
Ray dan Cindy baru mendengar kabar duka dari kecelakaan yang dialami oleh Abel satu jam kemudian. Keduanya lekas menuju rumah sakit yang telah disebut oleh keluarga Cindy melalui telepon saat menyampaikan kabar tersebut.
Pertemuan ketiga keluarga, antara keluarga Abel, Ray, dan Cindy di depan ruang UGD tak lepas dari raut cemas dan takut. Mereka semua tampak tidak tenang menunggu hasil yang akan disampaikan oleh dokter setelah memeriksa keadaan Abel di dalam.
Tiga puluh menit telah berlalu, namun dokter masih belum menampakkan diri keluar dari ruangan dalam, sehingga kian memicu rasa khawatir dalam benak keluarga, terutama mama dan papa Abel. Mama Abel juga tak berhenti menangis dalam pelukan suaminya yang terus berusaha menenangkan dirinya.
Kedatangan Ray dan Cindy yang agak terlambat, membuat suasana tegang sedikit mencair. Dua wajah pucat yang baru saja bergabung dengan mereka tak bisa menyembunyikan rasa takut dari benak masing-masing.
“Ma, gimana? Udah ada kabar dari Abel, Ma?” suara bergetar Cindy terdengar, begitu gadis itu berhadapan dengan mamanya.
“Kamu dari mana aja, Nak?” mamanya langsung mengajukan tanya atas keterlambatan datang putrinya. Sontak mamanya terkejut ketika merasakan dingin di kulit putrinya, ketika Cindy menggenggam tangannya.
“Cindy takut, Ma. Takut.” Tubuhnya gemetar hebat, bahkan gadis itu merasa kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Cindy tampak seperti orang depresi sekarang.
“Bukannya kalian pergi sama-sama pagi tadi.” Ungkap mama Cindy, mengundang perhatian dan tanya seluruh keluarga.
Tubuh Cindy seketika melemas jatuh, membuat seluruh keluarga semakin cemas lalu menghampirinya dengan pandangan penuh tanya. Cindy menjadi terus terang bahwa masalah yang timbul datang dari dirinya.
“Ada apa, Nak?” tanya mama Cindy tak lepas menatap sorot mata bersalah putrinya. Kemudian pandangan mamanya berganti pada Ray yang menyiratkan pandangan sama dengan putrinya.
Sebuah cerita sebenarnya pun menyeruak pelan, segala penyebab dari kekacauan antara Abel, Ray dan Cindy, serta kecelakaan mendadak yang dialami Abel dalam perjalanan menuju rumah. Cerita itu pun menenggelamkan seluruh keluarga yang mendengar saksama. Mengusik kedua keluarga yang telah mendukung Ray dan Cindy untuk bersatu. Serta menimbulkan kecewa dari satu pihak keluarga. Mama dan papa Abel.
Papa Abel mendesah berat serta memijit pelipis yang menjadi pening. Papa Abel belum bicara apapun, sehingga kian mengundang suasana tegang di koridor rumah sakit. Papa Abel tidak ingin menyalahkan pihak manapun, Papa Abel sadar betul jika dirinya tidak punya hak melarang sepasang manusia menjalin kasih.
“Kami ada di pihak Ray dan Cindy. Hanya saja maaf, Om benci cara kalian di belakang kami. Silakan kalian lakukan apapun untuk keduanya, tapi tolong. Saya minta sungguh-sungguh jangan perlakukan Abel seperti pengemis cintanya Ray.” Kecewa, papa Abel mengungkapkan isi hatinya sekarang, murni, naluri seorang ayah untuk putrinya.
“Kami murni nggak tau Mas, Abel ada hati sama Ray.” Mama Ray tampak menyesal. “Seandainya tau, kami pasti jaga perasaannya.”
__ADS_1
“Cindy tau, Om. Cindy lupa diri, Cindy jadi egois nggak mikirin perasaan Abel.” Cindy lekas bicara menguraikan rasa penyesalan dalam hatinya. Gadis itu terus menunjukkan penyesalannya, memohon supaya om dan tantenya tidak semakin salah paham.
Papa Abel mengangguk pelan, menepuk-nepuk halus bahu Cindy, seolah menyampaikan dia paham dengan rasa menyesal keponakannya itu. Papa Abel tidak akan menyalahkan dan membenarkan siapapun di sini. Namun dia sudah terlanjur kecewa atas tingkah mereka pada keluarganya, terutama perlakuan tidak adil kepada putrinya.
“Tolong berlaku normal setelah Abel siuman. Jangan kasih lihat rasa kasihan. Saya khawatir, Abel tersinggung.” Pinta papa Abel tajam, pada semua yang berada di sana, termasuk kakak kandungnya─papa Cindy.
Suasana di antara mereka mendadak bisu sampai dokter keluar dari ruang UGD. Mereka yang menunggu cemas di luar, mendengar saksama penjelasan dokter yang menyampaikan keadaan Abel harus dipindahkan segera ke ruang operasi. Lantas kian menghancurkan hati kedua orang tua Abel.
Keadaan Abel barusan semakin pemicu situasi menjadi runcing, terutama perasaan hancur seorang ibu, gejolak emosi mama Abel kepada keluarga Ray dan Cindy. Hingga sejak hari itu, hubungan erat tiga keluarga tersebut meregang dan tegang.
***
Senyum Abel berpendar perlahan ketika membuka mata, melihat mama dan papanya telah menunggu di kedua sisinya.
