
Ayun yang menyadari bahwa pengunjung meja 8 adalah Tasya dan teman-temannya, seketika memberitahukan hal ini pada Hani. Ayun berinisiatif untuk mengantarkan buku menu dan meminta temannya yang lain untuk mengantarkan pesanan mereka nanti. Ayun tak ingin Tasya menemui Hani lagi.
Sayangnya, Tasya hanya akan mau memesan makanan setelah Hani sendiri yang mengantarkan buku menu dan merekap pesanan mereka. Mendengar hal itu, Hani langsung turun tangan. Ia tak ingin melibatkan orang lain dalam urusannya. Meskipun ia tahu, mentalnya akan kembali terguncang dengan kehadiran Tasya.
“Selamat pagi, silakan,” ucap Hani ramah.
“Hai, Han,” sapa Tasya. Tasya kemudian memperkenalkan Hani pada ketiga temannya. Entah apa maksud Tasya, memperkenalkan Hani sebagai temannya.
“Jadi, temanku tuh memang banyak ya guys, dari anak pejabat, selebritis, hingga pelayan kafe. Semua kalangan aku koleksi, dari kalangan atas sampai bawah seperti dia,” lanjut Tasya.
“Wih, si calon Trophy Wife, eksis ya bund,” sahut salah seorang teman Tasya.
“Iya dong, Nyoya Razka gitu,” jawab Tasya yang seakan sengaja memanas-manasi Hani lagi.
Hani hanya terdiam menahan sabarnya mendengar ucapan Tasya yang menyebut nama kekasihnya itu. Apa benar Razka akan segera menikah dengan Tasya? Razka belum membahas tentang ini sekali pun.
Setelah Hani merekap pesanan Tasya dan teman-temannya, ia dengan ramah berpamitan meninggalkan meja Tasya. Namun, Tasya berhasil mencegah kepergian Hani dengan menahan tangan kirinya. Tasya kemudian memberikan uang seratus ribuan pada Hani. “Tips.”
Hani dengan tegas menolaknya. “Tasya, biar pun kita berteman, tetapi saya tidak perlu ini. Lebih baik kamu berikan pada yang lain.”
__ADS_1
Kemudian Hani pergi menuju dapur untuk meneruskan pesanan pada koki.
Sementara itu, Angga yang sedari tadi memantau perilaku Tasya, benar-benar geram pada perempuan yang pernah diceritakan Razka itu. Begitu kuat keinginannya untuk bersama Razka hingga sering kali merendahkan Hani. Padahal, Razka sama sekali tidak mau meliriknya. Lahir dari keluarga pekerja keras tanpa sosok ayah, Angga sangat membenci orang-orang seperti Tasya yang semena-mena hanya karena dikellingi kemewahan duniawi sedari dalam kandungan.
Angga kemudian meminta Hani untuk menghadapnya ke ruangannya.
“Ada apa, Pak?” tanya Hani sopan.
Angga mulai menjelaskan maksud dan tujuannya memanggil Hani. Ia menceritakan bahwa tahun depan kemungkinan ia sudah pindah ke Sydney, tinggal bersama ibunya yang sedari dulu bekerja di sana. Di mana, calon istri Angga juga sedang melanjutkan kuliahnya, juga telah menyambi bekerja di sana. Ia akan kesulitan memantau kafe ini, dan takut tak akan terurus.
Untuk itu, kepemilikan kafe ini akan berpindah tangan. Bukan tanpa alasan ia menjual kafenya. Uang hasil penjualan kafe tersebut akan ia pakai untuk membangun kafe baru di Sydney, sebagai mata pencahariannya.
Angga menenangkan Hani dan memastikan bahwa penjualan kafe ini tidak akan mengubah apa pun. Hani dan teman-temannya tetap akan bekerja seperti biasanya. Tidak akan ada pengurangan karyawan. Angga bisa memastikan bahwa ia tak akan sembarangan menjual kafenya pada orang yang tidak tepat.
“Sebagai pemilik, dia akan lebih baik dari pada saya,” ucap Angga.
Angga kemudian bermaksud meminta Hani mulai belajar tentang operasional kafe dan kepengurusan kafe di balik layar. Dalam arti lain, mulai hari ini Angga meminta Hani berpindah tugas tidak sebagai pelayan kafe lagi, melainkan bekerja di dalam kantor kafe. Angga ingin Hani mulai belajar pada karyawannya yang bertugas di kantor kafe.
“Saya hanya percaya sama kamu, Han. Kamu adalah pelayan kafe saya yang jujur. Setidaknya, setelah kafe ini bukan lagi saya yang pegang, ada kamu yang bisa tetap menegakkan kejujuran di kafe ini. Nantinya, saya mau kamu yang mengurus semua hal tentang urusan kafe ini. Dari mulai mengontrol laporan keuangan dari akuntan, memantau kinerja tim pemasaran, dan distribusi dari penyuplai. Saya yakin sebagian kamu sudah memahaminya, jadi kamu tinggal belajar yang belum kamu tahu. Saya percaya kamu orang yang cerdas. Lagi pula, teman-teman kamu akan merasa aman jika kamu yang memimpin mereka, sekalipun kafe bukan lagi milik saya,” ungkap Angga menyatakan mandatnya.
__ADS_1
“Ta-pi, Pak. Saya hanya lulusan SMA, saya takut tidak bisa menjalanan tugas dari Pak Angga. Kenapa juga harus saya, Pak? Bukan kah teman-teman yang lain banyak yang lebih berkompeten dari pada saya?" sanggah Hani yang tak percaya diri pada kemampuannya.
Angga kembali meyakinkan Hani bahwa ia lah orang yang tepat, orang yang bisa Angga percaya.
“Justru itu, mulai hari ini kamu harus belajar. Saya juga akan mengajari dan memantau kamu. Tidak ada bedanya lulusan SMA dan perguruan tinggi, selama mau belajar hal baru dan serius menjalaninya. Saya yakin 2 hingga 3 bulan kamu sudah bisa menguasai tugas kamu,” ujar Angga dengan penuh keyakinan.
Angga juga mengingatkan Hani bahwa kafe ini ia bangun dengan susah payah, sehingga ia mau kafe ini tetap ada sampai kapan pun, meskipun Angga tak lagi menjadi pemiliknya.
“Buktikan pada semua orang bahwa kamu tidak bisa direndahkan. Dan demi saya, juga nama baik kafe ini. Sanggup tidak sanggup kamu harus sanggup,” lanjut Angga memotivasi Hani.
Hani yang merasa bosnya itu sudah sangat baik padanya, tak mungkin rasanya jika ia berani menolaknya. Lagi pula, kesempatan ini baik baginya untuk semakin menaikkan derajatnya. Ia juga akan bekerja keras agar Angga tidak kecewa padanya.
Hani menyanggupi permintaan Angga, dengan syarat, Angga dan rekan-rekan kerja yang lain harus dengan sabar, dan intens dalam mengajari dan melatihnya sampai ia bisa melakukan sendiri pekerjaannya.
Angga mengangguk teresnyum dan menyalami tangan Hani.
“Kamu lah yang harus menjadi trophy wife itu, Hani. Siapa pun suami kamu nanti,” ucap Angga dalam hati.
...****************...
__ADS_1