Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Sadarkan Dia, ya Tuhan


__ADS_3

Sepulang kerja, Razka menyempatkan menemui ibunya di rumah sakit atas permintaan ayahnya.


Namun, lagi-lagi ia dibuat kecewa karena dirinya mendapati Tasya sedang menjenguk sang Ibu.


“Razka,” sapa Tasya ramah.


Razka kemudian langsung duduk di sofa dan tak mempedulikanya. “Saya ke sini untuk menggantikan ayah, karena ayah sedang ada urusan, sebentar lagi dia ke sini.”


Lita meminta Razka mengobrol bersama Tasya, entah apa yang ada di pikirannya hingga ia masih tetap menginginkan Razka menikah dengan Tasya.


“Tak punya malu kamu? Sudah licik masih menampakkan diri!” tegas Razka pada Tasya.


“Razka, kamu tahu, sebelum Hani yang menolong Ibu, ada Tasya yang menemani Ibu berobat minggu lalu. Jangan kamu dewakan perempuan pelayan kafe itu!” sahut ibunya.


Razka pun memberitahukan ibunya jika saat ini Hani bukan lagi pelayan kafe, melainkan seorang manajer di kafenya. Ia meminta agar ibunya tak terus menghina Hani. Ia juga mengingatkan ibunya bahwa Tasya menemaninya karena ada maunya, sedangkan tidak dengan Hani yang tulus membantu.


Tasya kemudian meminta maaf atas apa yang terjadi dan mulai menjelaskan dengan kebohongannya bahwa ia sengaja menarik pihak kontraktor yang telah bekerja sama dengan perusahaan ayah Razka karena mengetahui bahwa kontraktor tersebut sedang terlibat kasus hukum.


“Kamu pikir aku bisa percaya? Bilang saja karena kamu ceroboh ‘kan? Niat hati ingin mencuri tapi malah salah ambil,” ucap Razka tertawa menghina.


Tasya pun menghampiri sofa Razka dan duduk di sebelahnya sembari memegang lengan Razka seolah ingin merajuk. “Bukan begitu, Ka, aku sudah tahu mereka ada masalah jadi aku tak ingin perusahaan ayah kamu juga kena imbasnya.”


Razka dengan keras menampik tangan Tasya. “Aku alergi dengan wanita licik sepertimu!”


Tasya berusaha menjelaskan bahwa ia memang benar mencintai Razka, hanya saja karena tuntutan sang ayah yang ingin perusahaan mereka bekerja sama untuk mengambil klien perusahaa Gutama, ia jadi harus berbuat demikian. Namun, dalam hatinya tulus menyayangi Razka. Ia benar-benar ingin hidup bersama pria tampan itu.

__ADS_1


“Razka, jangan gampang marah. Hidup menjadi anak seorang pengusaha memang tak mudah bukan? Mau tak mau Tasya harus menuruti permintaan ayahnya, demi kelangsungan hidup bisnis mereka. Lagi pula, ayahmu punya klien sendiri, jadi tak akan masalah jika perusahaan ayah Tasya mengambilnya. Toh juga keputusan ada di tangan klien. Ibarat pembeli, mereka berhak menentukan mau beli di penjual yang mana,” sahut Lita membela Tasya.


Razka dibuat gila dengan ucapan ibu sambungnya itu. “Anda tidak tahu soal persaingan bisnis, lebih baik Anda diam. Kalau ayah tahu respon Anda terhadap kecurangan mereka, ayah bisa mendaftarkan berkas ke pengadilan agama secepatnya. Apa Anda masih belum terbayangkan bagaimana rasanya hidup sendirian dan menderita sakit?”


Tasya menegur Razka yang dianggap tak sopan pada ibunya sendiri. Tasya bahkan menuduh Razka menjadi berani menentang ibunya karena Hani. Hani dianggap membawa pengaruh buruk pada sikap Razka.


“Jangan sok tahu kamu! Dia bukan ibuku, jangan ikut campur dengan urusan keluargaku! Dan satu lagi, jangan pernah menjelekkan Hani di depanku kalau tak ingin ku tampar mukamu! Sikap Hani bahkan jauh lebih berpendidikan dari pada kamu!” bentak Razka yang kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


###


Gutama berpasasan dengan anaknya yang berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah penuh amarah.


Ia pun menyapa Razka dan menanyakan ada apa dengan anaknya itu, kemudian meminta duduk di kursi pengunjung. “Kenapa kamu sudah pulang? Ibumu sendiri?”


Ayah Razka mencoba menenangkan dan meminta Razka untuk tak ambil pusing dengan ucapan sang ibu. “Buat apa peduli sama mereka? Tasya ‘kan bukan siapa-siapa kamu. Mau dia seperti apa juga tak ada urusannya denganmu, tak akan juga berpengaruh pada hidupmu, jadi biarkan saja. Dan soal ibu, kamu tenang saja, itu urusan Ayah. Lebih baik ajak Hani dan keluarganya makan malam di rumah saat ibumu sudah bisa pulang dan mulai pikirkan tentang pernikahan kalian.”


