
Hari-hari Hani jalani sebagai manager kafe. Ia yang masih sama seperti dahulu kala, hingga tak membuat temannya sungkan untuk tetap berteman dengannya. Tak terkecuali Ayun. Ayun seakan menjadi penyalur aspirasi dari teman-temannya kepada Hani jika ada yang ingin disampaikan.
“Yun, terima kasih banyak sudah mau menjadi teman baikku. Jangan tinggalkan aku ya, Yun,” ujar Hani yang sedikit menahan air matanya.
Ayun menenangkan Hani untuk tak berbicara demikian karena hanya akan membuat suasana semakin bersedih, setelah perpisahan dengan Angga.
“Sampai kapan pun, aku akan menjadi temanmu!” jawab Ayun penuh keyakinan.
Hani juga sudah mulai menempati ruangan Angga. Mantan pemilik kafe itu hanya sesekali berkunjung ke kafe jika ingin makan siang. Begitu juga denga Razka yang memilih makan siang di kafe miliknya sendiri, sekaligus agar dapat bertemu dengan kekasihnya. Meski Hani merasa sungkan pada teman-temannya jika Razka mengajaknya makan siang bersama di kafenya.
Seperti saat siang ini, mereka tampak berada dalam 1 meja yang sama.
Hani tampak memandang temannya yang sedang bekerja mengantarkan makanan ke mejanya dengan tatapan tak enak hati.
“Santai saja, Han,” ucap salah seorang teman laki-lakinya yang seakan mengetahui perasaan Hani.
Razka kemudian juga meminta calon istrinya itu agar tetap merasa nyaman makan di kafenya sendiri. Ia ingin Hani juga merasa menjadi pemilik kafe tersebut. Bagaimana pun, rodanya sedang berputar ke atas. Selama tetap menjaga sikap, tak akan ada masalah.
“Setelah kamu menjadi istriku, kafe ini juga milik kamu,” ucap Razka membuat Hani harus berusaha mengubah mentalnya.
###
__ADS_1
Waktu begitu cepat berlalu, hari pernikahan Razka dan Hani juga semakin dekat.
Karena minggu depan Hani sudah resmi menjadi istri Razka, hari ini ia mulai mencicil memindahkan barang-barangnya ke apartemen Razka. Meski sebelumnya, sempat terjadi perdebatan kecil antar Razka dan ibunya yang menginginkan Razka tinggal di rumah setelah menikah. Namun, ayah Razka berhasil mengatasi itu semua.
Razka dan Hani yang dibantu oleh jasa pengangkut barang, mulai menyusuri lorong unit apartemen.
Ketika mereka akan memasuki unit milik Razka, terdengar seorang perempuan memanggil Hani.
“Kak Hani!”
Hani menoleh ke kiri ke arah sumber suara. Ia cukup terkejut melihat Clara yang berada di depan pintu, 3 unit dari unit Razka. Seketika Hani pun membeku.
Clara berjalan menghampiri Hani.
“Kok kamu masih di sini?” tanya Hani yang kebingungan.
Clara seolah memberikan kode pada Razka untuk segera menjelaskan alasannya kepada kakak satu-satunya itu.
“Clara dan Rudi tetap tinggal di apartemennya,” sahut Razka yang tengah berdiri bersandar tembok sembari menyilangkan kedua tangannya.
“Bukannya apartemennya sudah laku kamu bilang, Clar?” tanya Hani yang masih tak paham.
__ADS_1
Clara pun mengatakan bahwa memang benar unitnya sudah laku, namun Razka lah pembelinya. Razka sengaja membelinya agar Hani tetap bisa berdekatan dengan adiknya, sesuai yang pernah Hani katakan. Razka juga mempersilakan Rudi untuk membayar sewa kepada Razka setiap bulannya sesuai dengan kemampuannya. Tentunya, Rudi hanya berkewajiban membayar sewa, karena untuk cicilan sudah dihapuskan semenjak Razka membelinya secara lunas pada pihak apartemen.
Mendengar penjelasan Razka, Hani seakan mendapat kabar bahagia yang tiada henti. Ia pun reflek memeluk adiknya. Kini ia merasa lebih tenang karena masih dapat memantau kehidupan Clara. Mereka juga bisa membawa ibunya bergantian ke unit mereka.
“Kak Razka sengaja mau kasih kejutan untuk Kakak, peluk dia juga dong, Kak,” pinta Clara menggoda sang kakak.
Hani pun menghampiri Razka untuk memeluknya dan mengucapkan beribu terima kasih atas kebaikannya.
###
Hari berlalu semakin cepat, Hani pun mulai merasa cemas akan hari pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Antara takut jika acaranya tak berjalan lancar, tetapi juga perasaan was-was ketika ia telah sah menjadi istri Razka. Ia takut Razka akan kecewa setelah mereka tinggal bersama.
Terkadang, keraguan melanda Hani. Apa benar Razka benar-benar mencintainya dan menginginkan Hani menjadi istrinya? Ia takut tak bisa menjadi istri yang baik untuk Razka yang begitu sempurna.
Beberapa hari ini, saat akan berangkat bekerja pun ia tetap merasa gugup. Tangannya dingin, perutnya mulas. Jantungnya juga ikut berdegup kencang, seperti akan bernyanyi di atas panggung.
Ayun yang sudah pernah menikah pun seperti tahu perasaan temannya itu, ia berusaha menenangkan dan menghibur Hani agar tak memikirkan yang tidak-tidak dan lebih santai.
“Percaya padaku, Han. Pernikahanmu akan lancar, semua orang akan bahagia saat ijab qabul nanti diucapkan,” ujar Ayun yang membuat Hani merinding.
...****************...
__ADS_1