
Seorang perempuan muda berpakaian kasual, tampak memberikan beberapa foto hasil jepretannya pada Sonya.
Perempuan itu mulai menceritakan bahwa Clara, wanita yang diduga selingkuhan Rudi, adalah mantan bawahannya di kantor. Clara yang terkenal dengan keindahan paras dan tubuhnya, berhasil menarik hasrat Rudi. Mereka sudah beberapa bulan ini menjalin hubungan gelap, dan kabar terakhir adalah, mereka sudah menikah karena diketahui Clara sedang hamil anak Rudi.
Sonya tampak tenang mendengarkan setiap detail ucapan perempuan yang ia perintahkan untuk mencari tahu tentang suaminya. Nafasnya terhela panjang. Apa yang diduganya, ternyata benar. Perasaannya dengan mudah mengenali musibah ini, meskipun suaminya tak banyak berubah.
Setidaknya, hal-hal kecil tak luput dari Rudi. Selain sering pulang malam dan dinas ke luar kota, Sonya juga menemukan beberapa hal yang turut menjadi bukti perselingkuhan suaminya. Salah satunya adalah paket yang ia temukan di laci kala itu. Bukti kedua adalah catatan mutasi nominal yang cukup banyak dan sering dari rekening Rudi. Dan beberapa kali Rudi tampak menjauh ketika menerima telepon.
Suami gagah dan tampannya itu memang terkenal genit pada wanita-wanita cantik. Tetapi, semua itu hanya terbatas pada menggoda dan tidak sampai berhubungan. Entah apa yang Clara tonjolkan hingga suaminya itu memilih berselingkuh darinya dan memperistri wanita itu.
Hal ini cukup membuatnya terpukul. Artinya, ia telah gagal menjadi seorang istri, semenjak suaminya menikah lagi. Jika hanya berdekatan dengan banyak wanita, mungkin ia masih cukup bersabar. Tetapi kali ini, hatinya remuk. Ia begitu dalam mengintropeksi dirinya sendiri, apakah ia yang tak mampu melayani suaminya dengan baik? Atau suaminya yang sudah tak cinta padanya.
Mudah saja baginya jika ia ingin berpisah dengan Rudi, apalagi hatinya sudah sangat lelah. Ibaratnya, perbuatan Rudi sudah mencapai *******. Hanya saja, ia tak bisa egois karena anak-anaknya masih membutuhkan figur ayah. Sonya berusaha tetap tegar menghadapi masalah ini.
###
Biasanya, saat Rudi tengah dinas ke luar kota, ia tetap menghubungi Sonya. Tak beda dengan kali ini, ia tetap berkirim pesan pada istrinya. Bedanya, Sonya tampak tak merespon pesan dari sang suami.
Rudi yang sedang bersama Clara, tengah cemas karena seharian Sonya tak membalas pesannya. Clara menjadi tak nyaman dengan sikap Rudi yang terlihat gelisah. Apa lagi, penyebabnya adalah memikirkan istri pertamanya. Ia tak terima waktunya yang hanya sedikit bersama Rudi, masih harus tersita dengan memikirkan istri pertamanya.
“Kalau seperti ini lebih baik aku segera bicara padanya biar kamu tenang! Aku tak terima kamu begini, Mas. Kamu sudah menghamili aku dan aku sudah sah menjadi istrimu tapi kamu tak pernah adil padaku, dari waktu hingga uang!” ucap Clara sembari membereskan baju-bajunya dan bersiap akan pergi.
__ADS_1
Rudi dengan sabar menenangkan Clara dan meminta maaf padanya. Sejujurnya, ada penyesalan dalam dirinya karena sudah berbuat terlalu jauh. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia harus mempertanggungjawabkan semuanya.
“Sayang, aku minta maaf. Aku hanya kepikiran Sonya marah padaku setelah mengetahui semua ini. Aku janji aku akan lebih memperhatikanmu. Ayo kita nikmati saja kebersamaan ini,” bujuk Rudi membelai Clara manja.
