
Setelah informasi dari Clara saat itu, Razka seolah paham apa yang Tasya dan stafnya lakukan. Ia langsung memberitahukan hal ini pada sang ayah untuk mendiskusikan langkah apa yang akan mereka ambil. Mengingat, hal ini harus segera diputuskan agar tidak merambah ke masalah yang lebih besar.
“Jadi Wisnu diduga menerima tawaran Tasya untuk membantu kecurangannya?” Gutama memastikan apa yang dimaksud Razka.
Razka mengangguk. “Karena Wisnu adalah salah satu staf kepercayaan Ayah yang mengurus langsung soal kerja sama kita dengan PT. Purnama Sari, perusahaan retail milik Pak Purnama, yang Ayah bilang adalah salah satu pengusaha retail besar yang sudah lama diincar perusahaan Pak Indriawan.”
Di tengah diskusi mereka, salah seorang staf lain masuk ke dalam ruangan Gutama.
“Ini berkas yang Pak Razka minta. Saya juga sudah memeriksa kembali email yang masuk dari pihak kontraktor, bahwa mereka menolak negoisasi perusahaan, Pak,” lapornya seraya memberikan beberapa kertas yang dibutuhkan Razka.
Razka kemudian menyampaikan terima kasihnya dan meminta staf tersebut untuk keluar ruangan karena ia akan kembali berdiskusi dengan sang ayah.
Razka mengungkapkan kesimpulannya pada ayahnya bahwa perusahaan ayah Tasya tak terima dengan tindakan mereka, sehingga mereka ingin merusak nama baik perusahaan Gutama di depan kliennya. Tujuannya agar klien besar mereka kembali bekerja sama dengan perusahaan Indriawan. Razka juga mengamati kecurangan apa saja yang telah dilakukan oleh Wisnu.
Kecurangan itu adalah Wisnu dengan sengaja mengubah poin-poin negoisasi yang memberatkan perusahaan kontraktor dengan harga yang tidak seimbang. Sehingga, muncul surat penolakan dari pihak kontraktor. Hal itu menyebabkan terlambatnya eksekusi proyek, sedangkan mereka memiliki batas waktu sesuai kesepakatan. Keterlambatan ini lah yang akan menimbulkan ketidakpuasan perusahaan PT. Purnama Sari.
Ayah Razka kemudian meminta Razka untuk kembali mengirim surat negoisasi kepada kontraktor, namun sayang, mereka sudah menerima kerja sama dari perusahaan ayah Tasya, yang menawarkan poin negoisasi lebih mudah dengan harga yang lebih tinggi.
__ADS_1
Setelah berdiskusi cukup panjang, Gutama memutuskan untuk meminta staf lain segera mengirim surat kerja sama dengan kontraktor lain yang tak kalah kompeten. Ia juga akan menonaktifkan status Wisnu untuk sementara waktu sebelum dilakukan pemanggilan atas pelanggaran yang dilakukannya. Sembari mereka mengumpulkan bukti bahwa Wisnu memang terlibat dalam kecurangan ini.
###
Malam ini, Razka sengaja pulang kantor bersama sang ayah karena ia ingin bertemu ibunya. Razka juga telah menceritakan tentang perlakuan ibunya kepada Hani dan keluarganya. Gutama pun ikut naik pitam mendengar cerita Razka.
“Bu, Ibu,” panggil Gutama kepada istrinya yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.
“Loh, Razka, untung Ibu minta bibi masak lebih banyak, ternyata kamu pulang,” sambut Lita yang melihat kedatangan Razka dan berlaku seolah tak pernah melakukan kesalahan apa pun.
“Razka tidak ingin makan di rumah, hanya ingin bertemu Ibu,” jawabnya ketus.
