
...༻⊠༺...
Suasana menjadi canggung saat melihat Pak Ferry dan Bu Shena semakin mesra. Terdengar juga suara kecup-mengecup yang jelas.
"Gue pengen cepat-cepat pergi dari sini!" keluh Reyan pelan. Ia menenggak salivanya sendiri.
"Lo pikir gue nggak? Lihat hal begituan di dunia nyata sama di video jelas beda banget. Jijik gue," tanggap Gala.
"Iyalah! Masalahnya kita tahu kalau dua orang yang enak-enak sekarang itu sama-sama selingkuh," ujar Reyan sembari mendengus.
"Oh tunggu dulu. Lo ternyata nonton bokep juga." Gala menyelidik.
Mata Reyan seketika meliar. Dia hanya membalas, "Bacot lo!"
Gala tak bisa menahan senyum. Lalu menyenggol Reyan dengan siku. "Anak teladan ternyata nakal juga. Lo mau stock punya gue nggak? Gue punya video bokep premium. Hot banget," godanya.
"Gila! Hal begituan ternyata ada juga premiumnya." Wajar Reyan memerah. Dia jadi membayangkan yang tidak-tidak. Premium? Memangnya akan sepanas apa video itu sampai harus berbayar?
"Ada dong! Versinya beda sama video yang biasa," ungkap Gala. Sengaja ingin membuat Reyan penasaran.
Di waktu yang sama, Nindy dan Arini masih berada di dalam lemari. Di sana keduanya bisa melihat apa yang dilakukan Pak Ferry dan Bu Shena lebih jelas dibanding Gala dan Reyan.
"Gue nggak sanggup terus lihat ini," ujar Arini dengan nada berbisik. Dia memejamkan matanya rapat-rapat.
"Gue pernah lihat yang lebih buruk dari ini," ungkap Nindy santai. Dia bahkan melipat tangan ke depan dada.
Arini membuka mata. Dia menatap Nindy. "Buruk? Seburuk apa?" tanyanya.
Nindy balas menatap Arini. "Buruk! Sampai gue nggak mau bayangin dan juga membicarakannya," jawabnya.
"Lo ternyata nggak sepolos yang gue kira," komentar Arini. Dia baru saja melihat sisi lain dari Nindy. Yaitu keangkuhan yang ditunjukkan oleh gelagat cewek itu.
"Semua manusia di dunia ini punya topeng kan? Gue yakin lo juga, Rin!" tukas Nindy.
Bersamaan dengan itu, Pak Ferry dan Bu Shena akhirnya pergi. Gala, Reyan, Nindy, dan Arini lantas keluar dari tempat persembunyian.
"Apa yang kita lihat tadi benar-benar diluar dugaan," kata Nindy.
"Udah. Sebaiknya kita nggak membicarakannya. Bukan urusan kita juga," ucap Reyan memperingatkan.
"Benar. Gue mau langsung pulang." Gala menjadi orang pertama yang melangkah melewati pintu keluar. Nindy buru-buru mengikuti.
"Nggak mau ngajak gue ke rumah lo hari ini?" tanya Nindy sembari menyamakan langkahnya dengan Gala.
__ADS_1
"Enggak!" jawab Gala tegas. Dia bahkan terlihat tak acuh.
Nindy tercengang. "Kenapa? Secepat itu lo bosan?" selidiknya.
"Kenapa? Apa sekarang elo yang pengen ngajak gue main?" Gala malah menanggapi seperti itu.
"Enak aja! Enggak lah!" bantah Nindy.
"Kali aja. Kalau lo mau, kita bisa langsung main di toilet," tanggap Gala santai. "Gue akan telepon lo kalau lagi pengen. Sekarang lagi nggak nafsu!" sambungnya. Lalu berjalan lebih dulu menuju parkiran.
Nindy lagi-lagi dibuat terperangah. Entah kenapa dirinya merasa dipermainkan. Ia terpaksa pulang menggunakan transportasi umum.
Gala yang sudah tiba di parkiran, dibuat kaget karena melihat satu ban mobil belakangnya bocor. Setelah diperiksa, ban tersebut ternyata tertancap oleh paku besar.
Gala sangat marah. Dia mengumpat sambil menendang ban mobilnya yang bocor beberapa kali.
"Lo kenapa?" Nindy yang tadinya hendak pergi ke halte bus, urung melakukannya. Sebab dia melihat Gala membuat keributan.
"Ban mobil gue bocor! Ada yang sengaja cari masalah sama gue! Bajingan!" gerutu Gala sembari berkacak pinggang.
Nindy justru tergelak. Dia tentu langsung mendapat pelototan dari Gala.
