Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Harus Bagaimana


__ADS_3

Hani yang sedang menunggu ibu Razka diperiksa di ruang IGD, segera menghubungi Razka untuk memberitahukan hal ini. Namun sayang, Razka  tak mengangkat panggilan teleponnya hingga empat kali. Mau tak mau, ia mewakili pihak keluarga untuk bertemu dengan dokter jaga.


Dokter mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan sementara, Lita terkena diabetes tipe 2 jika mengacu pada hasil cek darah. Pihak rumah sakit akan segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui pasti kondisi kesehatan ibu Razka tersebut. Pihak rumah sakit juga meminta agar ibu Razka opname beberapa hari sembari dilakukannya pemeriksaan tersebut. Karena dari hasil laboratorium juga dapat diambil kesimpulan, bahwa ginjalnya mulai terganggu yang disebabkan oleh penyakit gula ini.


Hani yang bukan keluarganya, tak ingin salah mengambil keputusan. Ia kembali menghubungi Razka, karena membutuhkan persetujuan pihak keluarga untuk dilakukannya rawat inap. Syukurlah, Razka mengangkat panggilan Hani.


“Halo, Sayang, ada apa? Maaf aku baru selesai meeting, ada sedikit masalah di kantor,” sapa Razka.


Hani pun segera melaporkan kondisi ibu Razka dan memintanya agar segera ke rumah sakit sekarang. Sembari menunggu Razka, Hani menghubungi Angga untuk meminta izin datang terlambat ke kafe, karena sedang ada insiden di rumah sakit. 20 menit kemudian, Razka dan ayahnya datang. Hani sedikit menceritakan kronologi pingsannya ibu Razka tadi pagi, dan menjelaskan tentang apa yang dikatakan dokter padanya. Ayah Razka kemudian segera menemui petugas rumah sakit untuk mengurus rawat inap istrinya.


“Kamu tidak ke kafe?” tanya Razka seusai ia mengucapkan terima kasih pada kekasihnya itu.


“Aku sudah izin sama Pak Angga. Setelah ini mau berangkat,” jawab Hani sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Razka tak sengaja melihat semburat merah di tangan Hani kemudian memegangnya dengan lembut. “Kenapa?”


Hani menggeleng dan berbohong. “Oh, ini, aku tidak tahu, mungkin tadi kena benda tajam, tapi aku baru sadar.”


Razka kemudian mengantarkan kekasihnya itu ke kafe.


Saat dalam perjalanan, Razka kembali melihat wajah Hani yang seolah sedikit merasa kesakitan sembari memegangi tangannya yang merah.


Razka kembali bertanya pada Hani, karena tak mungkin jika ia tak tahu penyebabnya. Namun, Hani terus mengelak untuk berkata jujur, karena ia tak ingin ada perdebatan lagi antara Razka dan ibunya. Hani pun meminta Razka untuk tak membahasnya lagi.

__ADS_1


Sesampainya di kafe, Razka segera berpamitan pada Hani untuk segera kembali ke rumah sakit melihat keadaan ibunya.


###


Sementara itu, saat sedang menunggu Lita dipindahkan ke kamar VVIP, ia merengek pada suaminya. “Jangan tinggalkan aku, Yah, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Razka. Apalagi, kondisiku sedang sakit saat ini.”


Gutama hanya mampu menghela nafas karena tak tega melihat kondisi istrinya. Ia pun meminta Lita untuk mulai mengubah sikapnya mulai sekarang. Percaya atau tidak, kondisi kesehatannya juga dipengaruhi oleh hatinya yang buruk.


“Kamu tau kalau kamu tidak bisa memberiku anak dan aku tak masalah. Kamu paham bahwa kita hanya punya Razka, tapi kamu tak pernah mau berkorban untuknya sedikit saja," tegur Gutama mengingatkan akan sikap istrinya.


"Untung ada Hani yang menolongmu, kalau tidak, aku dan Razka tidak akan bisa segera ke sini," lanjutnya.


“Hanya kebetulan saja, Ibu juga tak mau dibantu dia. Ibu sudah bilang juga padanya kalau Ibu tak butuh bantuannya. Sampai ibu tampik tangannya, tapi Ibu malah tiba-tiba pingsan,” jawabnya jujur yang tetap tak suka dengan Hani.


Ibunya mencoba menjelaskan pada Razka, namun Razka sudah sangat marah pada sang ibu yang sering menyakiti Hani.


“Razkaaa,” teriak Lita memanggil Razka yang pergi meniggalkan rumah sakit. Hancur hatinya ketika dipanggil Tante dan dengan sebutan Anda oleh anak yang dirawatnya sedari bayi.


Gutama berdiri dan memandang istrinya dengan tatapan tajam. “Aku bilang juga apa. Kamu memang benar-benar keras kepala! Kalau kekecewaan kami sudah memuncak, besar kemungkinan kamu akan hidup sendirian, mengurusi penyakitmu sendiri.”


###


“Sayang, tolong jangan seperti ini padaku, aku benar-benar minta maaf,” rayu Rudi pada Sonya.

__ADS_1


“Apa aku marah hingga mengamuk? Tidak ‘kan? Lalu apa yang kamu harapkan dari sikapku?” Sonya bertanya kembali pada suaminya.


“Kamu memang tidak marah tapi sikapmu dingin padaku,” jawab Rudi mengiba.


“Jelas saja, wanita mana yang tak berubah sikap jika tahu suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Aku kira aku bisa tetap tegar dan tenang menghadapimu, namun ternyata aku tak sekuat itu!” tegas Sonya tak kuasa menahan emosinya.


“Apa aku banyak kurangnya bagimu? Apa aku tak bisa melayanimu dengan baik? Apa dia jauh lebih baik dariku?” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Rudi seketika memeluk istrinya, namun ditepis oleh Sonya.


Rudi pun mengatakan bahwa bukan istrinya yang bermasalah, tetapi dirinya lah yang tak bersyukur memiliki istri sesempurna Sonya. Sonya bahkan tak memiliki kekurangan apa pun, Rudi begitu bahagia bersamanya. Ia hanya terbuai dengan bisikan iblis yang terkutuk. Ia telah gagal menjadi suami yang baik dengan mengkhianati janji suci pernikahan mereka.


“Aku tak akan memintamu memilihku atau dia, sebab hatiku telah tergores begitu dalam. Kalau pun kamu memilihku, aku tak akan bisa kembali baik padamu! Aku juga tak yakin kamu bisa memilih satu di antara kami. Selama ini aku sudah sabar saat kamu sering menggoda perempuan-perempuan muda, tapi aku tidak menyangka kamu akan sejauh ini melangkah!” Sonya benar-benar tak mampu menahan perasaannya.


Rudi berlutut dan menangis. “Maafkan aku.”


“Anak-anak sudah biasa tanpamu. Mereka sudah biasa ditinggal berhari-hari oleh papanya. Jadi, tak masalah jika kamu menemuinya 2 kali seminggu, aku bisa bilang kalau papanya sedang bekerja,” lanjut Sonya yang membuat Rudi kembali berdiri.


“Apa maksudmu menemui anak-anak dua kali seminggu? Aku lebih nyaman tinggal di rumahku sendiri, dan aku sudah mengatur jadwal untuk menemui Clara 2 kali seminggu. Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu,” bujuk Rudi yang tetap ingin hubungannya baik-baik saja dengan Sonya.


“Ceraikan aku, tinggalkan kami!”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2