Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Perdebatan Sengit


__ADS_3

Razka yang sudah tinggal di apartemennya, sengaja kembali ke rumah sepulang kantor hanya untuk menemui ibunya.


“Ka, kenapa nggak bareng Ayah tadi dari kantor kalau ternyata kamu pulang ke rumah?” tanya sang Ayah yang juga baru tiba di garasi rumahnya.


“Razka cuma mau bicara sama ibu,” ucapnya sembari terus melangkahkan kakinya menemui sang ibu.


Setelah mendapati ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan, Razka mulai menanyakan perihal kebohongan ibunya yang tidak mengakui telah menemui Hani dan menjelek-jelekannya. Ia merasa ibunya tak pantas berlaku demikian. Apa yang Hani dan ibunya lakukan bukan lah kriminal, tak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti itu.


“Razka malu sama Hani juga sama teman Razka yang melihat kelakuan ibu di tempat umum seperti itu. Apa kata orang kalau mereka tahu istri Gautama tak memiliki attitude?” protes Razka yang tengah malu ibunya berkelakuan kasar.


“Ada apa sih, Ka? Kenapa marah-marah sama ibumu?” tanya ayah Razka yang mulai turun tangan.


Razka kemudian menceritakan apa yang ibunya lakukan di kafe saat itu. Razka semakin kesal lantaran kekasihnya itu direndahkan dan meminta uangnya dikembalikan. Ia tak terima jika Hani harus mengeluarkan uang yang tak pernah dinikmatinya.


“Tapi mereka memang hanya ingin uang kamu, Ka. Nanti uang yang sudah ditransfer perempuan itu, ibu transfer ke kamu,” sahut ibunya.


"Tak perlu! Asal Ibu tahu, Hani bukan perempuan seperti itu! Razka lebih mengenalnya dari pada ibu yang hanya tahu Hani dari Tasya!" sahut Razka meluapkan amarahnya.


Ayah Razka berusaha menenangkan anaknya yang masih terlihat emosi. Anak lelakinya itu memang mudah marah ketika ada yang menentang keinginannya. Perlahan ia membujuk Razka menurunkan emosi dan nada bicaranya.

__ADS_1


Tak mau membela salah satunya, ayah Razka menengahi perdebatan mereka. “Mungkin maksud ibumu baik, tak ingin kamu dimanfaatkan oleh orang lain. Hanya saja caranya yang salah. Kamu juga Bu, tidak seharusnya mempermalukan gadis itu di tempat umum. Kamu bisa mengajaknya berbicara berdua saja.”


Razka kembali membela Hani bahwa kekasihnya itu tidak seperti apa yang orang tuanya pikirkan. Kalau pun ibu Hani meminta uang pada Razka, itu karena sifat bawaannya yang kurang baik. Tetapi bukan berarti Hani juga bersifat demikian, karena dia dan ibunya memiliki sifat yang jauh berbeda. Hani seorang perempuan yang tulus dan tidak matrealistis.


“Sama dengan Razka dan ibu yang memiliki sifat jauh berbeda. Ibu lebih pantas menjadi ibunya Tasya! Sifat kalian sama! Sama-sama suka memandang rendah orang lain,” ujar Razka sembari meninggalkan rumahnya tanpa pamit.


Ayah dan ibunya saling berpandangan.


“Razka memang begitu ‘kan dari kecil. Aku pikir selama puluhan tahun ini kamu sudah bisa memahaminya seperti ibu kandungnya sendiri. Aku juga heran kenapa kamu tidak juga berubah. Semakin ke sini perbedaan sifatmu dengan Razka semakin mencolok.”


###


Rudi terkejut. Ia tak menyangka hasil dari apa yang mereka perbuat telah sejauh ini. “Tapi ‘kan kamu tahu aku sudah berkeluarga. Aku juga selalu pakai pengaman, tidak mungkin rasanya kalau sampai jadi.”


Clara menatap pria itu dengan tajam “Lalu, kamu pikir, aku hamil dengan orang lain? Jelas-jelas aku hanya bermain dengan kamu, Mas. Sampai aku benar-benar mencintai kamu karena pelakuan manis kamu selama ini. Apa kamu lupa sudah berapa kali kita bermain?”


“Bukan hanya kamu yang merugi, aku juga!” lanjut Clara sedikit mengeraskan suaranya.


Rudi meminta Clara untuk berbicara pelan agar tak terdengar karyawan yang lain. Ia berjanji akan memberikan solusi untuk masalah ini. Bagaimana pun, apa yang dikatakan Clara benar bahwa janin yang sedang dikandungnya adalah anaknya.

__ADS_1


Rudi kemudian meminta Clara untuk menggugurkan kandungannya. Ia akan membantu mencarikan bidan yang aman untuk melakukan tindakan itu, karena tak ada pilihan lain baginya. Dirinya maupun Clara akan sama-sama menghadapi masalah besar jika ada yang mengetahui hubungan mereka, bahkan kehamilan Clara.


Dengan tegas Clara menolaknya. Ia tak mau menuruti kemauan Rudi kali ini. Ia merasa dipermainkan oleh atasannya itu, yang pernah berjanji akan menikahinya jika suatu saat Clara hamil anaknya.


Tega tak tega, Rudi mengambil keputusan tegas jika Clara tak mau menurutinya. Ia akan mengusulkan pencabutan statusnya sebagai karyawan tetap. Jelas hal ini semakin membuat Clara kalut dan tersulut emosi.


“Jahat kamu, Mas! Apa kamu lupa nikmatnya tubuhku saat itu? Kamu sendiri yang mengatakan kalau aku bisa melayanimu jauh lebih memabukkan dari pada istrimu sendiri! Sekarang, dengan tampangmu yang tak tau malu itu, menyuruhku menggugurkan darah dagingmu sendiri!” tegas Clara.


Tak ingin Clara semakin emosi, Rudi menenangkan dan membujuknya. Ia membelai rambut indah kekasih gelapnya itu. “Sayang, kita tidak punya pilihan lain. Apa kata mereka jika mengetahui kamu hamil di luar nikah? Dan aku juga tidak mungkin meninggalkan istri dan kedua anakku. Kita akan sama-sama sulit nantinya. Percaya padaku, jika kamu mau menggugurkan kandunganmu, kita akan terbebas dari masalah besar. Kamu masih bisa bekerja, dan aku janji akan menjaga karir kamu.”


Clara menggelengkan kepalanya. “Omong kosong! Aku sudah tidak mau mendengar janji manismu lagi! Aku tidak peduli apa kata orang tentang kehamilanku! Yang jelas, kamu juga akan kehilangan anak dan istrimu!”


“Lalu kamu mau aku bagaimana?” sahut Rudi yang mulai panik dengan situasi ini.


“Nikahi aku! kamu harus bertanggung jawab!” jawab Clara tegas.


Rudi terdiam dan tampak kembali memikirkan solusi demi kebaikan mereka bersama. Karir dan rumah tangganya akan terancam jika ia lari dari tanggung jawab ini. Tetapi, bila ia menikahi Clara, rumah tangganya juga tak akan baik-baik saja suatu saat nanti. Ia kemudian mengambil satu keputusan, yang ia sendiri juga tak yakin akan dapat menyeseleikan masalah ini.


“Baik, kita akan menikah. Aku akan menikahimu.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2