Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 24 - Kencan & Masalah


__ADS_3

...༻⊠༺...


Reyan berhenti menggenggam tangan Arini saat melihat ibunya muncul dari kejauhan. Lalu berdiri karena ingin segera menyapa.


"Mah..." panggil Reyan.


"Kenapa kau di sini? Nggak temanin Papahmu di kamar?" tukas Karin sembari berjalan mendekat.


"Papah lagi tidur. Lagian aku kedatangan temanku, Mah." Reyan memperkenalkan Arini. Cewek itu lantas berdiri dan sedikit membungkukkan badan.


"Oh, begitu." Karin segera menyalami Arini.


"Cantik sekali. Mamah jadi ragu dia teman atau..." Karin melirik Reyan penuh curiga.


"Mamah!" Reyan langsung angkat suara. Dia sangat mengerti lirikan ejekan yang dilontarkan sang ibu. Wajahnya sontak memerah.


Karin terkekeh. Mencoba memahami perasaan putranya. "Ya sudah. Mamah ke dalam. Kalian silahkan lanjut bicara di sini," ujarnya. Kemudian beranjak masuk ke kamar Sofyan.


"Jangan pikirkan sikap aneh nyokap gue tadi. Dia kadang aneh," ucap Reyan.


"Kayaknya semua keluarga bakalan begitu kalau lihat orang terdekatnya sama lawan jenis. Kakak gue juga begitu kan kemarin?" tanggap Arini.


"Iya ya." Reyan mengangguk. "Lo mau minum? Biar gue traktir deh. Mungkin ke cafe dekat sini," ajaknya.


"Boleh. Tapi nggak apa-apa lo tinggalin rumah sakit?"


"Enggaklah. Kan udah ada nyokap yang jagain bokap gue."


Arini tersenyum. Pertanda dia menyetujui ajakan Reyan. Keduanya melangkah bersama menuju cafe terdekat.


Bersamaan dengan itu, Reyan dan Arini menerima sebuah pesan secara bersamaan. Mereka segera memeriksa pesan tersebut. Ternyata keduanya sama-sama mendapat pesan tak dikenal.


'Manfaat serbuk ekstasi dapat membuat penggunanya melupakan masalah. Sangat cocok untuk orang yang mengalami depresi.'


"Sialan!" rutuk Reyan. Dia menatap Arini dan bertanya, "Lo dapat juga?"


"Iya." Arini mengangguk sambil memperlihatkan pesan yang didapatnya.


"Ini aneh banget. Dari mana mereka tahu nomor kita?" Reyan mendengus kesal.


"Sepertinya kita harus ganti nomor," cetus Arini.

__ADS_1


"Repot sih kalau ganti nomor. Kayak memulai hidup baru dari awal. Lo tahu kan capeknya pindahin kontak terus kasih tahu orang-orang tentang nomor baru kita?" sahut Reyan.


"Lo benar." Arini tergelak kecil sambil mengangguk. Dia dan Reyan tiba di cafe terdekat dalam selang beberapa menit. Keduanya segera memesan minuman dan roti.


Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Sampai tiba-tiba terjadi keributan di cafe. Ada sesuatu yang jatuh dari halaman samping cafe. Semua orang buru-buru memeriksa. Termasuk Reyan dan Arini.


Terdengar teriakan ketakutan serta kepanikan yang ditunjukkan semua orang. Reyan dan Arini lantas semakin dibuat penasaran.


"Ayo!" Reyan menggenggam tangan Arini. Menuntun cewek tersebut untuk menyusup ke tengah keramaian. Sampai keduanya bisa melihat apa yang terjadi.


Betapa kagetnya Reyan dan Arini saat melihat sesuatu yang sejak tadi menarik perhatian. Arini yang ketakutan, reflek memeluk Reyan. Dia membenamkan wajah ke dada cowok itu. Merasa tidak sanggup untuk melihat.


...***...


Gala dan Nindy sudah mendatangi sebuah restoran cepat saji. Dimana di sana keduanya dapat memesan cola dan burger.


Ketika hidangan sudah datang, Nindy langsung memakan burger penuh semangat. Dia sepertinya sedang lapar.


Berbeda dengan Gala yang belum menyentuh sedikit pun burgernya. Dia hanya meminum seteguk cola.


Nindy yang sejak tadi terlalu fokus menikmati makanan, segera berhenti. Dia melihat Gala terus murung. Cowok itu juga mendadak terpaku pada ponsel.


"Gue baru aja dapat pesan dari nomor nggak dikenal. Dia lagi-lagi kasih tahu tentang manfaat serbuk ekstasi itu," ungkap Gala. Dia tentu tidak mau memberitahu masalahnya begitu saja.


