Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe

Kisah Cinta CEO & Pelayan Kafe
Makan Malam


__ADS_3

Malam ini, keluarga Razka dan keluarga Hani akan bertemu untuk makan malam bersama, sesuai undangan Gutama, Ayah Razka.


Hani yang sedang menunggu Rudi dan Clara menjemput mereka, harus sedikit berdebat dengan sang ibu yang masih enggan bertemu anak keduanya itu.


“Kita naik taksi saja lah Han, tidak perlu menunggu mereka,” pinta ibunya tidak sabar.


“Bu, kita ‘kan keluarga, harus datang bersama. Lagi pula, kita harus bersyukur, Rudi masih memiliki mobil dan mau membantu kita. Rudi itu bertanggung jawab loh, Bu. Jadi Ibu jangan bahas tentang uang lagi ya dengan mereka, Hani mohon,” ujar Hani penuh kelembutan.


Hani juga mengingatkan sang ibu agar menjaga sikap nanti ketika bertemu dengan orang tua Razka.


Tak lama, mobil Rudi datang, mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil karena jam 7 mereka sudah harus tiba di rumah Razka.


Clara yang duduk di sebelah Rudi, membalikkan badannya untuk melihat sang ibu. “Ibu, Clara minta maaf ya.”


Bu Sukma diam tak bergeming.

__ADS_1


25 menit menerobos kemacetan ibu kota, mereka sampai di rumah Razka yang cukup besar. Seperti dugaan Hani dan Clara, bahwa ibunya akan gelagapan melihatnya. Hani tak henti mengingatkan ibunya untuk tetap menjaga sikap, bila tak ingin pernikahan Hani dan Razka batal.


Seorang ART mempersilakan mereka masuk menuju ruang tamu. Razka yang baru keluar dari kamarnya, turut menyambut keluarga calon istrinya itu, disusul Gutama yang memegang pundak istrinya yang masih sempoyongan. Mereka pun saling bersalaman.


“Ibunya Razka baru pulang dari rumah sakit, jadi masih belum kuat,” ucap Gutama meminta dimaklumi oleh tamunya.


Razka kemudian memperkenalkan anggota keluarga Hani pada ayah ibunya, dan sebaliknya. Lita memandang mereka satu per satu dengan tatapan tak suka. Namun, seolah  Gutama bisa mengontrol sikap istrinya itu hanya dengan tatapan mata. Lita kembali tersenyum kecil.


Setelah berbasa–basi, Gutama mengajak mereka untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan, sekaligus agar bisa mengobrol santai, juga membahas tentang rencana pernikahan Hani dan Razka.


Lita kembali memasang mimik muka tak senang dengan pertemuan ini, namun seolah ia tak bisa membuka mulutnya karena suaminya terus mengontrol sikapnya hanya dengan tatapan mata.


Saat semua orang sudah berada di meja makan, Clara memberanikan diri untuk berbicara.


“Selamat malam semuanya, sebelumnya, ada yang ingin saya sampaikan di sini,” ucapnya membuka percakapan yang membuat semua pasang mata tertuju kepadanya.

__ADS_1


Ia menghela nafas panjang untuk melanjutkan kata-katanya.


“Pertama, saya yakin, orang tua Kak Razka sudah mengetahui tentang saya, bahkan Ibu Lita sendiri juga mengatakan kalau beliau tidak menyukai Kak Hani karena saya dan ibu. Terlepas dari kehamilan saya, kami sudah mempertanggung jawabkannya. Mas Rudi juga sudah bercerai atas permintaan istri pertamanya sendiri, tapi beliau masih bertanggung jawab untuk menafkahi anak-anaknya. Saya juga sudah bertemu dan meminta maaf secara baik-baik kepada Mbak Sonya akan perbuatan kami yang keliru. Kami juga sedang menerima karma dari perbuatan kami, jadi saya anggap kesalahan ini sudah tak seharusnya dibahas lagi. Bukan kah semua manusia akan berbuat salah? Yang membedakannya adalah sikap mereka setelah adanya kesalahan itu. Dan kami memilih untuk belajar dari kesalahan yang kami buat sendiri.”


