
...༻⊠༺...
Reyan perlahan menjauh. Berhenti mencium bibir Arini. Dia menatap gadis itu dengan mata sayu yang memerah.
"Rey..." lirih Arini terpaku.
Reyan tersenyum. Dia berucap, "Gue udah lama suka sama lo. Sejak pertama kali lihat lo dihukum pas orientasi siswa."
Mata Arini mengerjap pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berharap apa yang dirinya alami sekarang bukan mimpi. Semuanya terasa seperti mimpi karena Arini dalam pengaruh obat.
"Kenapa baru kasih tahu sekarang? Kenapa gue di antara banyaknya cewek cantik di sekolah?" Arini memastikan.
"Gue nggak tahu. Cinta nggak bisa dijelaskan bukan?" tanggap Reyan.
"Gue juga suka sama lo, Rey. Di sekolah, cewek mana yang nggak suka sama lo!" tegas Arini. Ia memegangi wajah Reyan. Menempelkan kembali bibirnya lebih lama ke mulut Reyan. Mereka saling terkekeh.
Sementara Gala dan Nindy, baru saja berhenti berciuman. Nindy mendorong Gala menjauh secara tiba-tiba. Lalu menampar wajah cowok tersebut.
"Jangan coba-coba ngajakan nganu lagi! Perih punya gue kalau begituan lebih satu kali dalam sehari!" timpal Nindy mengomel. Namun Gala hanya diam dan jatuh telentang ke lantai. Cowok itu sudah sangat tenggelam dalam pengaruh obat. Mengingat Gala merupakan orang yang paling banyak mengkonsumsi.
Selama semalaman Reyan, Gala, Nindy, dan Arini berada di apartemen. Mereka tertawa dan bersenang-senang tidak karuan sampai pagi. Untung saja hari itu hari minggu. Jadi mereka tidak perlu khawatir dengan sekolah.
Ketika waktu menunjukkan jam sembilan pagi, Reyan terbangun. Dia sangat kaget karena sudah lupa waktu.
Buru-buru Reyan membangunkan Gala dan yang lain. Memberitahukan kalau hari sudah siang.
Gala dan Nindy terkesan santai saja. Hanya Arini yang terlihat sama paniknya dengan Reyan. Keduanya lantas sepakat pulang bersama lebih dulu.
"Maaf ya, Rin. Lo pasti kena marah sama keluarga lo," ujar Reyan yang baru menghentikan mobil di depan rumah Arini.
__ADS_1
"Nggak masalah, Rey. Ini juga kemauan gue kok. Tapi gue boleh pastiin sesuatu tentang pembicaraan kita kemarin?" tanya Arini. Menatap Reyan dengan sudut matanya. Dia membicarakan perihal pernyataan cinta Reyan.
"Tentang?" Reyan mencoba mengulik ingatannya. Sampai dia teringat dengan ciuman dan juga pernyataan cintanya. Reflek Reyan memegangi bibirnya sendiri.
"So-sorry, Rin. Gue kemarin udah kurang ajar ya sama lo?" Reyan memastikan.
"Enggak. Lo nggak kurang ajar kok," sahut Arini.
Reyan terkesiap. Dia menatap Arini dan mencoba terus memahami maksud gadis tersebut.
"Apa lo bicarain pernyataan gue kemarin?" tanya Reyan yang langsung direspon Arini dengan anggukan kepala.
"Lo serius atau nggak?" Arini berbalik tanya.
Reyan tertunduk sejenak karena malu. Lalu mengembangkan senyuman. "Iya, gue serius. Kalau lo?" balasnya.
"Jadi kita pacaran?" ujar Arini.
Reyan mengangguk. Setelah itu, dia membiarkan Arini turun dari mobil. Reyan segera pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, Reyan langsung disambut dengan pemandangan tangisan sang ibu. Dia yakin ibunya menangis karena Sofyan sudah memberitahu tentang kebenaran.
"Mah!" Reyan mendekat dan menatap Karin dengan penuh belas kasih. Ibunya sekarang pasti sangat sakit hati.
"Kau sudah tahu, Rey?" isak Karin.
"Iya, Mah..." sahut Reyan sambil memeluk ibunya dari samping.
Karin semakin terisak. "Maafkan Mamah, Rey. Maafkan aku..." lirihnya.
__ADS_1
"Kenapa Mamah minta maaf? Ini bukan salah Mamah," sahut Reyan.
"Jika Papahmu memilih begitu, berarti pasti ada yang salah sama Mamah," ungkap Karin. Dia begitu tenggelam dalam kesedihan.
"Terus keputusan Mamah gimana?" tanya Reyan.
"Mamah akan merelakan. Apa kau tidak masalah jika aku dan Papahmu..." Karin tidak meneruskan perkataannya sampai akhir. Tetapi Reyan paham betul apa yang dimaksud sang ibu.
"Apapun keputusan Mamah aku terima. Dan jika Mamah memilih bercerai, izinkan aku ikut Mamah ya," kata Reyan.
Karin mengangguk. Dia segera memeluk putranya dengan erat dan penuh haru.
Di waktu yang sama, Gala baru saja pulang ke rumah. Dia juga sudah mengantarkan Nindy pulang ke panti.
Berbeda halnya seperti Reyan, kepulangan Gala disambut dengan pertengkaran sengit di antara kedua orang tuanya. Ayah Gala bahkan menghancurkan benda-benda di sekitar. Sementara sang ibu terus bersuara dan tak mau kalah berdebat.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Martha?! Apa yang kurang dariku?!" timpal Riko.
"Perhatianmu! Kau tidak pernah sekali pun memperhatikanku dan Gala! Kerja, kerja, kerja aja terus!" balas Martha.
"Apa? Perhatian? Di rumah ini akulah orang yang paling perhatian. Apalagi sama Gala! Aku selalu mengirim uang puluhan juta setiap seminggu sekali ke saldo rekeningnya. Belum lagi kau! Tega sekali kau menjadikan kesibukanku sebagai alasan berselingkuh?! Dasar istri kurang ajar! Aku tidak mau lagi melihat wajahmu itu!"
"Oke! Kita berpisah saja kalau begitu!"
"Ya! Itulah yang aku inginkan! Tapi jangan harap Gala ikut bersamamu!"
"Tidak! Dia ikut denganku! Kau tak tahu apa-apa tentang anakmu sendiri!"
Mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, Gala mendengus kasar. Dia bersembunyi di balik dinding sambil menghisap rokok. Gala sekarang harus berpikir untuk menentukan pilihan. Jujur saja, memilih di antara ayah dan ibu bukanlah pilihan mudah. Meskipun begitu, sepertinya Gala sudah tahu harus ikut dengan siapa.
__ADS_1