Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 29 - Sesuatu Dibalik Dress [Visual Arini & Nindy]


__ADS_3

...༻⊠༺...


Reyan segera menelepon Arini. Jika gadis itu setuju untuk dijemput secara diam-diam, maka Reyan akan langsung pergi.


"Gue mau banget, Rey! Soalnya gue udah sumpek banget ada di rumah," keluh Arini dari seberang telepon.


"Oke. Gue akan ke sana. Lo nanti harus kasih tahu posisi jendela kamar lo," ujar Reyan. Ia segera menjalankan mobil menuju rumah Arini.


Bersamaan dengan itu, mobil Gala muncul dari samping. Cowok tersebut membuka kaca jendela mobil dan memberitahu akan ikut membantu. Di sebelah Gala ada Nindy yang menyapa dengan senyuman dan lambaian tangan.


"Gue kayaknya bisa sendiri, Ga! Lo duluan aja ke apartemen!" kata Gala.


"Cih! Bilang aja mau berduaan sama Arini. Ya udah, gue sama Nindy duluan!" Gala berhenti. Kemudian memutar balik mobilnya. Ia dan Nindy pergi ke apartemen lebih dulu.


Setibanya di apartemen, Gala duduk ke sofa. Dia juga menyuruh Nindy membuka tas yang dibawanya tadi. Barang yang sempat diambil Gala ke rumah.


"Apaan nih?" tanya Nindy penasaran. Dia memeriksa isi tas milik Gala. Pupil matanya seketika membesar tatkala melihat isi tas tersebut. Bagaimana tidak? Gala membawa serbuk putih terlarang yang tempo hari tidak sengaja ditemukan.


"Lo mau ngapain sama benda ini?" tanya Nindy.


"Menurut lo?" tanggap Gala sembari mendekatkan wajahnya pada Nindy.


"Lo mau cobain? Terus ngajak gue sama Reyan dan Arini juga?" timpal Nindy.


"Gue lagi stress sekarang. Lagian gue juga tiba-tiba penasaran sama rasanya. Apalagi setelah membaca manfaat benda itu," jelas Gala. Dia mengambil sebungkus serbuk putih terlarang. Mengamatinya dengan serius.


"Gue ogah! Gue nggak mau darah gue terkontaminasi sama itu!" tegas Nindy.


Gala tersenyum miring mendengarnya. Ia berkata, "Gimana kalau begini. Gue bakalan bantu panti asuhan lo kalau lo mau cobain ini bareng gue?"

__ADS_1


"Dasar licik!" cibir Nindy.


"Cuman nyicip sedikit nggak apa-apa kok," goda Gala. Dia membuka sebungkus serbuk putih terlarang. Lalu memasukkan jari telunjuknya ke sana. Setelah itu, dia rasakan dengan lidah dan mulutnya.


Nindy hanya bisa melihat dengan ekspresi tegang. Hatinya tak berhenti merutuki Gala.


"Sekarang giliran lo." Gala kini memasukkan jari tengahnya ke dalam serbuk putih. Kemudian menyodorkannya untuk Nindy.


"Lo sengaja ngejek gue kan?!" timpal Nindy. Mengingat Gala memberikan serbuk putih terlarang itu dengan mengacungkan jari tengah.


Gala tergelak. Dia tak memperdulikan perkataan Nindy. Menekan bibir bawah cewek itu. Hingga mulutnya bisa menganga lebar.


"Lo harus penuhi janji lo!" Nindy mengecup jari Gala yang dipenuhi dengan serbuk putih terlarang.


Gala terpaku. Menyaksikan Nindy yang asyik menghisap jari tengahnya dengan mulut. Bak mengulum sebuah permen lolipop.


"Lo harus bayar lebih seratus juta kalau mau sentuh gue!" tegas Nindy.


Gala menarik sudut bibirnya ke atas. Sambil memegangi pipi bekas tamparan Nindy. Tanpa mengatakan apapun, dia menarik tangan cewek tersebut. Membawa ke kamar dan menghempaskannya ke ranjang.


"Lo tenang aja. Gue punya banyak uang. Jadi turuti aja apa mau gue sekarang!" ujar Gala.


Nindy berusaha bangkit dari kasur. Namun ditahan oleh Gala dengan baik. Cowok itu mendorong dan buru-buru melepas celana dallam Nindy.


"Gala!" pekik Nindy. Wajahnya memerah. Dia membulatkan mata tak percaya. Terutama saat Gala sudah memegangi kedua kakinya dengan erat.


"Lo diam aja! Kita harus lakukan dengan cepat. Keburu Reyan sama Arini datang!" titah Gala. Tanpa basa-basi, dia menyusup ke balik rok dress Nindy. Segera memainkan lidah dan mulutnya di sana.


"Sial! Gala..." Nindy reflek mendongakkan kepala. Dia juga mengangakan mulut karena kebenciannya kini telah ditenggelamkan oleh kenikmatan.

__ADS_1


Di sisi lain, Reyan sudah tiba di rumah Arini. Dia melihat gadis itu melambaikan tangan di salah satu jendela kamar. Memberitahukan dimana posisinya.


"Sial! Gue harus cari tangga," gumam Reyan seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia mencari sesuatu untuk membantunya naik. Mengingat kamar Arini ada di lantai dua.


Ponsel Reyan berdering. Dia mendapat telepon dari Arini. Gadis tersebut memberitahu tempat dimana tangga disimpan.


Tanpa berpikir lama, Reyan mengikuti arahan Arini. Sampai akhirnya dia menemukan tangga. Reyan tentu menggunakan tangga itu untuk membantu Arini keluar dari kamar.


Arini buru-buru mengambil tas. Dia bahkan masih sempat bercermin untuk memastikan tampilannya. Setelah itu, barulah dia menuruni tangga yang disiapkan Reyan.


"Hati-hati! Gue akan pegangin tangganya," kata Reyan dengan nada berbisik.


Arini mengangguk. Dia segera menuruni tangga.


Wajah Reyan seketika memerah. Sebab Arini mengenakan dress. Reyan bisa melihat apa yang dipakai Arini dari balik dress tersebut. Buru-buru cowok itu mengalihkan pandangan.


..._____...


...Bonus Visual...



...Arini...


..._____...



...Nindy...

__ADS_1


__ADS_2