Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 33 - Perpisahan [Ending]


__ADS_3

...༻⊠༺...


Baik orang tua Reyan atau Gala, mereka langsung mengurus perceraian ke pengadilan. Untuk sementara Reyan dan Gala berusaha menjalani hari dengan normal di sekolah. Kini keduanya sedang berlatih basket. Tidak seperti sebelumnya, sekarang mereka tak bertengkar. Justru semakin akur. Banyak yang merasa heran melihat bagaimana hubungan Gala dan Reyan.


"Jadi bokap dan nyokap lo memilih bercerai juga?" tanya Reyan. Dia dan Gala tengah istirahat. Duduk di pinggir lapangan sambil menikmati minuman segar.


"Iya, mereka bertengkar hebat. Terus pada ngerebutin gue," jawab Gala.


"Terus? Lo gimana? Udah terpikir mau ikut siapa?" Reyan menyelidik.


"Papah... gue mau ikut dia aja. Karena gue udah benci banget sama nyokap gue. Gara-gara dia perceraian ini terjadi," ungkap Gala panjang lebar.


Reyan tersenyum kecut. "Apa lo bakalan pindah juga?" tukasnya.


Gala melebarkan kelopak mata. "Lo mau pindah juga?" balasnya.


"Iya. Gue sama nyokap akan pindah ke Bandung," ucap Reyan sendu.


Gala terdiam dan tertunduk. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Sampai Reyan akhirnya bertanya padanya.


"Terus lo? Bokap lo mau ajak pindah kemana?" tanya Reyan.


"Katanya sih Sydney. Jauh kan?" tanggap Gala. Dia mendapat tatapan nanar dari Reyan.


"Move on itu memang butuh tempat baru. Gue ngerti kok setiap orang yang patah hati berusaha mencari tempat baru," kata Reyan. Pembicaraannya dan Gala berakhir ketika mereka disuruh kembali berlatih.


...***...


Hari demi hari berlalu. Hingga tibalah Reyan mulai berbenah. Dia bahkan sudah mengurus kepindahannya di sekolah. Tak lupa juga Reyan memberitahukan hal tersebut pada teman-temannya. Terutama Arini. Gadis yang baru saja dipacarinya.


Tentu banyak yang sedih dengan kepindahan Reyan. Terlebih cowok itu diketahui tidak pelit jawaban dan sering membantu teman-temannya. Mungkin itulah alasan Reyan terpilih menjadi ketua osis.


Akibat kepindahannya, Reyan harus mengundurkan diri dari posisi ketua osis. Semua guru yang menyukainya juga berusaha memaklumi. Mereka hanya mengharapkan yang terbaik untuk Reyan.


Saat pulang sekolah, Reyan mendatangi kelas Arini. Kebetulan keduanya ada janji untuk menghabiskan waktu bersama setelah pulang sekolah.

__ADS_1


Anehnya momen tersebut justru membuat Arini sedih. Mengingat Reyan akan segera pergi. Tidak diketahui apakah cowok itu akan kembali atau tidak.


Kini Reyan dan Arini sudah ada di mobil. Reyan mengendarai mobil menuju restoran yang sudah dipesannya.


"Gimana ulangan Fisika tadi? Katanya susah banget ya?" celetuk Reyan. Memulai pembicaraan.


"Iya. Tapi untung ada Indri. Dia tolongin gue banyak banget tadi," sahut Arini sembari mengukir senyuman.


Sesampainya di tempat tujuan, Reyan dan Arini segera makan bersama. Mereka mencoba menikmati waktu. Sesekali bercanda dan tak lupa berfoto bersama.


Setelah makan, Reyan dan Arini jalan-jalan ke taman terdekat. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan. Hingga keduanya berakhir duduk di bukit taman saat matahari terbenam.


"Lo beneran akan pergi?" tanya Arini sambil memainkan jarinya tanpa alasan.


"Seperti yang lo tahu. Orang tua gue bercerai, gue harus ikutin keputusan nyokap karena ikut sama dia," jawab Reyan.


"Terus gimana sama kita?" Arini menatap sedih.


Reyan terdiam dalam beberapa saat. Ia tertunduk karena memikirkan keputusan bulat yang sudah ditentukannya jauh-jauh hari. Terutama mengenai hubungannya dan Arini.


Air mata Arini menetes satu per satu. Ia bertanya, "Kenapa, Rey? Lo ngga suka sama gue?"


"Bukan begitu, Rin. Gue suka sama lo. Suka banget malah. Tapi gue cuman nggak mau kasih lo harapan palsu. Karena gue nggak tahu setelah pindah nanti, apakah gue akan ke sini lagi atau nggak. Gue nggak bisa menjamin itu," tutur Reyan.


