
“Pagi, Pak. Bapak memanggil saya?” tanya salah seorang staf kepercayaan ayah Razka.
Gutama kemudian mempersilakan duduk staf laki-laki itu.
“Apa yang ingin kamu bicarakan kemarin?” Ayah Razka bertanya kembali pada stafnya.
Staf tersebut mulai mengungkapkan perihal ketidaksetujuannya terhadap kerja sama perusahaan Gutama dengan perusahaan Indriawan. Hal itu lantaran kedua perusahaan tersebut memiliki prioritas yang bertentangan. Perusahaan Gutama sangat memperhatikan detail dan kualitas, sedangkan perusahaan Indriawan hanya berfokus pada kecepatan waktu. Banyak klien dari perusahaan ayah Tasya itu yang tidak begitu puas dengan kinerja mereka. Dan apabila mereka sedang bekerja sama dengan perusahaan pesaingnya, komplain para klien hanya tertuju pada perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Indriawan. Seolah memang saking cerdas dan kuatnya kekuatan yang ada di belakang mereka. Oleh karena itu, nama mereka masih dianggap terbaik hingga memiliki banyak klien.
“Saya rasa kita tidak perlu membangun kerja sama dengan mereka, Pak. Klien mereka memang besar, namun kita memiliki prinsip sendiri,” lanjut staf tersebut.
“Lalu, apa rencana kamu?” ayah Razka mempersilakan stafnya menganalisa langkah selanjutnya yang sebaiknya diambil.
“Kita tetap fokuskan menggarap proyek yang akan selesai sebentar lagi. Dan mencari klien baru, seperti yang sudah-sudah,” jawab staf yang bepenampilan parlente itu.
Gutama kemudian memberikan secarik kertas berisi daftar calon klien perusahaan Indriawan. Ia tersenyum seolah sudah lebih dahulu mengetahui apa yang akan stafnya tersebut bicarakan pagi ini. “Mereka akan menandatangani MOU dengan Indriawan minggu depan. Bisa?”
Staf tersebut menganggukkan kepalanya seakan sudah paham apa yang harus ia dan timnya lakukan. Ia kemudian berpamitan untuk segera mengeksekusi perintah bosnya itu. Senyum lebar Gutama seketika menghiasi perawakan gagahnya itu.
“Dengan bangganya anak kamu memamerkan mereka di hadapan pesaingmu sendiri. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sepandai-pandainya tupat melompat, akan jatuh juga,” gumamnya sembari terus tersenyum puas.
Saat pertemuan makan malam di rumah Tasya kala itu, Gutama sengaja memberi ruang pada Razka dan Tasya untuk mengobrol berdua. Tak lain dan tak bukan, untuk melancarkan aksi mereka. Tentu tidak ada yang curiga, justru mereka semua tampak senang melihat Razka dan Tasya bisa dekat.
__ADS_1
Razka sengaja memancing Tasya untuk mengatakan siapa saja calon klien besar perusahaan ayahnya. Maksud hati ingin menarik hati Razka agar mau segera melangsungkan kerja sama ini dengan kehebatan portofolio perusahaan ayahnya, namun Tasya justru mengatakan sendiri apa yang sedang Gutama cari.
###
Siang ini, Razka dan Hani sedang makan siang bersama di sebuah kafe di dalam mall. Razka semakin intens mengajak kekasihnya itu bertemu karena tak ingin Hani berpikir macam-macam pada dirinya. Razka juga menceritakan tentang ayahnya yang sudah merestui hubungannya.
“Tapi ibu kamu tidak suka aku,” ucap Hani pesimis.
“Aku tidak peduli,” jawab Razka cuek.
Di waktu yang bersamaan, ibu Razka dan Tasya sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berkeliling mall dengan membawa kantong belanja yang cukup banyak. Mereka sedang berbelanja untuk keperluan pertunangan Tasya dan Razka.
“Tak punya malu juga kamu masih berani menemui anak saya!” tegur ibu Razka pada Hani.
