
...༻⊠༺...
Kini Gala duduk menyandar di sofa. Dia sudah memperbaiki celananya kembali. Sedangkan Nindy telentang di sampingnya. Kedua kaki cewek itu berselonjor ke atas pangkuan Gala. Mereka sedang sibuk mengatur nafas. Karena tadi Nindy dan Gala sudah beberapa kali membuat satu sama lain mencapai klimakss. Meskipun begitu, keduanya tidak berhubungan intim.
"Gue ngantuk sekarang..." ungkap Gala sembari menggeser kedua kaki Nindy dari pangkuannya. "Lo mending pulang aja!" suruhnya.
"Emang mau pulang kok." Nindy duduk tegak. Dia segera merapikan rambut dan pakaiannya. Lalu berdiri mengambil tas. "Antar gue pulang lah!" pintanya.
"Enak aja. Pulang aja sendiri," balas Gala tak acuh.
Nindy berdecak kesal. Baru saja bermesraan, dia dan Gala sudah kembali adu mulut. Cewek tersebut mengarahkan kepalan tinju ke wajah Gala.
"Pacar apaan lo?! Ngantar ceweknya pulang aja nggak mau!" geram Nindy.
Gala tergelak. "Lagian kita kan pacaran cuman karena saling membutuhkan. Bukan karena cinta!" sahutnya.
Nindy mendengus kesal. Dia segera menyandang tas ranselnya sambil mendelik. "Pembantu lo kemana sih? Es kelapa gue belum datang juga dari tadi," keluhnya sambil melihat ke arah dapur.
"Beli es kelapa di jalan aja gih!" saran Gala yang merebahkan diri ke sofa.
Nindy tersenyum miring. Dia membuka lebar telapak tangan dan berucap, "Uangnya?"
Gala terperangah. Walaupun begitu dia mengambil dompet dan memberi uang untuk Nindy.
"Lima puluh ribu? Ini nggak cukup sama biaya gojek. Lagian lokasi rumah lo ini agak--" perkataan Nindy terhenti saat Gala menambahkan uang lima puluh ribu.
Tanpa malu Nindy memungut uang yang diberikan Gala di lantai. Selanjutnya, dia beranjak pergi.
Nindy sengaja pulang naik angkot karena ongkosnya lebih murah. Dia menyempatkan diri untuk membeli es kelapa terlebih dahulu.
__ADS_1
Selang sekian menit, Nindy tiba di tempat tujuan. Kedatangannya langsung disambut oleh Mawar. Penjaga panti asuhan yang telah dianggap semua anak sebagai ibu. Termasuk Nindy sendiri.
"Kamu kenapa pulang telat sekali? Itu Chintya sudah pulang sejak jam dua tadi," ujar Mawar.
"Aku ada tugas kelompok," kilah Nindy. Dia mengambil pisang goreng dari atas meja dan masuk ke kamar.
Nindy satu kamar bersama Chintya. Gadis yang rajin belajar tetapi hanya bisa meraih rangking sepuluh besar di setiap semester. Berbeda dengan Nindy yang memang sudah pintar sejak lahir.
Nindy melempar tas ke ranjang. Kemudian melepas celana dallamnya.
"Kak Nindy!" tegur Chintya. Dia satu tahun lebih muda dari Nindy. Chintya juga bersekolah di tempat yang sama dengan Nindy. Satu hal yang tidak diketahui semua orang. Chintya diam-diam menyukai Gala.
"Ahaha! Sorry, Chin. Cangcut gue basah banget. Tadi di angkot ada anak kecil yang numpahin air," dalih Nindy.
"Tapi rok Kakak nggak basah tuh," selidik Chintya yang merasa aneh.
Nindy memikirkan Gala. Dia merasa bergaul dengan cowok itu menyenangkan. Nindy merasa Gala memiliki sifat yang mirip dengan dirinya. Kasar dan to the point.
"Kak Nindy mikirin apa?" tanya Chintya.
"Cowok." Nindy menjawab sambil menoleh.
"Kak Reyan ya?" tebak Chintya. Dia bisa tahu karena Nindy sering membicarakan tentang Reyan.
"Bukan!" sahut Nindy. Dia tersenyum sendiri saat mengingat percakapan serta kelakuan gilanya bersama Gala.
Di sisi lain, Reyan masih dipusingkan dengan obat-obatan terlarang yang nyasar ke dalam tasnya. Dia sangat ingin melapor ke polisi. Namun takut malah akan mendapat boomerang. Mengingat masalah narkoba bukanlah hal kecil. Apalagi cowok di usianya sekaranglah yang kebanyakan mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu.
"Apa gue ke sekolah aja," gumam Reyan. Dia berniat memeriksa CCTV di sekolah. Tetapi Reyan segera menggeleng. Sebab jika dirinya mendatangi sekolah sekarang, maka otomatis akan mencurigakan. Reyan sendiri tidak akan sebodoh itu dalam bertindak.
__ADS_1
Alhasil Reyan akan menunggu besok saja. Dia menyembunyikan serbuk putih terlarang ke tempat aman terlebih dahulu.
...***...
Pagi telah tiba. Reyan berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Dia bahkan melewatkan sarapan.
Sesampainya di sekolah, Reyan mendatangi ruang keamanan. Dimana tempat seseorang bisa memeriksa rekaman CCTV.
Tanpa diduga, di sana ada Arini. Reyan sontak bertukar pandang dengan cewek itu.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Reyan.
"Lo ngapain ke sini?" Arini justru melontarkan pertanyaan yang sama.
"Gue pengen cek rekaman CCTV," jelas Reyan.
"Gue juga. Tapi kata Pak Rino CCTV nggak berfungsi sejak tiga hari yang lalu," ujar Arini. Dia tahu karena tiba lebih dulu dan sudah bertanya pada satpam yang berjaga.
"Yang benar?" Reyan membulatkan mata. Jika CCTV rusak tiga hari yang lalu, maka otomatis dia tidak bisa mengetahui pelaku yang telah memasukkan sabu ke dalam tasnya.
Arini terlihat sama gelisahnya dengan Reyan. Dia sebenarnya mengalami masalah yang sama. Hanya saja masih merasa takut untuk bercerita kepada siapapun.
Saat hendak berjalan, Arini tak sengaja tersandung. Hingga tasnya terjatuh. Tas itu sedikit terbuka.
Reyan bergegas membantu. Dia sukses melihat obat-obatan terlarang yang sama dengan miliknya di dalam tas Arini.
"Tunggu, lo juga dapat?" tanya Reyan.
Mata Arini membelalak. Dia dan Reyan segera pergi dari keramaian. Mereka bicara empat mata.
__ADS_1