
“Apa sih tatapannya kok begitu?” protes Hani yang salah tingkah saat Razka tersenyum memandanginya.
“Hebat ya kamu. Aku nggak menyangka Clara bisa sebijak itu,” ujar Razka saat sedang bersantai di tepi kolam renang belakang rumahnya, bersama Hani selesai acara makan malam.
Hani mengernyitkan dahinya. “Kamu heran sama Clara, tapi kenapa yang dipuji aku?”
Razka tersenyum. Ia pun merasa bahwa Clara berubah karena Hani yang dapat menjadi teladannya. “Karena nasehat kamu mungkin.”
Razka juga mengucapkan selamat kepada kekasihnya itu atas pencapaiannya sebagai seorang manager di kafe Angga, mengingat ia belum sekali pun memberikan ucapan selamat kepadanya.
“Kafe kamu maksudnya? Tapi aku tetap merasa aneh karena tiba-tiba Pak Angga minta aku yang menggantikan tugasnya di kafe. Aku masih curiga kamu yang menyuruhnya,” tuduh Hani dengan mimik muka sinis menggemaskan.
Razka mencubit pipi Hani yang masih terlihat tembem meski tubuhnya sudah tampak lebih kurus. Ia pun menjelaskan bahwa keputusan Angga saat itu tidak ada campur tangan darinya. Ia hanya membeli kafe Angga dan menerima semuanya sudah dalam keadaan yang demikian.
“Kalau saya ada salah, jangan marah ya, Pak karena saya masih belajar,” pinta Hani menggoda Razka yang juga sebentar lagi akan diresmikan menjadi pemilik kafe yang baru.
Mereka tertawa dan Razka kemudian merangkul Hani. “Kenapa kisah kita tidak semulus dan secepat orang lain. Padahal, kita sudah saling bertemu dan merasa nyaman sejak hari pertama kencan buta waktu itu.”
Hani hanya terdiam memandangi wajah tampan calon suaminya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba, ia teringat akan suatu hal, tentang kehidupan mereka setelahnya. “Setelah menikah, apa aku harus tinggal di sini? Ibu kamu bilang, dia sedang sakit jadi ingin kita di sini.”
Razka pun membebaskan Hani untuk tinggal di mana pun yang ia mau. Boleh tinggal di rumah orang tuanya, boleh juga di apartemennya. Tak perlu mempedulikan apa kata ibunya karena mereka masih memiliki ART yang bisa membantu aktifitas sang ibu. Kalau perlu, mereka akan mempekerjakan suster untuk merawat ibunya.
Hani meminta izin pada Razka untuk mengungkapkan keinginannya agar bisa tinggal di apartemen. Selain rumah orang tua Razka terlalu besar untuk dirinya, ia juga merasa lebih nyaman bila tinggal sendiri. Apalagi, ia merasa ibu Razka belum sepenuhnya menerima dirinya. Ia hanya ingin menghindari perdebatan karena kondisi kesehatan Bu Lita.
Hani juga mengatakan kesedihannya karena seharusnya ia masih bisa dekat dengan adiknya. Agar ia juga bisa membantu Clara bila membutuhkan bantuannya. Namun sepertinya Clara sebentar lagi akan pindah jika unit mereka sudah terjual.
Mendengar ucapan Hani, Razka pun seakan ikut berduka atas hal yang menimpa Clara.
###
Razka bermaksud untuk meringankan beban Hani yang masih sibuk karena masih terus mempelajari tugas barunya, dengan meminta bantuan jasa tim pengatur pernikahan. Hal itu dilakukan agar Hani tak kerepotan mengurus pernikahan mereka, mengingat Angga akan segera meninggalkan Indonesia dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan. Hal ini menyebabkan Hani harus segera memahami semua tanggung jawabnya.
“Han, aku lihat kamu sudah menguasai 75%, semangat ya! Bulan depan kamu sudah harus menggantikan saya, saat peresmian kamu dan Razka,” ucap Angga membuat Hani terharu.
Ia tak menyangka bosnya yang terkenal baik itu akan meninggalkan kafe. Ia akan merindukannya karena Angga begitu mengayomi semua karyawannya. Hani berharap teman-temannya tak akan membandingkan dirinya dengan Angga saat mengelola kafe, karena Angga tak akan pernah tergantikan.
