
“Apa? Jadi kamu akan tinggal di rumahku? Apa tidak bisa kamu pertahankan apartemenmu? Aku ingin tinggal di sana. Rumahku juga sempit, tak mungkin jika kamu ikut tinggal di sini. Ibu akan mengamuk,” ucap Clara saat mendengar keputusan Rudi yang akan tinggal di rumahnya.
Mimik wajah Clara yang berseri setelah mendapat kabar perceraian suaminya, berubah menjadi kecut. Awalnya, ia begitu senang bukan main karena tak hanya status Rudi yang akan menjadi suami seutuhnya, namun ia pikir bisa menempati apartemen mewah Rudi. Namun ternyata, Rudi harus menjual apartemennya demi memberikan biaya bulanan untuk kedua anaknya dari Sonya, juga untuk kehidupan Clara dan bayinya.
“Aku mendapatkan masalah di kantor, sehingga aku di mutasi. Gajiku tak sebesar dulu, Clara. Bisnisku juga sedang turun, aku bahkan tidak ada pendapatan bulan ini. Mohon pengertianmu,” pinta Rudi berharap Clara mau memahami keadaannya.
“Tidak bisa! Ibu tidak akan mau kamu tinggal di sini! Kalau tahu kamu akan kere, Ibu tidak akan merestui hubunganmu dulu dengan Clara!” sahut ibu Clara dari dapur, yang tak terima dengan keputusan Rudi.
Melihat sikap mertuanya yang hanya baik saat dirinya berkecukupan, membuat ia kecewa dan menyesal. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan orang tua Sonya yang sangat sayang padanya, bahkan ketika ia masih menjadi pegawai biasa saat meminang Sonya dahulu kala. Mantan mertuanya itu juga bahkan selalu merajakan Rudi setiap mereka pulang kampung, tak jarang mereka selalu ingin Sonya dan Rudi juga anak-anaknya tinggal lebih lama di rumah orang tua Sonya.
Tak ingin berdebat dengan mertuanya, ia menjelaskan bahwa ia dan Clara hanya akan sementara tinggal di rumah ibunya. Setelah apartemennya laku, Rudi akan membelikan rumah kecil yang ada di pinggir kota untuk mereka. Bagaimana pun, apartemen tersebut belum lunas, sehingga Rudi harus tetap membayar cicilannya.
“Lebih baik kamu cari suami yang jauh lebih kaya dari dia!” teriak Bu Sukma menggebrak pintu dan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Clara seketika meminta maaf pada suaminya atas sikap ibunya. Ia juga mengatakan tak masalah jika memang harus tinggal di rumah yang kecil di pinggiran kota, meskipun ia sangat ingin tinggal di apartemen Rudi tempat mereka menghabiskan waktu bersama untuk bercinta dahulu. Asal, uang bulanannya cukup untuk hidup keluarga kecil mereka. Dengan kata lain, Rudi harus adil pada kedua anaknya juga pada calon anak yang sedang dikandung Clara.
“Maaf, tapi kita harus cukup hidup dengan uang 10 juta per bulan, bukan hanya untukmu dan bayi kita, tapi juga untukku. Karena Sonya menginginkan nafkah untuk anak-anak kita sebesar 15 juta setiap bulannya,” ucap Rudi penuh penyesalan.
Clara pun menahan kesalnya karena ia merasa Rudi tak adil. Bagaimana bisa ia akan hemat dengan uang 10 juta itu untuk mereka bertiga, apalagi ia juga memerlukan untuk biaya bersalin nantinya. Sedangkan dahulu saja, 10 juta hanya sebatas saweran Rudi untuk dirinya sendiri, yang bisa diberikan hingga 2 kali dalam 1 bulan, belum lagi perhiasan yang pernah Rudi berikan, juga uang jajan recehan yang bernilai cukup besar bagi Clara saat itu. Ya, karena gaji Rudi cukup tinggi saat menjabat menjadi Kepala Cabang, dan saat bisnis Rudi masih lancar.
