
Abel baru keluar dari kamar mandi lalu melihat layar ponselnya yang menyala dan terhubung melalui kabel ke listrik.
Dihampirinya benda itu sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk. Ada sebaris nomor asing terlihat, sehingga membuatnya ragu untuk menjawab. Hal itu membuatnya tidak nyaman mengingat nomor tersebut bisa saja milik Ray atau Cindy.
Setelah panggilan tersebut mati dengan sendirinya, Abel melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan dari nomor yang sama. Dibacanya dengan ragu isi pesan tersebut lalu duduk di tepian kasur.
**Abel, aku di dermaga kpal Marina Ancol skrng**.
**Ibram**.
Begitu isi pesan yang di ponselnya selesai dibaca, Abel lekas berbenah diri untuk menyusul Ibram ke dermaga.
Sepanjang jalan, Abel sendiri baru ingat bahwa dia meninggalkan nomor ponselnya dan lokasi tempat janji temu mereka pada secarik kertas yang ditinggalkan di meja informasi kemarin.
Kira-kira tiga puluh menit dari hotel, Abel tiba di dermaga kapal Marina Ancol. Kedatangannya langsung disambut Ibram, laki-laki itu cepat mengambil alih tas serta koper bawaan Abel. Sebagai gantinya Ibram menggenggam pergelangan tangan gadis itu, menuntunnya hati-hati masuk ke dalam salah satu kapal speed boat yang telah dia sewa untuk menuju kepulauan Seribu.
“Kamu udah lama di sini?” tanya Abel merasa bersalah.
“Baru satu jam.” Ibram melihat arlojinya.
“Itu sih udah lama. Maaf banget, ya.” Sesal Abel.
Keduanya lekas duduk bersisian pada kursi penumpang di sisi buritan badan kapal yang terbuka, tepat di belakang kokpit atau kursi kemudi kapten. Sudah ada kapten duduk di sana dan tak lama lagi kapal motor tersebut segera meninggalkan dermaga menuju kepulauan Seribu, yakni pulau Harapan.
“Iya.”Ibram baru merespons Abel setelah duduk di dalam kapal.
“Oya... aku... ambil kamera kamu kemarin. Maaf ya aku udah lancang.”Abel menggigit bibir bawahnya karena merasa lancang telah melakukan itu.
“Bukan kamu curi, kan?” respons Ibram menatap serius Abel.
Abel menggeleng.“Aku kasih tau kok sama security. Serius. Aku nggak ada niat nyuri kamera itu.” Terangnya menanggapi serius omongan Ibram.
Ibram tersenyum.“Nggak. Jangan tanggapi serius. Barusan aku bercanda.”
Mata Abel membulat besar. Seketika ekspresi wajahnya yang tegang shock mendengar pengakuan Ibram.“Ihh nyebelin banget sih! Nggak lucu tau.” Protesnya sebal.
Sikap Ibram barusan sangat kaku untuk mengaku bahwa dia bercanda. Laki-laki itu tidak bisa mengubah ekspresi wajahnya yang serius sama sekali.
Saking kesalnya, dipukulnya lengan Ibram, tetapi gagal, karena pergelangan tangannya sudah langsung ditahan oleh laki-laki itu, sehingga membuat Abel tertegun untuk beberapa saat.
Keduanya beradu pandang sesaat dalam diam. Mereka baru kembali bersikap normal saat kapten menghidupkan blast kapal.
“Maaf. Menurut aku, kamu tuh nggak bisa bercanda. Nggak lucu. Nyeremin malah.” Ucapnya jadi kikuk, sehingga tangannya dilepaskan oleh Ibram.
Ibram manggut-manggut saja. Pandangannya dialihkan ke tempat lain. Tampak canggung.“Kamu boleh pukul. Barusan itu... refleks.”
“Ah, iya.” Tetap saja Abel merasa kikuk.
Sering kali karakter Ibram malah membuatnya merasa takut, karena dia belum dapat mengenal laki-laki itu sepenuhnya. Abel bingung, tidak dapat membedakan Ibram sedang serius atau bercanda dengannya. Dia tidak dapat sama sekali menebak watak laki-laki itu. Seolah laki-laki itu sengaja menutup jalur pribadi dirinya untuk orang lain.
