
Suara berisik berasal dari pintu kamar tiba-tiba membangunkan Abel dari tidurnya di jam enam kurang sedikit pagi ini. Abel menyibak selimut agak enggan karena suara dari pintu kamarnya semakin menjadi-jadi. Dengan langkah malas menuju pintu kamar, Abel membuka pintu, seketika gadis itu terkejut sampai limbung ke belakang merasakan benturan cukup kuat dari seseorang di depannya.
“Abeeell. Akhirnya gue jadian sama kak Ray.”
Abel tercekat. Sesuatu yang perih mendesak paksa menyelusup masuk ke dalam hati Abel seketika. Masih membeku, yang dia rasakan hanya guncangan pada tubuhnya akibat pelukan riang gadis di depannya saat ini. Perlahan pelukan keduanya mengurai dan pandangan Abel masih kosong.
“Lo dengar gue nggak sih, Bel?”
Abel baru sadar setelah merasakan wajahnya ditangkup. Gadis itu berusaha mengembangkan seulas senyum, samar, namun sarat arti yang perih pekat tak tersampaikan oleh kata-kata. Abel baru dapat merasakan hal selanjutnya, usai dirinya diseret paksa ke atas tempat tidur, duduk di tepiannya.
“Tante Arini kasih gue restu langsung waktu kak Ray terus terang, dia ngaku udah nembak gue.”Semburat merah dan rona bahagia terpancar di wajah itu, membuat Abel di tengah pedihnya bahkan mampu menyembunyikan harapan yang akhirnya kosong dalam dirinya.
Sepupunya, Cindy.
“Selamat ya. Kok bisa? Gimana ceritanya?”Abel memaksakan senyum dan suara agar tetap terdengar normal. Abel menatap gadis di hadapannya saat ini, yang langsung menggenggam erat tangannya.
“Inget waktu nikahan kak Afreni?”
“Ooh.” Abel mengangguk.
“Gue kan diminta jadi bridesmaid-nya.”
“Iya gue ingat kok.” Abel tersenyum tipis, sebab dia tidak dipilih menjadi bagian itu. Dia serta orang tuanya hanya sebatas tamu hari itu. Lain dengan Cindy serta kedua orang tua gadis itu, mereka diperlakukan layaknya bagian dari keluarga oleh keluarga pengantin wanita.
“Hari itu gue dijodoh-jodohin sama kak Ray.”
“Gitu. Pantes. Jadi hari itu awal mulanya.” Abel mengangguk lemah.
“Kita udah janji. Siapapun jadi pemilik kak Ray duluan. Salah satu dari kita harus bisa terima kenyataan.”
Abel kembali mengangguk. “Yaudah silakan.” Gadis itu pun berlagak tak acuh. “Gue juga nggak ada rasa suka lagi sama kak Ray. Udah lama lagi.” Dia pun bangkit dari tepi tempat tidur, menuju meja di samping kepala tempat tidurnya, untuk meneguk air putih di sana, sehingga lawan bicaranya berada di belakangnya. Bermaksud menutupi perasaannya.
“Gue ada rencana hari ini bareng kak Ray.” Ucapan Cindy barusan menghentikan kesibukan Abel. Gadis itu meletakkan gelas air putihnya kembali, namun luput dari perhatiannya, hingga gelas itu jatuh menumpahkan isinya dan beling hancur berkeping-keping berserakan di lantai.
Cindy berdiri seketika. Mendekat dan menatap Abel cemas.
“Ya ampun Abel! Lo baik-baik aja kan?” Cindy memastikan keadaan sepupunya. Gadis itu menatap heran sikap Abel. Dia seakan baru sadar pengaruh hebat dari ucapannya pada Abel tentang hubungannya dengan Ray. “Lo pasti kaget. Sori ya. Tapi kak Ray udah tegasin, dia bilang, dia nggak ada perasaan apapun sama lo, selain adik atau teman.” Kata Cindy dengan raut wajah menyesal dan suara pelan.
Abel menahan mati-matian rasa perih yang menyesak dadanya dan menghantam gejolak batinnya. Dia juga menyembunyikan perasaan kecewa tidak keruan di hatinya saat ini. Ray dan Cindy telah menghancurkan perasaan sayang dalam dirinya secara bersamaan. Menepikan perasaannya demi diri mereka sendiri. Menganggap dirinya bukanlah bagian penting dari mereka lagi. Menyulut amarah dan benci dalam dirinya pada kedua orang itu sekarang.