“Pelakor!” sahut Tasya memecah suasana kafe.
Razka yang tak terima dengan perlakuan mereka, meminta mereka diam dan pergi. “Kamu yang merusak hubunganku dengan Hani! Dan ibu, berhenti untuk mencampuri hubunganku!”
Melihat mereka yang enggan meninggalkan tempat dan seolah masih ingin terus mempermalukan Hani, Razka segera mengajak kekasihnya itu untuk pergi.
Hani merasa tak enak hati pada ibu Razka yang terus memangggil-manggil anaknya. Ia memandangi wajah ibu Rakza dengan iba dan melepaskan genggaman tangan Razka kemudian menghentikan langkahnya. “Razka, jangan begitu sama ibumu. Kalau memang kamu hanya berpura-pura, kenapa ibumu tidak tampak sama? Ia justru terlihat sangat menginginkan Tasya menjadi menantunya.”
__ADS_1
Razka kembali menggandeng tangan Hani dan memintanya berbicara di mobil. “Aku jelaskan nanti.”
Saat sudah di dalam mobilnya, Razka segera menancap gas dan pergi dari mall tersebut. Ia mulai menjelaskan pada Hani bahwa ibunya tak tahu tentang rencana ini. Hanya ia dan ayahnya yang merencanakannya, karena hanya ayahnya lah orang tuanya.
Hani tampak tak paham dengan penjelasan Razka.
“Dia bukan ibu kandungku.”
Hani terdiam. Razka kemudian menceritakan apa yang ayahnya ceritakan malam itu. Karena itu lah, ia ta peduli pada ibunya. Ia tidak mau ujung kisah cintanya seperti sang ayah hanya karena menuruti kemauan ibunya yang tak selalu tepat.
“Tapi bagaimana pun juga, dia yang menjadi ibumu dari kamu bayi. Kamu tak pantas berani padanya. Dia tetap orang tua kamu. Dia ‘kan yang menyiapkan makanmu dari kamu kecil hingga dewasa, meskipun kamu sering berdebat dengannya. Biar dia tak seperti harapanmu, tapi dia sudah berperan menjadi ibu kamu selama ini, tak peduli ibu sambung atau ibu kandung. Aku yakin walaupun dia tak melahirkanmu dari rahimnya sendiri, tapi dia sudah sangat menyayangimu. Jaga ucapanmu, Ka, jangan menyakitinya,” sanggah Hani lembut.
Razka menghentikannya mobilnya di pinggir jalan. Ia memandang Hani begitu dalam. Ketulusan dan kebaikan hati Hani selalu mudah ia rasakan setiap saat. Entah bagaimana bisa kekasihnya itu masih memikirkan perasaan ibunya yang sudah menyakitinya.
Apa yang Hani katakan memang benar. Selama ini, meskipun ia sering berdebat dengan ibunya, tapi perlakuannya tak luput sekali pun selayaknya seorang ibu kandung pada anaknya, meskipun ia masih kekurangan kasih sayang seorang ibu. Ia bahkan tak mampu bersyukur karena banyak di luar sana yang tak memiliki ibu.
“Kamu bisa bicara baik-baik dengannya, tentang apa yang sudah kamu pilih. Semakin kamu berani, semakin keras ia mempertahankan kemauannya. Ubah dia dengan cinta, seperti yang ayahmu selalu ajarkan” lanjut Hani.
Mendengar ucapan Hani, Razka meneteskan air matanya. Tak pernah ia merasakan ucapan yang mampu menggetarkan batinnya seperti saat ini. Sifat kerasnya sedari kecil memang seakan karena tak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang seorang ibu, namun tak layak rasanya jika ia harus membenci ibu sambungnya yang sudah merawatnya dari bayi. Seketika ia rindu pada sang ibu yang telah melahirkannya, yang tak pernah ia temui. Seorang anak pasti akan selalu melakukan kesalahan, termasuk anaknya kelak, dan mungkin ini lah yang anaknya akan rasakan nanti jika ia menikah dengan Hani.
...****************...
__ADS_1