Abel tak sadar gara-gara memikirkan itu, dia jadi memperhatikan Ibram terus-menerus. Laki-laki itu begitu fokus pada sebuah kamera yang dilihat Abel dalam laci saat itu.“Kamera polaroid, ya?” tanya Abel memastikan tebakannya.
Ibram menatap Abel sekilas dan mengangguk singkat membenarkan. Ibram kembali fokus pada kamera di tangannya. Lalu, laki-laki itu pun mengarahkan kamera tersebut pada pemandangan laut di sekitar mereka. Mengambil spot yang dianggapnya menarik dan bagus.
“Gara-gara kamu pernah sebut polaroid. Makanya aku searching apa itu polaroid. Thanks. Akhirnya aku bisa tau sekarang.”
“Serius?”Ibram menanggapi sekilas menatap Abel. Pandangannya kembali pada kamera di tangannya yang sedang diatur menangkap objek foto.
“Hemm. Oya, kamu bisa ajarin aku gimana cara ambil potret yang bagus?”kata Abel tiba-tiba. Bibirnya terukir senyum seraya bertopang dagu menatap Ibram. Bahkan dia menatap Ibram dengan mata berpendar.
“Boleh.” Ibram menerima tanpa keberatan.“Gini caranya...”Didekatkannya kamera di tangannya ke sisi kiri, agar Abel lebih mudah melihat cara yang hendak dia jelaskan.
Abel tampak senang, gadis itu bahkan bergeser ke sisi kanan lebih merapat dengan Ibram, hingga Ibram dapat merasakan pertemuan kulit mereka di paha. Sebab, baik itu dia dan Abel sama-sama mengenakan celana pendek.
Ibram mengenakan celana potong berwarna putih dan sebatas lutut, sementara Abel mengenakan hot pants berwarna merah bata.
Bukan hanya itu saja, Ibram baru sadar bahwa sekarang dari jarak sedekat itu, dia dapat merasakan aroma jeruk dan citrus dari parfum gadis itu di indra penciumannya.
Pikiran Ibram pun terpecah ketika merasakan tangannya diguncang Abel.
“Kok diem?”
“Bisa jaga jarak?”Ibram bicara dengan menahan napas. Dia hanya mengarahkan pandangannya pada sisa ruang kosong di sisi kiri gadis itu.
Abel menoleh ke belakangnya.“Gimana aku bisa lihat kamu jelasin caranya? Kalo duduk sejauh itu.” Protes gadis itu.
“Aku... nggak nyaman.” Kata Ibram tetap pada pendiriannya. Matanya menatap Abel berharap gadis itu mengabulkan keresahannya saat ini.
Abel sempat tertegun oleh bola mata hitam yang begitu lembut menatap dirinya saat ini, bahkan tidak mengilak jika jantungnya pun merasakan hal serupa dengan tempo yang berubah lebih cepat.
“Ah, iya sori.”Abel sedikit bergeser.
“Thanks.”Ibram diam-diam mengembuskan napas pelan.
“Terus... gimana?”Abel pun turut dalam suasana canggung yang terbentuk dari mereka. Suaranya barusan pelan malah serupa bisikan.
“Kamu pasti bisa pelajari secara manual.” Kata Ibram seraya menyerahkan kamera di tangannya pada Abel, lalu sedikit bergeser ke sisi kanannya lagi agar dia dapat bernapas lega dan tenang seperti sebelumnya.
Abel mengangguk-angguk pelan. Akibat suasana canggung yang tercipta di antara mereka, membuatnya juga ikut merasa tidak nyaman. Dengan Ibram menjaga jarak seperti itu darinya, membuat dia pun seolah dapat kembali bernapas lega.
Apakah ini yang dirasakan laki-laki itu tadi? Perasaan ini, kah?
***
Selama kurang lebih tiga jam sisa perjalanan menuju pulau Harapan, Ibram dan Abel tak terdengar suara lagi.
