
Bayu menjemputku bekerja lebih awal dari jam pulang. Dia terlihat sedang duduk sambil memainkan ponselnya diatas motor. Aku sesekali melirik kegiatannya tanpa ada niat memanggil, takut kesenangannya terganggu.
Tiba-tiba dari arah berlawanan, dari sisi kiri dan kanan, ada beberapa pria mendekat kearahnya. Mereka ada lima orang, dari sisi kiri dua orang, dari sisi kanan tiga orang. Mereka mendekat dan langsung mengapit seperti takut kehilangan Bayu.
Aku melihat dan menjadi bingung, mereka siapa? "Siapa mereka, Ana?" tanya bos saat toko hendak tutup.
"Aku juga tidak tau, bos" aku masih menyimak interaksi mereka yang masih berbicara kepada Bayu.
"Kalau saya lihat, itu seperti buser!" aku terkejut, tidak mungkin ucapku didalam hati.
"Sebentar, pak, saya mau antar istri saya" tapi usaha itu langsung ditangkis oleh pria yang memakai jaket kulit.
"Ayo, ikut! maaf dek, abang nya kami bawa dulu!" mereka langsung membawa Bayu dan pergi entah kemana.
Wajahku merah padam, antar malu dan sedih. Malu ditonton oleh semua orang yang kebetulan ada disana. Dan sedih mengingat perbuatan yang dilakukannya tanpa setahu ku.
"Bos, aku pulang lebih dulu" aku berjalan dan menghentikan angkot yang lewat. Aku berjalan dengan cepat hingga sampai dirumah dengan nafas yang memburu.
"Assalamualaikum" aku mencari mama.
"Waalaikumsalam, sudah tau? kawan Bayu dibawa buser!" deg, jantungku terasa berhenti.
"Bayu, mana?" tanya mama dan menuntut jawabanku.
__ADS_1
"Tadi pas ditempat kerja aku, ma" jawabku sendu.
"Apalah yang dibuat suamimu itu, na!" mama terduduk lemas.
"Entahlah, ma, tunggu kabar saja" aku menggendong Amara yang hampir mengantuk.
"Masuklah, warga disini sudah ramai saja" mama menyuruhku masuk kedalam dan langsung mengunci pintu.
Aku masih menunggu informasi yang rasanya sangat lama untuk tiba. Aku sudah tidak sabar hingga rasa kantuk menang melawan rasa cemasku. Tepat jam setengah dua belas malam, pintu rumah diketuk, aku terbangun dan mengintip sedikit dari jendela.
"Siapa?" aku melihat penampilan pria yang mengenakan jaket kulit berdiri sambil memegangi sebuah amplop coklat.
"Permisi, buk" aku membuka pintu dan pria itu tersenyum hormat.
"Ada apa, pak?"
"Iya, saya sendiri, pak. Ada apa ya?"
"Begini, buk, saya ditugaskan untuk mengantarkan surat penangkapan saudara Bayu terkait kasus curanmor, ini suratnya" sambil menyerahkan amplop ditangannya.
"Apa yang harus saya lakukan, pak, saya belum mengerti dengan surat ini" aku membolak balik amplop yang berlogo kepolisian.
"Begini, buk, untuk melihat dan mengetahui kondisi saudara Bayu, ibuk harus datang kealamat yang tertera disini" polisi menunjukkan alamat yang bisa kubaca, sangat jauh dari tempat aku tinggal.
__ADS_1
"Maaf, buk, apa ibuk tidak tahu pekerjaan suami ibuk?"
"Setau saya dia bekerja di kota sebagai kuli bangunan, pak, hanya itu yang saya tahu" aku menjawab seadanya.
"Betul-betul tidak tau ya, buk?" polisi itu bertanya kembali untuk memastikan apakah aku berbohong atau tidak.
"Iya, pak, saya memang tidak tahu, kalaupun saya tahu pekerjaannya seperti yang bapak sebutkan tadi, mungkin saya sudah berharta dan menikmati hasilnya, bapak lihat sendiri kan, apa yang saya punya" aku kembali menjelaskan sedetail mungkin.
Tiba-tiba Amara keluar, dan memeluk kakiku. Polisi itu melihat Amara dan kembali bertanya. "Ini anaknya, buk?" aku mengangguk.
"Iya, pak, ini anak saya, dan saya bekerja untuk menghidupinya, jadi dia juga jarang pulang dan memberi nafkah, jadi permintaan bapak untuk melihat kondisinya ke alamat seperti yang tertera, lebih baik saya tidak melihatnya, daripada ongkosnya habis untuk pergi kesana, lebih baik duitnya saya gunakan untuk kebutuhan saya dan anak" aku langsung menyuruh Amara untuk masuk kedalam.
Polisi itu hanya tersenyum, "baiklah, buk, saya hanya menjalankan tugas untuk menyampaikan surat ini" aku mengucapkan terima kasih dan langsung menutup pintu saat polisi sudah pergi.
Aku membuka amplop, dan membaca surat yang aku terima. Miris pikirku, aku selama ini tahu kalau dia bekerja bangunan, tapi apa yang nampak didepan mata adalah kenyataan pahit. Aku tidak merasa terpukul. Mungkin inilah jawaban dari Tuhan atas semua doa-doa yang aku panjatkan, semoga kebenaran terungkap dan langsung kudapatkan jawabannya dengan cepat.
"Ini lah kerja suamimu disana, hebat betul ya!" mama meremas surat yang kuterima tadi malam.
"Iya, ma, polisi itu banyak bertanya, sampai dia mikir aku tahu apa yang dikerjakan Bayu terkait kasus yang ada"
"Terus apa yang kamu jawab?"
"Jawabnya tidak tahu, lagian kalau saya tau, saya sudah ada harta tidak rumah yang kosong begini, aku tunjukkan sama polisi tu kondisi rumah"
__ADS_1
"Dia cuma anggukan kepala melihat kondisi rumah, untuk apa bohong memang itu kenyataannya"
"Tak perlu dilihat! bikin malu keluarga!" aku mengangguk, memang niatku tidak ingin melihatnya. Ganjaran yang pantas diterima oleh pengkhianat hubungan seperti Bayu.