Gadis itu baru saja sadar dan dia melihat dirinya sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, dalam sebuah ruang beraroma obat dan di sekeliling; terdapat satu set sofa, kulkas serta televisi juga.
“Abel kecelakaan, Ma.” Suaranya serak dan lemah saat mengatakannya.
Mamanya mengangguk pelan seraya mengusap rambut Abel lembut. Menenangkan putrinya. “Abel pasti sembuh, Nak. Abel masih harus istirahat sekarang.” Ucap mamanya lembut.
“Iya sayang?” suara papanya serupa bisikan.
“Kak Ray sama Cindy mana?” tanyanya, karena dia tidak melihat keduanya. Membuat mama dan papanya saling pandang dengan sorot mata yang tidak dimengerti Abel.
“Nanti mereka datang.” Mamanya yang menjawab. Terdengar tidak senang.
Abel mengangguk percaya. “Abel salah.” Sesalnya. “Abel egois. Mereka saling suka, harusnya Abel ngerti.” Ucapnya getir, menyusul lapisan bening timbul di kedua sudut matanya, lalu mengalir dengan lamban melalui kulit, hingga jatuh tepat ke telinganya.
“Udah, fokus sama kesehatan kamu aja.” Pinta mamanya, sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Mama Abel masih sensitif mendengar Ray, Cindy, serta keluarga keduanya. Namun mama Abel bingung atas reaksi putrinya, Abel malah menggeleng pelan, menolak.
“Mereka harus punya hubungan sehat tanpa kepikiran Abel lagi.” Ucap gadis itu sungguh-sungguh. Meskipun rasanya masih sulit melepas Ray, tetapi Abel sudah bertekad bulat dengan keputusannya. Mengubur laki-laki yang menolaknya dan menjauh dari keduanya.
Keinginanan Abel barusan membuat orang tuanya kembali saling pandang, keduanya sepakat mengalah dan mendengarkan Abel untuk meminta Ray dan Cindy datang ke rumah sakit beberapa hari kemudian pada paginya. Orang tua Abel sengaja mengulur waktu untuk memilih kondisi Abel sedikit lebih baik.
__ADS_1
***
Pagi itu pun tiba. Ketika pintu ruang rawat Abel dibuka, Ray dan Cindy telah berada di sana.
“Kalian mau di situ terus?” Abel tersenyum hangat menyambut Ray dan Cindy, kemudian meminta keduanya mendekat padanya.
Tampak kedua orang tersebut canggung satu sama lain berada di dekatnya, sebaliknya sikapnya justru relaks dan penuh senyum, lalu mengapit tangan Cindy secara tiba-tiba, membuat kedua orang tersebut saling pandang. Heran.
“Kalian pasangan paling serasi.” Suaranya terdengar lepas, sorot matanya berbinar menatap Cindy dan Ray bergantian.
“Lo... nggak amnesi kan?” tanya Cindy sungguh-sungguh. Bukan maksud sembarang bicara. Hanya saja dia sangsi atas sikap Abel yang mendadak berubah.
“Gue udah baikan. Kenapa sih kalian? Canggung gitu.”
Pikiran Ray terpecah mendengar teguran Abel. “Nggak. Bukan apa-apa. Gimana perasaan kamu? Udah baikan sekarang?” ditatapnya Abel lurus-lurus, seolah mencari kejujuran dari sorot mata gadis itu.
Abel mengangguk. “Kalian nggak perlu canggung gitu lagi. Jangan kikuk sama gue. Santai aja.”
“Abel.” Tegur Cindy tak senang atas tingkah Abel.
Abel mengembuskan napas keras, lalu menggenggam erat tangan Ray dan Cindy. Sorot matanya bicara sungguh-sungguh, memandang jauh ke depan. “Gue minta... mulailah dengan normal hubungan kalian. Nggak perlu mikirin perasaan gue lagi. Gue nggak mau jadi duri dalam hubungan kalian. Gue nggak mau dicap sebagai seseorang yang... buat hubungan kalian nggak damai.” Lalu dipandangnya Ray dan Cindy. “Ya? Pliiisss.”
“Lo... kayak gini...”
Abel langsung memotong kalimat Cindy. “Gue kayak gini... atas keinginan sendiri! Gue sadar aja kalian emang ditakdirkan jadi satu. Kenapa harus gue paksain? Melankolis banget gue.” Dia tertawa kecil sesudahnya. Membuat Ray dan Cindy saling pandang, keduanya kian merasa bersalah, tetapi Abel lekas paham kondisi keduanya. “Idih, apaan sih kalian? Jangan liatin gue gitu deh. Gue ngerasanya menyedihkan tau.”
Tiba-tiba Abel langsung merasakan kedua tangan Cindy melingakari bahunya, memeluknya erat dengan perasaan lega yang menyertai dirinya.
“Thanks Abel. Gue nggak tau lagi harus bilang apa sama lo.”
Abel manggut-manggut sambil menepuk-nepuk tangan Cindy. “Iya udah.” Katanya kembali menenangkan Cindy. Lalu pandangannya bertemu dengan Ray. Gadis itu melepas senyum pada laki-laki yang masih dicintainya itu, bahkan sampai detik ini, di saat dia telah membuat keputusan bulat merelakan laki-lai itu bersama sepupunya. Ditahannya mati-matian rasa perih yang menghantam dadanya sejak tadi. Hanya dengan cara itu, dia bisa meneruskan hidupanya dengan tenang sampai ke depan. Meskipun harus mengorbankan hatinya sendiri.
__ADS_1
***