
Abel mengetuk pintu kaca di depannya sebelum masuk ke dalam ruang kerja milik Hugo. Gadis itu menunjukkan senyum pada Hugo ketika laki-laki itu sadar kedatangannya, Hugo pun memberinya isyarat untuk masuk.
“Harusnya masih istirahat sekarang, Bel.” Hugo pun meminta Abel duduk, berhadapan dengan seorang laki-laki yang sedang fokus dengan sebuah tablet di tangannya, pada sofa di seberang gadis itu.
Abel meletakkan sling bag miliknya di atas meja, kemudian duduk. “Bosen juga di rumah.” Ungkapnya, lalu diambilnya air mineral gelas yang tersusun di atas meja dan mulai menyesapnya.
“Sadar sama kesehatan kamu.” Hugo memandang Abel dari bawah sampai atas. Di wajah Abel terdapat dua goresan luka, tepat di pelipis serta dagu. Masih ditutup perban. Dia memang sudah mendengar kabar kecelakaan Abel dari Afreni, tetapi menyesal tak bisa datang, sehingga hanya meminta kedua orang tuanya menjenguk Abel satu minggu lalu di rumah sakit.
Sementara Abel malah bereaksi acuh tak acuh. “Mobil Abel aja yang diurusin, Bang. Abel lagi butuh udara segar nih.”
Hugo berpindah duduk bersebelahan dengan Abel. “Apa nih yang bisa dibantu Bang Hugo?”
“Terserah Bang Hugo aja. Yang mana menurut Bang Hugo harus diperbaiki. Intinya, kalo dibawa jalan jauh nanti, mobil Abel nggak bermasalah.”
Hugo manggut-manggut mendengar saksama. “Oke. Nanti kita ke bawah bareng biar Bang Hugo sama montir crosscheck.”
“Nah gitu dong, Bang. Dari tadi ambil keputusan cepet, Abel nggak perlu jelasin panjang lebar.” Abel setuju dengan suara riang.
“Oke. Bang Hugo salah.” Ucap Hugo mengalah, membuat Abel jadi tersenyum lebar.
Pandangan Hugo dan Abel pun berganti pada satu sosok di seberang mereka, yang mendadak bangkit dari sofa.
“Udah mau jalan?” tanya Hugo heran pada laki-laki tersebut, yang bukan lain adalah temannya dan baru-baru ini kembali berkunjung ke bengkelnya lagi, bengkel yang telah berjalan selama lima tahun.
“Gue masih harus dinas.” Jawab laki-laki tersebut seraya melirik sekilas arloji birunya.
Hugo menepuk bahu laki-laki tersebut. “Di sini aja lo. Payah. Baru juga sepuluh menit.” Lekas ditahannya laki-laki tersebut pergi.
Dalam diamnya, Abel memandang Hugo dan laki-laki tersebut yang sedang bicara, sesaat. Perhatiannya teralihkan ketika melihat jas putih yang tersampir di punggung sofa tempat laki-laki itu duduk. Dilihatnya laki-laki itu mengambil jas tersebut, kemudian mulai melangkah keluar ruangan bersama Hugo.
Begitu lama Hugo pergi, membuat Abel tak tahan sendiri di dalam ruang kerja laki-laki itu, sehingga gadis itu memutuskan keluar, menuju lantai dasar, tempat di mana seluruh kendaraan sedang diperbaiki dan dibersihkan. Namun, langkah kakinya mendadak berhenti melihat sebuah pouch, diambilnya benda itu, lalu dibukanya, dia terkejut melihat kamera berwarna hitam di sana. Kebetulan sekali, karena dia sangat membutuhkan benda tersebut untuk mengabadikan momennya hari ini. Lalu dikejarnya Hugo buru-buru keluar.
Hugo suami Afreni─kakak sulung Ray. Sedangkan Hugo anak dari teman papa Abel, sehingga Abel sudah menganggap laki-laki itu seperti saudara kandungnya sendiri, karena Hugo pun selalu memperlakukannya seperti ‘adik kecil’ yang harus dilindungi sejak saling mengenal satu sama lain semasa di SD.
“Bang Hugo!” Abel melalui anak tangga dengan langkah cepat seraya menunjukkan kamera di tangannya. “Pinjam kameranya ya!” Boleh ya? Pliiisss.” Ucapnya memohon setelah berhadapan dengan Hugo dan laki-laki asing tadi.
Hugo menatap laki-laki di sebelahnya sesaat, sambil menepuk pelan punggungnya. Seolah mengatakan dia akan menerangkan pada Abel bawah kamera tersebut bukan miliknya.