"Apa katanya? Coba gue lihat," pinta Nindy. Gala otomatis memberikan ponsel pada cewek tersebut.


"Terus? Lo kenapa mikir banget? Tinggal diabaikan aja kok," saran Nindy seraya mengembalikan ponsel Gala. Dia memperhatikan ekspresi Gala dengan seksama. Sampai sebuah dugaan muncul dalam benaknya.


"Tunggu dulu. Apa lo..."


"Ya, gue terpikir mau cobain serbuk itu, Nin." Gala angkat bicara. Sebab dia tahu apa yang dipikirkan Nindy terhadapnya.


"Lo gila!" cibir Nindy. Menggeleng tak percaya.


Gala mengusap kasar wajahnya berulang kali. Jelas dia tampak seperti orang yang sedang tertimpa masalah berat.


"Udah. Lo cerita aja. Gue nggak akan ngejek lo. Mending lo cerita aja masalah lo sama seseorang dari pada lari ke serbuk itu," kata Nindy.


"Lo nggak punya orang tua. Lo nggak bakalan ngerti perasaan gue," sarkas Gala.


Nindy terperangah mendengarnya. Namun dia mencoba memaklumi. Memang terkadang Gala bicara blak-blakkan sepertinya.

__ADS_1


"Nyelekit bener omongan lo. Tapi gue tetap pasang telinga buat dengar masalah lo," ujar Nindy. Dia memegang kedua telinganya sekaligus.


Gala dibuat terkekeh. Dia jadi merasa kalau keputusannya untuk menemui Nindy adalah keputusan yang tepat.


"Nyokap gue selingkuh," ungkap Gala. Dia akhirnya menggigit burgernya.


"Terus? Bokap lo tahu?" tanya Nindy.


"Kayaknya belum. Awalnya gue nggak mau peduli tahu nggak. Tapi pas tahu siapa orang yang selingkuh sama nyokap gue, sekarang jadi kepikiran terus."


"Kalau boleh tahu sama siapa nyokap lo selingkuh?"


Gala meletakkan burger kembali ke atas piring. Dia memasang tatapan serius.


"Kayaknya gue nggak bisa kasih tahu lo kalau tentang itu. Gue cuman lagi kesal banget sekarang. Apalagi pas lihat wajah nyokap gue. Tapi di sisi lain..."


"Lo nggak pengen keluarga lo hancur," tebak Nindy. Memotong ucapan Gala.


"Gue sepertinya emang nggak bisa kasih solusi apapun tentang masalah lo. Tapi gue bisa menghibur lo," imbuh Nindy.


Gala menggeleng remeh. "Orang kayak gue susah buat dihibur," ucapnya.


"Lihat aja nanti. Lo mending habisin burgernya dulu," suruh Nindy.


"Gue udah kenyang." Gala berdiri begitu saja.


"Kenyang? Lo cuman makan satu gigit juga," komentar Nindy yang terpaksa mengekori Gala. Keduanya segera keluar dari restoran cepat saja.


"Ikut gue!" Nindy menarik tangan Gala. Ia mengajak cowok itu ke pasar malam. Dimana di sana tidak hanya terdapat banyak stand makanan, tetapi juga wahana bermain.


Nindy mengajak Gala bertanding menembak sasaran. Sampai salah satu dari mereka menang dan mendapat hadiah boneka.


Nindy yang tadinya antusias, jadi merasakan suasana hati buruk karena tidak kunjung bisa menembak tepat sasaran. Sedangkan Gala tampak kesenangan karena terus berhasil menembak tepat sasaran berulang kali. Ia sudah mendapat tiga hadiah boneka.


"Udahan deh. Nggak seru," keluh Nindy cemberut.


"Nggak seru gimana. Seru banget nih!" sahut Gala yang tak berhenti tersenyum. Pemilik stand permainan tembak-menembak itu terlihat gelisah karena melihat Gala terlalu jago.


"Ga, kita sebaiknya pergi. Pemilik standnya udah cemberut tuh," bisik Nindy. "Lagian lo mau ngapain sama boneka sebanyak itu?" sambungnya.


"Ini, Mas. Aku borong biar aku bisa main sampai habis!" Gala mengabaikan peringatan Nindy. Dia mengeluarkan uang lima ratus ribu untuk membayar. Pemilik stand tembak-menembak itu akhirnya bisa tersenyum. Ia bahkan dengan senang hati membiarkan Gala bertindak sesuka hati. Sepertinya sejak saat itu, Gala hobi melakukan tembak menembak.

__ADS_1


__ADS_2