
...༻⊠༺...
Kini Nindy ada di kamar mandi. Dia masih merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya. Ya, melepas keperawanan hanya karena uang. Cewek itu sekarang sedang membersihkan darah yang keluar dari organ intimnya.
Nindy memakai kaos oblong milik Gala. Baju itu tampak kebesaran di tubuhnya. Bahkan panjangnya sampai ke pangkal paha.
Nindy menatap pantulan dirinya di cermin. Dia menggigit bibir bawahnya.
"Sial, sakit tapi..." Nindy tak bisa membantah kalau dirinya menikmati kegiatan intim bersama Gala tadi. Dia lekas menggeleng. Lalu keluar dari kamar mandi.
Gala terlihat tertidur di ranjang. Cowok itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek sepangkal paha.
Nindy melihat waktu menunjukkan jam sembilan malam. Namun dia belum mengantuk. Nindy memilih bermain ponsel. Ia telentang ke sebelah Gala dengan santai.
Merasa mulai mengantuk, Nindy akhirnya memutuskan untuk tidur. Matanya terpejam cukup lama.
Satu malam berlalu. Pagi telah tiba. Nindy perlahan terbangun. Sebab dia mendengar suara kecupan serta sentuhan yang menggerayangi badannya.
Mata Nindy terbelalak. Dia tahu betul pelakunya adalah Gala. Tetapi Nindy tak melakukan perlawanan sama sekali. Membiarkan Gala terus memberi jamahan nakal.
"Udah bangun?" tanya Gala berbisik.
Nindy yang sejak tadi telentang membelakangi Gala, segera berbalik menghadap cowok itu.
"Gimana nggak bangun, ada tikus yang raba-raba gue tanpa permisi," tukas Nindy.
"Gue ketagihan. Kalau lo?" desis Gala. Tangannya tak berhenti menelusuri tubuh kurus milik Nindy.
"Nggak tahu..." jawab Nindy ambigu.
Gala tersenyum miring. Ia mendekat dan segera mencium bibir Nindy. Itu tentu sebagai awal dari sentuhan selanjutnya.
Sekali lagi Nindy tak menolak. Terlebih dia merasakan gelitikan aneh di perutnya. Untuk kali kedua mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Nindy bahkan sampai lupa menuntut bayaran pada Gala.
Nindy melenguh hebat saat Gala menghentak lebih cepat. Sampai akhirnya dia dapat merasakan puncak. Itu dirasakannya berangsur-angsur ketika Gala masih melakukan pergerakan. Cowok tersebut juga mengerang pelan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dari depan rumah, sebuah mobil baru saja datang. Pemiliknya tidak lain adalah ayahnya Gala. Dia tidak pernah absen pulang ke rumah saat hari minggu.
__ADS_1
Riko Alvanendra merupakan ayah kandung Gala. Dia datang bersama istrinya yang bernama Martha. Mereka terlihat sama-sama menunjukkan ekspresi datar. Bahkan tak saling bicara. Hubungan kedua orang tua Gala akhir-akhir ini memang terasa dingin. Meskipun begitu, mereka selalu berusaha akur saat hari minggu. Karena setiap hari minggu mereka pergi bersama ke gereja.
Gala yang kini masih bercinta dengan Nindy, melupakan jadwal wajibnya hari minggu. Hal serupa juga dilakukan Nindy. Keduanya masih saling terbuai satu sama lain.
Hingga tibalah Gala mencapai puncak kenikmatan. Dia mengerang panjang bersama Nindy. Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu terdengar.
"Gala? Bangun! Ayo siap-siap!" ujar Martha. Dia mengetuk beberapa kali. Akibat tidak kunjung dibuka, dia menarik gagang pintu.
Gala dan Nindy gelagapan. Terlebih keduanya ingat kalau pintu tidak terkunci.
Buru-buru Nindy bersembunyi ke balik selimut. Sedangkan Gala menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Nindy.