“Bel─”
“Nggak mau kasih pinjem ya? Cuma sekali ini aja kok. Nanti Abel beli buat pribadi sendiri.” Abel langsung memotong kalimat Hugo.
“Bang Hugo nggak masalah sih.”
“Serius?” mata Abel melebar penuh pijar.
“Hanya... kamera itu punya teman Bang Hugo.” Sesalnya sambil melirik teman di sebelahnya, memberi isyarat pada Abel.
Bola mata Abel bergerak perlahan sampai pandangannya beradu dengan laki-laki asing tadi di dalam ruang kerja Hugo. Abel jadi serba salah karena telah berusaha menguasai benda kepemilikan orang lain yang tidak dikenalnya. Kemudian diserahkannya benda itu dengan perasaan gugup.
“Saya nggak tau itu punya... kamu.” Wajahnya sudah merona.
Laki-laki itu hanya tersenyum, samar, itu yang Abel tangkap.
Sambil menerima kameranya kembali. “Terima kasih.” Ucap laki-laki itu.
“Sama... sama. Maaf sekali lagi.” Balas Abel tulus.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum menatap Abel sesaat. “Jaga kesehatan kamu. Habiskan obatnya.” Ucap laki-laki itu, terdengar begitu peduli, lalu dia berpamitan pada Hugo, meninggalkan raut heran dalam benak Abel, sepeninggal laki-laki asing tersebut.
***
Pintu kamar Abel diketuk dari luar, kemudian tak lama mamanya terlihat di sana sambil membawa nampan berisi satu gelas air dan obat-obatnya.
“Minum obat. Mama udah bilang, jangan lupa.” Kata mamanya mengingatkan.
“Ya ampun, Abel nyaris aja lupa.” Abel pun menghampiri mamanya, lalu mulai memasukkan tiap butir dari beberapa macam obat di atas nampan, setelah itu menghabiskan air putih dalam gelas.
Setelah pulang dari pelancongan selama setengah hari di sekitar Jakarta, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghabiskan waktu dan tenaga terus sampai merasa bosan, kira-kira jam setengah tujuh malam Abel baru memutuskan untuk pulang dan tiba di rumah tiga puluh menit lalu. Dia bahkan tak ingat lagi dengan kewajibannya meminum obat karena asyik memandang hasil potret yang diambil melalui kamera ponselnya.
Mendadak Abel teringat dengan laki-laki asing di bengkel Hugo pagi tadi.
“Dia siapa sih?” ucapnya tanpa sadar, mengundang reaksi tanya mamanya.
“Dia?” selidik mamanya seketika. Lalu meletakkan nampan di atas meja rias Abel.
“Ha?” Abel tersadar lekas mencari-cari alasan. “Tadi... Abel ketemu... sama─”
“Sama siapa?” mamanya sudah menatapnya penuh selidik dan berkacak pinggang.
“Cuma ketemu sekilas aja Mama, udah.” Jawabnya jadi serba salah. Abel menghindar dari mamanya seketika.
“Kenalan baru?” mamanya masih menyelidik. “Atau Ray?”
“Bukan, Ma.” Jawab Abel gemas sambil mendorong paksa mamanya keluar.
“Terus dia itu siapa?” mamanya tak menyerah menunggu jawaban putrinya.
“Mama kan udah Abel bilang, ketemu sekilas aja.” Abel terus meyakinkan.
Mamanya mengembuskan napas keras. Mengalah. “Yaudah-yaudah. Buruan tidur.”
Abel pun mengangguk dan bergumam. “Good night, Mama.”
“Bisa merembet kemana-mana urusannya kalo mama udah tau. Papa juga pasti ikut-ikutan tanya.” Lalu Abel kembali mendesah panjang dan duduk di tepian kasurnya, pandangannya seketika ganti fokus pada keadaan kamarnya yang telah berubah selama dua hari ini.
“Gimana bisa lupa sama lo? Di saat kritis gini pun, lo masih perhatian sama gue. ”
Air muka Abel berubah sendu setelah mengatakan itu, tidak mungkin penataan kamarnya dikembalikan seperti semula. Baik Cindy dan Ray pasti jadi salah paham dan mengira dirinya masih marah terhadap keduanya. Ray dan Cindy tak tahu bahwa dia sedang menata hatinya kembali perlahan. Mencoba menerima keadaan dan berusaha melupakan rasa perih yang masih saja jadi hantu dalam pikirannya.
Pandangannya tak sengaja melihat cahaya terang jendela kamarnya, yang datang dari jendela seberang rumah. Rumah itu milik keluarga Ray dan cahaya yang menyala dilihatnya saat ini, sumbernya juga dari kamar Ray. Abel beranjak dari kasur, lalu menuju jendela kamarnya, bermaksud menutup gorden, setelah dia berdiri di sana, dilihatnya Ray sedang duduk di balkon, berkutat pada kertas gambarnya, selalu seperti biasa.
