Kisah Dua Asmara Di SMA

Kisah Dua Asmara Di SMA
Bab 23 - Cemas


__ADS_3

...༻⊠༺...


Martha melangkah menuju mobilnya. Namun tidak untuk Gala. Ia lebih memilih berjalan menuju gerbang rumah sakit. Cowok itu berniat ingin naik taksi saja.


Melihat putranya tidak ikut, Martha segera mengejar. Dia memanggil Gala berulang kali. Tetapi putranya itu tak mendengarkan sama sekali.


"Gala! Kamu kemana? Kau ke sini nggak pakai mobilmu?" tanya Martha yang sudah mampu menyamakan langkah dengan Gala.


"Mobilku bannya bocor," jawab Gala singkat.


"Ya sudah. Kau bisa pulang bareng Mamah," saran Martha.


"Enggak deh. Aku pakai taksi aja." Gala menolak.


"Ga, kamu kenapa begini? Apa ada masalah yang mengganggu? Cerita sama Mamah!" ujar Martha. Dia jelas merasa ada yang berbeda dari sikap Gala.


Gala tak menanggapi sama sekali. Dia fokus menghentikan sebuah taksi yang lewat.


"Gala!" Martha menggenggam lengan Gala. "Cepat beritahu Mamah!" desaknya.


"Udah. Mamah pulang sendiri sana!" Gala tetap menolak. Ia menghemaskan pegangan Martha. Hingga pegangan tersebut seketika terlepas.


Bertepatan dengan itu, taksi berhenti di hadapan Gala. Cowok tersebut segera masuk ke dalam taksi. Alhasil Martha tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan.


Gala tak langsung pulang ke rumah. Ia justru mendatangi panti asuhan Nindy. Kebetulan hari sudah senja. Langit hampir gelap.


Gala mengirim pesan pada Nindy. Pesan itu berbunyi, 'Temui gue di depan panti!'


Pupil mata Nindy membesar tatkala membaca pesan dari Gala. Satu hal yang ada dalam benaknya. Apa cowok itu datang untuk menemuinya ke panti?


Nindy buru-buru keluar dari panti. Dia terlihat hanya mengenakan kaos oblong dengan celana jeans pendek sepangkal paha.


Benar saja, saat tiba di depan panti asuhan Nindy menemukan Gala. Cowok itu duduk di bawah pohon.


Nindy mendesah pelan. Ia segera menghampiri Gala. Berdiri tepat di depan cowok tersebut.


"Ngapain lo?" timpal Nindy.


Gala hanya diam. Perlahan dia mendongak dan menatap Nindy.

__ADS_1


Jujur saja, saat masalah perselingkuhan ibunya mendera, Gala tak tahu harus kemana. Entah kenapa dari semua orang yang dekat dengannya, nama Nindy adalah pertama yang terlintas.


Dahi Nindy berkerut dalam. Mengingat Gala hanya terdiam dan terlihat begitu murung.


"Lo dari mana? Kayaknya belum pulang ke rumah. Masih pakai seragam sekolah tuh," tukas Nindy. Dia akhirnya memilih duduk ke sebelah Gala.


"Hidup tanpa orang tua itu enak nggak sih?" celetuk Gala. Pertanyaannya membuat Nindy langsung menoleh.


"Ada enaknya, ada nggak enaknya. Tapi menurut gue lebih banyak nggak enaknya," ungkap Nindy bicara jujur. "Lo kenapa tiba-tiba jadi emosional gini?" tanyanya.


"Gue lagi malas balik ke rumah," jawab Gala. Dia sepertinya masih enggan menceritakan masalah sesungguhnya.


"Lo kan kaya. Gue yakin rumah mewah itu bukan satu-satunya tempat tinggal lo," tukas Nindy.


Gala hanya diam. Tentu dia punya tempat tinggal lain selain rumah. Cowok itu bahkan memiliki apartemen lebih dari satu atas nama dirinya sendiri. Tetapi kemungkinan sekarang bukanlah tempat tinggal yang dibutuhkan Gala, melainkan teman.


"Lo udah makan?" tanya Gala sembari berdiri.


"Hah?" Nindy terperangah. "Lo ngajak gue makan?" tanyanya memastikan. Mengingat Gala tak pernah bersikap seperhatian itu kepadanya.


