Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 10 - Anak Baik Yang Berubah


__ADS_3

...༻⊠༺...


Gala duduk menghempas ke sofa. Menatap sebal ke arah Nindy. Bertepatan dengan itu, Bi Marni datang. Wanita paruh baya tersebut membawa segelas es kelapa yang dipesan Nindy.


"Ini es kelapa--" ucapan Bi Marni terpotong ketika Gala mengambil es kelapa lebih dulu. Lalu meminumnya sampai tandas.


"Gala! Itu punya gue kan?" protes Nindy.


Gala tak peduli. Ia meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas nampan. Gala mengelap bibirnya yang belepotan dengan punggung tangan.


"Masih ada lagi kan? Buat lagi!" perintah Gala.


"I-iya, Den Gala..." Bi Marni kembali ke dapur. Dia menatap Nindy yang tampak kesal dengannya.


Gala tak peduli. Dia menyalakan televisi dan mencari website tertentu dari sana.


"Gue mendingan pulang aja," ujar Nindy yang berjalan menghampiri dimana tasnya tergeletak.


"Jangan! Temani gue," imbuh Gala.


"Lo suruh gue ikut ke rumah lo cuman karena pengen ditemani doang? Lo pikir gue percaya. Kalau tadi Reyan nggak datang, gue nggak tahu apa yang lo lakukan selanjutnya ke gue!" tukas Nindy.


Gala terkekeh. "Lagian lo juga mau-mau aja kok," sahutnya.


Nindy tertohok. Ia terdiam seribu bahasa. Saat berciuman dengan Gala tadi dirinya memang sempat terbuai.


"Udah! Mending lo duduk. Kita nonton bareng," suruh Gala. "Lagian lo punya hutang satu juta ke gue. Kalau lo pulang sekarang, lo harus bayar hutang itu dua kali lipat," sambungnya.


Nindy mendengus kasar. Dia akhirnya tidak jadi pergi. Memilih duduk kembali ke sofa. Meski di jarak yang jauh dari Gala.


"Cuman temenin doang kan? Nggak apa-apa lah," ungkap Nindy.


Senyuman puas lantas mengembang di wajah Gala. Dia tidak memutar channel biasa, melainkan membuka website dewasa dan memutar salah satu video untuk ditonton bersama Nindy.


"Anjir! Lo kenapa buka video bokep?!" Nindy menutup matanya rapat-rapat dengan tangan. Dia tidak pernah sekali pun menonton video adegan dewasa seperti itu.


Gala menyeringai. Dari sana dirinya yakin Nindy belum pernah menonton video porno.


"Lo nggak pernah nonton beginian? Nggak apa-apa kalau sekali-kali. Emang lo nggak penasaran?" ucap Gala.


"Bacot lo!" sahut Nindy yang masih menutup mata.


Gala geleng-geleng kepala menyaksikan Nindy. Tetapi dia yakin cewek tersebut akan penasaran. Gala pun sengaja mengencangkan volume suara video.

__ADS_1


Benar saja, ada rasa penasaran dalam diri Nindy. Terlebih suara dessahan dari video terdengar begitu menggoda. Alhasil Nindy membuka mata. Melihat dari balik jari-jemarinya.


Nindy terpaku. Ia menenggak salivanya sendiri. Nindy tidak membantah kalau dia menyukai apa yang dilihatnya sekarang.


Gala sukses memergoki Nindy. Dia mendekat san menjauhkan tangan cewek itu dari wajah.


"Udah... Nggak usah malu. Tonton aja. Di sini kita aman. Lo nggak perlu malu sama gue," ujar Gala.


Nindy hanya diam. Tanpa sadar dia terhipnotis dengan video yang terputar di televisi.


Gala segera ikut fokus ke televisi. Keduanya saling terdiam dan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Keringat panas dingin mereka rasakan saat adegan di video begitu intens.


Tidak terasa video pertama selesai. Barulah Nindy melepaskan atensinya dari televisi.


"Udah habis?" tanya Nindy.


"Tenang aja. Video di website ini nggak terbatas," jawab Gala yang langsung memutar video selanjutnya. Dia dan Nindy kembali fokus menonton.


Gala merasa mulai terangsang akibat video yang terputar. Dia lantas melirik Nindy. Cewek itu tampak menggigit bibir bawahnya sendiri. Nindy juga terlihat merapatkan kedua kakinya.


"Gimana perasaan lo sekarang?" tanya Gala seraya beringsut ke sebelah Nindy.


"Me-menurut lo?" tanggap Nindy tergagap. Dia melihat organ intim Gala sudah menegang.


"Lo tenang aja. Gue nggak akan paksa lo melakukannya," ucap Gala saat sudah melepas tautan bibirnya dari mulut Nindy. Dia saling bertukar pandang dengan cewek tersebut.


Perlahan tangan Gala menyusup di antara dua kaki Nindy. Sedikit menyingkap rok abu-abu cewek itu.


"Gala..." lirih Nindy. Dia awalnya terkejut dan hendak menghentikan. Namun jari-jemari Gala sudah terlanjur menyentuh hal terintim di bawah sana.


