Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 8 - Mendatangi Gala


__ADS_3

...༻⊠༺...


"Rey! Sholat!" suruh ibunya Reyan dari luar. Sebenarnya sang ibu sudah tiga kali berteriak. Tetapi panggilan ketiga lebih lantang dari dua panggilan pertama.


Panggilan itu membuat Reyan tersentak kaget. Ia buru-buru menyembunyikan plastik berisi serbuk putih ke dalam laci. Tak lama kemudian Karin pun datang. Reyan langsung berbalik.


"Reyan!" panggil Karin.


"Iya, Mah! Ini aku baru mau wudhu," ujar Reyan seraya masuk ke kamar mandi dengan wajah cemberut.


"Kalau disuruh sholat mukanya selalu saja begitu!" tukas Karin sambil menggeleng maklum. Dia segera beranjak dari kamar putranya.


Reyan yang tadinya sudah masuk ke kamar mandi, keluar lagi. Bukannya melakukan apa yang disuruh sang ibu, dia justru berganti pakaian. Reyan bertekad menemui Gala. Sebab dia mengira cowok itulah yang sudah menjebaknya.


Sebelum pergi ke rumah Gala, Reyan tak lupa membawa plastik berisi serbuk terlarang bersamanya. Setelah itu, dia benar-benar pergi.


Di waktu yang sama, Gala masih ada di sekolah. Dia pulang paling belakangan karena tidak mau berjejal. Namun saat masuk ke mobil, Nindy tiba-tiba ikut masuk ke mobilnya. Cewek itu terlihat panik. Dari pintu masuk sekolah, Bu Jenar tampak berlari terseok-seok. Jelas wanita paruh baya tersebut mengejar Nindy.


"Anjir! Lo nggak bayar SPP?!" timpal Gala yang bisa menduga masalah Nindy.


"Gue nggak punya uang! Lo punya nggak? Satu juta aja. Nanti gue ganti," mohon Nindy. Dia tak punya pilihan lain selain meminta bantuan Gala.


Gala mendengus kasar. Ia merogoh saku celana dan mengambil ponsel.


"Berapa nomor rekening lo?" tanya Gala.


Senyuman senang lantas mengembang di wajah Nindy. Dia bergegas mengambil ponsel dan memberitahukan nomor rekeningnya.


"Nindy! Ibu tahu kamu sembunyi di sana. Gala! Suruh Nindy keluar!" desak Bu Jenar.


"Tunggu, Bu!" pekik Nindy. Dalam beberapa detik, uang transferan Gala sudah masuk ke rekeningnya. Setelah itu, Nindy segera keluar dari mobil.


Gala sigap meraih lengan Nindy. "Ingat! Ini nggak gratis!" tegasnya dengan ekspresi arogan.


"Gue tahu!" Nindy menghempaskan tangan Gala. Dia buru-buru keluar dan bicara dengan Bu Jenar. Kemudian melunasi pembayaran SPP yang sudah menunggak dua bulan.


"Harusnya dari tadi kamu begini. Kenapa harus lari segala sih," omel Bu Jenar. Dia tentu lelah harus mengejar Nindy sampai keluar sekolah.


"Maaf, Bu..." hanya itu yang bisa dikatakan Nindy. Ia kembali masuk ke mobil Gala selepas urusannya selesai.


"Jadi gue harus gimana?" tanya Nindy.

__ADS_1


"Ikut gue ke rumah!" kata Gala seraya menjalankan mobil.


Nindy menenggak salivanya sendiri. Dia sudah memikirkan yang tidak-tidak. Mengingat tadi siang Gala sudah meminta ciuman di bibir. Mungkinkah Gala ingin melakukan hal yang lebih dari itu?


"Kita mau ngapain di rumah lo?" Nindy akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Menurut lo? Bisa nebak nggak?" tanggap Gala.


"Gue nggak mau kalau di ajak ML!" tegas Nindy.


Gala terkekeh. "Kita lihat aja nanti," sahutnya santai.


Selang sekian menit, Gala dan Nindy tiba di tempat tujuan. Nindy berdecak kagum melihat rumah mewah Gala. Matanya tak mengedip dalam tiga detik.


Gala tersenyum miring melihat Nindy yang terhipnotis dengan rumah mewahnya. "Cuman kelihatannya mewah, tapi dalamnya kayak kuburan. Ayo!" ajaknya seraya keluar dari mobil lebih dulu.


Nindy segera menyusul Gala. Dia meringiskan wajah karena tasnya yang terasa berat. Tetapi Nindy mengabaikan hal tersebut karena memang terbiasa membawa banyak buku.


Pintu dibuka oleh Gala. Terpampanglah bagaimana mewahnya rumah cowok tersebut.


"Gila! Rumah lo gede banget. Kayaknya sama besarnya deh sama istana presiden," puji Nindy yang berdecak kagum.


"Kayak pernah aja ke istana presiden," sahut Gala. Dua pembantunya segera menyambut. Yaitu Bi Ira dan Bi Marni. Mereka memberitahu kalau Gala bisa langsung makan siang.