"Udah atau kagak?" balas Gala.


"Ayo!" Gala menarik tangan Nindy.


"Tapi gue mau ganti baju dulu!" protes Nindy. Dia terpaksa berjalan karena seretan dari Gala.


"Ngapain ganti baju. Udah pakai baju gitu juga," sahut Gala santai.


"Tapi--"


"Udah jangan banyak bacot!" potong Gala tegas.


"Ya udah. Tapi lo bisa lepasin tangan gue kan? Sakit tahu!" Nindy kembali memprotes. Gala lantas melepas genggamannya.


Nindy segera berjalan ke samping Gala. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Mobil lo mana?" tanya Nindy.


"Lo kan tahu sendiri bannya bocor. Ya masih di bengkel lah!" jawab Gala.

__ADS_1


"Oh..." Nindy mencoba memahami. Perlahan dia melirik Gala. Entah kenapa dia merasa sedikit terenyuh saat mengetahui Gala mendatanginya. Cowok itu bahkan datang tanpa menggunakan mobil. Meskipun begitu, Nindy tetap penasaran dengan masalah yang menimpa Gala sekarang.


...***...


Kini Reyan masih berada di rumah sakit. Ia baru keluar dari kamar tempat ayahnya di rawat. Kebetulan Sofyan baru saja tertidur.


Sama seperti Gala, Reyan juga merasa gundah dengan perselingkuhan orang tuanya. Dia merasa nasib keluarganya berada di ujung tanduk. Jika sang ibu mengetahui kedok Sofyan, kemungkinan perceraianlah yang akan terjadi. Mungkin itulah yang dipikirkan Reyan sebelum mengungkap kebenaran pada semua orang.


"Rey..." suara lirih seorang gadis memanggil. Reyan sontak langsung menoleh. Pemilik suara itu tidak lain adalah Arini.


"Arini!" seru Reyan tak percaya. Jantungnya seketika berdegup kencang. Dia reflek berdiri dari tempat duduk.


"Hai... Gue kebetulan jalan lewat rumah sakit ini. Pas lewat gue teringat sama bokap lo yang lagi sakit," tutur Arini. Dia duduk ke sebelah Reyan.


"Lo nggak perlu repot-repot, Rin. Kan gue udah bilang kalau bokap gue udah membaik," jelas Reyan.


"Gue tahu." Arini duduk ke bangku yang tadi di duduki Reyan. Alhasil cowok itu jadi kembali duduk kesana.


"Sebenarnya gue khawatirin lo," ungkap Arini.


Reyan tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Sebenarnya kehadiran Arini berhasil membuat perasaannya membaik.


"Jadi maksudnya lo nggak khawatirin bokap gue yang lagi sakit." Reyan mencoba menggoda Arini.


"Eh, bukan gitu maksudnya, Rey. Gue tentu cemas sama bokap lo. Tapi anehnya gue lebih khawatirin lo..." Arini menjelaskan sambil menundukkan wajah.


Jujur saja, semenjak mengetahui kabar ayahnya Reyan kecelakaan, Arini sudah cemas. Dia yang telah ditinggalkan ayah kandung tahu bagaimana rasanya saat orang tua tertimpa musibah. Selain itu, perasaan istimewanya pada Reyan juga menjadi salah satu alasan kenapa Arini sangat mencemaskan cowok tersebut.


Selama beberapa jam, Arini tidak berhenti memikirkan Reyan. Alhasil dia nekat pergi ke rumah sakit sendirian hanya karena ingin bertemu cowok pujaan hatinya itu.


Senyuman mengembang di wajah Reyan. Ia menatap lekat Arini.


"Thanks udah khawatirin gue," kata Reyan.


Jantung Arini semakin berdebar lebih cepat. Dia membalas tatapan Reyan. "Nggak apa-apa kan? Setahu gue lo selalu risih sama cewek yang dekat--"


Ucapan Arini terpotong saat Reyan perlahan menggenggam tangannya. Cowok itu nampaknya terlalu terbawa suasana hingga tak bisa menahan diri lagi.


"Khusus buat lo, gue nggak pernah risih," ucap Reyan. Wajahnya dan wajah Arini sama-sama bersemu merah.

__ADS_1


__ADS_2