Abel justru sudah tertidur sekarang. Suasana diam tanpa percakapan antara mereka rupanya mengundang kantuk gadis itu di buritan kapal.
__ADS_1
Sementara Ibram berpindah ke ujung haluan kapal. Dia duduk di sana sambil mengambil banyak potret dari kameranya. Dia menoleh ke geladak sesaat, seolah ingin memastikan keadaan Abel di buritan, tapi dari tempatnya duduk saat ini, semua itu terasa sia-sia sebab tidak bisa melihat Abel yang ditutup oleh ruang kokpit.
Ibram menimbang-nimbang di tempatnya, apakah dia harus membangunkan Abel dan duduk bersama di haluan sambil menikmati pemandangan indah di depannya saat ini. Kalau saja dia ingin, mereka pasti sudah berbincang- bincang saat ini. Namun rasa takut di dalam dirinya lebih besar saat ini.
Ibram beranjak dari duduknya kemudian kembali ke buritan kapal. Dia sempat berhenti memandang Abel yang tertidur pulas sambil memeluk tas dalam posisi duduk. Ibram tidak tega membiarkan Abel tidur dengan posisi seperti itu sampai ke Pulau Harapan.
Dia pun duduk kembali pada tempatnya semula di samping Abel. Dengan posisinya itu, dia membuat Abel perlahan untuk bisa bersandar nyaman di bahunya.
Akhirnya mereka duduk duduk bersama dan berdekatan kembali. Mereka pun sama-sama tertidur, hingga mesin kapal akhirnya mati begitu sampai di dermaga Pulau Harapan.
***
Abel terbangun dari tidurnya, dilihatnya Ibram telah berkemas membawa tas dan koper mereka dari atas kapal. Setelah itu, laki-laki itu meminta Abel agar segera menyusul turun sambil mengulur tangan ke depannya.
Abel sempat tampak ragu menyambut, dia takut Ibram dapat menangkap perasaannya yang tiba-tiba canggung. Namun seperti biasa, laki-laki itu tampak kembali menjadi jati dirinya yang semula. Seolah tidak terjadi apapun antara mereka sebelumnya.
“Kenapa ngelamun?”
“Eh, iya maaf.”
Setelah turun dari kapal, Pemandangan pertama yang keduanya lihat adalah kapal-kapal yang berlabuh serta aneka jajanan laut di sepanjang jalan setapak dermaga pulau Harapan.
Mata Abel langsung berpendar riang dan sumringah melihat jajanan khas pulau tersebut. Gadis itu berlari senang dan berputar-putar di sana. Begitu hendak menghampiri salah satu pedagang, pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan oleh Ibram terlalu kuat lebih dulu hingga kembali berputar seratus delapan puluh derajat. Nyaris saja mempertemukan dirinya dengan Ibram.
Kejadian itu sontak membuat keduanya kembali dengan suasana canggung seperti tadi. Ditambah lagi, beberapa pasang mata yang di dekat mereka saat ini, menyaksikan pemandangan itu barusan.
“Kamu... Kamu ngapain tahan tangan aku?”Abel memandang tangan mereka yang masih bertautan. Abel merasa gugup.
“Kamu belum bisa makan sembarangan.” Kata Ibram mengingatkan tegas karena pencernaan Abel belum pulih sepenuhnya.
Abel tersadar dan langsung mengangguk-angguk. Dia sudah sangat geer barusan.
“Paham?”
Abel tersenyum. Seperti menggelitik perasaannya.“Siap dokter.”Respons Abel menahan tawanya.
“Janji?”
“Oke!”
“Ada request lain? Misalnya, butuh makanan atau penginapan yang kamu ingin tempatin.”
“Serius?”tanya Abel sangsi.
“Iya.”
“Sebenernya, aku pengen kita nginep di floating cottage, gitu. Jadi rasa-rasanya kayak di Maldives.”Kata Abel ragu-ragu.
“Harusnya reservasi di pulau Ayer aja. Di sana unik.”
“Yah, jadi salah, ya?”
“Kita besok bisa ke sana. Setuju?”
“Serius?! Buat berapa hari?!”Abel tampak senang mendengarnya.
