
...༻⊠༺...
Dahi Nindy berkerut ketika melihat Gala begitu terkejut melihatnya. Dia tentu penasaran dengan apa yang terjadi pada cowok itu.
"Ikut gue!" Gala menarik tangan Nindy. Dia melangkah dengan langkah laju. Hingga Nindy cukup kesulitan mengejar.
"Pelan-pelan dong, Ga!" protes Nindy.
Gala membawa Nindy masuk ke mobil. Dia berniat mengajak cewek tersebut bicara di sana.
"Lo kenapa? Kelihatan kayak panik banget gitu?" selidik Nindy.
"Nih periksa!" Gala menyerahkan tasnya pada Nindy. Cewek itu lantas memeriksa tas ransel tersebut.
Pupil mata Nindy membesar saat melihat Gala juga memiliki barang terlarang serupa seperti milik Reyan kemarin.
"Ini juga tiba-tiba ada di tas lo?" tanya Nindy.
"Menurut lo?! Biar gue nakal-nakal begini, gue nggak pernah berurusan sama barang haram itu!" ujar Gala. Mencoba melakukan pembelaan diri. "Ini pasti ulah Reyan. Dia sengaja kasih gue barang terlarang ini biar gue yang nanggung akibatnya!" duganya yang terlihat sangat yakin.
"Menurut gue Reyan nggak akan melakukan itu!" sahut Nindy.
"Lo masih aja belain dia. Ketahuan banget lo suka sama dia," tukas Gala sinis.
"Emang kenyataannnya begitu! Semua orang di sekolah ini tahu betapa baiknya Reyan. Nggak kayak lo, berandalan! Hebatnya cuman di olahraga," cibir Nindy.
Gala menggertakkan gigi. Dia mencengkeram era pergelangan tangan Nindy. Lalu menarik paksa cewek itu ke hadapannya.
"Berani lo hina gue lagi, lo pasti akan nyesel!" ancam Gala dengan tatapan garang.
"Gue nggak menghina. Apa yang gue katakan itu fakta!" tanggap Nindy. Membuat Gala langsung memelintir tangannya tanpa ampun.
Nindy merintih kesakitan. Dia buru-buru meminta maaf. Saat itulah Gala berhenti menyakitinya. Cowok tersebut bergegas turun dari mobil tatkala melihat Reyan berjalan menuju parkiran. Reyan tidak sendirian. Ada Arini yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
Gala menghampiri Reyan. Dia menyeret cowok itu kembali masuk ke lingkungan sekolah. Membawanya ke kelas yang sudah kosong dan sepi.
Kerah baju Reyan ditarik kasar oleh Gala. Akan tetapi Reyan terlihat menunjukkan ekspresi berani.
"Apa lo?!" timpal Reyan.
"Harusnya gue yang tanya begitu!" balas Gala.
Arini dan Nindy datang menyusul bersamaan. Keduanya tentu cemas melihat ketegangan yang terjadi.
"Udah, mending kita bicarakan semuanya baik-baik," saran Arini.
"Enggak! Gue yakin Reyan sengaja mau jebak gue sekarang!" kata Gala yakin.
"Apa?! Lo harusnya ngaca kalau mau ngomong begitu!" geram Reyan. Dia balas memegang kerah baju Gala. Semua itu dirinya lakukan karena tidak mau ditindas.
"Rey, lo masih punya serbuk putih itu kan?" tanya Nindy.
Arini terkejut mendengar Nindy tahu perihal obat-obatan terlarang. "Lo tahu?" tanyanya memastikan.
"Apa? Lo dapat hari ini?" Reyan melepas kerah baju Gala. Dia sekarang ragu kalau Gala adalah pelakunya.
"Lo kan yang naruh benda itu ke tas gue hari ini?!" timpal Gala.
Reyan melepas paksa cengkeraman Gala di kerah bajunya. Dia melepas tas ransel dan membuktikan bahwa dirinya masih memiliki benda terlarang tersebut.
"Lo pikir gue sehina itu buat jebak lo? Gue nggak perlu melakukan hal itu buat ngalahin lo. Karena sekarang aja lo kalah!" ucap Reyan.
Gala tak bisa berkata-kata. Sebab dia bisa melihat Reyan masih mempunyai serbuk putih terlarang di dalam tasnya.
"Dan kemarin bukan cuman gue aja yang dapat. Tapi Arini juga. Karena itulah hari ini gue sama Arini nggak ikut baris di lapangan. Kami berusaha cari murid lain yang juga mendapat barang terlarang ini," jelas Reyan.
"Reyan benar." Arini segera memperlihatkan buktinya pada Gala dan Nindy.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Gala sambil berkacak pinggang. Ia mengusap kasar wajahnya berulang kali. Bingung harus bagaimana.
"Kita sebaiknya bicarakan di tempat lain. Di sini nggak aman," usul Nindy sembari menoleh ke arah pintu. Memastikan tidak ada orang selain mereka.
Gala, Reyan, dan Arini setuju dengan usulan Nindy. Mereka memilih rumah Gala untuk membicarakan semuanya. Terutama mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Kini ke-empat remaja itu telah tiba di rumah Gala. Mereka mengikuti Gala yang berjalan menuju tempat yang tepat untuk bicara.
"Bokap sama nyokap lo nggak ada?" tanya Reyan.
"Kalau ada, ngapain gue ngajak kalian ke sini," jawab Gala dengan nada sinis.
"Sewot mulu lo!" sahut Reyan.
Nindy dan Arini melangkah bersama di belakang. Keduanya bertukar pandang ketika mendengar Gala dan Reyan tak berhenti berdebat.
"Mereka selalu begini?" tanya Arini.
"Kayaknya begitu. Gue juga baru tahu," tanggap Nindy. Dia dan yang lain segera duduk ke sofa yang ada di tepi kolam renang.
Hening menyelimuti suasana dalam sesaat. Semua orang tidak tahu bagaimana menemukan solusi yang ada sekarang.
Nindy perlahan mengukir senyuman. Dia mendapat ide yang menurutnya baik.
"Kita jual aja gimana?" cetus Nindy. Sebagai orang yang materialistik, dia selalu mengaitkan segalanya dengan uang. Berusaha mendapatkan uang saat ada kesempatan.
"Enggak!" Reyan dan Arini berteriak secara serentak. Keduanya bahkan mempelototi Nindy. Hanya Gala yang terdiam.
"Gue cuman asal sebut. Soalnya mau gimana lagi? Lapor polisi salah, dikonsumsi salah lagi, ya pilihan terbaik dijual dong," terang Nindy. Dia menatap Gala. Merasa kalau cowok itu sependapat dengannya.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Maaf updatenya nggak karuan ya guys. Aku juga mood-moodan banget nulisnya. Karena lagi hamil muda juga. Kemungkinan kalau novel yang ada ini tamat, aku akan hiatus bentar. Inspirasi menulisku akhir2 ini juga begitu2 aja.
Pokoknya makasih banget buat yang terus menunggu karya2ku. Btw, kalau boleh tahu kalian suka genre apa sih dari tulisanku? Bisa jawab di komen, mungkin aku bisa dapat inspirasi dari kalian. Love you 😘