Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Aku Memilihmu


__ADS_3

Hari ini, adalah hari yang paling mengesankan sekaligus menjadi hari yang paling menegangkan bagi Hani dan juga Razka. Hari di mana perjuangan kisah cinta mereka akan berujung di kursi pelaminan. Mengingat, begitu banyak pro dan kontra dalam hubungan mereka, hanya karena strata. Bisa jadi, hal itu akan terus bergulir membersamai kehidupan rumah tangga mereka kelak. Namun, apa pun rintangan yang ada di depan, tak akan menggoyahkan keyakinan cinta mereka.


Satu langkah lagi, terbuka lah jalan pembuka dari perjalanan kisah hidup mereka.


Di dalam ruangan convention center salah satu hotel bintang lima, Razka yang duduk di depan penghulu dan didampingi sang ayah, juga 2 orang saksi  lainnya, bersiap mengucap janji setia sehidup semati yang disaksikan oleh malaikat. Sementara itu, di belakangnya, Lita dan Bu Sukma duduk di barisan pertama. Di barisan kedua dan ketiga adalah tempat duduk para perwakilan keluarga Razka juga Hani, dan di barisan berikutnya diduduki oleh teman-teman Hani, termasuk Ayun.


Tak terasa, Bu Sukma meneteskan air matanya mengenang almarhum suaminya yang seharusnya mendampingi kedua anak perempuannya menikah dan menjadi wali mereka.


Tak ingin berlama-lama, penghulu pun memulai prosesi akad.


“Saya nikahkah dan saya kawinkan engkau, Saudara Razka Gutama bin Gutama Hananda dengan Hani Andara binti Agus Harimukti dengan mas kawin seperangkat alat sholat, 1 set perhiasan dengan berat 23 gram, dan uang tunai sebesar 75 juta rupiah dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Hani Ananda binti Agus Harimukti dengan mas kawin tersebut tunai!” ucap Razka hanya dengan satu tarikan nafas yang disambut teriakan “SAH” oleh para tamu.


Termasuk teriakan yang begitu lama dan kencang dari salah seorang lelaki yang duduk di kursi belakang. “Sahhhhh!”

__ADS_1


Sontak semua orang memandang ke arahnya, tak terkecuali Razka. “Angga.”


Para hadirin seketika mengucapkan puji syukurnya atas kelancaran prosesi ijab qabul ini.


Kemudian, Hani yang ditemani Clara, dipersilakan menemui Razka untuk duduk di sebelahnya. Mereka kini saling berpandangan menahan haru. Tentu, bukan sesuatu yang mudah mereka bisa berada di titik ini.


Setelah saling menyematkan cincin juga menandatangani buku nikah dan berkas lainnya, mereka mulai mendokumetasikan momen awal berubahnya status menjadi sepasang suami istri itu.


Setelah acara akad selesai, para hadirin dipersilakan menyantap hidangan yang telah disiapkan sembari saling mengobrol. Angga menghampiri Razka dan Hani yang masih duduk di tempat akad untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Razka tersenyum sumringah melihat kehadiran Angga.


Angga pun menjelaskan bahwa ia sengaja kembali ke Indonesia untuk mengambil berkas yang tertinggal. Ia juga tak bisa melewatkan hari penting teman baiknya itu. Untuk itu, sebelum kembali terbang ke Sydney, ia menyempatkan datang ke acara pernikahan Razka dan Hani.


“Thank you, Ngga,” ucap Razka memeluk Angga.


Sayangnya, Angga tak bisa menghadiri resepsi yang akan digelar sebentar lagi. Ia harus segera menuju ke bandara karena jadwal keberangkatannya kurang dari 4 jam lagi. Angga pun meminta Razka dan Hani untuk mengunjunginya di Sydney.

__ADS_1


Ucapan selamat kemudian disusul oleh Ayun dan teman-teman pelayan kafe. Hani memeluk mereka satu per satu dan juga mengucapkan terima kasih telah menghadiri acara pernikahannya. Ayun beberapa kali mengusap air mata Hani yang tak terbendung.


###


Selesai acara, mereka bergegas kembali ke apartemen Razka. Seharusnya, mereka masih memiliki waktu untuk menginap di hotel bintang lima tersebut. Namun, Hani lebih memilih untuk tidur di apartemen Razka yang dirasa lebih nyaman baginya.


Malam ini, adalah malam pertama Hani tinggal di apartemen Razka, sebagai seorang istri. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meski masih canggung, namun ia mencoba untuk dapat selalu melayani suaminya dengan baik.


Mereka mengawali kebersamaan dengan menonton televisi bersama. Hani pun menawarkan untuk memasakkan suaminya untuk makan malam mereka. Namun, Razka menolaknya karena tak tega melihat istrinya jika harus memasak, kala baru saja menggelar acara yang melelahkan.


“Jangankan memasak, untuk bermain pun aku tak meminta sekarang. Kamu kelihatan lelah dan mengantuk. Kita pesan makanan ya, lalu istirahat. Tapi, kalau kamu memaksa mengajakku bermain malam ini….aku bersedia,” ucap Razka tersenyum jahil sembari memeluk dan menciumi istrinya itu.


“Jangan sekarang, aku belum siap. Besok ya,” tawar Hani memanja.


Razka pun tak keberatan dengan permintaan istrinya itu, namun ia meminta untuk tetap bermesraan malam ini. Oh, serasa dunia hanya milik mereka berdua. Mereka benar-benar menikmati momen ini, seakan tak ingin melewatkan satu detik pun untuk tak saling mencumbu, saling membelai, mencium, dan memeluk.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2