
...༻⊠༺...
Reyan mengambil serbuk putih terlarang dari meja. Mengamatinya dengan seksama.
"Rey, lo beneran mau coba?" tanya Arini.
Reyan tidak menjawab. Ia justru menatap Gala yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Lo yakin tempat ini aman kan?" tanya Reyan.
"Seratus persen. Coba aja, Rey. Kita bisa coba sama-sama," tanggap Gala.
"Ga! Lo nggak perlu ngajarin yang tidak-tidak sama Reyan," tegur Nindy. Mengingat Reyan adalah cowok baik-baik dan taat aturan.
"Nggak apa-apa. Gue benar-benar mau lupain masalah gue sekarang," kata Reyan.
"Iya. Ayo kita lupain masalah kita sama-sama," sahut Gala sembari memegang pundak Reyan.
Nindy dan Arini reflek bertukar pandang. Bingung dengan interaksi tidak biasa yang ditunjukkan Reyan dan Gala. Kedua cowok itu bahkan mulai membuka bungkus plastik berisi serbuk terlarang.
"Rey! Gue ke sini bukan untuk ini!" Arini menghentikan Reyan yang nyaris memakan serbuk terlarang itu.
"Nggak apa-apa, Rin. Kalau lo nggak mau, biar gue aja yang coba," ujar Reyan. Dia tak mendengarkan Arini dan segera mengkonsumsi serbuk terlarang.
__ADS_1
Melihat hal itu, Gala segera mengikuti. Dia dan Reyan kini duduk menyandar. Mencoba menikmati apa yang mereka rasakan.
"Sebenarnya nggak seburuk itu, Rin. Gue emang merasa agak enakan pas coba tadi. Sensasinya sekarang juga masih ada," imbuh Nindy yang pada akhirnya ikut mencoba serbuk terlarang.
Sekarang tinggal Arini yang benar-benar belum menyentuh serbuk terlarang. Dia sempat berpikir dan terdiam cukup lama. Namun pada akhirnya Arini mencoba juga.
Ke empat remaja tersebut berada dalam kendali obat. Pikiran mereka serasa melayang. Masalah yang ada seolah hilang begitu saja.
Reyan menatap langit plafon. Hal serupa juga dilakukan Arini. Keduanya duduk bersebelahan.
"Gue bisa lihat bunga bermekaran di sana. Cantik banget," ungkap Arini sambil tersenyum.
Reyan ikut tersenyum. Dia berkata, "Kalau gue bisa lihat plafon itu koyak dan memperlihatkan bintang-bintang di angkasa."
"Pffft! Bintang? Sekarang masih sore kali. Nggak ada bintang yang bisa dilihat." Gala menyahut.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua kok bisa baikan gini. Gue sama Arini kepo tahu nggak," cetus Nindy. Dia menyandarkan kepala ke pundak Gala.
"Iya, Nindy benar." Arini mengiyakan.
"Gue sama Gala mengalami hal yang nggak akan pernah kalian bisa duga," ucap Reyan.
"Bokap gue selingkuh sama nyokapnya Gala. Dan tadi kami berdua udah pergokin mereka," jelas Gala memberitahu.
__ADS_1
"Apa?" Nindy dan Arini kaget bersamaan.
"Bisa ya kebetulan begitu?" tukas Nindy.
"Terus selanjutnya gimana?" tanya Arini.
"Kami berdua pengen mereka jujur ke pasangan masing-masing. Jadi gue sama Reyan udah siap menerima resikonya," jawab Gala. Dia tergelak kecil bersama Reyan. Jelas keduanya masih berada dalam pengaruh serbuk terlarang.
"Yang sabar ya..." Nindy memeluk Gala. Lalu mengelus dada cowok itu. Ia bahkan memberi kecupan singkat ke pipi.
Gala menoleh. Hingga dia dan Nindy saling bertukar pandang.
"Lo sengaja ya bikin gue terangsang terus?" tukas Gala.
"Dih! Lo aja yang nafsuan!" cibir Nindy tak terima. Namun Gala memegangi tengkuknya dan segera menyatukan bibirnya dengan mulut Nindy.
Reyan dan Arini masih sama-sama menatap langit plafon. Keduanya tidak tahu apa yang sedang dilakukan Nindy dan Gala di seberang mereka.
Perlahan Arini menggenggam tangan Reyan. Membuat cowok itu menatap ke arahnya. Kini mereka saling bertukar pandang.
"Gue harap semuanya baik-baik aja, Rey..." kata Arini. Berharap Reyan bisa bertahan dari masalah yang di hadapnya.
"Thanks," sahut Reyan. Tanpa diduga dia mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Arini.
__ADS_1
Arini awalnya kaget. Namun dia memejamkan mata dan menerima ciuman Reyan yang hanya berupa sentuhan biasa. Bibir keduanya tidak saling memagut. Tetapi hanya saling menempel. Mengingat mereka sama-sama belum berpengalaman untuk itu. Ya, ciuman tersebut adalah untuk pertama kalinya bagi Reyan dan Arini.
Berbanding terbalik dengan Gala dan Nindy. Keduanya berciuman dengan lihai dan panas.