Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 22 - Fakta Mengejutkan


__ADS_3

...༻⊠༺...


Reyan mengerutkan dahi saat melihat Gala pergi tergesa-gesa. Namun dia mencoba tak peduli dan fokus melangkah menuju kamar ayahnya.


Anehnya Gala terlihat berjalan ke arah yang sama dengan Reyan. Cowok berambut cepak itu bahkan berhenti di depan kamar tempat Sofyan dirawat.


Reyan melangkah cepat menghampiri Gala. Dia melihat temannya itu berdiri mematung di pintu.


"Lo kenapa ke sini?" tegur Reyan.


Gala langsung menoleh. Dia tampak menunjukkan ekspresi serius.


Karena penasaran, Reyan mengintip ke dalam. Kebetulan pintu sedikit terbuka. Pupil mata Reyan membesar tatkala melihat Martha mendatangi ayahnya.


Martha terlihat mengusap tangan Sofyan. Keduanya tak berhenti menatap sambil terus tersenyum.


"Aku senang melihatmu sudah membaik," ujar Martha.


"Terima kasih. Harusnya kemarin aku mendengarkanmu dan tetap tinggal di hotel," sahut Sofyan. Dia dan Martha tak tahu kalau Gala serta Reyan mendengar dari ambang pintu.


"Ngapain nyokap gue ke sini!" kata Gala. Ia sepertinya tidak mau mempercayai kalau yang dilihatnya adalah perselingkuhan. Dia mendorong Reyan menjauh. Lalu mencoba masuk ke dalam kamar. Akan tetapi langkahnya harus terhenti ketika melihat Martha dan Sofyan semakin mesra.


Sofyan terlihat mencium punggung tangan Martha dengan mesra. Dua orang itu bersikap seperti pasangan yang kasmaran.


"Ga! Ayo kita pergi!" Reyan membawa Gala pergi. Sebab dia masih belum siap menghadapi semuanya. Reyan yakin Gala pasti juga begitu. Alhasil keduanya beranjak pergi. Kini mereka berada di taman rumah sakit.


Gala berjalan mondar-mandir sembari tak berhenti mengusap kasar wajahnya. Dia begitu kesal terhadap fakta yang dilihatnya.


"Nyokap lo dan bokap gue nggak selingkuh kan?" akhirnya pertanyaan itu dilontarkan Gala untuk Reyan.

__ADS_1


"Menurut lo? Bukankah lo tadi dengar mereka bicarain tentang hotel?" tanggap Reyan. Dia lebih terkesan tenang dibanding Gala. Mengingat Reyan sudah bisa menduga sejak mendengar perkataan Martha saat menelepon Sofyan.


Gala menarik kerah baju Reyan. Ia mengeratkan rahangnya. "Sejak kapan lo tahu? Dan kenapa lo terlihat begitu yakin, hah?!" timpalnya.


"Lo pikir gue terima semua ini! Gue tahu sejak hari bokap gue kecelakaan, Ga! Saat lo dan keluarga lo pergi ke gereja. Lo ingat kan nyokap lo keluar buat menghubungi seseorang? Nyokap lo itu lagi telepon bokap gue tahu nggak!" Reyan berdiri dan melepas cengkeraman tangan Gala dari kerah baju. "Dan lo mau tahu nyokap lo bilang apa saat itu? Dia bilang, bokap gue harusnya tetap istirahat di hotel, Ga! Di hotel!" sambungnya.


"Sialan!" umpat Gala yang merasa sangat sulit menerima kenyataan.


"Awalnya gue selalu berusaha menepis dugaan gue. Tapi setelah melihat semuanya hari ini, gue nggak bisa membantah lagi..." ungkap Reyan. Dia kembali duduk di bangku panjang.


Sementara Gala, dia masih berdiri dengan segala amarah serta penyangkalan hati. "Ayo kita pergoki mereka sekarang," ajaknya.


"Enggak! Jangan gila! Gue nggak siap lihat keluarga gue hancur. Lagian bokap gue lagi sakit," tolak Reyan.


"Terserah lo! Tapi gue akan samperin mereka." Gala bersikeras. Dia kembali melangkah menuju kamar Sofyan.


"Gala!" panggil Reyan seraya menahan pergerakan Gala. Tetapi usahanya tak berhasil. Gala justru mendorongnya menjauh. Sampai akhirnya dia tiba di kamar Sofyan.


Martha sontak melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Sofyan. Keduanya kaget menyaksikan kedatangan Gala.


"Gala!" seru Martha. "Kamu kenapa..." ucapannya terhenti saat melihat Reyan muncul dari belakang Gala.


"Kalian pergi ke sini sama-sama?" tanya Sofyan. Dia merasa tak percaya dengan yang dilihatnya. Sebab Sofyan tahu kalau Gala dan Reyan tidak berteman dalam waktu cukup lama.


"Aku--"


"Iya, Pah. Gala tahu Papah sakit. Jadi dia ikut aku ke sini buat jenguk," potong Reyan. Gala lantas hanya bisa menatap tajam.


"Kemarilah! Ayo duduk. Mamahmu baru saja datang ke sini," kata Sofyan. Dia dan Martha berusaha bersikap normal.

__ADS_1


"Kenapa Mamah datang ke sini sendirian? Kan bisa ajak aku sama Papah?" tukas Gala blak-blakkan.


Martha merasa tertohok. Tetapi dia mampu menutupi kepanikannya dengan baik.


"Mamah kebetulan ada waktu luang. Lagian Papahmu kan pasti sibuk. Kau juga masih sekolah," tanggap Martha.


"Tapi kan bisa menunggu. Kita bisa jenguk Om Sofyan sama-sama malam nanti," kata Gala dengan kening yang mengernyit.


Reyan diam-diam memegang lengan Gala. Mencoba menegur cowok tersebut untuk berhenti.


Martha kali ini terdiam. Sofyan juga bisa merasakan kepanikan wanita itu. Dia segera angkat bicara untuk merubah topik pembicaraan.


"Rey, ambilkan minuman dan buah-buahan itu untuk Gala dan Mamahnya. Ayo! Kalian sebaiknya minum dulu," ujar Sofyan.


Reyan melakukan perintah Sofyan. Sedangkan Gala hanya terdiam.


"Senang bisa melihat kalian berdua akrab lagi. Jadi teringat seberapa dekatnya kalian dulu. Mandi aja sampai bareng," imbuh Martha. Dia senang melihat Gala dan Reyan kembali akrab.


"Ini nggak seperti yang Mamah lihat," tanggap Gala tak acuh. Ia melipat tangan ke depan dada.


Martha mengerutkan dahi samar. Dia tak mengerti. Sementara Reyan hanya bisa mendesah pelan kala menyaksikan sikap sinis Gala.


"Aku mau pulang aja. Kayaknya Om Sofyan sudah membaik." Gala berdiri. Lalu melingus begitu saja keluar dari ruangan.


"Gala! Kenapa ngeloyor begitu aja?" tegur Martha. Orang tua mana yang tidak kesal saat melihat anaknya melupakan sopan santun. Martha lantas berpamitan pada Sofyan dan Reyan. Kemudian bergegas mengejar Gala.


"Kau kenapa? Dimana sopan santun kamu, hah?!" timpal Martha yang sudah berjalan di samping Gala.


"Di sini Mamah nggak pantas bicara tentang sopan santun!" balas Gala. Tanpa menatap Martha. Ibunya tersebut hanya bisa terperangah. Martha tentu tak mengerti kenapa Gala tiba-tiba bersikap begitu.

__ADS_1


__ADS_2