Hari demi hari berlalu, minggu berlanjut ke minggu berikutnya, hingga bulan pun berganti. Tiba lah saatnya peresmian pemilik kafe yang baru, juga manager kafe yang baru. Angga sengaja mengumpulkan para karyawannya saat pagi hari sebelum mereka memulai kerja.
__ADS_1
“Selamat pagi, sengaja saya adakan peresmian sekaligus perpisahan saya hari ini, meskipun baru bulan depan saya baru berangkat ke Sydney. Karena mulai hari ini hingga jadwal keberangkatan nanti, saya akan sibuk mengurus berkas kepindahan. Jadi, langsung saja, seperti yang sudah kalian tahu bahwa kepemilikan kafe ini sudah berpindah kepada Pak Razka, kebetulan beliau adalah teman baik saya sendiri. Pengelolaan kafe juga berpindah kepada teman kalian, Hani. Saya juga yakin dia adalah orang yang tepat untuk menggantikan saya dalam mengurus dan mengelola kafe. Ingatkan dia kalau memang ada yang salah darinya, seperti saat kalian mengingatkan saya ketika saya lalai. Saya berharap kerja sama ini akan selalu ada di kafe ini, suasanya yang hangat dan kejujuran yang abadi. Meski saya tidak akan di sini lagi, tapi saya akan sangat kecewa bila kinerja kalian menurun. Saya akan memantau kalian melalui Pak Razka,” ucap Angga menyampaikan pesannya.
Angga kemudian meminta Razka dan Hani untuk memberikan kata-kata sapaan mereka.
“Terima kasih Angga untuk kesempatannya. Saya tidak akan banyak berbicara di sini, hanya ingin melanjutkan apa yang sudah dibangun oleh Angga, termasuk kinerja dan sikap positif kalian semua. Saya harap kita bisa bekerja sama menjalankan kafe ini. Jika suatu saatu nanti ada yang kurang berkenan dengan sikap saya, mohon diingatkan ya. Saya sangat bersedia untuk diingatkan apalagi dikritik demi perbaikan kita semua,” jelas Razka.
“Pagi teman-teman semua, Pak Angga juga Pak Razka. Saya juga tidak ingin banyak berbicara di sini, hanya ingin kita tetap bekerja sama seperti dulu. Saling mengingatkan dan saya mau kita juga tetap berteman baik seperti sebelumnya. Ingatkan saya yang masih belajar ini, karena masih banyak kurangnya. Jika ada kesalahan atau tindakan saya yang keliru, langsung bicarakan sama saya ya, jangan bicarakan di belakang karena saya tidak akan tahu. Dan satu lagi, mohon teman-teman untuk bisa menerima saya, dan jangan membandingkan dengan Pak Angga karena pasti akan berbeda. Sampai kapan pun, Pak Angga tidak akan tergantikan. Terima kasih,” ucap Hani.
Angga kemudian kembali berpesan agar mereka semua bisa beradaptasi dengan situasi yang baru ini, karena segala sesuatu tidak ada yang abadi. ”Life must go on, tetap semangat! Saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika selama ini saya banyak salah dalam memimpin kalian. Sampai jumpa di lain waktu, sesekali pasti saya akan mampir ke sini, karena saya akan sangat merindukan kalian. Doakan kafe saya yang baru di sana akan sesukses kafe ini agar saya lebih sering mengunjungi kalian. Sekali lagi, terima kasih atas atensi dan kerja sama kalian selama ini, kalian hebat dan akan selalu di hati saya,” tutup Angga mengakhiri peresmian singkat ini.
Acara pagi ini pun disambut riuh tepuh tangan serta tangis suka dan duka para karyawan yang menjadi satu. Satu per satu dari mereka memeluk Angga dan menyalami Razka juga Hani. Tak lupa Razka dan Angga juga saling berpelukan. Pesan dan ucapan terima kasih pun tak luput dari mereka.
“Sori gue nggak bisa datang ke acara pernikahan lo nanti karena gue udah nggak di sini. Tapi gue harap lo nggak dendam. Gue tetap tunggu kedatangan lo hadir di pernikahan gue nanti,” pinta Angga.
“Gue dan Hani pasti akan datang, sekalian kita liburan di sana. Keep contact ya, Ngga. Thank you untuk semuanya. Lo keren!” balas Razka pada teman baiknya itu.
Mereka pun kembali berpelukan.
Perpisahan ini sungguh hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, namun hidup harus terus berjalan.
__ADS_1
...****************...