayar uang kontrakan rumah ini ke mama. Sisa nya juga mau ditanya, empat ratus ribu sudah belanja kebutuhan rumah dan anak, yang lebih utama beras, tau beras kan, bang?!" aku menjelaskan panjang lebar tentang uang yang dia pikir sangat banyak.
"Dasar boros! kalau tau disini juga bayar, mending tinggal di rumahku saja!" dia bangkit dan pergi mencuci muka.
"Oh jadi pemikiran abang kita menumpang disini, mau tinggal gratis gitu?!" ini lah niat sebenarnya Bayu yang baru terungkap.
"Sudahlah, aku capek berdebat dengan mu! aku pergi!" Bayu pergi dan belum sempat dia mencapai pintu, aku sudah berteriak.
"Besok aku mau cari kerja!" dan bunyi bantingan pintu terdengar. Amara langsung menangis mendengarnya.
Sekarang aku tidak peduli dia mau memberi nafkah atau tidak. Setelah pulang dari bekerja satu bulan lamanya dia kembali menganggur. Setelah punya anak kebutuhan makin banyak, jika saja dia sedikit berpikir tentang keluarga, pasti dia tidak akan egois begini.
Esok hari aku pergi dengan abang, kami langsung menuju toko roti yang membutuhkan karyawati seperti yang abang ku bilang kemarin.
__ADS_1
"Selamat siang, buk" aku bertanya kepada salah satu karyawan yang sedang bekerja.
"Ya, ada apa ya?" ibu itu berhenti dengan kegiatannya dan melihat ke arahku.
"Katanya kemarin toko ini membutuhkan karyawati ya, buk?"
"Oh benar, adek ini mau melamar kerja, begitu?!" tanya ibu itu meyakinkan kembali.
"Iya benar, buk" aku mengangguk.
"Sebentar, saya tanya kepada majikan" ibu itu masuk dan tampak sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya.
Tidak berapa lama, ibu itu kembali bersama dengan seorang pria paruh baya yang sempat aku lihat. "Ini orangnya, pak" ibu itu mengenalkan aku pada si bapak.
"Kamu mau kerja disini, tapi sebagai karyawan yang jaga toko, menjual kan roti yang sudah dikemas kepada pembeli. Gaji ditoko ini dua juta lima ratus ribu, sesuai omset penjualan ya! semakin banyak yang kamu jual, bisa jadi gaji kamu lebih dari itu, bagaimana, apa berminat?!" jelas si bapak tanpa buang waktu.
"Saya setuju, pak!" aku langsung menjabat tangan si bapak dengan tersenyum senang.
"Siap, pak, laksanakan!" aku menjawab dengan semangat.
"Bagaimana, cocok?!" tanya abangku yang penasaran apakah aku diterima atau tidak.
"Alhamdulillah, besok pagi dah mulai bekerja, bang" aku melompat kegirangan.
"Ayo, langsung pulang!" aku langsung berangkat menuju rumah mama.
Sesampainya dirumah mama, terlihat mama sudah berdiri didepan rumah, mungkin sama dengan abangku yang mati penasaran, apakah aku dapat pekerjaan atau tidak.
"Bagaimana, dapat kerja?!" tanya mama dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Alhamdulillah, dapat, ma, besok mulai kerja" aku tersenyum dan sangat senang.
"Oh ya, berapa gajinya, na?" tanya abangku lagi.
"Dua juta lima ratus ribu, ma, bang, masuk jam tujuh dan pulang jam sepuluh malam"
"Hm, masuklah kalau pulang jam segitu, kalau istirahat jam berapa?" tanya abangku lagi.
"Jam dua belas, bang" abangku mengangguk.
"Kan senang saja kalau kamu itu cari kerja, yang penting cari duit sendiri, penuhi kebutuhan anak, anak mau besar nantinya, butuh sekolah, meski belum masuk sekolah tapi setidaknya kamu ajarkan dirumah. Untuk belajar anak di rumah, tentunya harus membeli beberapa peralatan bantu untuk penunjang belajarnya nanti, seperti buku gambar, buku mewarnainya, buku tulis meskipun yang tipis aja, pensil, pensil warna, banyak kebutuhan anak itu" mama mengomel tidak berhenti.
Aku mendengar dan merenung, benar kata mama, tidak selamanya aku menunggu hal yang tidak ada kepastian. Aku harus berjuang sendirian dulu agar anakku tidak bernasib sama seperti ibunya.
"Ingat, jangan pernah berhenti sholat, jaga sholat, minta terus sama Allah SWT, dilapangkan rejeki kita" imbuh mama diakhir kalimatnya.
"Aamiin, ma, doakan juga semoga aku dapat menjual roti dengan omset yang tinggi, kalau omset penjualan tinggi, gaji bisa lebih dari itu, ma" aku mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Mama tersenyum senang, aku tahu mama pasti kepikiran sama aku anaknya juga cucunya. Orang tua mana yang tidak risau kalau anaknya susah. Mama mengambil alih Amara dari gendonganku dan membawa anak itu keruangan keluarga.
"Makasih ya, bang, udah ngantarkan aku mencari kerja" aku menepuk bahu abang yang selalu mensupport apapun yang aku lakukan.
"Iya, na, mama tu betul, ini semua untuk anak kita, tak mungkin menunggu yang tidak pasti, sampai kapan kamu mau mengharap dari pemberian suami, iya kalau bekerja, kalau tidak kerja seperti saat ini, mau dapat duit darimana untuk kebutuhan sikecil?"
"Iya, bang, aku paham dengan itu, makanya sekarang waktunya untuk mencari kerja, cari duit biar anak tidak ikut jejak ibunya" perlahan air mataku menetes mengingat apa yang telah aku lalui dimasa lalu.
"Sudahlah, jangan itu diingat lagi, yang sudah lalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran hidup, anak jangan sampai ikut jejak orang tuanya. Sekarang kamu merawat anak perempuan, jagalah baik-baik, menurut abang, ayahnya mungkin tak akan bisa menjaga anak gadisnya!" sedikit nasehat dari abangku.
"Kenapa abang bilang begitu?" tanyaku dengan heran.
__ADS_1
"Feeling abang aja seperti itu, entahlah jalani saja kehidupan kita, mau sampai dimana nantinya atau mau jadi apa, hadapi dengan lapang dada. Sudah dulu, abang mau pulang ya" abangku pulang setelah berpamitan dengan mama.
Aku masih merenungi perkataan abangku, tapi benar apa yang dikatakan abang, hidup ini harus dijalani dan berlapang dada. Ada seorang anak gadis yang harus aku jaga dan rawat dengan sepenuh hati.