Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Kenyataan Sulit


__ADS_3

Di kamarnya, Hani yang sedang melamun merenungi nasibnya, tak tahu harus berbuat apa terhadap hubungannya bersama Razka. Di satu sisi, ia tahu bahwa kehidupannya akan sulit mengimbangi keluarga Razka. Namun, di sisi lain, ia tak bisa membiarkan Razka berjuang sendiri. Tak tega rasanya jika ia harus memutuskan hubungan ini secara sepihak, karena hanya akan saling menyakiti. Rasa cintanya pada pria tampan itu tidak dapat dipungkiri betapa hebatnya.


Tak terasa, air matanya menetes. Mengapa harus dirinya yang mengalami hal ini. Dihadapkan pada hubungan cinta yang rumit antar dua keluarga dengan strata sosial yang jauh berbeda. Apakah hidupnya memang tak boleh bahagia?


Lamunannya buyar ketika terdengar suara ribut antara adik dan ibunya. Baru kali ini mereka berdebat. Selama ini, suaranya lah yang sering menjadi lawan debat sang ibu. Suara dari anak sulung yang selau dinomorduakan.


Hani kemudian keluar dari kamarnya.


“Jadi dia sudah berkeluarga? Bukan duda cerai hidup seperti yang kamu bilang dulu? Lalu bagaimana kalau ternyata dia hanya berbohong? Bagaimana kalau dia tidak mau bertanggung jawab? Ibu sudah ingatkan kamu untuk tidak kebablasan seperti ini. Ambil dulu yang dia punya baru kamu serahkan dirimu, bukan sebaliknya, Clara!”


“Bu, Clara juga tidak mau seperti ini, tapi keadaan yang membuat Clara harus menerima semua ini,” tangis Clara menyesali apa yang telah terjadi.


“Jangan bilang kamu hamil,” sahut Hani dari pintu kamarnya, yang seolah paham arah percakapan mereka.


Semua terdiam. Hanya terdengar suara isak tangis dari adik dan ibunya. Apa yang ditakutkan kini benar-benar terjadi.


“Kakak sudah pernah ingatkan kamu untuk jangan melangkah terlalu jauh, karena kamu sebagai pihak perempuan yang akan merugi!” lanjut Hani.


Ingin rasanya ia marah pada adik dan juga ibunya yang dahulu pernah menyepelekan soal hubungan Clara dengan atasannya. Sekarang ketika semua sudah terjadi, mereka hanya bisa menangis. “Ini ‘kan yang ibu mau? Clara memiliki hubungan dengan atasannya, yang Ibu dukung. Padahal Hani juga sudah ingatkan Ibu kalau atasan Clara bisa saja punya anak dan istri. Lalu, apa mungkin dia mau bertanggung jawab menikahi Clara?”


“Dia mau menikahi aku, Kak!” teriak Clara.


“Lalu kamu tega menyakiti hati anak dan istrinya? Bagaimana kalau itu terjadi denganmu? Kamu juga perempuan, Clara! Harusnya kamu bisa memikirkan itu dari awal, kamu sudah dewasa!” bentak Hani.


“Sudah cukup, Han! Jangan menambah kacau keadaan, tak ada gunanya!” Bu Sukma menengahi perdebatan kedua anaknya.


Hani menambahkan bahwa semua ini juga terjadi karena andil sang ibu. Kalau ibunya tidak menuntut Clara untuk mendapatkan karir yang bagus, Clara tidak akan mengambil jalan pintas. Sayangnya, ibunya lupa mengingatkan anak kebanggaannya itu untuk mencari rezeki dengan cara yang halal.


“Kamu tetap harus menikah dengannya. Ibu tak peduli bagaimana dengan keluarganya nanti. Dia tetap harus mempertangunggjawabkan perbuatannya. Suruh dia ke sini besok pagi!” pinta ibunya.

__ADS_1


###


Keesokan paginya, Rudi yang sudah diminta Clara menemui ibunya, menepati permintaan Bu Sukma. Ia sudah berada di rumah Clara tepat pukul 7 pagi, sebelum berangkat ke kantor. Rudi juga meminta maaf pada Hani dan ibunya akan kejadian ini.


“Jadi  kapan pernikahan itu akan berlangsung? Setelah menikah Clara akan tinggal di mana? Ibu mau secepatnya kamu menikahi Clara karena perutnya akan membesar seiring waktu,” ujar Bu Sukma tanpa basa–basi.


Rudi menunduk. “Baik, Bu. Saya akan menikahi Clara dalam beberapa hari ke depan. Tidak perlu acara yang mewah, cukup akad saja. Karena pernikahan ini tanpa sepengetahuan istri saya. Untuk sementara, Clara tinggal di sini saja dulu bersama Ibu dan Hani.”


