Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Mencurahkan Isi Hati


__ADS_3

Bu Sukma yang menyadari Hani kini tak pernah lagi pulang malam, mulai mempertanyakan pekerjaannya.


“Kamu masih bekerja di kafe ‘kan Han? Tapi kenapa kamu pulangnya sore?” tanya ibunya penasaran.


Hani memang belum memberi tahu ibunya tentang pekerjaan barunya di kafe, karena takut ibunya akan semakin meminta jatah bulanan yang lebih banyak.


“Hani tetap bekerja di kafe, tapi kerja di kantornya sekarang. Makanya, pulangnya sore,” jawabnya terpaksa jujur saat makan malam di rumah.


Mendengar jawaban Hani, Bu Sukma seketika sumringah. “Kalau begitu gajimu naik dong. Jatah bulanan ibu juga naik ya.”


Seolah benar dugaannya. “Gaji Hani hanya naik sedikit, Bu. Kemarin-kemarin Ibu bisa hidup dengan nominal jatah bulanan sebelumnya. Pengeluaran Hani saja juga masih sama. Gaji naik bukan berarti pengeluaran harus naik juga. Lagi pula, Hani akan menggunakan sisa gajinya untuk ditabung.”


Ibunya pun mengingatkan Hani untuk meminta Razka bila ia sedang membutuhkan uang. Apa gunanya memiliki pacar kaya kalau tak memberi apa-apa. Dengan tegas Hani menolaknya dan meminta sang ibu untuk tetap memanfaatkan jatah bulanan dari Hani seperti sebelum-sebelumnya.


“Pelit.”


“Memangnya si Razka itu kerja apa, Kak?” sahut Clara yang ikut nimbrung.


Hani sengaja tak mengatakan pekerjaan Razka, karena takut jika keluarganya akan memanfaatkannya. “Razka hanya menjalankan bisnis kecil milik ayahnya.”


Clara seakan tak bisa percaya pada sang kakak, tak mungkin jika hanya bisnis kecil, karena mobil Razka bukanlah mobil murah untuk kelas menengah ke bawah.


“Intinya, tak peduli siapa dan apa pun pekerjaan Razka, Ibu tak berhak meminta uang padanya. Yang penting dia bisa mencukup kebutuhkan keluarga kecil kita nanti setelah menikah. Hani juga meminta tolong pada Ibu untuk menjaga sikap. Hani takut keluarganya menjadi tak merestui hubungan kita setelah tahu ibu matrealistis.”

__ADS_1


“Wajar dong seorang ibu meminta uang pada anak dan mantunya. Jangan durhaka kamu!”


Hani pun menghela nafas panjang. Ia tak ingin berdebat karena sedang lelah. Ia kemudian kembali menjelaskan secara baik-baik maksud dari ucapannya, bahwa selama ini ia juga telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak. Hanya saja ibunya yang tak bisa bersyukur dan selalu meminta lebih.


Setelah selesai makan, Hani kembali ke kamar untuk istirahat. Ia tak berhenti merenungkan bagaimana jika suatu saat nanti adik dan ibunya bertemu keluarga Razka, apalagi saat berkunjung ke rumah Razka yang pasti mewah. Ia takut ibunya akan dengan bangga menunjukkan sifat matrenya di depan orang tua Razka. Belum lagi saat Clara hamil besar nanti, ia datang tanpa didampingi suami, karena hubungan mereka masih diam-diam.


Otaknya berisik, ingin rasanya ia tak dilahirkan dalam keluarga yang seperti ini.


###


Pagi ini, Razka yang sudah berjanjian dengan Hani akan mengantarkan ke kafe, sudah siap menjemputnya di rumah. Ia bertemu Bu Sukma yang selalu merajakan Razka karena ada maunya. Hani yang mengetahui sikap ibunya itu pun segera mengajak Razka berangkat sebelum ibunya meminta uang.


“Hani, sebentar Sayang. Ibumu masih mau berbicara,” ucap Razka menolak Hani untuk berangkat.


“Iya, Han, kenapa sih buru-buru, Ibu ‘kan sudah lama tidak bertemu Razka,” sahut ibunya.


Razka dengan cekatan menenangkan Hani dan meminta Hani untuk tak berbicara seperti itu pada ibunya. Rakza juga meminta Hani untuk tidak memikirkan orang tuanya. Namun, Hani masih terus mempertahankan pendiriannya bahwa ibunya harus berubah.