Gala menyuruh dua pembantunya untuk pergi. Dia sepertinya tidak mau langsung makan siang.


"Eh, bilangin gue mau es kelapa!" seru Nindy. Tepat sebelum dua pembantu Gala beranjak.


"Kampungan banget lo! Dipikir rumah gue restoran kali!" timpal Gala. Dia duduk menghempas ke sofa.


"Rumah segede gini nggak mungkin nggak punya es kelapa kan?" tanggap Nindy.


"Tuh! Kalian dengarkan. Dia mau es kelapa!" ujar Gala. Bicara pada kedua pembantunya.


"Tapi, Den. Kita nggak punya persediaan kelapa," sahut Bi Marni.


Gala berdecak kesal. Dia mengambil uang lima puluh ribu dan memberikannya pada Bi Marni. "Beli aja. Nih uangnya!" titahnya sembari melempar uang ke arah pembantunya.


"Baik, Den." Bi Ira memungut uang yang diberikan Gala. Dia dan Bi Marni segera pergi. Keduanya saling bertukar pandang. Sebab ini pertama kalinya Gala nekat membawa perempuan ke rumah.


Nindy tersenyum girang. Dia duduk ke sofa yang ada di seberang Gala. Tangannya mulai mengutak-atik berbagai cemilan yang ada di meja.

__ADS_1


"Duduk di sebelah gue!" perintah Gala. Dia menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


"Mau ngapain?" tanya Nindy.


"Kita kan pacaran, masa duduknya jauh-jauhan," ucap Gala. Mengangkat dua alisnya bersamaan. "Anggap aja ini juga sebagai bayaran lo buat uang satu juta tadi," sambungnya.


Senyuman Nindy pudar. Dia menuruti keinginan Gala. Kemudian duduk ke sebelah cowok tersebut.


"Gitu dong!" Gala puas. Dia merangkul Nindy. Lalu memberi kecupan singkat beberapa kali.


Nindy tertegun. Jantungnya juga berdetak lebih cepat. Ia tak tahu kenapa. Perlakuan Gala seakan menghipnotisnya. Sampai akhirnya cowok itu mulai memagut pelan bibirnya.


Secara alami Nindy memejamkan mata. Merespon pagutan yang diberikan Gala. Ia perlahan mulai kesulitan mengatur nafas.


Gala melepas tautan bibirnya sejenak dari mulut Nindy. Ia menekan bibir bawah Nindy agar bisa menganga lebih lebar. Selanjutnya, barulah Gala memadukan kembali mulutnya dengan bibir Nindy.


Suara decapan lidah memecah kesunyian. Gala dan Nindy sesekali memiringkan kepala agar bisa berciuman lebih leluasa. Lidah dan bibir panas mereka tak berhenti bergulat.


Merasa berhasil membuat Nindy menikmati, tangan Gala mulai menyusur nakal. Membuka satu per satu kancing seragam cewek tersebut. Kemudian meremas salah satu buah dada Nindy.


"Euumph!" Nindy merespon dengan gumaman. Ia reflek berpegang erat ke kerah baju Gala.


Di luar rumah, sebuah mobil baru datang. Pemiliknya tidak lain adalah Reyan. Dia melangkah cepat dan memencet bel pintu dengan mimik wajah marah.


Suara bel pintu diabaikan oleh Gala dan Nindy. Mengingat mereka sedang bermesraan. Terlebih Nindy sudah terdorong dan telentang ke sofa. Tubuh kurusnya ditindih oleh Gala. Ciuman mereka terus berlanjut.


"Gala!" karena tak sabar, Reyan memencet bel sambil menyerukan nama Gala.


Nindy menjadi orang pertama yang pikirannya teralihkan dengan panggilan Reyan. Dia segera mendorong Gala dan duduk tegak.


"Ada yang datang!" seru Nindy seraya mengusap bibirnya yang merah dan membengkak. Ia buru-buru menyematkan kancing bajunya.


Gala berdecak kesal. Ia juga tampak mengusap kasar bibirnya yang membengkak. Dengan perasaan kesal, Gala bergegas membuka pintu. Sosok Reyan langsung menyambut.


"Anjiiing!" umpat Gala yang terlampau kesal.


Sementara Nindy, pupil matanya membesar ketika melihat Reyan. Dia tak tahu apakah harus senang atau tidak. Sebab dirinya sedang bersama Gala sekarang.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Ini ceritanya mungkin akan lebih liar guys dibanding cerita dark teenku sebelumnya. Terutama kisah cintanya Gala dan Nindy. Kalian mau lanjut atau nggak? Karena terlintas dalam pikiranku pengen hapus novel ini. Bukan karena sepi, tapi alur cerita yang kusiapkan kemungkinan akan lebih liar. Selain itu aku juga pengen fokus nulis novel genre pria. Tapi kalau kalian mau lanjutin aku akan lanjutin kok. Tolong kasih tahu jawabannya di komen ya 😅


__ADS_2