“Loh, Mas. Kamu ‘kan ada apartemen, kenapa aku tidak boleh tinggal di sana?” sahut Clara yang tak terima dirinya seolah tidak mendapat fasilitas apa pun dari Rudi.


Rudi kemudian menjelaskan bahwa istrinya sudah mengetahui kepemilikan apartemen tersebut, sehingga tidak mungkin Clara akan tinggal di sana. Ia berjanji akan membelikan 1 rumah untuk Clara kelak. Tetapi tidak sekarang, semua butuh proses karena ia juga sedang tak banyak uang yang cukup untuk membeli rumah.


Rudi menambahkan jika mereka menikah, tentu Clara tidak perlu takut meski tetap tinggal di sini karena tetangganya tidak akan ada yang tahu kalau Clara sudah hamil.


Mendengar tentang apartemen, Hani teringat Razka. Ia tiba-tiba berniat ingin memberikan sedikit kejutan dengan mengiriminya makanan. Karena akhir-akhir ini Razka sering lembur, jadi ia ingin Razka bisa langsung makan malam tanpa harus membelinya terlebih dahulu. Lagi pula, selama ini Hani tidak pernah memberikan apa pun pada kekasihnya itu.


###


Razka tampak mengamati bingkisan tersebut. Tercium bau masakan. Dari tempatnya, sepertinya bukan makanan yang sengaja dipesan dari resto lalu dikirimkan padanya. Namun, seperti makanan yang dimasak sendiri.


Setelah diutak atiknya bingkisan itu, ia tak menemukan nama pengirimnya. Razka kemudian bertanya pada bagian resepisonis. “Dari siapa ya?”


“Dari Mbak Hani.”


Razka seketika tersenyum manis dan membawa bingkisan makanan itu ke dalam unitnya, lalu sengaja menelepon Hani untuk memastikan bahwa ini benar dikirim olehnya.


“Iya betul, Pak, itu dari saya. Semoga Bapak suka ya,” jawab Hani dalam panggilan teleponnya yang membuat Razka gemas.


“Terima kasih, Sayang. Tapi kenapa bukan kamu sendiri yang mengantarnya? Aku pikir kamu yang antar dan menungguku pulang. Aku rindu,” manja Razka yang ingin bertemu Hani.

__ADS_1


“Nanti ya, aku pasti mampir,” janji Hani.


Semenjak pertemuan mereka di danau, mereka memang belum bertemu lagi karena Razka begitu banyak pekerjaan.


###


Pagi ini, perusahaan Razka dan ayahnya, akan melakukan pertemuan dengan perusahaan ayah Tasya. Mereka sudah berjanji akan bertemu di kantor ayah Tasya pagi ini pukul 9. Razka dan ayahnya, juga asistennya, yang sudah datang, segera memasuki ruangan rapat yang sudah diinformasikan.


“Kamu ingat ‘kan maksud dan tujuan Ayah?” tanya ayah Razka memastikan Razka bisa bertindak sesuai dengan kemauannya.


Razka mengangguk paham.


Di ruangan rapat, ayah Tasya yang sudah mengunggu kedatangan mereka, mempersilakan duduk Razka dan ayahnya.


Setelah sedikit berbasa-basi, Pak Gutama memulai rapat mereka dengan mendengarkan presentasi tim dari Pak Indriawan tentang proposal kerja sama mereka.


Pertemuan itu berlangsung lancar selama 1,5 jam. Proposal diterima, namun Pak Gutama belum mau menandatangani berkas kerja sama mereka, dengan dalih akan mendiskusikannya terlebih dahulu bersama timnya saat di kantornya nanti. Ayah Tasya itu pun menyetujui keputusan ayah Razka.


Ayah Tasya juga membahas soal perjodohan anak-anak mereka.


Ayah Razka tersenyum memandang anaknya. "Tak jadi persoalan kalau tentang itu."


Razka membalas pandangan ayahnya dan tersenyum kecil.


Selesai pertemuan dan berpamitan, Razka dan ayahnya segera keluar ruangan untuk kembali ke kantor mereka.


Selama di perjalanan, Rakza tampak membaca ulang proposal kerja sama mereka. Hal itu dibiarkan oleh ayahnya karena ia ingin Razka menilai bagaimana kredibilitas perusahaan ayah Tasya. Setelah beberapa menit kemudian, Razka seperti menemukan sesuatu yang janggal.


Ayahnya hanya tersenyum. “Kita ikuti cara main mereka. Pesaing tetaplah pesaing."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2