
...༻⊠༺...
Tubuh Nindy terguncang hebat. Suara derit ranjang juga terdengar saat Gala melakukan pergerakan. Cowok itu mendessah dengan nafasnya.
Nindy segera menjauhkan tangan Gala dari mulutnya. Dia rasanya tak bisa bernafas karena bekapan cowok tersebut.
Gala lantas mengalah dan berhenti membekap mulut Nindy. Keduanya saling bertukar pandang sambil melenguh pelan.
Diam-diam Nindy melirik ke arah tempat tidur Chintya. Di sana dia melihat teman sekamarnya itu masih telentang di ranjang. Nindy masih bisa melihat dari bayangan yang terlukis dari tirai yang menghelat tempat mereka.
"Dia masih tidur kok," ucap Gala yang mendekatkan mulut ke telinga Nindy. Lalu memagut kuping cewek itu dengan pelan.
Nindy semakin terangsang. Dia memegang wajah Gala dan menyatukan bibirnya ke mulut cowok tersebut.
Sambil melakukan penyatuan, Nindy dan Gala berciuman bibir. Suasana yang terjadi di antara keduanya terasa begitu intim dan memanas.
Sampai akhirnya Nindy mencapai puncak kenikmatan. Dia terpaksa melepas ciumannya dan mengerang. Sungguh, Nindy berusaha keras agar erangannya tidak terlalu keras.
Namun itu belum berakhir saat Gala justru memberi hentakan lebih cepat. Hingga Nindy kelepasan dan mendessah cukup nyaring. Tubuhnya beberapa kali bergetar sembari memeluk erat Gala yang memimpin di atas badannya.
Sekarang Nindy tak peduli lagi. Kenikmatan yang dia rasakan sudah membuatnya menggila. Alhasil dia terus melenguhkan kenikmatan tersebut.
Gala tersenyum puas melihat ekspresi Nindy yang sedang terangsang. Sesekali cewek itu menggigit bibirnya. Hal tersebut membuat Gala semakin terpancing gairah. Tak lama kemudian dia mencapai puncaknya sendiri.
"Aaakh..." Gala mengerang panjang. Dia memberi beberapa hentakan terakhir. Lalu bergegas melepas penyatuan. Tepat sebelum cairan miliknya keluar di organ intim Nindy.
Tubuh Gala bergetar. Dia berakhir telentang ke samping Nindy. Sekarang keduanya sama-sama sibuk mengatur nafas masing-masing.
"Sumpah! Kenapa enak banget," ungkap Gala.
__ADS_1
"Jadi ini yang lo maksud nggak gratis. Lo pengen gue bayar uang lo sama ini?" imbuh Rona.
"Mungkin..." sahut Gala. "Lagian lo juga menikmati kok. Mendesah gitu kayak kerasukan setan," tambahnya.
Wajah Nindy memerah. Ia memang tak bisa membantah perkataan Gala tersebut.
"Nin..." panggil Gala.
"Hah?" Nindy menoleh.
"Lo nggak apa-apa kan kalau kita sering melakukan ini? Gue janji akan bayar lo. Gimana?" tawar Gala. Dia telentang miring menghadap Nindy. Lagi-lagi keduanya saling bertukar tatapan.
Nindy menenggak salivanya sendiri. Sebenarnya harga dirinya merasa rendah jika menerima tawaran Gala. Namun di sisi lain, dia memerlukan uang cowok itu. Lagi pula Nindy sudah terlanjur tidak perawan. Apalagi dia juga seringkali menikmati kegiatan intimnya dengan Gala.
"Kenapa harus mikir lama sih? Gue yakin lo pasti bakalan setuju," cetus Gala yakin.
"Cih! Mahal apanya, lo itu justru..." Gala enggan meneruskan kalimatnya.
"Apa? Lo mau bilang murahan kan?" tebak Nindy.
Gala merubah posisi menjadi duduk. Mendekatkan wajahnya ke hadapan Nindy. Lalu memegangi wajah cewek itu.
"Bagus deh kalau lo bisa menyimpulkan sendiri," kata Gala.
"Kurang ajar emang lo!" cibir Nindy.
Gala tergelak. Dia segera beringsut ke ujung kasur dan mengenakan pakaian. Hal serupa lantas juga dilakukan Nindy.
"Sampai ketemu besok ya, Sayang. Kita lakukan lagi ya," pamit Gala. Dia langsung mendapatkan tendangan di bokong dari Nindy.
__ADS_1
Satu hari berlalu. Nindy bangun pagi seperti biasa. Kemudian bersiap untuk pergi ke sekolah.
Saat hendak berangkat ke sekolah, Nindy melihat bibi penjaga panti terlihat memohon pada seorang lelaki. Namun lelaki itu terlihat tidak acuh dan buru-buru pergi.
"Kenapa, Bi?" tanya Nindy penasaran.
"Bukan apa-apa," jawab Mawar.
"Bi, kalau ada apa-apa kasih tahu aku! Mungkin aku bisa bantu," mohon Nindy seraya menggenggam tangan Mawar.
"Kita kekurangan donator, Nin. Keadaan panti asuhan kita terancam," kata Mawar.
"Apa? Tapi bukannya pemilik panti asuhan ini rutin melakukan donasi?" tanya Nindy.
"Rutin, tapi mereka memberi donasi yang pas-pasan. Nggak cukup untuk makan kita satu bulan. Pengen protes, tapi yang namanya donasi kan pemberian sukarela dari orang. Jadi kita nggak berhak mengatur-atur," jelas Mawar panjang lebar.
Nindy hanya bisa mendengus kasar. Dia jadi terpikirkan Gala. Mungkin saja cowok itu bisa membantunya. Mengingat panti asuhan yang Nindy tempati adalah milik keluarga Gala.
Dengan langkah cepat Nindy pergi meninggalkan panti. Dia ingin segera ke sekolah untuk bicara pada Gala.
Setibanya di sekolah, Nindy melihat semua heboh dengan pemilihan ketua osis. Guru juga mempersilahkan seluruh murid untuk berkumpul di lapangan indoor. Di sanalah pengumuman ketua osis yang terpilih akan diberitahu.
Nindy mengedarkan pandangan ke segala arah. Berusaha mencari Gala. Sampai dia akhirnya menemukan cowok itu. Gala terlihat asyik mengobrol bersama dua temannya.
"Gala!" panggil Nindy sembari berlari mendekat.
Ketika sudah saling berhadapan, Nindy langsung membawa Gala ikut bersamanya. Dalam sekejap seluruh pasang mata tertuju ke arah mereka.
Gala membulatkan mata. Dia hanya mengikut arah kemana Nindy membawanya.
__ADS_1