
...༻⊠༺...
Dengan langkah pelan menuruni tangga, akhirnya Arini berhasil memijakkan kaki ke tanah. Dia segera tersenyum ke arah Reyan. Cowok itu balas tersenyum.
"Biar gue simpan lagi tangganya," ujar Reyan sembari mengangkat tangga. Membawa tangga tersebut untuk diletakkan kembali ke tempatnya.
Setelah itu, Reyan dan Arini segera pergi. Mereka langsung menuju apartemen milik Gala.
"Lo kenapa tiba-tiba jadi begini sih, Rey? Jadi berandal itu benar-benar bukan gaya lo," cetus Arini. Ia dan Reyan sekarang berada di dalam mobil.
"Gue tahu. Gue aja merasa nggak percaya gue nekat melakukan ini. Mungkin karena masalah yang sekarang gue alami kali," tanggap Reyan.
"Masalah? Keadaan bokap lo nggak memburuk kan?" tebak Arini.
"Enggak. Bokap gue udah pulang dari rumah sakit kok. Dia sehat banget sekarang," sahut Reyan sambil fokus menyetir.
"Syukur deh." Arini mengangguk. Dia sebenarnya ingin bertanya mengenai masalah yang di hadapi Reyan sekarang. Akan tetapi Arini takut cowok tersebut enggan memberitahu. Karena Arini yakin pasti masalah yang di hadapi Reyan adalah sesuatu hal serius.
"Bokap gue selingkuh, Rin. Dan gue melihatnya dengan mata kepala gue sendiri," ungkap Reyan.
Mata Arini membulat. Ia memilih tidak mengatakan apapun dan hanya mendengarkan.
"Setelah pulang dari rumah sakit, dia langsung ketemu di hotel sama selingkuhannya," sambung Reyan. "Makanya gue malas pulang ke rumah. Terus ngajak lo buat ikut gue ngumpul ke apartemen Gala," tambahnya.
"Gala?" Arini mengerutkan dahi. Semua orang tahu Gala adalah musuh Reyan. Dia tentu bingung kenapa Reyan lebih memilih berkumpul di tempat milik Gala.
"Iya. Nggak apa-apa kan?" Reyan memastikan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok. Tapi lo? Bukannya lo sama Gala nggak akur?"
"Sekarang kayaknya udah nggak begitu. Secara kebetulan kami punya masalah yang sama. Gue malu aja kalau harus kasih tahu masalah gue lagi ke teman lain."
"Maksud lo orang tuanya Gala juga selingkuh?"
"Iya." Reyan mengangguk. Meskipun begitu, dia tidak memberitahu kalau selingkuhan ayahnya adalah ibunya Gala.
Tak lama kemudian Reyan dan Arini tiba di tempat tujuan. Selepas memarkirkan mobil, keduanya segera masuk ke gedung dan menaiki lift menuju lantai dimana unit apartemen Gala berada.
Reyan dan Arini bisa masuk ke unit apartemen Gala dengan mudah. Mengingat Gala sudah memberitahu kode password pintu.
Beberapa perabotan yang ditutupi dengan kain putih menyambut. Itu membuktikan kalau tempat tersebut jarang dikunjungi dan masih sangat baru.
"Tempat ini gede. Gala emang orang kaya," imbuh Arini sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Oh ya? Lo kayaknya tahu cukup banyak hal tentang Gala," komentar Arini yang tak mendapat respon oleh Reyan lagi.
Bersamaan dengan itu, Gala dan Nindy mengerang keenakan. Keduanya baru saja mengakhiri aktifitas persenggamaan. Kini mereka sibuk mengatur nafas yang tersengal-sengal. Gala tumbang telentang ke sebelah Nindy. Saat itulah mereka dikejutkan dengan panggilan Reyan.
"Gala? Nindy? Kalian dimana?" panggil Reyan.
Mendengar suara Reyan, Gala dan Nindy gelagapan. Keduanya buru-buru mengenakan pakaian.
Di luar, Reyan menyuruh Arini duduk ke sofa. Sementara dirinya akan memeriksa ruangan untuk mencari Gala. Sampai tibalah Reyan membuka pintu kamar. Ia sukses memergoki Gala dan Nindy berduaan di kamar. Meski mereka sudah mengenakan pakaian, lagak keduanya tetap mencurigakan karena hanya berhasil mengenakan setengah pakaian. Terutama Gala yang tak sempat mengancing baju kemejanya. Sedangkan Nindy sudah sepenuhnya mengenakan dress. Tetapi tidak celana dallamnya. Celana tersebut tergeletak di lantai.
"Anjir! Kalian ngapain?" timpal Reyan tak percaya.
__ADS_1
"Gue sama Nindy cuman main-main. Plis deh, pikiran lo jangan negatif!" balas Gala seraya mengambilkan cellana dalam Nindy dari lantai. Sebelum Reyan lebih dulu melihat. Diam-diam dia menyerahkan benda itu pada Nindy dari balik selimut.
"Iya, Rey. Gue tadi sama Gala ngantuk. Jadi tiduran bentar," ucap Nindy. Berusaha memperkuat alasan yang diberikan Gala.
"Gimana gue nggak berpikir negatif, orang kalian berduaan di kamar begini kok!" sahut Reyan.
"Udah! Itu nggak penting. Ayo kita ngumpul ke luar." Gala beranjak sembari menyematkan kancing bajunya. Dia sengaja meruah topik pembicaraan dan mengajak Reyan pergi dari kamar.
Nindy tertinggal sendiri. Dia mendesah kesal. Sebab sekarang Reyan tahu sejauh mana hubungannya dan Gala.
"Gala sialan!" umpat Nindy. Dia segera menyusul Gala dan yang lain keluar.
Kini semua orang sudah berkumpul di sofa. Arini dan Reyan mengerutkan dahi saat melihat serbuk tidak asing di atas meja.
"Ini bukannya--"
"Iya, gue sama Nindy udah coba sedikit. Efeknya nggak lama karena tadi kami cuman coba sedikit," potong Gala memberitahu.
"Jadi lo ngajakin kami ngumpul ke sini untuk ini?" tukas Reyan tak percaya.
"Kalian udah baca kan manfaat serbuk itu? Sekali-kali coba nggak apa-apa kan?" sahut Gala. "Lagian gue beneran merasa lebih baik pas cobain tadi. Masalah gue rasanya hilang dalam sekejap," lanjutnya.
Reyan terdiam. Ia menatap serius pada serbuk putih milik Gala yang ada di atas meja.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Mungkin novel ini akan tamat di bab 35 an ya guys... Makasih...