Dulu semasa remaja dia sering menjerit keras memanggil laki-laki itu dari jendela kamarnya, namun sekarang dia tidak akan melakukan lagi. Karena hubungan di antara mereka telah berubah. Ditutupnya perlahan gorden kemudian menyusul lampu-lampu dalam kamarnya, hingga gelap seutuhnya.
Satu jam kemudian papanya masuk ke dalam kamar, duduk di tepian kasur dan mempertemukan telapak serta punggung tangannya dengan kening Abel. Lalu berganti sebelah pipinya di kening Abel, meyakinkan diri tentang suhu badan Abel tetap normal. Kemudian setelah merasakan semua normal, papanya mencium penuh sayang puncak kepalanya. Dilakukan papanya sejak Abel kecil setiap malam pulang kerja, setiap putrinya itu hendak atau telah tidur.
***
“Abel.”
Abel menoleh dan terkejut melihat Ray telah di hadapannya. Ditutupnya bagasi mobil lalu merespons laki-laki itu sambil bersandar pada badan mobilnya. Pagi ini dia siap kembali meluncur menjelajah sudut-sudut kota. Memasukkan sisa perbekalan makanan kemarin ke dalam bagasi setelah memanaskan mobilnya di halaman.
“Eh, Kak Ray. Ada apa?”
“Kamu sibuk belakangan ini.”
Abel bergumam lalu berkata. “Melancong nggak jelas sih sebenernya.”
Ray manggut-manggut. “Pantas.”
“Kenapa? Ada perlu? Yaudah kasih tau aja.”
__ADS_1
“Aku sama Cindy sepakat...” ditatap Ray lekat-lekat gadis di depannya.
Abel masih relaks dalam diam menunggu Ray meneruskan bicara.
“Kami tunangan bulan depan.” Kalimat itu begitu mudah diucapkan Ray. Membuat Abel nyaris kehilangan keseimbangan tubuhnya jika tidak bersandar pada badan benda di belakangnya saat ini, mungkin dia jatuh satu detik lalu.
Abel pun menelan kuat-kuat tangis yang siap pecah di tenggorokannya saat ini untuk menyampaikan rasa syukurnya atas kabar bahagia yang dia dengar dari hubungan Ray dan Cindy. Entah siapa yang harus disebut jahat saat ini. Dirinya yang egois karena belum dapat melepas Ray. Atau dua orang yang sedang kasmaran, meluapkan perasaan masing-masing begitu gamblang.
Abel mengangguk-angguk. Dia tak berani bicara. Takut suaranya bergetar menahan tangis dan mudah saja ditangkap oleh Ray. Diulurkannya tangan ke depan Ray, menyatakan rasa suka cita dari dirinya pada laki-laki itu.
Ray tersenyum menyambut. “Makasih.”
***
Entah bagaimana Abel bisa sampai di taman kota, duduk dengan kaki terlipat, tanpa alas apapun di atas rumput hijau, memandang di depannya air kolam dan beragam bunga yang menjadi pagar kolam. Angin bertiup kencang menerpa wajah dan membuat rambutnya yang digerai berantakan. Mobilnya diparkir di tepi jalan raya dekat gerbang taman. Tetapi keadaan di taman tersebut masih sepi sekali, belum ada pengunjung atau pedagang. Abel adalah orang pertama yang datang pagi hari itu.
Memori Abel saat ini seakan menguak perlahan-lahan fakta-fakta menimbulkan rasa perih dalam hatinya, yang menguatkan Ray dan Cindy memang saling tertarik satu sama lain sejak lama. Terutama Ray, yang tanpa ragu menyapa padanya hanya untuk mengetahui kabar Cindy. Laki-laki itu juga tak pernah segan memuji Cindy. Pernah sekali Abel mengajak Ray berkunjung ke suatu tempat, namun laki-laki itu menolak, setelah Abel menyebut Cindy ikut serta, laki-laki itu pun tanpa ragu langsung menarik keputusan sebelumnya. Lain lagi saat Ray memamerkan motor barunya saat SMA kelas X, Abel meminta dibonceng tetapi Ray menolak dengan mengatakan Cindy yang harus pertama.
“Gue kok nggak pernah nyadar ya.” Ucapnya menertawakan dirinya sendiri.
Perasaannya pada Ray telah membutakan matanya selama ini. Entah bagaimana bisa dia sangat yakin jika Ray juga menyukai dirinya. Atau Erotomania, semacam jenis khayalan di mana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain jatuh cinta dengannya padahal tidak sama sekali. Didukung laki-laki itu juga yang sering menunjukkan rasa peduli dan memberikan perhatian padanya. Sekarang Abel seolah sadar, bahwa Ray melakukan itu pasti atas nama kesopanan.