Nindy tidak jadi menghentikan karena menikmati. Dia reflek memejamkan mata dan mendongak. Merasakan pergerakan jari Gala.


"Kalau lo nggak bisa ML, kita bisa melakukan ini saja," bisik Gala. Dia memaksa Nindy kembali menatapnya. Lalu membawa tangan cewek itu untuk menyentuh alat vitalnya.


"Lo tahu caranya kan?" tanya Gala.


Nindy mengangguk. "Gue pernah melakukan ini beberapa kali sama mantan gue," ungkapnya.


"Pernah melakukannya tapi nggak pernah nonton video bokep? Aneh," komentar Gala.


"Gue melakukannya karena terpaksa," terang Nindy.


"Yang benar? Kalau begitu, gue nggak mau paksa lo. Gue akan biarin lo yang nikmatin lebih dulu," desis Gala yang bergerak lebih dekat ke hadapan Nindy. Hingga cewek itu tersandar ke sofa. Saat itulah Gala melumaat bibirnya dengan lihai. Sambil melakukan hal tersebut, tangan nakal Gala kembali bermain di balik rok abu-abu Nindy.

__ADS_1


Entah kenapa Nindy menikmati. Dia merasa Gala berbeda dibanding pacar-pacarnya terdahulu. Mengingat semua lelaki yang pernah dipacarinya kebanyakan sudah berumur. Nindy hampir tidak pernah berpacaran dengan cowok yang seusianya. Dan cewek itu merasakan hal berbeda sekarang.


"Eumph!" Nindy bergumam beberapa kali. Dia merasa seolah kehabisan nafas. Alhasil Nindy mendorong Gala menjauh. Ciuman mereka lantas terhenti.


Karena mulut sudah tidak terutup, Nindy melenguh. Ia tak berhenti mengangakan mulut. Menatap Gala dengan tatapan sayu.


Gala membalas tatapan Nindy. Melihat wajah Nindy yang melemas, dia yakin cewek tersebut akan segera mencapai klimakss. Gala otomatis semakin melihaikan pergerakan jari jemarinya.


"Gala... Aaaakh!" benar saja, Nindy melenguh panjang. Tubuhnya bergetar sambil berpegang erat seragam Gala.


Tahu Nindy sudah mendapat kepuasan, Gala buru-buru mengelap tangannya dengan tisu.


Nindy tumbang. Dia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Terasa candu dan juga tak terlupakan.


"Sekarang gue juga dapat pelayanan kan?" cetus Gala yang merasa diabaikan.


Nindy langsung tersadar. Dia duduk tegak dan menatap Gala. "Buka celana lo!" titahnya.


Gala bergegas membuka celana. Membiarkan Nindy memberi pelayanan balasan dengan tangannya.


Kini Gala yang dibuat melenguh. Dia sesekali mendongak dan memejamkan mata. Sampai akhirnya Gala dapat merasakan klimakss.


"Lepasin sekarang!" perintah Gala. Namun Nindy tidak mendengarkan. Cewek itu membiarkan tangannya bertengger di batang pribadi Gala. Bahkan ketika bagian tubuh tersebut mengeluarkan cairan.


Gala terpaku menatap Nindy. Tanpa diduga, cewek itu perlahan membalas tatapannya. Nindy menarik kerah baju Gala dan memberikan ciuman bibir dengan intens.


Gala membalas ciuman Nindy. Dia merebahkan cewek tersebut ke sofa. Secara alam keduanya terbuai untuk saling bercumbu.


Dari balik pintu menuju dapur, ada Bi Marni yang berjalan membawa es kelapa. Langkahnya terhenti tatkala melihat kelakuan Gala dan Nindy. Bi Marni terpaksa kembali ke dapur. Tangannya gemetaran karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Dia tidak bisa menegur atau menghentikan. Mengingat orang yang berbuat nakal adalah majikannya sendiri.


"Loh, kenapa es kelapanya dibawa ke dapur lagi?" tanya Bi Ira.


"Den Galanya lagi sibuk," jawab Bi Marni.


"Sibuk? Emang sesibuk apa sampai kau harus bawa balik lagi es kelapanya?" Bi Ira penasaran.


Sebelum bicara, Bi Marni mengedarkan pandangan ke sekitar. Lalu berbisik ke telinga Bi Ira. Memberitahukan apa yang sedang dilakukan Gala dan Nindy. Mata Bi Ira sontak terbelalak tak percaya.


"Kamu yakin Den Gala melakukan itu?" Bi Ira merasa tak percaya. Dia yang sudah bekerja puluhan tahun sangat tahu bagaimana Gala. Saat kecil cowok itu memiliki atitude baik. Bahkan selalu menurut dengan orang tua.


"Kalau nggak percaya, lihat saja sendiri," ujar Bi Marni.


Bi Ira lantas berjalan menuju tempat dimana Gala berada. Ketika melihat yang sebenarnya, dia tidak bisa membantah lagi.

__ADS_1


"Den Gala... Kenapa kamu bisa berubah begini?" gumam Bi Ira yang merasa miris.


__ADS_2