"Gala!" Martha membuka pintu lebar-lebar. Untung saja Gala dan Nindy sukses bersembunyi tepat waktu.
"Iya, Mah... Ini aku sudah bangun. Aku akan langsung mandi," ujar Gala lemas.
Martha melangkah masuk ke dalam kamar. Melihatnya, Gala agak panik. Apalagi ketika sadar pakaian Nindy tergeletak di lantai. Untungnya itu seragam sekolah. Jadi Gala masih bisa berharap kalau sang ibu tidak akan menyadarinya
"Kamarmu berantakan banget! Jangan dibiasakan begini dong, Ga!" omel Martha.
"Iya, iya... Nanti setelah ini aku panggil Bi Ira buat bersihin," tanggap Gala.
"Mamah udah deh. Aku mau mandi." Gala berupaya mengusir ibunya keluar dari kamar.
"Ya sudah, cepat mandi sana!" Martha akhirnya keluar dari kamar.
Gala mendengus lega. Begitu pun Nindy. Cewek tersebut keluar dari persembunyiannya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Benar! Hari ini hari minggu!" cetus Nindy.
"Lo mending pulang sekarang," suruh Gala.
Nindy mengeratkan rahang sebal. Dia duduk dan memukulkan bantal ke wajah Gala.
"Lo harus kasih gue uang lagi buat yang tadi," protes Nindy.
"Enak aja. Yang tadi kan kita lakukan bukan atas dasar perjanjian kayak pertama kali," tolak Gala.
__ADS_1
"Bajingan!" cibir Nindy sembari beringsut ke ujung kasur. Ia bergegas mengenakan pakaian. Berniat ingin segera pulang.
"Sekarang gimana gue pulang?" tanya Nindy.
"Kayaknya setelah gue sama bokap dan nyokap gue pergi," jawab Gala.
"Apa?!" Nindy kaget. Dia menghempas duduk ke sofa.
"Kalau lo mau pulang sekarang, silahkan! Tapi bakal ketahuan sama bokap dan nyokap gue. Jam segini mereka nongkrong di ruang keluarga," ucap Gala.
"Terserah. Cepat mandi gih!" desak Nindy.
Gala berdiri sambil mengenakan celana. Kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Ketika melangkah melewati Nindy, Gala menyempatkan diri mencolek dagu cewek tersebut. Nindy yang kesal, langsung memberi tendangan ke udara. Gala lantas hanya tertawa kecil.
"Kalau mau tendang ya tendang aja kali," tantang Gala. Dia segera menghilang ditelan pintu kamar mandi.
Nindy mencoba mengabaikan Gala. Cowok itu selesai mandi setelah beberapa menit kemudian.
Gala mengenakan pakaian rapi dari biasanya. Nindy yang masih ada di kamar, mengamati cowok tersebut.
"Cowok tertampan di sekolah nih. Tapi sayang, cowok tertampan kedua," sarkas Nindy sambil terkekeh.
"Gue jadi yang kedua itu karena orang mempertimbangkan otak juga sebagai penilaian! Kalau gue sepintar Reyan, gue yakin pasti terpilih jadi peringkat pertama!" balas Gala.
"Hahaha! Secara nggak langsung lo ngaku kalau lo bodoh," simpul Nindy.
"Sialan lo!" geram Gala melotot.
"Sorry..." ucap Nindy seraya tak bisa menahan tawa.
Gala geleng-geleng kepala. Dia yang siap langsung pergi meninggalkan Nindy. Gala pergi ke gereja bersama kedua orang tuanya.
Nindy memperhatikan dari jendela. Dia bergegas pulang ke panti ketika keadaan aman.
Sebelum pulang, Nindy masuk ke walk in closet milik Gala. Dia menemukan banyak barang bermerek di sana.
__ADS_1
"Gila!" umpat Nindy terkagum. "Ambil satu atau dua nggak apa-apa kan. Anggap sebagai bayaran ronde pagi tadi," tambahnya sambil memilah-milih jam tangan Gala yang tersusun di lemari.