“Kamu itu hanya tahu Hani dari pendapat Tasya, sedangkan Tasya sendiri membenci Hani karena Razka lebih memilih Hani. Tidak adil itu namanya. Aku sudah bilang kalau memang ada yang tak kamu suka dari Hani, ajak dia bicara baik-baik berdua. Aku sunggu kecewa sama kamu, Bu. Watakmu masih saja sama seperti dulu, kamu benar-benar tak pantas menjadi ibu Razka yang jauh berbeda wataknya denganmu. Jadi kamu tahu ‘kan, kenapa dulu aku lebih memilih Suci dari kamu? Andai aku menikahimu dari awal, mungkin anakku juga akan seburuk kamu perilakunya,” tegur Gutama.
Mendengar ucapan suaminya yang membela Suci di hadapannya, ia tak terima.
“Kalian memang sama saja. Ayah dan anak yang sukanya memungut sampah,” ujar Lita tanpa perasaan.
__ADS_1
“Berhenti merendahkan Hani, Bu! Razka benar-benar sudah hilang kesabaran. Selama ini Razka selalu ingin berhubungan baik dengan Ibu, bahkan sebelum Razka tahu kalau Ibu bukan yang melahirkan Razka. Tapi ternyata Razka tidak perlu melakukan itu! Dengan atau tanpa restu Ibu, Razka akan tetap menikah dengan Hani! Selama Ibu tidak menganggap Razka dengan tidak menghargai keputusan Razka, selama itu pula Razka akan memanggil Ibu, Tante Lita!” Setelah puas menegur ibunya, Razka pergi meninggalkan rumahnya.
Gutama kembali mengambil alih pembicaraan setelah Razka pergi. Ia mulai menceritakan tentang kecurangan yang dilakukan Tasya dan ayahnya, yang mengancam kerugian pada perusahaannya, seakan ingin memberitahukan sifat asli dari keluarga yang Lita banggakan. Ia pun tak sudi jika memiliki besan dan menantu seperti itu. Lebih baik Razka tak berjodoh dengan Tasya dari pada aset dan perusahaannya dikuasai ayah Tasya di kemudian hari. “Aku akan lebih memilih menyelamatkan perusahaanku dari pada mempertahankan pernikahan kita!”
“Aku bisa saja menyudahi pernikahan kita kalau kamu tak mau menurut! Kalau kamu masih menganggapku suamimu, hormatilah keputusanku dan turuti permintaanku yang menginginkanmu berubah. Aku menikahimu demi agar Razka mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Tapi jika kamu tidak bisa juga memberikannya sampai saat ini, aku rasa kesempatanmu sudah cukup sampai di sini. Aku sudah terlalu sabar memberimu waktu selama ini untuk menjadi lebih baik!” lanjut Gutama memberi peringatan pada istrinya kemudian pergi ke kamarnya.
Lita hanya terdiam tak berkutik dan ia semakin lemas karena belum benar-benar sembuh dari sakitnya.
###
Pagi ini, Hani mampir ke rumah sakit untuk mengambil hasil laboratorium Clara sebelum berangkat kerja. Saat check up Sabtu kemarin, Clara memang diminta oleh dokter untuk cek darah untuk memastikan tidak adanya gangguan kehamilan. Saat akan pulang, tampak dari jauh ia melihat ibu Razka yang sedang berjalan sendiri menuju loket pendaftaran rumah sakit. Wajahnya tampak pucat.
Dengan takut, ia tetap ingin menyapa ibu dari kekasihnya itu, tak peduli cacian apa lagi yang akan ia dengar kali ini.
Saat mereka semakin dekat, tiba-tiba tubuh ibu Razka seperti akan tumbang. Dengan cepat, Hani berlari menghampirinya dan menopang tubuhnya. Melihat Hani yang ingin membantunya, ibu Razka itu segera menampik tangan Hani begitu keras dan mencengkeramnya begitu kuat, padahal kondisinya sedang lemah. Ia juga sempat membentak Hani agar tidak menyentuhnya.
Hani kemudian melepaskan perlahan tangannya. “Maaf, saya lihat Ibu seperti mau pingsan.”
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, ibu Razka itu benar-benar pingsan.
...****************...