"Tapi kita bisa kan LDR? Gue nggak masalah kok! Kita pacaran aja belum sempat tiga hari, udah putus aja!" timpal Arini. Dia berdiri dan menatap Reyan dengan kesal. Cowok itu lantas ikut berdiri.


"Maafin gue. Tapi menurut gue ini yang terbaik. Lagi pula kita masih muda, Rin. Masa depan kita masih panjang. Kalau kita berjodoh, pasti nanti akan dipertemukan lagi," kata Reyan.


Arini tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya tertunduk dan menangis. Meremas rok abu-abunya dengan kuat.


"Kalau kita sudah mapan dan sukses, kita bertemu lagi di sini. Di taman ini. Kita bisa cerita banyak hal yang sudah kita lewati saat tidak bersama." Mata Reyan berkaca-kaca. Lalu perlahan memeluk Arini. "Lagi pula gue merasa salah nembak lo pas dalam kendali obat," sambungnya.


"Gimana kalau gue kangen sama lo, Rey? Gue harus gimana?" Arini membalas pelukan Reyan. Ia menangis tergugu.


"Lo masih bisa kirim pesan dan telepon gue kok," sahut Reyan. Dia segera pulang saat Arini sudah merasa lebih tenang.

__ADS_1


...***...


Berbeda dengan Reyan, Gala memilih tidak masuk sekolah dan membiarkan bawahan ayahnya untuk mengurus kepindahan.


Sebelum pindah, Gala dan ayahnya pergi ke gereja di hari minggu terakhir mereka berada di Jakarta.


Gala berdiri di samping ayahnya. Menyatukan tangan sambil memasang tatapan kosong. Sesekali dia mengedarkan pandangan. Jelas dirinya mencari Nindy.


Sebenarnya Gala berniat ingin bicara pada Nindy sebelum pergi. Entah kenapa cewek itu menjadi satu-satunya orang yang paling ingin ditemui. Kemungkinan Gala sudah memiliki perasaan spesial untuk Nindy.


Hati Gala terus saja mengelu untuk menemui Nindy. Namun logika Gala selalu menolak. Dia terlalu gengsi untuk mengatakan sesuatu hal seperti perpisahan. Apalagi pada Nindy. Mungkin semuanya terasa akan terlalu canggung.


Hari itu, Nindy benar-benar tak terlihat. Bahkan ketika Gala sudah di bandara. Hingga akhirnya dia benar-benar mengangkat kaki dari tanah kelahirannya dan pergi.


Saat pesawat Gala lepas landas, derap langkah kaki yang laju terpaksa berhenti di depan dinding kaca. Dia tak lain adalah Nindy. Di belakangnya ada Reyan yang menemani. Memang cowok itu akan pergi lebih belakangan dibanding Gala.


"Gala! Dasar sialan! Bisa-bisanya pergi tanpa bilang-bilang! Bajingaaan!!!" Nindy mengumpat histeris. Dibarengi dengan tangisannya yang meraung. Ia perlahan terduduk ke lantai.


Reyan segera menenangkan cewek itu. "Maafin gue, Nin. Gue kira lo udah tahu tentang kepergian Gala," ucapnya. Dia memberitahu kepergian Gala tepat di hari keberangkatan cowok itu ke Sydney.


"Gue nggak tahu sama sekali... Dia nggak bilang apa-apa, Rey..." isak Nindy. Sama seperti Gala, sejak awal memulai permainan dengan cowok tersebut memang sudah ada rasa spesial yang tumbuh.


Reyan hanya bisa mengelus punggung Nindy. Berharap cewek itu berhenti menangis. Selanjutnya, mereka segera pergi meninggalkan bandara.


Kala satu hari berlalu, barulah Reyan dan ibunya pergi untuk pindah seperti Gala. Keduanya hanya menaiki kereta.


Reyan beberapa kali menghela nafas panjang. Perpisahan tentu adalah hal berat. Dia juga sangat mengerti kenapa Gala tidak melakukan hal sepertinya. Cowok itu tak berpamitan pada sahabat terdekatnya sendiri. Bahkan Nindy yang akhir-akhir ini menjadi orang terdekatnya.


"Gue hanya berharap yang terbaik..." gumam Reyan sembari menatap keluar jendela.


...~SELESAI~...


Catatan Author :


Ini juga menjadi part perpisahan sama author ya. Makasih buat yang selalu baca karyaku. Semoga sukses selalu ^_^

__ADS_1


__ADS_2