“Justru itu, lebih cepat lebih baik kalau kamu mengakuinya di depan istrimu itu, karena cepat atau lambat, dia pasti akan tahu! Apa kamu takut kalau dia tahu lalu dia akan meminta cerai?” tanya Clara kesal.
Rudi memang tak ingin kecurangannya terbongkar. Ia belum siap dengan keputusan Sonya, karena ia tak mau kehilangan istri dan anak-anaknya. Ia pun dengan sabar kembali meminta Clara untuk tak membahas ini lagi, karena dia yang akan menyeleseikannya.
Clara memeluk dan mencium suaminya dengan mesra sembari membujuknya, bila Sonya tak mau menerima pernikahannya dengan Clara, maka Rudi harus siap menceraikannya. Lebih bagus jika Sonya sendiri yang meminta bercerai. Ia berjanji akan menjadi istri yang lebih baik dan lebih mampu melayani Rudi, lebih dari istri pertamanya.
###
Gutama kemudian mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangannya.
Ayah Tasya itu tanpa basa basi mengatakan bahwa dirinya tak terima jika kerja sama mereka harus batal. Ia juga tak terima karena perusahaan ayah Razka telah mencuri calon-calon kliennya. “Licik kamu Gutama!”
Tasya tampak menenangkan ayahnya.
“Tenang, Pak Indriawan. Duduk dulu, kita bicara baik-baik. Anda ‘kan pengusaha hebat, masa attitudenya seperti ini. Pantas saja kalau Razka menolak Tasya karena attitudenya juga buruk. Ternyata hasil dari bapaknya,” ucap Gutama dengan sedikit tertawa.
“Diam kamu Gutama! Tak perlu kamu menjelekkan anakku karena aku juga tak sudi besanan denganmu!” bentak Indriawan yang masih terus ditenangkan anaknya.
__ADS_1
“Licik kalian! Kalian seolah menerima kerja sama ini dan juga perjodohan antara Razka dan Tasya, namun ternyata ini adalah trik kalian untuk mencuri klienku!” lanjut Indriawan semakin mengamuk.
Gutama membalasnya dengan mengatakan bahwa justru Indriawan lah yang dari awal memiliki niat buruk pada perusahaannya, dengan berlindung di balik kerja sama dan perjodohan.
“Ayah sudah cukup. Ini ‘kan hanya soal kerja sama. Mereka berhak memutuskan akan bekerja sama dengan kita atau tidak. Dan masalah perusahaan lain yang gagal bekerja sama dengan kita, itu juga hak mereka. Bukan salah ayah Razka.” Tasya berusaha menengahi perdebatan ayahnya.
Tasya kemudian juga meminta maaf pada ayah Razka atas perilaku ayahnya. Ayah Tasya pun tak terima kenapa anak perempuannya itu jutru membela Gutama. Padahal, jelas-jelas pria itu juga telah menjelek-jelekkan Tasya.
“Ayah, Razka yang tak menyukai aku itu juga haknya. Kita tidak bisa memaksa,” jawab Tasya yang kemudian mengajak ayahnya pergi dari kantor ayah Razka.
Saat mereka akan pergi, mereka berpapasan dengan Razka. Tasya meminta maaf pada Razka akan sikapnya selama ini yang tak baik. Razka pun dibuat bingung akan sikap Tasya yang tak seperti biasanya, namun ia tetap cuek pada perempuan cantik itu.
Razka kemudian bertanya pada ayahnya tujuan kedatangan mereka. Dengan puas ayah Razka menjelaskan bahwa Indriawan mengamuk karena pembatalan kerja sama mereka dan juga calon klien besar mereka yang berpindah pada mereka. Mereka menilai kita licik karena seolah menerima kerja sama dan perjodohan dengan anaknya.
"Good jod Razka, anak Ayah. Karena kamu, kita bisa mendapatkan apa yang kita mau."
Sementara itu, dalam mobil, ayah Tasya kembali memprotes anaknya yang sedari tadi justru tak membelanya.
“Ayah, tenang. Bukan begini caranya melawan mereka. Kita harus main cantik. Tasya hanya berpura-pura baik dan tak arogan seperti biasanya.”
...****************...
__ADS_1