“Kesopanan ya.” Abel mengangguk-angguk dan tersenyum getir. “Gue kayak ngerasa bodoh selama ini.” Gadis itu tersenyum getir bersama selapis bening yang mengalir di bawah matanya.
Abel pun melihat jam di tangannya yang menunjukkan setengah sembilan pagi. Sudah tiga puluh menit dia berada di taman tanpa terasa, suasana taman yang sunyi yang tadinya membuat batinnya terombang-ambing, akhirnya sudah cukup menciptakan rasa tenang untuk dirinya. Gadis itu lekas berdiri dari rumput sambil menepuk-nepuk rok denim selututnya, dia mendesah panjang, memaksakan senyum memandang sekeliling.
“Masih banyak tempat yang harus gue kunjungin. Lain kali gue datang ketemu kalian di sini.” Katanya, bicara sendiri entah pada siapa, tetapi dia memandang satu per satu pohon-pohon rindang serta burung-burung berkicau yang singgah dari satu pohon ke pohon lain.
Setelah di dalam mobil, Abel melihat kalender dalam ponsel miliknya. Gadis itu teringat dan langsung menghitung waktu cuti yang dibuat papanya di tempat kerja selama dia sakit. Masih dua minggu lagi, entah apa yang harus dilakukannya dengan waktu yang dulu dianggap singkat, namun sekarang berubah menjadi sangat lama untuknya.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menunjukkan nama sepupunya di layar. Sebelum menjawab panggilan tersebut, Abel mengembuskan napas pelan dan panjang. Menenangkan dirinya agar terdengar santai.
“Halo Cin─” belum Abel bicara lengkap, Cindy sudah lebih dulu protes.
“Elo ya kemana aja sih?!” terdengar suara protes Cindy di ponselnya.
Abel tersenyum lebar. “Sori. Gue bosan juga di rumah sebelum masuk kerja.”
Cindy mendesah keras. “Tiap pagi-pagi buta lo langsung cabut dari rumah?” suaranya kembali normal.
“Iya.” Jawabnya singkat.
Cukup lama mereka terdiam. Abel masih menunggu Cindy bicara, tetapi sepupunya itu belum mengeluarkan satu patah kata pun lagi. Membuat Abel jadi memutuskan menegur Cindy.
“Cindy.”
“Eh... iya Bel.”
“Lo tuh nelepon gue, tapi malah diem.”
Cindy mengangguk-angguk lemah. Abel hanya tak tahu jika Cindy sedang berperang batin dengan pikirannya sendiri di seberang. Gadis itu bingung bagaimana cara dia harus menyampaikan suatu hal penting dan tepat pada Abel.
“Lo... udah dengar apapun gitu tentang gue?” tanyanya hati-hati.
Abel seperti masih belum terbiasa mendengar itu, padahal dia mengerti apa yang dimaksud Cindy sekarang. Lalu dia berusaha merespons tetap santai agar tidak menjadi bahan pikiran sepupunya tersebut.
“Lo tunangan sama kak Ray bulan depan maksudnya?” tegasnya.
“Ooh... jadi lo udah dengar ya.” Suara Cindy terdengar lemas.
“Kok gitu suara lo? Nggak kedengeran sama sekali kayak orang bahagia.”
“Bel.”
“Iya?”
“Lo yakin nggak suka lagi sama kak Ray?” Cindy hanya ingin memastikan sekali lagi. Dia tidak ingin melihat Abel menderita dan membuat dirinya sendiri terkesan seperti sepupu yang jahat.
“Gue yakin. Udah ya. Gue masih mau jalan. Pokoknya kabarin aja nanti. Bye.”Sambungan telepon kedua sepupu itu selesai. Bahwa sebenarnya keduanya masih ragu dengan keputusan serta ucapan sendiri. Cindy yang meragukan ucapan Abel, serta Abel yang sangat sadar bahwa dirinya akan selamanya menjadi seorang pembohong.
Satu pesan dari mamanya tiba-tiba masuk.
Jangan lupa minum obat yang kamu bawa. Pulang tepat waktu. Besok kita check up ke rumah sakit.
__ADS_1
Abel tersenyum membaca perhatian yang selalu dan masih diberikan mamanya meskipun usianya telah seperempat abad sekarang. Mama dan papanya tetap memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Tetapi dia tak pernah keberatan dan risih, karena suatu hari, dia tidak akan pernah merasakan lagi perhatian itu. Dia hanya bisa tinggal mengenang dalam ingatannya.
***