
...༻⊠༺...
Reyan membalas pelukan Arini. Dia hendak pergi, namun agak kesulitan karena banyaknya orang. Apa yang terlihat benar-benar tidak pantas dilihat. Itu tidak lain adalah seorang mayat perempuan muda yang mengenaskan.
Seorang wanita dengan setelan kantoran tiba-tiba muncul dalam keadaan berderai air mata. Dia menghampiri mayat perempuan yang bunuh diri itu.
"Ini seharusnya tak begini. Maafkan Mamah, Sayang..." isak wanita setelan kantoran itu.
Saat itulah Reyan membawa Arini menjauh dari keramaian. Dia juga mendengar dua pembicaraan orang yang kebetulan menghalangi jalannya dan Arini.
"Aku kenal gadis itu. Dia karyawan baru di restoran lantai dua. Akhir-akhir ini dia memang terlihat murung. Kata teman terdekatnya, ibunya selingkuh."
"Hush! Jangan asal ngomong. Kita sekarang ada di dekat jasadnya loh."
"Aku yakin ibunya pasti merasa sangat bersalah. Tuh lihat aja nangisnya sampai begitu."
"Permisi..." sergah Reyan yang akhirnya angkat suara. Sebab dua orang tadi tidak kunjung memberinya jalan. Setelah Reyan berucap begitu, barulah dia bisa lewat.
Reyan terpaksa mengajak Arini pergi jauh dari tempat kejadian. Dia terpaksa membelikan minuman kaleng dan duduk di taman rumah sakit.
"Nih minum dulu. Sorry, minum di cafenya nggak jadi," kata Reyan.
"Thanks." Arini menerima minuman pemberian Reyan.
Hening menyelimuti suasana. Reyan jadi melamun karena memikirkan insiden tadi. Dia yakin gadis yang bunuh diri itu sangat depresi karena masalah keluarga. Dan Reyan tak menyangka, dirinya juga mengalami masalah yang sama sekarang.
Jujur saja, Reyan belum siap menerimanya. Apalagi melihat ayah dan ibunya berpisah. Rasanya dia akan kesulitan memilih salah satu di antara mereka. Bahkan ketika Reyan tahu kalau Sofyan-lah yang sudah berkhianat.
Perlahan Arini menatap Reyan. Dia melihat cowok itu terlihat muram.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Arini.
"Eh, iya. Gue baik-baik aja," jawab Reyan.
"Lo sebaiknya istirahat, Rey. Gue kayaknya mau pulang sekarang." Arini berdiri. Bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Sorry sekali lagi. Gara-gara kejadian tadi kita nggak bisa ngobrol santai," kata Reyan. "Lo pulang sendiri?" tanyanya.
"Iya, gue naik taksi. Tenang aja. Gue udah biasa." Arini segera pamit. Dia melambaikan tangan pada Reyan sambil melangkah jauh.
Kebetulan waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam lewat. Arini baru saja tiba di rumahnya. Kedatangannya di sambut oleh sang kakak.
"Lo kemana aja?!" timpal Candra garang.
"Jalan sebentar aja, Kak!" sahut Arini sembari berjalan melewati Candra. Dia terlihat cemberut. Sebab kakaknya selalu saja begitu. Bersikap sangat posesif pada dirinya.
"Lo pergi tadi sore dan balik pas udah malam. Dan lo bilang itu sebentar?!"
"Lagian ini nggak terlalu larut malam kan, Kak!" Arini bergegas pergi menuju kamar. Akan tetapi Candra mengikutinya.
"Eh, diajak kakaknya bicara juga. Malah ngeloyor aja! Cepat kasih tahu lo pergi kemana tadi? Pergi juga tanpa kasih tahu orang rumah!" desak Candra.
"Aku ketemu sama teman, Kak. Kenapa Kak Candra lebay banget sih! Aku nggak harus di rumah terus kan setiap hari? Dikurung aja kayak Rapunzel!"
