Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Salah Paham


__ADS_3

“Iya, kerjanya bagus kok, cepat memahami juga. Dia cukup cerdas. Lo tenang aja, sebelum gue pergi, akan gue pastikan dia bisa menggantikan gue,” ucap Angga dalam panggilan teleponnya dengan seseorang.


Setelah Angga menutup teleponnya, salah seorang pelayan kafe laki-laki mengetuk pintu ruangannya dan meminta izin untuk masuk.


“Maaf, Pak Angga, ini minuman Bapak,” ucapnya sembari membawa segelas jus apel dingin pesanan Angga.


Angga yang masih berdiri di dekat pintu, mempersilakan pelayannya untuk masuk. “Taruh aja di meja ya saya ke depan sebentar.”


Pelayan tersebut kemudian meletakkan gelas yang dibawanya ke atas meja kerja Angga. Tak sengaja, ia melihat secarik kertas serah terima kafe. Maksud hati ingin menata berkas penting tersebut agar tak terkena basah dari gelas, namun ia justru melihat nama Razka terpampang dalam kertas tersebut.


Melihat Angga yang belum kembali ke ruangannya dan karena penasaran, pelayan itu berpura-pura menata berkas sembari membaca dengan jelas isi surat tersebut, karena ia menemukan nama kekasih Hani itu.


Tak berselang lama, Angga kembali masuk ke dalam ruangannya, disusul dengan pamitnya pelayan tersebut untuk kembali bekerja.


Di bilik tempat berkumpulnya para pelayan kafe, pelayan laki-laki itu menginformasikan kepada teman-temannya, apa yang baru saja dilihatnya.


“Ha? Jadi, yang mau beli kafe ini adalah pacarnya Hani?”


“Enak ya jadi Hani, pacaran sama pengusaha, bisa beliin kafe untuk dia. Pak Razka beli kafe udah kayak beli ponsel ya.”


“Pantas aja Hani yang akan mengelola kafe ini, hebat ya dia bisa memacari pria kaya.”

__ADS_1


Obrolan teman-teman Hani itu membuat Ayun yang baru saja selesai mengantarkan pesanan pengunjung, ikut menimbrung kala mendengar nama Hani dan Razka disebut-sebut. “Ada apa ini rame-rame? Kenapa sama Hani?”


Salah seorang temannya pun menjelaskan apa yang sedang mereka bicarakan. Ayun dengan tenangnya meminta teman-temannya itu untuk tidak ribut dan heboh. “Justru harusnya kita mendukung Hani bisa naik kelas. Lagi pula, jika Hani yang mengelola kafe ini, posisi kita akan aman sekalipun Pak Angga sudah bukan pemiliknya lagi. Kapan lagi kita bisa berteman dengan manajer, bisa bercanda dan mengobrol tanpa batasan.”


“Memang kamu yakin Yun, kalau Hani masih akan sama dengan yang sekarang ketika dia sudah di atas?” tanya salah seorang temannya yang ragu akan sikap Hani ke depannya.


Ayun dengan optimis meyakinkan teman-temannya jika Hani tidak akan berubah. Dia akan tetap menjadi Hani yang rendah hati. Karena dia sudah sangat mengenal Hani dengan baik.


Obrolan Ayun dan teman-temannya itu pun sampai ke telinga Hani, sang tokoh utama, kala ia turun dari kantor untuk mengambil barangnya di loker.


Ayun dengan sigap menggandeng Hani untuk berbicara berdua dengannya.


“Apa maksudnya kalian bicara begitu tadi, Yun?” Hani mulai tak tenang.


“Jangan buat Pak Angga kecewa. Dia sudah baik ‘kan sama kita,” lanjut Ayun.


Hani pun mengatakan bahwa ia tak mempermasalahkan tentang Angga. Tetapi dia kecewa pada Razka yang ternyata dalang di balik semua ini. Padahal jelas-jelas saat ia menceritakan soal tugas barunya, Razka seolah baru mengetahuinya. Ternyata, dia sendiri yang membeli kafe ini dan meminta Angga untuk memindahkan tugaskannya.


###


Sore hari, saat Hani dijemput oleh Razka, ia tak  banyak bicara dan tanpa senyum.

__ADS_1


Razka yang hafal akan sikap kekasihnya itu bila sedang marah, membujuk dan menghiburnya. “Aku salah apa lagi, Sayang? Bicara dong kalau aku ada salah, jangan langsung cemberut begini.”


Hani menepis tangan Razka yang memegang pipi tembemnya. Ia pun tanpa basa-basi menceritakan yang baru ia tahu siang tadi di kafe. “Ini kesekian kalinya kamu tidak jujur!”


Razka pun terkejut dibuatnya. Ia tak paham apa maksud Hani. Razka meminta Hani menjelaskan kembali persoalan yang dibahasnya.


“Kamu ‘kan yang meminta Pak Angga untuk memindahkan tugasku di kantor? Kamu malu punya hubungan dengan pelayan kafe? Jangan karena kamu punya banyak uang lalu kamu bisa berkuasa. Aku benci sikap seperti itu!”


Razka beberapa kali mengatakan bahwa ia tidak pernah meminta Angga melakukannya. Ia bahkan baru tahu tentang hal ini saat Hani sendiri yang mengatakannya ketika mereka makan malam bersama ayahnya kala itu.


“Sumpah aku serius tidak tahu tentang ini. Aku memang berniat akan membeli kafenya ketika dia bilang sedang mencari pembeli untuk kafenya, tapi aku sama sekali tidak tahu kalau Angga akan mengambil keputusan itu. Aku baru tahu dari kamu.” Razka meyakinkan kekasihnya itu.


“Tapi seperti yang ayah pernah katakan saat itu kalau Angga pasti sudah memikirkannya dengan matang, karena Angga adalah orang yang penuh pertimbangan,” lanjut Razka.


Razka pun ingin membuktikan kejujurannya dengan menantang Hani menghubungi Angga untuk menanyakan langsung hal ini.


Hani yang awalnya ragu untuk menghubungi Angga, namun akhirnya mau melakukan permintaan Razka agar dirinya juga mengetahui yang sebenarnya terjadi.


Ia pun menghubungi bosnya itu dan mulai menanyakan perihal tugas barunya.


“Hani, ini semua ini murni keputusanku, bahkan Razka sendiri yang menanyakan padaku setelah kamu bercerita. Saat itu aku tidak terima pada sikap Tasya yang merasa dirinya akan menjadi trophy wife. Aku ingin kamu menaikkan kualitas dirimu agar pantas mendapat gelar itu dan menjadi Nyonya Razka.”

__ADS_1


Hani pun memandang kekasihnya penuh dengan perasaan bersalah telah menuduhnya.


...****************...


__ADS_2