“Rencana apa?” Abel berbalik menatap Cindy. Diusahakannya mati-matian dirinya tetap fokus pada satu sosok di depannya.
“Lo masih marah sama gue?” tanya Cindy hati-hati.
“Bohong kalo gue bilang nggak marah. Yaudah sana pergi sama kak Ray. Ntar dia kelamaan tunggu lo.”
Air muka Cindy jadi berubah terang atas reaksi biasa Abel. Tanpa menaruh rasa curiga apapun lagi. “Kebetulan, kak Ray juga pengin lo ikut.”
Abel terkejut. Cukup lama dia diam. Baru merespons.
“Nggak ah. Ntar gue macam obat nyamuk lagi.” Ucapnya terang-terangan tampak jengkel.
“Ikut aja yuk?” Cindy merayu Abel untuk ikut. Mengguncang-guncang lengan gadis itu dengan memamerkan senyum. “Pliiisss.”
__ADS_1
Abel pun mendesah pasrah. Menjadi tak tega. “Yaudah. Di mana?”
“Sekarang. Kami tunggu di ruang tamu.”
Kedua alis Abel terangkat. Kaget. “Kak Ray juga udah di bawah?”
“Udah.” Cindy menepuk-nepuk punggung tangan Abel.
“Buruan.” Katanya, lalu keluar dari kamar Abel.
Keluarnya Cindy mengalirkan air mata Abel secara bersamaan di wajahnya. Sejak tadi dia sudah menahan mati-matian rasa perih itu di depan sepupunya. Abel segera menghapus air matanya yang adalah bentuk rasa perih dan kecewa dalam hatinya pada satu laki-laki di luar, atau bahkan keduanya.
Ray teman satu SMP dan SMA sekaligus tetangga Abel. Laki-laki itu dekat dengan Abel dan Cindy sejak usia menginjak remaja. Ketiganya teman bersama meskipun usia Ray dua tahun di atas kedua gadis itu. Kedekatan ketiganya membuat mereka selama bertahun-tahun menyimpan perasaan istimewa antara pria dan wanita. Meskipun Abel sadar, perhatian Ray memang hanya fokus tertuju pada Cindy sepenuhnya sejak dulu, sepuluh tahun lalu. Namun Abel seolah tak pernah sadar jika pada akhirnya keduanya membuat keputusan menjadi pasangan kekasih. Meninggalkannya sendiri dengan rasa hampa di hatinya. Kehilangan sepupu, teman, sahabat, kakak, dan cinta pertama di hatinya. Sekaligus mematahkan angan dan impian Abel selama mengenal Ray.
***
Abel menyesalkan keputusannya ikut!
Dia berjalan dan melangkah sendirian sepuluh langkah di belakang Ray dan Cindy yang sedang asyik bicara dan bercanda selama dalam perjalanan bahkan sampai tiba di taman wisata. Gadis itu memandang nanar dua orang di depannya saat ini, seolah sengaja menghancurkan dirinya semakin dalam, mengabaikan perasaannya yang semakin terpuruk.
Air matanya menggenang memenuhi kedua bola matanya hingga jatuh perlahan membasahi wajahnya. Gadis itu segera menghapus sebelum Ray dan Cindy sadar keadaannya yang kacau. Digenggamnya erat tali sling bag miliknya, seketika pandangannya tertuju pada pedagang es krim tak jauh di depannya, dia buru-buru menepi untuk membeli, sengaja, membiarkan Ray dan Cindy meneruskan jalan mereka sendiri tanpa dirinya. Jika memang kehadirannya tidak diinginkan, maka dia akan pergi sukarela. Menjauh jika itu lebih baik.
“Es krimnya satu, Pak.” Abel memesan sambil memastikan Ray dan Cindy terus melangkah, sengaja membuat dirinya tertinggal jauh di belakang. Dia lelah harus menjadi yang terakhir di antara keduanya. Dia juga tak ingin keduanya tahu perasaannya yang sedih menghadapi kenyataan pahit di depannya saat ini.
“Cokelat.” Jawabnya singkat. Asal tunjuk pada box es krim.
“Ini es krimnya, Neng.” Pedagang menyodorkan pada Abel.
Abel menerima es krim dan menyerahkan uang tanpa meminta kembalian. Gadis itu malah menuju jalan yang berlawanan dengan Ray dan Cindy dengan langkah buru-buru, namun setelah merasa cukup jauh, satu suara dari depannya pun langsung menghentikan langkah kakinya tiba-tiba. Abel Terenyak.
