Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 15 - Rencana Selanjutnya


__ADS_3

...༻⊠༺...


"Gue nggak mau berurusan sama barang ini. Menjualnya itu juga sama saja!" Ternyata Gala tidak sependapat dengan Nindy.


"Gimana kalau kita bakar? Masalah selesai kan?" cetus Reyan sembari mengulurkan dua tangan ke udara.


"Tapi... Gimana kalau pemilik sebenarnya dari barang terlarang ini pengen barangnya balik?" sahut Nindy.


"Itu bukan urusan kita dong. Lagian siapa yang suruh masukin barang beginian ke tas kami," balas Arini.


"Iya. Lagian di sini lo bukan korbannya kan," tukas Gala.


"Gue tahu. Tapi gue cuman memprediksi segala kemungkinan. Gimana kalau pelakunya orang jahat? Kalian bisa dalam bahaya kalau menghilangkan semua barang terlarang ini," jelas Nindy panjang lebar.


Semua orang seketika terdiam. Pertanda mereka mempertimbangkan dugaan Nindy.


"Jadi untuk sementara, kita simpan saja dulu barang-barang ini. Lalu kita temukan pelakunya bersama-sama. Gue cuman takut kalau ini nggak berakhir," usul Nindy.


"Tapi gimana caranya kita temukan pelaku itu? CCTV kan rusak sejak beberapa hari lalu," ucap Arini.


Reyan tampak berpikir sejak tadi. Dia segera angkat suara setelah terpikirkan sesuatu.


"Gue tahu. Gimana kalau kita pasang kamera pengawas kita sendiri?" imbuh Reyan.


"Jadi kita pasang kamera di sekolah tanpa sepengetahuan orang-orang? Begitu?" tebak Gala.


Reyan mengangguk. "Apalagi minggu ini semua orang akan disibukkan sama pemilihan ketua osis kan? Gue yakin pelakunya bisa beraksi lagi saat semua orang sedang sibuk," ujarnya.


"Hah..." Gala menghela nafas panjang. "Merepotkan banget. Kita bakar saja sudah!" sarannya yang tidak mau berbelit-belit.

__ADS_1


"Tapi kalau ada apa-apa, lo yang tanggung jawab!" timpal Nindy. Membuat Gala langsung terdiam.


"Apa yang dikatakan Nindy mungkin ada benarnya. Lagian kalau ada korban lain, kita bisa lebih mudah temukan pelakunya. Polisi mungkin akan mempercayai kita. Terlalu beresiko kalau bakar barang ini begitu saja. Karena biasanya pemiliknya orang berbahaya," ungkap Arini yang akhirnya setuju dengan pendapat Nindy.


"Orang berbahaya? Kenapa lo yakin begitu?" tanya Gala.


"Ini barang ilegal bukan? Pemilik aslinya pasti bukan orang biasa," terang Arini.


"Ya sudah. Kalau mau semua masalah ini cepat selesai, mending kita bergerak sekarang!" ajak Reyan seraya berdiri. Dia berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.


"Mau kemana?" tanya Gala.


"Cari barang-barang perlengkapan untuk kamera pengawas," jawab Reyan. Tanpa menoleh ke belakang.


"Lo ikut kan?" Nindy sudah siap mengikuti Reyan. Dia menatap Gala terlebih dahulu. Cowok tersebut cemberut. Namun tetap beranjak untuk ikut.


...***...


Sesampainya di super market, Gala, Reyan, Arini dan Nindy mulai mencari barang. Mula-mula mereka berpencar agar bisa lebih cepat menemukan barang yang diperlukan.


Berbeda dengan Gala. Dia tampak tidak serius terhadap rencananya sekarang. Bagi Gala semuanya omong kosong. Ia benar-benar benci melakukan hal merepotkan seperti sekarang.


Gala justru mendekat ke rak dimana rokok berada. Dia mengambil salah satunya.


"Mau sampai kapan lo begini terus?" tegur Reyan yang sukses memergoki Gala.


"Nggak usah ngatur hidup orang!" sahut Gala.


"Dengar, kita harus bekerjasama dalam mengatasi masalah ini. Jadi simpan kebencian lo itu untuk sekarang!" tegas Reyan.

__ADS_1


"Terserah lo!" tanggap Gala malas.


"Ayo! Bantuin gue cari perlengkapan kameranya," ajak Reyan.


Gala tak bisa menolak. Mengingat dia juga sudah menjadi korban serbuk terlarang yang menyasar ke dalam tasnya.


Di sisi lain, Nindy dan Arini berjalan bersama. Keduanya membeli beberapa camilan.


"Lo pacaran sama Gala?" tanya Arini.


"Enggak. Kami cuman kebetulan dekat," jawab Nindy. Langkahnya dan Arini terhenti ketika melihat Reyan dan Gala tampak saling bicara normal. Mereka tidak berdebat untuk pertama kalinya.


"Gue nggak tahu gimana nasib kita seterusnya sama barang terlarang itu. Tapi gue rasa mulai sekarang kita akan saling terikat," imbuh Nindy.


"Gue berharap masalah ini secepatnya selesai," sahut Arini.


Setelah membeli barang yang diperlukan, Gala, Reyan, Arini, dan Nindy memilih langsung pulang. Mereka juga sepakat menyembunyikan serbuk terlarang di rumah Gala. Mengingat tempat tersebut diduga adalah yang paling aman. Mereka berniat akan menjalankan rencana saat ke sekolah hari senin nanti.


Kini Gala dan Nindy sedang dalam perjalanan pulang. Akan tetapi Gala malah membawa Nindy ikut bersamanya ke rumah.


"Kalau nggak mau antar gue harusnya bilang dari tadi," protes Nindy dengan dahi berkerut dalam.


"Bermalam di rumah gue malam ini!" titah Gala.


"Apa?! Gila lo! Nanti Bibi penjaga panti gue cemas nyariin gue." Nindy tak terima.


"Telepon dan bilang lo nginap di rumah teman. Gue janji akan kasih uang yang banyak. Gue benar-benar pusing sekarang. Gue butuh teman di rumah!" ujar Gala seraya keluar dari mobil lebih dulu.


Nindy terdiam ketika Gala menyebut masalah uang. Karena tertarik, dia memutuskan untuk setuju. Lalu menghubungi bibi penjaga panti kalau dia tidak akan pulang malam minggu ini. Selanjutnya, Nindy buru-buru masuk ke rumah Gala.

__ADS_1


__ADS_2