Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
18 : SATU HAL KONYOL


__ADS_3

Dokter Surya masuk ke dalam ruang kerjanya bersama seorang perawat yang membawa serta sebuah map berwarna coklat, dengan lembaran kertas lain di tangannya. Dokter Surya duduk pada singgasananya, berseberangan dengan Abel dan mamanya. Sementara itu suster berada di sisi kiri meja dokter. Pria paruh baya itu menerima map coklat tersebut dari suster, kemudian membuka amplop untuk melihat hasilnya.


“Bagus. Semua hasilnya bagus.”Terdengar nada puas dari suara beliau ketika membaca map tersebut.



Abel dan mamanya pun tampak lega mendengar hasil tes medis tersebut.



“Hanya saja ada tambah sedikit. Apa pernah putri Ibu merasa telinganya berdenging?” tanya dokter Surya.



“Pernah sekali, Dok. Itu yang pertama dan terakhir.


Pas sehari keluar dari rumah sakit kejadiannya. Saya sempat ragu yang dibicarakan papa. Untungnya, papa ulang ucapannya.”


Mama Abel terkejut menatap Abel karena tidak memberitahu masalah tersebut.“Kenapa nggak kasih tau Mama?”


Dokter Surya tersenyum.“Ibu tidak perlu cemas. Ini hanya pasca trauma akibat benturan keras di kepala Abel. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya sudah cek hasilnya sangat baik.”


Kalimat dokter Surya barusan akhirnya membuat mama Abel lega. Beliau tidak jadi memarahi lebih jauh putrinya. Raut tegang di wajah beliau perlahan mengendur.


“Perlahan obat-obat yang akan dikonsumsi bisa menghilangkan rasa tidak nyaman di telinga putri Ibu.”


“Syukurlah.” Mama Abel kembali tenang dibuatnya.


Dokter Surya mengangguk, lalu pandangannya tertuju pada pintu ruangannya yang terbuka. “Ibram.”


Abel sontak menahan napas mendengar nama Ibram disebut dokter Surya. Gadis itu menoleh seketika ke belakang. Benar saja, Ibram benar-benar sudah ada di depan matanya lengkap dengan jas putih yang melekat di tubuhnya.


“Ayah lihat Abel ada masalah pencernaan di catatan medisnya.”


Akhirnya, Abel menyaksikan langsung ayah dan anak itu berbincang langsung di depan matanya. Sekarang dia memandang Ibram yang hendak merespons ayahnya. Rasanya seperti membuat dirinya menggila melihatnya saja.


“Iya, Yah.”Ibram menjawab dengan akrab, tanpa dibatas oleh status atau profesi keduanya.


“Sakit pencernaan apa, Dok?”Mama Abel tampak bingung menatap dokter Surya dan Ibram.


“Saran saya, Abel harus memperhatikan pola makan sehat mulai sekarang. Harus mengurangi makanan apapun yang mengandung gula dan lemak yang tinggi. Alangkah baiknya, dia harus banyak mengkonsumsi serat.”Ibram menutup kalimatnya dengan perlahan menggerakkan pandangannya pada Abel. Mereka akhirnya bertemu pandang.


Abel tersenyum pada Ibram. Gadis itu tidak sadar, bahwa saat dia bicara dengan Ibram melalui ponsel, laki-laki itu telah berada di lobi rumah sakit, bicara dengan suster yang berjaga di meja unit pelayanan informasi dan pendaftaran administrasi. Dia sedang menjadwalkan ulang tugasnya hari ini. Mereka hanya selisih satu menit saja ketika Abel meninggalkan meja administrasi, Ibram sedang berjalan menuju ke sana.


“Terima kasih dokter Ibram. Jalankan tugas dengan baik seperti biasa.”


__ADS_1


“Baik, Dok. Saya permisi.” Ucap Ibram lalu perlahan melangkah mundur dan ketika pandangannya beradu dengan Abel, laki-laki itu membungkuk dan tersenyum padanya. Membuat Abel balas tersenyum pada laki-laki itu yang menghilang di balik pintu.


***


Ibram begitu fokus menatap hasil rontgen di atas mejanya. Laki-laki itu menerima data pasiennya tersebut baru saja setelah tiba dari ruang papanya. Dia kembali memasukkannya ke dalam amplop ketika mendengar bunyi ketukan dari luar. Lalu dia beranjak dari kursi untuk membuka pintu, namun dia dikejutkan dengan kehadiran Abel. Setelah pertemuannya dengan gadis itu di ruang papanya tadi.


Abel tiba-tiba berlari ke pelukan Ibram seolah tubuhnya memang menginginkan hal itu terjadi. Kedua tangannya pun melingkar di tubuh hangat Ibram, tanpa menyadari bahwa efek dari sikapnya barusan membuat Ibram membeku di tempatnya berdiri sekarang.