"Ketawa lagi lo!" geram Gala.
"Kentut! Setahu gue lo itu lebih pantas dibilang anak setan!"
Perdebatan Gala dan Nindy berakhir saat ada sebuah mobil berhenti. Pemilik mobil itu tidak lain adalah Reyan.
Merasa mulai dekat lagi, Reyan berniat membantu Gala. Dia turun dari mobil. Kemudian di ikuti oleh Arini. Reyan menanyakan apa yang terjadi.
"Ban mobil Gala bocor!" Nindy memberitahu.
Reyan segera memeriksa ban mobil Gala. Mencoba memastikan apakah ban itu masih bisa digunakan untuk berkendara.
"Ada paku besar di sana. Gue yakin ada yang sengaja nancapin itu ke sana. Sialan emang! Awas aja kalau nanti gue tahu pelakunya," ujar Gala sambil mengusap kasar wajahnya.
"Lo mending telepon tukang bengkel. Lo sama Nindy gue antarin pulang," tawar Reyan.
Gala menatap Reyan. Ia agak kaget mendengar tawaran mantan temannya tersebut. Meskipun begitu, dia hanya diam. Gala ingin menerima namun terlalu gengsi untuk bicara.
"Ide bagus. Ayo, Ga!" Nindy langsung setuju dengan tawaran Reyan. Dia menarik tangan Gala karena cowok itu hanya membeku.
Karena diseret Nindy, Gala akhirnya ikut ke mobil Reyan. Dia juga tak lupa menghubungi tukang bengkel untuk mengatasi mobilnya.
__ADS_1
Arini menyuruh Gala duduk di sebelah Reyan. Sementara dirinya memilih duduk bersama Nindy di kursi belakang.
Gala tak punya pilihan selain menerima. Dia merasa tidak enak mendapat bantuan dari Reyan.
"Gue ikut lo karena terpaksa ya!" tukas Gala. Tak acuh.
"Gue juga ngajak lo ikut karena saran Arini," tanggap Reyan yang juga tampak tak acuh.
Ponsel Reyan tiba-tiba berdering. Dia langsung mengangkat panggilan dari ibunya. Reyan menggunakan mode speaker yang tersambung pada mobil. Dirinya selalu melakukan itu ketika mendapat panggilan saat mengemudi.
"Kenapa, Mah?" tanya Reyan.
"Rey, Ibu sekarang sedang banyak kerjaan di restoran. Papahmu katanya sudah sadar. Kau bisa mengunjunginya sekarang kan? Dia pasti butuh ditemani. Kamu tahu sendiri Papahmu benci rumah sakit," jelas Karin dari seberang telepon.
"Bisa, Mah. Tapi aku harus mengantar temanku pulang dulu," ujar Reyan.
"Baiklah. Berhati-hatilah." Pembicaraan Karin dan Reyan berakhir.
Reyan jadi canggung sendiri. Kini Gala dan kawan-kawan tahu bahwa ayahnya sedang sakit.
"Bokap lo sakit?" tanya Gala. Sebagai orang yang juga mengenal Sofyan, dia tentu merasa cemas.
"Kemarin kecelakaan. Tapi sekarang sudah membaik," sahut Reyan.
"Kecelakaan? Itu parah sih," tanggap Nindy kaget.
"Tapi syukur deh kalau sudah membaik," kata Arini.
Reyan mengantarkan teman-temannya sesuai urutan. Pertama Arini dan yang kedua adalah Nindy. Ketika dua cewek itu pulang, Reyan dan Gala tinggal berduaan. Mengingat rumah Gala cukup jauh dan searah dengan rumah sakit yang dituju Reyan.
Hening menyelimuti suasana. Sampai Gala melihat sebuah mobil tidak asing di depannya. Gala yakin mobil itu milik ibunya. Mobil tersebut terlihat belok menuju rumah sakit. Gala sontak merasa khawatir. Takut kalau ayah atau keluarganya masuk rumah sakit.
"Gue akan antar lo dulu. Baru ke rumah sakit," imbuh Reyan saat mobilnya melewati rumah sakit dimana Sofyan dirawat.
"Nggak perlu! Kita ke rumah sakit aja!" ujar Gala.
"Hah? Kenapa?!" Reyan mengerutkan dahi.
"Udah! Belok aja!" Gala enggan memberitahu tujuannya.
Dengan perasaan heran, Reyan menghentikan mobil di rumah sakit. Gala tampak bergegas keluar dari mobil dibanding dirinya.
Gala bisa melihat Martha sudah melangkah masuk ke rumah sakit. Sebelum tertinggal, dia buru-buru mengikuti.
__ADS_1