
Sore ini, Razka kembali ke apartemennya setelah pulang berkencan bersama Hani. Setiap akhir pekan, ia biasanya akan pulang ke rumah, namun tidak dengan saat ini. Ia ingin menghabiskan sisa hari Minggunya dengan tenang di apartemen.
Tiba-tiba, bel berbunyi. Razka pun bergegas mengintip tamu tersebut dari pintu. Ia kemudian membukakan pintu setelah mengetahui bahwa tamu itu adalah ibunya.
“Ibu, kenapa nggak bilang mau ke sini?” tanya Razka yang kemudian mempersilakan sang ibu untuk duduk.
“Ibu hanya sebentar, Ka. Ibu ingin bicara,” jawab ibunya lembut.
Lita mengungkapkan kekecewaannya karena anaknya gagal bertunangan dengan Tasya. Namun, ia tak ingin memaksa lagi jika memang ini keinginannya. Setelah pembicaraan empat mata dengan sang suami, ia sadar akan kapasitasnya yang hanya seorang ibu sambung. Bagaimana pun, ia tetap ingin Razka bahagia dalam hidupnya kelak.
“Kamu boleh menolak menikah dengan Tasya, Ibu turuti. Tapi, kamu turuti Ibu juga ya. Ibu membebaskan kamu memilih calon istrimu, asal bukan Hani,” lanjutnya.
Razka berdiri setelah mendengar permintaan ibunya. Ia tak terima dengan keputusan ibu sambungnya itu. Ia pikir, ibunya akan berubah dengan membolehkannya menikah dengan perempuan mana pun yang ia cintai.
“Razka, dengarkan dulu. Ini bukan soal ekonomi, tapi soal attitude yang pernah kamu bahas waktu itu. Melihat ibunya yang matrealistis, dan adiknya seorang pelakor hingga hamil dengan suami orang, tentu bukan keluarga yang baik-baik ‘kan?” ungkap Lita yang tak ingin memiliki menantu dari keluarga yang buruk.
Razka mulai menurunkan emosinya. Entah dari mana ibunya bisa tahu tentang adik Hani, meski ia tak peduli. Ia pun menjelaskan bahwa Hani berbeda dengan ibu dan adiknya. Meski mereka keluarga, namun sifat dan karakter mereka tidak bisa disamaratakan.
Hani sangat jauh bermoral dibanding anggota keluarganya yang lain. Hani pekerja keras, selama ini dia lah yang menjadi tulang punggung. Hani juga tidak seperti Clara yang bermental perebut. Hani bahkan tak pernah meminta sepeser pun uang Razka.
Ibu Razka masih membantah jika bisa saja anaknya itu belum tau sifat asli dari Hani, karena baginya, tak mungkin jika satu rahim berbeda sifat, apalagi ibunya pun juga begitu.
__ADS_1
Razka kemudian meminta ibunya bertemu Hani agar mereka bisa saling mengenal, namun ibunya menolak.
“Ibu sudah menuruti kamu, kenapa kamu tidak mau menuruti Ibu? Ibu sayang denganmu, Razka. Meski Ibu bukan yang melahirkanmu, tapi Ibu yang merawatmu dari kamu bayi. Ibu mau yang terbaik untukmu!” Lita kekeh dengan kemauannya.
Razka menggeleng. “Razka bahkan sudah menganggap Ibu Lita adalah ibu kandung Razka sendiri. Kalau Ibu memang sayang sama Razka, harusnya ibu membiarkan Razka bahagia dengan pilihan Razka sendiri, karena andai ibu kandung Razka masih ada, ia akan mendukung pilihan anaknya.”
Razka pun tak ingin ambil pusing pada ibunya. Jika memang sang ibu tetap tak merestuinya, ia tak masalah. Yang penting selama ini dirinya sudah berusaha ingin menjalin hubungan yang baik dengan ibu sambungnya itu. Pilihannya hanya jatuh pada Hani seorang.
###
“Papa dataang,” sambut anak perempuan Rudi saat ia tiba di rumah, dari menginap di hotel bersama istri keduanya.
“Kok Papa sibuk terus sih,” keluh anak lelakinya.
Setelah meminta anak-anaknya untuk tidur, Rudi menemui Sonya yang tampak tak menyambutnya.
Sonya hanya menawarinya makan malam, lalu ia izin ingin kembali ke kamar untuk beristirahat. “Selesai makan, biarkan piringmu di sana, nanti aku cuci.”
“Minah ke mana?” Rudi menanyakan keberadaan ART nya.
Sonya pun mengatakan bahwa mulai hari ini mereka tak memakai jasa ART lagi. Hal itu lantaran untuk menekan pengeluaran mereka. Dirinya menyanggupi mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.
__ADS_1
Rudi pun bertanya mengapa mereka harus sampai menekan pengeluaran, padahal uang bulanannya tak pernah kurang.
“Mulai sekarang, kurangilah uang bulanan untukku, agar kamu tak kesulitan membagi gajimu untuk istri mudamu. Aku tak tega jika kamu yang harus beririt-irit. Biarlah aku saja, asal kebutuhan anak-anak kita masih terpenuhi,” jawab Sonya sembari meninggalkan suaminya kembali ke kamar.
Rudi termenung mendengar ucapan Sonya, firasatnya pun benar bahwa Sonya sudah mengetahui pernikahannya dengan Clara. Namun, bukan amarah yang ia dapat, justru Sonya telah memperhatikan dirinya selama ini yang harus irit demi bisa memberi uang bulanan untuk Clara, juga untuk membayar cicilan apartemen. Perasaan bersalah pun muncul dalam dirinya. Ia bergegas menghampiri istrinya.
“Apa kamu sudah tahu?” tanya Rudi pelan.
“Tak perlu membahas soal itu, lebih baik sekarang kamu pikirkan bagaimana kamu akan bisa adil dengan istri-istrimu. Atau kamu mau memilih salah satunya?” Sonya berusaha cukup tenang menghadapi masalah rumah tangganya.
Rudi pun menolak jika ia harus kehilangan Sonya dan anak-anaknya, ia juga tak bisa begitu saja meninggalkan Clara yang tengah hamil anaknya. “Aku harus mempertanggunjawabkan perbuatanku.”
Bagi Sonya, percuma jika mereka membahas tentang kesalahan Rudi, semua sudah terjadi, tidak akan bisa diubah. Yang ia pikirkan hanya anak-anaknya, juga mentalnya. Bohong bila ia tak hancur.
Untuk saat ini, ia tak bisa memutuskan apa pun, karena ia hanya menunggu hatinya siap untuk berpisah.
Rudi meminta maaf berkali-kali telah mengkhianati pernikahannya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, yang jelas, ia tak mau kehilangan Sonya. Ia juga berjanji tak akan mengurangi uang bulanan untuk Sonya dan kedua anaknya. Ini kesalahannya, jadi ia yang akan menanggungnya. Tak apa jika ia harus mengirit, asal Sonya dan anak-anaknya tetap tercukupi.
“Suruh Minah kerja lagi, aku tak ingin kamu kelelahan mengurus anak-anak, juga mengerjakan pekerjaan rumah,” pinta Rudi yang sedari tadi berlutut di depan Sonya yang tengah duduk di kasur.
“Tak perlu memikirkanku, pikirkan saja anak-anak dan istri mudamu yang sedang hamil itu,” ujar Sonya meremukkan hati Rudi.
__ADS_1
...****************...