“Tolong jangan begini lagi. Jangan bikin aku gelisah sendiri. Pliss.”Suara Abel redam dalam pelukannya dengan Ibram. Gadis itu menyampaikan rasa takut di hatinya tanpa ragu.


Tubuh Ibram bereaksi seolah menyambut sikap Abel, Ibram mengangkat Abel ke dalam pelukannya dan kedua kaki gadis itu tiba-tiba sudah melingkar mengikat di pinggangnya.


Seolah baru sadar posisinya saat ini telah berada dalam pelukan Ibram dengan posisi yang tidak biasa. Bibirnya perlahan mengembangkan senyum karena tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Kepalanya sengaja disandarkan pada bahu laki-laki itu untuk menghirup aromanya.


Tingkah Abel membuat Ibram tak kuasa untuk menyembunyikan senyum di bibirnya. Dia dapat merasakan yang dilakukan gadis itu di lehernya.


Sadar tingkah mereka akan mengundang perhatian, Ibram langsung mengambil tindakan dengan perlahan menutup pintu ruangan agar tidak ada yang menyadari keberadaan mereka saat ini.


“Kamu kemana, sih? Kamu nggak tau kan segimana cemasnya aku.” Abel bicara di balik leher Ibram. Kemudian dia mengangkat wajah dan menatap Ibram sekarang. “Kemanaaa?”Abel mengguncang bahu Ibram merasa tidak sabar menanti penjelasan dari laki-laki itu.


“Maaf. Dimaafkan, ya?”


“Iyaaa. Tapi kamu kemana?”


“Ayah minta datang. Aku tau... hari ini jadwal kamu. Tau kan kami dokter kamu?” Ibram tetap merespons dengan sikap tenang, meskipun sempat gugup dan membuat ucapannya terputus.



“Maaf.” Sesal Ibram sungguh-sungguh.



“Kamu di mana selama itu?” Abel masih belum terima.



“Ada.”



“Iya di mana?!” Abel menekankan, karena dia paling tidak suka Ibram irit bicara.



“Di kepulauan Seribu.”


__ADS_1


“Gitu, doongg. Terus... jadinya kamu sendiri ke sana?”



“Iya. Masih ada yang buat penasaran?”



Bola mata Abel berputar ke atas. “Ngeselin tau. Kirain kamu marah!”



“Ooh jadi itu...” Ibram mengerti arti kalimat Abel.


“Anggap aja dia khawatir sama kamu layaknya kakak untuk adik kandung.”


Air muka Abel berubah muram penuh sesal. “Maafin sikap kasarnya kak Ray.”



“Agak mengesalkan memang. Tapi yaudah. It is nothing.” Respons Ibram santai.



Abel langsung mencubit perut Ibram. “Gitu dong. Kamu jadi kelihatan manusiawi.” Ungkapnya karena menyaksikan perasaan dan ekspresi wajah Ibram baru saja.


Ibram mengangguk pelan tetapi merasa geli dengan pengakuan Abel. Sebenarnya atmosfer yang tercipta baru saja di antara mereka sukses membuatnya salah tingkah dan nyaris kehabisan kata-kata. Tindakan gadis itu saat memeluknya mengejutkan dirinya.


Kedua tangan Abel pun malah melingkar di leher Ibram sekarang, menciptakan atmosfer yang mengusik perasaan asing dalam diri mereka selama pandangan masing-masing beradu. Membuat kedua orang itu tenggelam dalam suasana tersebut, yang mengosongkan pikiran, menyatukan hasrat yang perlahan menyusup masuk. Wajah keduanya mengikis jarak yang tersisa secara perlahan hingga memutus pergerakan masing-masing ketika pintu di dekat mereka didorong dan memperlihatkan dokter Surya berada di sana.


Pria paruh baya itu sempat mematung menyaksikan pemandangan sepasang anak muda di depannya saat ini, dan salah satunya adalah putranya sendiri.


Abel yang menyadari posisinya masih sama, serta-merta meminta Ibram menurunkan dirinya karena mereka saat ini benar-benar mematung kehabisan kata-kata untuk bicara.


Sekarang, posisinya sudah berdiri bersisian dengan Ibram. Selain merasa sangat malu, juga membuatnya ketar-ketir karena pria paling disegani di rumah sakit itu masih saja belum bersuara.


“Ayah, aku minta maaf.”



“Di tempat lain. Ayah tidak memberi izin kalian membawa perasaan pribadi di rumah sakit ini.” Kata pria paruh baya itu sesaat dengan wajah dingin.


Abel sudah takut namun begitu melihat beliau melepas senyum dan menepuk-nepuk sebelah pipi Ibram sebelum keluar, Abel mengangkat wajah hingga bertemu pandang dengan beliau.


“Ditunggu kabar baiknya.”Ucap beliau pada Abel kemudian pergi dari ruangan itu sepenuhnya.


Abel langsung mengembuskan napas lega, karena dia pun seakan tidak sadar telah menahan napas sejak kemunculan ayah Ibram tadi.

__ADS_1


***


__ADS_2