“Sekalian trip ke pulau Macan dan pulau Pramuka.”
“Ya ampun! Kamu serius?!” mata Abel kian berpendar melebar.
“Mm-hmm.”
Ibram terkejut untuk sesaat dia hanya bisa membantu di tempatnya. Tangannya tampak ragu ingin membalas pelukan gadis itu, sehingga dia hanya menjawab dengan ucapan.“Never mind.”
“Yaudah, aku Jalan-jalan sendiri duluan. Nggak pa-pa, kan?”
“Oke. Aku check ini ke penginapan sebentar.”
“Sipp!”
Saat Abel hendak pergi, Ibram menahan cepat tangan gadis itu lagi. “Have a great holiday.”
“Iyaaa!!!”Abel berlarian sambil melompat-lompat kegirangan.
Senyum Ibram berpendar menyaksikan kebahagiaan yang terpancar di wajah Abel saat ini. Dia menatap lama gadis itu dari tempatnya berdiri sekarang.
***
Setelah menerima kunci dari pemilik penginapan, Ibram langsung keluar mencari-cari keberadaan Abel di sekitar pantai.
Sementara Abel juga tampak berkeliling pulau Harapan yang memamerkan pantai dengan pasir putihnya. Awal mulanya Abel hanya bermain air sesaat, tetapi dia merasa tidak dapat menahan hasratnya untuk menceburkan diri ke dalam air di pinggiran.
Abel meletakkan kamera di atas pasir, membuka kaosnya dan menyisakan tank top berwarna hitam, lalu menceburkan diri ke dalam air, untuk sesaat dia merasakan kejernihan air pantai yang memukau pandangannya. Lalu gadis itu kembali lagi ke permukaan dan memakai kembali kaosnya dengan tubuh dan rambut basah. Diambilnya kamera lalu dihidupkan benda itu untuk kemudian diletakkan di atas pasir, dia melepas shutter, sehingga dia dapat mengambil potret dirinya sendiri, beberapa kali di atas pasir putih di depannya.
Setelah itu Abel melihat seluruh potret yang dia ambil dari kamera sambil duduk dengan lutut terlipat menghadap pantai. Kadang dia tersenyum dan tertawa melihat hasil fotonya yang beragam eskpresi serta gaya di kamera. Pada saat dia hendak beranjak, dia terkejut melihat Ibram telah berdiri di depannya.
“Sejak kapan kamu di sini?” tanyanya bingung.
“Udah lama.” Jawab Ibram tenang.
“Jelas-jelas kamu baru keliatan. Udah lama gimana coba.” Abel geleng-geleng kepala. “Oya, bisa minta tolong?”
“Apa?”
Abel menyerahkan kamera milik Ibram.“Ambil foto dari sini.” Katanya dengan wajah penuh harap, agar Ibram menerima tanpa keberatan.
“Aku datang ke sini untuk alam. Bukan kamu.” Balas Ibram tak acuh.
Senyum Abel langsung lenyap. “Sekali aja. Pliiisss.” Mohonnya.
“Yakin? Nggak lebih, kan?”
Abel mengangguk keras dengan senyum mengembang dia lekas berlari ke tepi, lalu memberi isyarat pada Ibram untuk bersiap mengambil potret dirinya.
__ADS_1
“Yang bagus ya?!” seru Abel dari tempatnya.
Cukup lama Ibram baru menekan tombol shutter dan satu potret apik berhasil dia abadikan. Ada latar pulau-pulau di belakang Abel, air laut, pasir putih serta cahaya berkilauan dari pantulan sinar matahari yang mengenai air.
“Selesai.” Ucapnya.
Abel lekas berlari menghampiri Ibram untuk melihat hasilnya. Melihat ekspresi senang di wajah gadis itu membuat Ibram lega dan berbalik hendak mencari spot lain, tetapi lengannya pun tiba-tiba ditahan oleh Abel.
“Sekaliii lagi. Sumpah ini bagus banget!”
“Tadi sekali, ditambah ini jadi dua kali. Kamu udah pinjam kamera punyaku, jadi fotografer kamu, masih minta yang lain lagi?”