“Kedua, apa yang saya perbuat adalah murni kebodohan saya sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan kakak saya. Jadi, tak adil rasanya jika Ibu Lita membenci Kak Hani hanya karena memiliki adik yang hamil di luar nikah dengan suami orang. Saya dan Kak Hani adalah 2 perempuan dengan sifat yang berbeda, meski kami lahir dari rahim yang sama. Kalau Ibu Lita juga tidak menyukai kakak saya hanya karena dia adalah seorang pelayan kafe, tapi sekarang dia sudah menjadi manager. Saya rasa, kak Hani sudah cukup berusaha memantaskan dirinya untuk Kak Razka. Lalu, apa yang membuat Ibu Lita masih tidak menyukai kakak saya, padahal Bu Lita sama sekali belum berkenalan dengan dia? Bu Lita hanya mengenal kakak saya dari pendapat orang lain. Sedangkan kak Hani tidak seperti yang diucapkan oleh Tasya. Kak Hani adalah tulang punggung keluarga kami. Sejak SMA, dia bekerja untuk kami, dan dia tak pernah pamrih. Kak Hani juga tidak pernah memiliki niat berpacaran dengan Kak Razka hanya demi harta, karena saat pertemuan pertama mereka, kakak saya tidak tahu siapa Kak Razka. Pantang bagi kakak saya menjadi perempuan yang gila materi. Apa itu semua belum cukup membuat Ibu Lita bisa menilai kakak saya?”


“Ketiga, yang terakhir. Saya memaklumi jika Bu Lita pernah marah saat ibu kami meminta uang pada Kak Razka, tapi bukan kah Kak Hani juga sudah mengembalikannya? Jika sikap matrealistis ibu kami membuat Bu Lita tak suka dengan kak Hani, saya perlu sedikit menjelaskan tentang beliau. Tujuan ibu kami baik, ingin anak-anak perempuannya menikah dengan laki-laki mapan agar kehidupan kami tidak seperti beliau. Ibu tidak ingin anak-anaknya merasakan apa yang beliau pernah rasakan dulu, ketika ayah hanya bekerja serabutan dan tak cukup uang untuk mencukupi kebutuhan kami. Hingga setelah ayah meninggal dan kami masih kecil, ibu lah yang menafkahi kami dengan berjualan kue demi membesarkan kami. Lalu, apakah salah jika sekarang ibu hanya ingin beristirahat saat anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan meminta kami yang melanjutkan mencari nafkah untuk dirinya? Saya yakin, jika kami menjadi ibu, mungkin kami tak sekuat beliau. Ibu meminta uang pada kak Hani, juga pada saya sekarang-sekarang ini, bahkan pada kak Razka, karena beliau memang belum pernah merasa dibahagiakan dengan materi. Jika kami sering berdebat dengan ibu karena uang yang kami berikan tidak cukup, itu bukan kesalahan beliau, tapi karena penghasilan kami yang kurang. Beliau ingin kami benar-benar menjadi orang yang sukses, sehingga berapa pun uang yang beliau minta, tak menjadi masalah bagi kami.”


"Kami yakin, marahnya ibu tak sebenar-benarnya menyesal telah melahirkan kami. Ibu hanya kecewa dan takut jika anak-anaknya tak bisa hidup berkecukupan dan sengsara seperti beliau. Hanya, mungkin caranya yang salah. Itupun kami maklumi karena terlalu dalamnya luka batin yang ibu rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam kesusahan." Clara mencoba menahan air matanya sembari menatap ibunya.


“Saya harap Bu Lita bisa memahaminya, meskipun Anda tidak pernah merasakan perjuangan ibu kami. Kami pastikan, keluarga kami termasuk ibu, tidak akan memeras keluarga Ibu Lita dengan adanya pernikahan ini. Terima kasih sebelumnya dan mohon maaf jika saya sudah lancang berbicara demikian,” ujar Clara mengakhiri ucapannya.


Bu Sukma pun memandangi Clara dengan mata berkaca-kaca.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2