Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Hukum Alam


__ADS_3

Rudi menolak keras permintaan cerai dari Sonya. Ia bersikeras tak akan mencerikannya. Bahkan, ia rela meninggalkan Clara demi istri pertamanya itu, meski ia juga tak tega melakukannya.


Sonya tetap pada pendiriannya. Sekeras apa pun Rudi mempertahankan rumah tangganya, ia yakin tak akan bisa menjalankan perannya kembali sebagai seorang istri. Sonya pun meminta Rudi agar tak meninggalkan Clara yang tengah hamil.


“Jangan jadi pengecut! Kamu sudah menghamili anak gadis orang, dan sekarang mau kamu tinggalkan begitu saja! Apa kalau sudah begitu, kamu tidak akan kembali mendua dengannya atau bahkan dengan wanita lain?” bantah Sonya.


Rudi menjawabnya dengan penuh keyakinan dan dia berjanji akan mengubah sikapnya lebih setia, asal Sonya tak meninggalkannya.


“Lebih baik beri janji manismu untuk istri keduamu itu! Biar dia juga merasakan sakitnya dikhianati. Aku sudah tidak butuh, aku sudah kenyang dengan ketidaksetiaanmu!” lanjut Sonya meninggalkan suaminya.


Saat akan membuka pintu kamar, Sonya membalikkan badannya. “Beri saja jatah bulanan untuk anak-anak sesuai tuntutan nominal yang akan aku minta. Rumah ini juga sebagian dibeli dari uangku, silakan kamu pergi dari sini! Besok pagi aku tidak ingin melihatmu lagi, dan soal perceraian, akan kuurus semuanya sendiri, kamu tunggu saja undangannya, lebih bagus kalau kamu tak usah hadir!”


###


Sore ini, Razka sengaja mampir ke kafe Angga. Bukan tanpa alasan, Angga ingin mulai memperkenalkan Razka pada lingkungan kafenya karena tak lama lagi, Razka yang akan memiliki kafe ini. Sekaligus, Razka juga ingin sekalian menjemput kekasihnya.


Angga mengobrol sebentar bersama Razka di ruangannya. Ia juga memberikan salinan berkas-berkas penting dan pengarahan umum mulai dari SOP kafe, daftar data karyawan, sampai hal-hal yang berhubungan dengan supplier dan pihak-pihak lain yang bekerja sama dengan kafenya, serta aturan lain yang tak ingin  Razka ubah demi kenyamanan para karyawan. Kemudian, Angga mulai mengajak Razka berkeliling area kafe.


Angga juga sembari memperkenalkan para karyawannya kepada Razka, dan sebaliknya. Tempat pertama adalah dapur. Angga juga sedikit menjelaskan tentang peraturan di dapurnya, dan hal apa saja terkait SOP para chef.

__ADS_1


Selesai berkeliling di lantai 1, Angga mengajak ke lantai 2. Terdapat ruang istirahat dan loker para karyawan, yang bersebelahan dengan ruang kesehatan. Setelah itu, Angga mengajak ke area kantor kafe, tempat Hani bekerja saat ini.


Angga yang suka bercanda, sengaja ingin membuat suasana kantor menjadi heboh dengan kedatangan Razka.


“Hani, ada Mas Razka nih,” sahut Angga yang membuat beberapa orang di kantor bersiul.


Hani reflek melihat ke arah Angga dan Razka yang tengah berdiri di dekat pintu. Melihat Razka yang tersenyum padanya, ia bergegas membalikkan badannya dan kembali melanjutkan pekerjaan untuk menyembunyikan pipinya yang merah. Namun, Razka justru menghampirinya, kemudian membisikkan sesuatu padanya.


“Aku tunggu ya.”


Kantor pun menjadi riuh melihat Razka dan Hani, yang di mana hampir semua karyawan Angga mengetahui hubungan mereka.


“Kalau ada apa-apa, langsung bicarakan kepada Hani ya, kebetulan dia calon istri dari Pak Razka. Jadi, Hani lah yang akan mengelola kafe ini, karena Pak Razka tidak akan setiap hari mengunjungi kafe. Tapi ingat, tetap pertahankan loyalitas dan kejujuran kalian ya, jangan macam-macam, karena setiap 1 jengkal tindakan kecurangan pun tak akan luput darinya. Sudah tahu ‘kan siapa putra dari Pak Gutama ini, salah seorang pengusaha perusahaan pengembang properti ternama,” jelas Angga.


Angga juga menjelaskan sekali lagi bahwa pergantian pengelola dan kepemilikan kafe tidak akan mempengaruhi apa pun.


“Justru gaji kalian semua akan naik, boleh lah kalau ada yang mau tambah cicilan,” canda Angga tertawa.


Riuh tepuk tangan karyawan pun terdengar kala mendengar penghasilan mereka akan naik.

__ADS_1


###


Seorang lelaki bertopi dan berjaket hitam tampak membuntuti Wisnu yang diam-diam menemui Tasya di sebuah area publik. Lelaki tersebut telihat asyik memainkan ponselnya. Sesekali, ia bertingkah seperti sedang melakukan panggilan telepon.


“Apa? Jadi mereka sudah tahu hal ini? Kontraktor mana yang akhirnya bekerja sama dengan mereka?” Tasya berusaha menggali informasi lebih dari Wisnu.


“Maaf, Bu Tasya. Pak Gutama sudah memblokir informasi untuk saya dan status kepegawaian saya sudah dinonatifkan sementara, sehingga saya sudah tidak tahu kabar proyek. Saya yakin setelah ini saya akan ditindak. Jadi saya menagih perlindungan yang Bu Tasya janjikan kala itu,” ungkap Wisnu yang mulai mengkhawatirkan nasib karirnya.


Tasya menolak dan berkelit karena Wisnu belum selesai menjalankan tugasnya. Hingga Tasya merasa tak berhak menepati janjinya untuk merekrut Wisnu di perusahaan milik ayahnya. Ia justru menyalahkan Wisnu yang ceroboh hingga misi mereka tak 100 persen berhasil.


“Setidaknya, Bu Tasya harus melindungi saya sesuai perjanjian kita waktu itu. Saya tidak mau dipenjara hanya gara-gara hal konyol seperti ini!” tegur Wisnu yang mulai tak terima dengan sikap Tasya.


“Jangan macam-macam kamu ya. Kamu tidak akan terlibat masalah hukum kalau kamu bisa lebih berhati-hati. Saya sudah bayar kamu 5 juta. Jangan temui saya lagi apalagi menyebut-nyebut nama saya!” perintah Tasya sembari meninggalkan Wisnu.


Saat di perjalanan, Tasya mendapat telepon dari ayahnya yang menanyakan keberadaan anak perempuannya itu.


 “Ini mau kembali ke kantor, Yah. Ada apa?” jawab Tasya santai.


“Jadi, pihak kontraktor Gutama yang telah kamu ambil untuk bekerja sama dengan kita itu PT Uji Karya? Ah, Tasya, mereka sedang terlibat kasus korupsi proyek perusahaan lain. Ceroboh sekali kamu tidak mencari tahu lebih dulu!”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2