“Abel, mau kamu apa? Kenapa tingkah kamu macam anak-anak nggak keruan gini? ” terdengar nada kecewa dari suara Ray. Menatapnya lekat.
Abel berusaha tenang memandang Ray dan Cindy yang telah berdiri bersisian di depannya beberapa langkah. Abel sadar bahwa sikapnya kekanak-kanakan, namun siapa gadis yang sanggup melihat laki-laki yang disukai bersama gadis lain?
“Lo marah sama kami kan?” suara Cindy menyeruak, menusuk tepat di mana Abel menyimpan seseorang yang tidak pernah memandangnya satu kalipun.
__ADS_1
Abel tersenyum kecil hingga tiba-tiba jadi tertawa, terdengar agak dipaksakan memang. “Beli es krim, tapi nggak tau kalian udah jalan.” Katanya beralasan.
“Bohong.” Ray langsung membantah tajam alasan Abel barusan.
Tawa Abel berhenti seketika. Raut kaku di wajah Ray, membuat Abel sadar betul, suasana telah berubah tegang. Sorot mata laki-laki itu tampak kecewa dan marah pada tingkah Abel tanpa segan. Membuat Abel diam tak lagi berani mengeluarkan suaranya barang sedesibel pun.
Tiba-tiba Cindy menarik paksa lengan Ray lalu menyatukan tangan laki-laki itu dengan Abel setelah mereka saling berhadap-hadapan. Dengan menepikan perasaannya sendiri, Cindy seakan membiarkan Ray dan Abel untuk bersatu. Sorot matanya mengatakan, dia tak ingin menjadi seseorang yang egois membiarkan sepupunya menderita. Sedangkan dia justru menikmati kebersamaannya dengan Ray.
“Kalian bisa sama-sama. Aku nggak apa-apa.” Seulas senyum sendu tercetak di bibir Cindy, bahkan suara getarnya, tak sulit bagi Ray dan Abel menangkapnya.
Tiba-tiba Abel menarik tangannya, menatap Cindy marah. “Maksud lo apa?!” suara Abel meninggi.
“Gue tau lo sayang Kak Ray.” Cindy berkata dengan suara lemah dan menatap Ray yang membeku menatapnya.
“Nggak usah sok tau.” Balas Abel penuh tekanan.
“Gue tau. Kita pernah saling ngaku.” Pun Cindy.
Mata Abel menyalang, menyiratkan amarah dalam dirinya pada Cindy. Namun sesungguhnya suaranya sudah gemetar menahan tangis. “Lo sama aja ngehina gue. Seakan-akan gue pengemis cinta, kalo bukan gara-gara lo, kak Ray nggak akan berpaling. Itu tujuan lo kan?” gadis itu menekan setiap kata yang diucapkan pada Cindy, bersamaan lapisan bening yang menyeruak paksa keluar dari bola matanya.
“Gue tulus.”
“Udah cukup. Gue pergi.” Abel langsung menembus paksa sisa jarak antara Ray dan Cindy, meninggalkan keduanya yang bungkam di tempat mereka. Melempar asal es krim di tangannya. Menahan gejolak emosi akibat hinaan yang yang dilakukan Cindy padanya, tepat di hadapan Ray, laki-laki yang dicintainya. Abel merasa begitu rendah karena secara tidak langsung menyampaikan pada Ray, jika dirinya menyimpan perasaan yang tak biasa pada laki-laki itu.
Suara tangisan Abel menenggelamkan bunyi mesin mobilnya dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya sekitarnya. Tangis kecewa, marah, benci dan seluruh gejolak emosi yang menyeruak dari dalam dirinya. Mengoyak habis, membunuh kesanggupan dirinya yang bertahan akibat dukanya.
__ADS_1
Abel menghapus berkali-kali air mata di wajah menggunakan punggung tangannya, kedua bahunya bergetar dan tak ada kekuatan lagi bagi kedua tangannya menggenggam setir mobil. Membuatnya malah tak sengaja membanting setir ke arah kiri hingga menimbulkan suara decit tajam dari ban, dalam sepersekian detik, bagian depan mobilnya telah menabrak pembatas jalan. Abel masih dapat merasakan tubuhnya lemas, penglihatannya pun perlahan mengabur dan berakhir gelap.
***