"Lebay lo bilang?! Gue sebagai kakak lo cuman khawatir, Rin! Lo nggak lagi dekat sama cowok kan? Kalau lagi dekat sama cowok, bilang sama--" ucapan Candra terpotong saat Arini membanting pintu.
Arini langsung menjauh dari pintu. Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat. Kesal dengan perkataan sang kakak yang menurutnya seperti gangguan.
...***...
Gala sekarang sangat menikmati waktunya di pasar malam. Hal yang sama juga dirasakan Nindy. Mengingat Gala saat itu bersedia membelikannya apapun di sana.
Kini Gala dan Nindy berjalan menjauh dari pasar. Hari sudah cukup larut. Jadi mereka memutuskan untuk pulang.
"Ini nggak dianggap hutang kan?" tanya Nindy sembari memperlihatkan tas belanjaannya atas hasil traktiran Gala. Di tangan satunya, dia memegang permen kapas. Menikmati permen tersebut sesekali.
"Cih! Di dunia ini nggak ada yang gratis," tanggap Gala.
Nindy berhenti melangkah. Menatap Gala penuh selidik.
"Apa mau lo?!" tukas Nindy.
__ADS_1
"Ayo! Panti asuhan lo udah dekat kan?" Gala mengabaikan pertanyaan Nindy. Dia berjalan lebih dulu ke arah panti asuhan Nindy berada.
"Gala!" Nindy segera mengejar.
Sesampainya di panti asuhan, Nindy mencegat langkah Gala. Cewek itu memberitahu kalau sekarang pintu depan sudah dikunci.
"Lo mending pulang! Gue akan masuk lewat jendela kamar aja," ucap Nindy. Dia beranjak meninggalkan Gala. Bahkan tak menoleh ke belakang untuk memastikan cowok tersebut pergi atau tidak.
Saat selesai masuk ke kamar lewat jendela, barulah Nindy sadar kalau Gala mengikuti.
"Lo ngapain ngikutin gue?!" geram Nindy sambil sesekali melihat ke arah teman kamarnya. Untung saja Chintya sedang tidur pulas.
"Kan gue tadi udah bilang, nggak ada yang gratis di dunia ini," bisik Gala. Lalu menaiki jendela. Ikut masuk ke kamar Nindy.
Nindy sontak bergegas menarik tirai di antara dirinya dan Chintya. Dia berjaga-jaga kalau teman sekamarnya itu terbangun.
Tanpa diduga, tangan Gala melingkar ke perutnya. Lalu menarik Nindy dan membawanya telentang bersama ke kasur. Permen kapas Nindy otomatis jatuh ke lantai.
Belum sempat melakukan protes, Gala langsung menyumpal mulut Nindy dengan ciuman.
Mata Nindy terbelalak lebar. Dia berusaha menghentikan Gala. Mengingat mereka sedang ada di panti asuhan sekarang. Bisa kacau jika ada yang mengetahui kelakuannya dan Gala. Terutama Chintya.
Pertahanan Nindy runtuh ketika tangan Gala sudah bermain di organ intimnya. Mata Nindy yang tadinya terbelalak, jadi memejam rapat. Menikmati pergerakan jari-jemari Gala di bawah sana.
"Gue akan lakukan dengan cepat," ujar Gala sembari mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Dia segera menanggalkan celana Nindy hingga tak menyisakan apapun. Selanjutnya Gala bermain mulut di sana.
Nindy melemah. Ia menggigit bibir bawahnya sambil meremas seprai kasur. Puas melakukan pemanasan, Gala bergegas melepas celana.
"Lo bawa pengaman kan?" tanya Nindy memastikan.
"Enggak. Tapi gue punya cara lain," sahut Gala.
"Apa?! Tapi--"
"Udah nikmati aja!" potong Gala seraya membekap mulut Nindy dengan tangan. Ia kemudian melakukan penyatuan.
__ADS_1