Namun apa mau dikata, semua sudah terlanjur. Tak mungkin juga Clara memilih bercerai karena ia sedang hamil dan sudah tak bekerja. Ia mengingat nasehat kakaknya saat itu, jika kita akan bahagia hidup bersama seseorang yang kita cintai, dari pada hanya sekedar hidup dengan harta. Harta memang kita perlukan, tapi semua akan terasa cukup jika kita bahagia dengan pasangan.
Melihat sang kakak yang masih bisa hidup dengan sisa uang gaji yang sangat sedikit, ia ingin mencontoh Hani yang bijak dalam menggunakan uang.
Pagi hari, suasana rumah Hani sangat tidak nyaman saat itu. Ibunya tak berhenti berteriak sedari pagi karena kehadiran Rudi di rumah mereka. Hani menguatkan sang adik agar kandungannya tetap sehat. Rudi pun juga menjadi tak nyaman dan merindukan ketenangan saat di rumahnya dahulu bersama Sonya dan anak-anak.
Rudi kemudian meminta keringanan pihak pengelola apartemen untuk bisa tinggal di sana sementara waktu sampai apartemennya terjual. Rudi sampai harus memohon agar diizinkan, karena sesuai perjanjian, karena apartemen itu belum lunas, sehingga Rudi harus menjual apartemennya melalui pihak pemasaran apartemen agar lebih cepat laku, di mana Rudi seharusnya tak boleh meninggali apartemen tersebut ketika memutuskan untuk menjualnya. Hal itu lantaran akan menganggu calon pembeli yang akan melihat unit mereka. Berbeda keadaan jika apartemen selalu dalam keadaan kosong dan sewaktu-waktu bisa dikunjungi.
__ADS_1
Setelah negoisasi yang cukup alot, akhirnya Rudi bisa bernafas lega, karena mendapat izin dari pihak pengelola. Dengan syarat, unit mereka harus tetap terlihat lapang, tak penuh dengan barang-barang dan mereka harus selalu ada jika sewaktu-waktu ada calon pembeli yang ingin melihat unit mereka. Mendengar keputusan itu pun, Rudi yang akan berangkat kerja segera mengemasi barang-barangnya dan mengajak Clara untuk tinggal di sana sementara waktu.
Clara kemudian berpamitan pada ibu dan kakaknya. Hani juga terlihat memberikan wejangan pada Clara untuk tidak keras kepala dan melawan suaminya. Hani meminta adiknya itu untuk bersikap lebih baik dan dewasa, tak boleh menghamburkan uang pemberian Rudi, juga harus selalu menjadi istri yang bisa melayani suaminya dengan baik.
“Lebih baik tak usah pulang sekalian!” teriak ibunya pada Clara dan Rudi.
Tak lama setelah Clara dan Rudi pergi, Hani juga berpamitan pada sang ibu untuk barangkat ke kafe karena Razka sudah menjemputnya.
Selama di mobil Hani lebih banyak diam. Ia memikirkan bagaimana nasib Clara dan anaknya kelak. Ia takut Rudi memiliki masalah keuangan yang lebih besar dari ini sebagai hukuman atas perbuatan mereka. Apalagi, tak menutup kemungkinan jika suatu saat Rudi bisa saja kembali main gila dengan perempuan lain dan meninggalkan Clara.
Ia juga memikirkan nasib ibunya yang akan tinggal sendiri ketika ia menikah dengan Razka nanti. Hani yang awalnya ingin meninggalkan ibu dan adiknya yang toxic, seakan berubah pikiran. Selain karena Clara sudah berubah lebih baik semenjak hamil, tetapi juga karena ia tak tega melihat ibunya yang semakin menua jika harus tinggal sendiri. Sedangkan ia sendiri akan semakin dihina oleh ibu Razka jika ibunya terus meminta-minta uang yang tak lazim kepada dirinya juga Razka, apalagi setelah mengetahui siapa Razka sebenarnya.
Otaknya semakin berisik memikirkan kehidupan ke depannya, saat ia harus mampu bertahan dengan ibu mertuanya yang tak pernah menyukainya.
__ADS_1
Lamunannya buyar ketika Razka yang tengah menyetir tiba-tiba meminggirkan mobilnya dan mencium pipi tembem Hani, kemudian memeluknya begitu hangat seakan ingin menenangkan jiwanya bahwa semua akan baik-baik saja.
...****************...