“Yaampun perhitungan banget. Suara Abel lemas mendengar respons pahit Ibram.
“Nggak bisa.” Ibram masih menolak.
“Aaahh... Pliiisss.” Abel menghentak-hentakkan kedua kaki telanjangnya di atas pasir.
“Sori, hanya sekali.”
Abel menggenggam tangan Ibram tiba-tiba. Dia menatap laki-laki itu tanpa sungkan.“Ya? Ya? Ayo dooongg... Pliiisss... Mau, ya?”
Ibram menatap Abel, sorot matanya berubah teduh, membuat gadis itu menutup mulut seketika karena sudah paham makna dari tatapan laki-laki itu.
“Kita selesai snorkeling. Kamu bisa sabar nunggu?” Kali ini suara Ibram lembut sekali.
Abel terpaku cukup lama menatap mata itu. Ibram berhasil dua kali membuatnya terpaku pada sorot lembut mata laki-laki itu.
“Se.. Snorkeling kamu bilang? Boleh ikut?”
“Boleh. Ada guide sama kita.” Ibram menoleh ke belakang dan tersenyum hangat menyapa guide tersebut.
Diikuti Abel.
“Serius snorkeling.” Ucap Abel sulit menyembunyikan rasa senangnya. Ibram benar-benar membuat dirinya benar-benar jatuh cinta hari ini. Seolah laki-laki itu sengaja berlaku menjadi seseorang yang sempurna khusus untuk dirinya hari ini.
“Yaudah. Kita berangkat sekarang.”
“Oke!”
Kemudian mereka pun segera menuju dermaga untuk menggunakan boat ke tempat yang akan menjadi lokasi snorkeling.
Setelah berada di atas boat beberapa saat perjalanan, akhirnya mereka tiba di lokasi snorkeling. Sebelum boat berhenti, guide memberikan instruksi kepada Ibram dan Abel. Sementara, Ibram memberikan Abel peralatan yang mereka butuhkan untuk snorkeling saat ini.
“Makasih.”
“Ada lagi yang kamu butuhkan?”
“Apa? ”
“Sunscreen.”Ibram memberikan sunscreen.
“Ah, iya aku lupa.”Abel tersenyum menatap Ibram sebelum memakainya.
Setelah memastikan peralatan yang melekat di tubuh mereka baik, mereka pun serentak menjatuhkan diri ke dalam air.
Tempat itu menyuguhkan bawah laut cantik seperti yang diharapkan oleh Ibram dan Abel. Ada banyak beragam biota laut yang ada di sekitar mereka selama di bawah air.
Abel merapat pada Ibram lantas memberi isyarat untuk mengambil potret dirinya di bawah air.
Ibram tak menggubris dirinya. Laki-laki itu malah muncul ke permukaan air mendekat ke boat mereka.
Abel merengut sebal kemudian menyusul ke permukaan air. Dia mendekati Ibam dan mengguncang lengan laki- laki itu.“Fotoin aku ya di dalam air.”Kata Abel penuh harap. “Pliisss.”Bisik Abel dan tersenyum lebar pada laki-laki itu.
Lagi-lagi Ibram tak mengindahkan dirinya, membuat Abel mengembuskan napas kesal dan menarik paksa wajah laki-laki itu menghadap dirinya. “Pliiisss.”
Ibram menahan senyum atas tingkah manis gadis itu, pandangannya pun berganti tertuju pada tasnya untuk mengambil kamera waterproof miliknya. Laki-laki itu menunjukkan kamera di tangannya untuk mengajak Abel kembali ke dalam air. Selanjutnya, yang dia dengar dari Abel ialah jeritan senang gadis itu di atas air.
***
Selesai snorkeling tujuan mereka selanjutnya ialah mengunjungi pula-pulau lainnya, yang berkisar waktu setengah jam sampai satu jam.
Abel tampak nyaman dan luwes menikmati perjalanan mereka hari ini mengunjungi dua pulau di kepulauan Seribu.
Tampak malah Ibram yang kewalahan sendiri karena harus menuruti semua keinginan gadis itu yang sangat aktif.