“Hani akan tinggalkan Ibu jika Ibu masih bersikap mata duitan!” Hani seakan sudah tak bisa menahannya. Seperti bom waktu yang meledak, ia hanya ingin lepas dari situasi keluarga yang seperti ini sedari dulu.


“Apa Ibu pernah berfikir kalau Hani akan kesulitan mencari pasangan karena ibu dan Clara! Memiliki ibu yang matre, dan seorang adik yang membuat malu karena hamil di luar nikah, dengan suami orang,” lanjutnya mengeluarkan isi hatinya.


“Bisa bisanya kamu bicara begitu. Apa salah kalau Ibu meminta uang pada kamu dan juga calon suamimu? Kamu besar juga karena Ibu! Dasar tidak tahu balas budi! Kamu pikir tanpa Ibu kamu bisa tumbuh dan berkembang?” Bu Sukma tak mau kalah.

__ADS_1


Hani kembali menjelaskan bahwa justru ia tahu akan kewajibannya hingga tak pernah lupa menyisihkan uangnya untuk sang ibu, namun ibunya kerap kali tak bersyukur dengan selalu meminta lebih. Bahkan, tak jarang ibunya menghambur-hamburkan uang pemberiannya. Kalau soal seorang ibu yang membesarkan anaknya, Hani tak pernah memintanya. Karena sudah seharusnya seorang Ibu berbuat demikian.


“Kalau tak mau membesarkan Hani, kenapa Ibu melahirkan Hani?” Hani benar-benar sudah lelah dengan posisinya bertahun-tahun.


Razka melerai pertengkaran antara Hani dan ibunya sebelum masalah semakin membesar. Razka pun terus menenangkan Hani, meski ia tahu perasaan kekasihnya itu sudah sangat jengkel dengan keluarganya. Tak menampik, nama Hani juga ikut tercoreng akibat sifat buruk ibu dan adiknya. Ia juga meminta Bu Sukma untuk membuka hati memaafkan ucapan Hani, dan memohon untuk tidak banyak menuntut anak-anaknya.


Clara yang mendengar pertengakaran kakak dan ibunya di ruang tamu, bergegas keluar dari kamarnya untuk menghampiri mereka.


“Ibu menyesal membesarkan kalian! Punya anak sama sekali tidak membuat bangga orang tua. Malah tak tahu balas budi. Yang satu perhitungan, yang satu hamil di luar nikah! Tidak ada yang bisa diharapkan, tidak berguna dua-duanya!” ucap ibunya sembari pergi meninggalkan mereka.


Razka terus memeluk Hani yang tengah menangis.


“Aku capek, Ka,” adunya di dalam pelukan pria tampan itu.


“Aku tahu, tenang ya.” Razka terus mengusap-usap punggung kekasihnya itu.


Clara yang mendengar perkataan sang ibu, tak kuasa menahan tangisnya. Entah karena perasaan ibu hamil yang sensitif, atau karena ia yang merasa pengorbanannya tak dihargai. Selama ini, ia selalu bertindak sesuai kemauan sang ibu. Dari mulai menjadikan dirinya sendiri perempuan cantik nan seksi, mencari kerja agar diterima karena fisiknya, bahkan, ia memacari para pria kaya juga karena tuntutan ibunya. Termasuk Rudi, yang hubungannya sempat didukung ibunya dan tak peduli meski ia akan menjadi istri kedua.


Sekarang, ibunya justru menyalahkannya seolah tak bisa sedikit pun menghargai usahanya selama ini. Padahal, saat seperti ini lah ia membutuhkan dukungan keluarganya. Di saat ia tak memiliki siapa pun selain kakak dan ibunya. Entah siapa lagi yang bisa menjadi peraduannya selain mereka berdua, karena suaminya pun seakan tak bisa menjadi seorang suami yang seutuhnya.


Melihat adiknya menangis sesenggukkan, Hani yang selama ini keras pada Clara pun menjadi tak tega. Ia menghampiri sang adik kemudian memeluknya. Bagaimana pun, terlepas dari kesalahan yang Clara lakukan, ia tetaplah adik kandung satu-satunya. Mau menyalahkan seperti apa pun, nasi sudah menjadi bubur. Yang harus dilakukan adalah tetap melanjutkan hidup, seperti apa pun kesulitan ke depannya.


“Maafkan Clara ya, Kak, sudah membuat malu,” ucap Clara yang membuat hati Hani semakin teriris. Ini pertama kalinya dalam seumur hidupnya, Clara meminta maaf padanya.

__ADS_1


“Maafkan Kakak juga ya,” timpal Hani sembari terus memeluk sang adik.


...****************...


__ADS_2