Mimik muka Razka kembali merekah kala mendengar ucapan ayahnya.


Gutama kemudian meminta anaknya untuk pulang dan beristirahat, sementara dirinya akan kembali ke ruang rawat inap istrinya.


Saat memasuki pintu ruangan, tak sengaja ia juga berpapasan dengan Tasya yang akan pulang. Ia hanya tersenyum kecil dan berlalu masuk ruangan. Tasya pun memandangi Gutama penuh kecewa.


Tanpa aba-aba, Gutama menegur Lita yang lagi lagi telah membuat kesalahan. “Kamu masih ingat ‘kan apa konsekuesinya jika kamu terus begini?”


“Yah, kamu juga harus ingat kalau ada sebagian harta orang tuaku yang menjadi aset kamu sekarang, jadi jangan keras padaku,” ucap Lita tak gentar.

__ADS_1


Gutama pun menantang istrinya jika ia akan mengembalikan total aset yang dimaksud Lita, sebagai harta gono gini seandainya mereka jadi bercerai.


“Lagi pula apa yang kamu harapkan dari benda mati itu? Kemarin saja kamu pingsan kalau tidak ada Hani, bagaimana nasibmu? Ditolong petugas yang mereka tak tahu keluargamu,” tegur Gutama mengingatkan.


Gutama juga sedikit mengancam jika ia bisa saja meninggalkan istrinya yang sudah sakit-sakitan itu sewaktu-waktu. Ia juga mengingatkan Lita akan penyakitnya saat ini adalah balasan dari hinaan dan perbuatan jahatnya kepada Suci di masa lalu. “Aku harap kamu tak pernah lupa bagaimana kamu dulu mengompori ibuku hingga ia membenci dan menekan Suci saat ia hamil. Apa kamu juga tak takut jika sakitmu akan semakin parah karena kamu menghina Hani?”


Gutama menggertak Lita untuk yang terakhir kalinya dengan mengancam akan benar-benar meninggalkannya jika ia masih saja membenci dan tak menerima Hani sebagai calon istri Razka. Bahkan, ia sudah menghubungi kuasa hukumnya untuk mulai mengatur pembagian harta gono gini mereka. Hingga Lita pun memohon agar suaminya tak berbuat demikian.


###


“Kok cuma segini sih, Han? Katanya kamu naik jabatan, masa jatah ibu bulan ini sama saja dengan sebelumnya?” Bu Sukma tak terima dengan nominal pemberian Hani.


“Bu, kita hanya tinggal berdua sekarang, dulu saja saat masih ada Clara, kita masih bisa hidup dengan uang bulanan segini. Hani bahkan hanya mampu sedikit menabung karena separuh gaji Hani untuk keperluan rumah kita.” Hani mencoba memberi pengertian pada ibunya.


“Kamu ‘kan punya Razka, apa jangan-jangan dia juga seperti Rudi yang kere itu. Apa dia tidak pernah memberimu uang, Han? Lalu apa gunanya kamu pacaran sama dia kalau tidak ada uangnya? Putuskan saja dia kalau dia tak memberimu apa-apa. Kamu juga harus memikirkan masa tua ibumu ini. Itu kenapa Ibu mau kamu cari suami kaya raya, biar hidup kita enak!” tegur sang Ibu.


Hani pun menahan geramnya pada sang ibu jika ia selalu memikirkan ibunya, sekarang maupun nanti di masa tuanya. Hani bahkan rela memberikan uang bulanan separuh dari gajinya untuk kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadi ibunya. Namun, ia tak suka jika ibunya terlalu menghambur-hamburkan uang.


“Kalau Hani menikah, Hani pasti akan sedikit memberi Ibu lebih dari ini. Hani tau kok, Bu kalau Hani harus berbakti. Tapi Hani mohon, ibu lebih bijak menggunakan uang. Dulu saja Ibu minta kepada Razka 2 juta ibu habiskan hanya dalam beberapa hari, lalu minta lagi 500 ribu. Bagaimana ibunya Razka tidak marah kalau anaknya diperas sama Ibu?” Hani masih mencoba berucap secara baik-baik pada ibunya.


Bukannya paham, ibunya justru naik pitam dan mulai memaki Hani.


“Kamu sama saja seperti Clara. Lihat dia, setelah menikah bukannya bisa memberi Ibu uang, tapi malah hidupnya pas-pasan. Sekarang, kamu juga mau begitu. Ibu benar-benar menyesal telah melahirkan kalian! Anak-anak durhaka yang tak tahu balas budi! Apa yang kamu berikan bahkan tidak akan cukup untuk membayar air susu Ibu!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2