Pandangan Ibram seketika jatuh pada kaki Abel yang mengenakan sepasang sepatu dengan heels setinggi kurang lebih tiga sampai empat sentimeter.
“Abel.”Ibram menegur Abel tanpa menghentikan langkahnya berjalan mendekati gadis itu.
Abel tampak bingung melihat Ibram yang berjalan semakin dekat padanya dengan menunjukkan sorot mata hangat seperti itu. Sikap laki-laki itu saat ini sukses mengundang degup jantungnya seketika.
“A, ada apa?”Abel bertanya gugup.
Ibram tiba-tiba berjongkok dan membuka tas, laki-laki mengeluarkan sepasang sandal lalu memasangkannya di kaki Abel. Abel nyaris saja kehilangan keseimbangan tubuhnya, kalau saja tangannya tidak cepat dibuat Ibram untuk bersandar pada bahunya. Sontak sikapnya itu menciptakan atmosfer yang semakin membuat Abel membeku dan menggila sendiri.
“Kamu pasti nggak nyaman pake sepatu itu di pasir.”
Abel mendadak canggung. Tindakan laki-laki itu selalu saja membuatnya terkejut untuk ke sekian kali dan mungkin setelah ini dia akan sering terkejut lagi dengan segala perlakuan laki-laki itu.
“Terima kasih.” Ungkapnya kikuk.
Setelah itu keduanya pun secara bersamaan masuk ke dalam air, saat berada di dalam air ketika Abel hendak melepas tautan tangan mereka, Ibram tak membiarkannya, laki-laki itu malah mengajaknya serta menyelam bersama menikmati bawah air dangkal yang menciptakan suasana tenang dan menyuguhkan pemandangan luar biasa. Beragam biota laut yang mereka lalui atau melalui mereka, membuat Abel mengambil kesempatan itu untuk meminta Ibram memotret dirinya.
“Sama-sama.”
Ibram dan Abel sekarang berjalan bersisian dengan tempo langkah pelan. Suasana di antara keduanya mendadak sunyi. Terlebih lagi Abel. Namun, dia masih dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
“Jujur, ini pertama kali buat aku diajakin jalan jauh sama laki-laki.”
“Oya?”
“Hemm.”
“Meskipun kamu akrab sama Ray dan Hugo.”
“Kami akrab tapi kami belum pernah liburan ke suatu tempat bareng-bareng. Pertama kali sama kamu.”
Ibram tersenyum. “Aku beruntung.”
“Bisa aja.”
“Kenapa kamu terima ajakan aku? Setelah aku pikir-pikir, kita baru kenal. Apa kamu nggak takut sama orang asing kayak aku?”
“Eehmm...”Abel tampak berpikir sesaat lantas menggeleng dan mengangkat bahunya.“Aku nggak tau. Kayak nggak ada alasan nggak percaya sama kamu. Mungkin, alam bawah sadar aku merasa udah nyaman sama kamu. Jadi, nggak ada kepikiran apa-apa.”
Ibram mengangguk-angguk tampak menahan lekuk senyum di bibirnya.“Oya, sebelum pulang ke pulau Harapan. Mau liat sunset dulu?”Ibram juga melihat arloji di tangannya sekilas.
“Mau banget!”
“Kita jalan ke sebelah sana.”
“Oke!”
Ibram dan Abel sekarang sudah berdiri di bibir pantai untuk menyaksikan sang Surya kembali ke tempatnya. Momen itu keduanya saksikan bersama di bawah langit yang sudah berubah jingga.
“Wow! Indah banget. Ini pertama kalinya aku liat sunset secara langsung.”Abel bicara menunjukkan dirinya yang begitu takjub menyaksikan pemandangan indah di depannya saat ini.“Kamu bisa ajak aku liat sunset di tempat lain sekali lagi?”
Ibram justru terdiam. Sehingga membuat Abel menoleh menatap dirinya.
“Kok diam? Nggak mau, ya?”
Ibram hanya tidak percaya bahwa Abel yang akan meminta kepada dirinya lebih dulu.
“Oke.”
“Janji?”
“Iya.”
__ADS_1
***