Kisah

Kisah
16


__ADS_3

Ini adalah bulan kedua Bayu bekerja, tak banyak dia menghubungi Aku dan Amara dirumah. Sesekali dia hanya mengirimi pesan, dan hanya saling berbalas sebentar lalu selesai. Aku tidak permasalahkan itu, yang penting kabarnya baik dan sehat.


Tiba-tiba ponselku berdering, aku lihat nama yang tertera dilayar, Bayu. "Halo, bang" aku menjawab panggilan.


"Mungkin besok abang pulang, abang bawa kawan tidak masalahkan?"


"Terus kawan abang itu mau tidur dimana? masa iya dirumah kita?" tanyaku heran, memang ada satu kamar yang kosong tapi itu tempat barang-barang yang tidak punya tempat lagi dirumah.


"Kan ada kamar yang kosong, katanya tidak masalah, sudah abang bilang sama orangnya" sudah kuduga.


"Terserahlah, tapi mau berapa lama dia menginap dirumah kita, kan tidak enak sama tetangga, kita bawa pendatang" aku mengajukan sedikit protes.


"Paling satu minggu kami dirumah, habis itu berangkat lagi, kasian dia tidak pulang kampung, jadi abang bawa kerumah saja"


"Oke, ada lagi? sedang kerja ini" aku masih sedikit sibuk dengan pelanggan yang sedang membeli roti.


"Abang mau bilang itu saja" panggilan langsung ditutup.


Aku kembali menyelipkan benda kecil itu pada tempatnya. Senyum ramah kuberikan kepada pelanggan setia ditoko tempat ku bekerja. Toko semakin ramai, jualan semakin laris. Alhamdulillah.


"Ana, ini gaji kamu bulan ini ya" bos memberikan sebuah amplop bertuliskan namaku disana.


"Terimakasih, bos" aku tersenyum senang dan menerimanya dengan semangat.


"Baiklah, setelah toko ini tutup, besok giliran kamu untuk jaga sore sampai malam ya" perintah bos sambil kubalas dengan anggukan.


Aku pulang dengan senyum merekah, dikiri dan kanan tanganku sudah membawa barang belanjaan yang cukup untuk kebutuhan satu bulan, kebutuhan Amara juga sudah termasuk.


"Assalamualaikum" aku masuk kedalam rumah mama dan melihat Amara sudah berlari kearahku dan aku langsung menggendongnya.


"Waalaikumsalam, coba lihat, bukan main senang dia melihat kamu pulang" mama berdiri dan mengambil barang bawaan ku.

__ADS_1


"Amara tidak nakal, kan? sini cium dulu pipinya yang bau acem" aku menciumnya dengan gemas. Aroma susu terasa di indera penciuman ku.


"Mau kue, mau kue" dia mencari kue yang dia suka didalam kantong belanjaan.


"Iya, ini kue nya, disana tidak ada, nak" aku memberikan kue yang dia suka, aku memang sengaja meletakkan kuenya didalam tas, biar dia sedikit berusaha untuk mencari apa yang dia mau.


Amara tersenyum senang, dia memakannya dengan lahap. Aku meletakkan kebutuhan Amara dirumah mama, biar mama tidak kesulitan mengambil semuanya dirumahku yang tempatnya tepat tidak jauh dari rumah mama.


"Sudah gajian ya?" mama bertanya sambil menyusun perlengkapan Amara.


"Iya, ma, ini ada sedikit untuk mama" aku memberikan beberapa lembar uang ratusan untuk mama.


"Alhamdulillah" mama meletakkan uang itu ke wajah dan mengusapnya hingga ke kepala. Ala-ala orang tua jaman dulu.


"Ma, besok Bayu pulang dan dia bawa kawannya, kasian katanya tuh kawan tidak pulang kampung, makanya diajak kerumah"


"Berapa lama kawannya itu menginap, jangan lama-lama, kan tau sendiri warga disini gimana mulutnya"


"Kalau begitu, Amara tidur disini saja, bukan mau suudzon, jaman sekarang hal buruk bisa terjadi" aku mengangguk.


Hari kepulangan Bayu tiba, dia memang membawa kawan dengan menggunakan motor. Sesampainya dirumah dia langsung mengotak atik motor yang dia bawa pulang.


"Wah, rumah ini sudah jadi bengkel ya" aku menyela dan hanya dilirik oleh Bayu.


"Ini kopinya, bang" aku meletakkan dua cangkir kopi tidak jauh dari tempat mereka bekerja.


"Bukannya motor itu masih bagus, ya? Kenapa diperbaiki lagi, banyak yang dicopot, dan diganti gitu barang-barangnya?" aku merasa heran dengan tingkah mereka.


"Ini tren namanya, kak" kawan Bayu menyela pertanyaan ku.


"Biar apa coba?" aku bingung.

__ADS_1


"Ini namanya dimodifikasi, biar beda dari yang lain bentuknya, kalau tidak paham juga, jangan bertanya lagi" Bayu menjawab dengan ketus.


"Gitu aja sewot, ya sudah, adek kerumah mama ya" aku beranjak dan berjalan meninggalkan mereka yang sedang sibuk dengan aktifitasnya.


Hingga senja menyapa, Bayu menyusul ku dirumah mama. Dia duduk sambil membawa gorengan yang entah kapan dia beli.


"Wih, motornya jadi bagus ya, jadi keren!" aku mendekati motor itu dan menyentuh body nya yang sedikit berubah.


"Besok pergi kerja abang antar, ya!"


"Oke, berangkatnya pagi, jadi jangan bangun siang" aku senang sekaligus semangat.


Pagi ternyata cepat menggantikan sang malam, dan hari ini Bayu memang berniat mengantarku pergi bekerja. "Pegang yang kuat, biar tidak jatuh!" dia langsung menghidupkan motornya.


"Iya, cerewet sekali ah!" wajahku menjadi jutek.


Lima belas menit kami tiba ditoko tempatku bekerja. Bayu melihat sekitar dan aku mencium tangannya. "Toko rotinya besar juga, ya!" aku mengangguk.


"Makin ramai sekarang, makin laris" aku tersenyum dan melambai saat Bayu kembali pulang.


Hampir satu minggu lamanya Bayu masih dirumah bersama kawannya. Aku sedikit risih karena waktu sudah dekat satu minggu, tapi mereka belum juga berkemas. Pagi ini aku memang libur bekerja, dan ini saatnya bertanya mumpung kami berdua masih didalam kamar.


"Bang, kapan kalian berangkat lagi?" aku bertanya dengan pelan takut didengar sama penghuni kamar sebelah.


"Belum ada kabar dari bos disana, kenapa, sudah risih lihat kami disini?" Bayu menjawab tanpa menoleh karena dia masih memejamkan mata.


"Kawan abang itu sudah jadi bahan gosip ditempat kita ini, mereka bertanya kapan pulang ke kota lagi"


"Ah, jangan peduli sama mereka, nanti pas ada waktunya, kami berangkat!" dia membelakangi ku.


"Gitu ya, ya sudah" aku tidak bertanya lagi, aku langsung mandi dan ingin mengajaknya belanja untuk kebutuhan dapur.

__ADS_1


__ADS_2