Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
19 : PERASAAN ITU BELUM BERUBAH


__ADS_3

Di taman halaman samping rumah sakit, di bawah sebuah pohon ukuran sedang, namun daunnya begitu lebat, ada sebuah bangku panjang. Abel berada di depan bangku itu saat ini.


Setelah meninggalkan ruangan Ibram sepuluh menit lalu. Abel mondar-mandir dengan perasaan kacau sambil menggigit-gigit ujung kukunya karena terus kepikiran tingkahnya dan Ibram yang kehilangan akal sehat mereka. Hal yang paling memalukan ialah saat ayah dari laki-laki itu justru mendapati mereka pada situasi yang tidak tepat.


Abel nyaris seperti orang gila setiap mengingat momen jelek itu. Tiba-tiba dia mengacak rambutnya, tiba-tiba dia menjerit, tiba-tiba tatapannya kosong dengan ekspresi depresi.


Apalagi saat ini Abel masih menunggu kabar atau informasi apapun dari Ibram yang sedang bicara dengan ayah laki-laki itu. Abel benar-benar sangat malu saat ini, dan mungkin dia tidak akan mampu untuk berhadapan langsung dengan beliau lagi.


Waktu telah menunjukkan menit ke tiga belas, Ibram masih belum terlihat dari dalam rumah sakit. Abel semakin gila memikirkan segalanya. Dia bingung menggambarkan perasaannya sendiri sekarang.


Abel menghentak-hentakkan kedua kakinya, resah, dari yang mondar-mandir, duduk, berdiri, hingga kembali duduk lagi di bangku, tetap saja Ibram tak memunculkan diri. Bahkan sampai satu jam telah berlalu dan membuat tenaganya pun seolah terasa habis menunggu lebih lama, masih saja Ibram belum datang.


“Mereka bicarain apaaa coba sampe satu jam gini.” Kata Abel semakin frustasi. Sumpah demi apapun, jika dia tidak mendengar apapun dari Ibram hari ini, nanti malam dia tidak akan dapat terlelap normal.


Tetapi tiba-tiba dia melihat sepasang ujung sepatu seseorang bertemu dengan sepasang ujung sepatu miliknya. Pemandangan itu sontak membuat dirinya langsung tersenyum lebar mengangkat kepala. Dia sudah yakin pemilik sepatu tersebut adalah Ibram. Sayangnya, begitu mengangkat wajah, Abel harus menelan harapan pahit itu, sebab kenyataan yang terjadi ialah bukan seseorang yang ada dalam pikirannya saat ini.


Senyumnya perlahan pudar, namun demikian, dia tetap berusaha mengukir senyum untuk Ray. “Kak Ray di sini juga.” Diikutinya pergerakan Ray yang duduk di sisinya.


“Kamu ngapain di sini?”


“Buat check up terakhir kali. Ada apa, Kak Ray?”


“Jadi aku nggak boleh datang ke sini, ya?” terdengar nada kecewa dari suara Ray.


Belakangan ini setiap langkah dan pergerakan gadis itu hampir selalu dipantau Ray langsung. Hal ini sejak hari di mana Abel mulai bertingkah dan mengabaikan dirianya. Hal utama yang memancing amarahnya ialah dimana adanya kehadiran seseorang yang sangat mengusik perasaannya. Seakan-akan Abel tidak lagi membutuhkan dirinya setelah kehadiran orang tersebut di hidup gadis itu. Fakta tersebut membuat dirinya merasa terganggu untuk mengakui Abel menomorduakan dirinya sekarang.


Abel meluruskan. Suaranya berhasil memecah pikiran Ray. “Boleh. Maksudnya, tujuan Kak Ray datang buat apa?” Abel merespons sabar.


Ray kembali menatap Abel. “Kamu ada waktu hari ini?”


Abel sempat termenung, pandangannya pun tertuju pada gedung rumah sakit, yang masih menolak memperlihatkan sosok Ibram. Dia pikir daripada tidak menanggapi Ray dan malah tercipta huru-hara lagi, dia pun memutuskan untuk menyambutnya. “Ada. Kita rencananya kemana emang?”


Ray tampak tersenyum mendengar jawaban Abel. Laki-laki itu bangkit dari bangku dan mengulurkan satu tangannya kepada Abel, agar gadis itu menyambut ulurannya.


“Kita berangkat.”


Abel memandang lama tangan laki-laki itu yang masih terulur ke depannya. Hal itu mengundang senyum samar di bibirnya karena ragu untuk menyambut. Tetapi keraguannya serta-merta terbaca oleh Ray dan laki-laki itu langsung menangkup pergelangan tangannya. Abel sempat tersentak dan berniat untuk melepasnya, namun diurungkan demi ketenangan di antara mereka.


Sementara Ray sudah berjaga-jaga jika Abel menolak genggaman tangannya, dia sudah mengeratkan genggaman pergelangan tangan mereka lebih cepat. Namun Ray merasa lega setelah melihat tak ada perlawanan dari Abel. Laki-laki itu tersenyum memikirkannya.


“Sebenernya kita mau kemana Kak?” Abel bertanya lagi untuk menyuarakan pertanyaannya yang masih menyisakan penasaran di dalam kepalanya. Sekarang, dia hanya bisa memandang punggung Ray. Meskipun mereka melangkah beriringan, namun Ray tetap selangkah di depannya.


“Kamu ada tugas hari ini. Tugas khusus.” Ray bicara misterius.


“Haa? Tugas khusus? Maksudnya?” Abel bingung.


“Abis ini kamu tau sendiri. Anggap aja kejutan.”


“Ooh.” Abel mengangguk-angguk, lalu pandangannya tanpa sengaja tertuju pada gedung pintu utama rumah sakit. Karena posisinya dan Ray sudah berada di lapangan parkir bersiap masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba langkah kaki Abel berhenti, begitu melihat Ibram sudah berdiri di sana seraya memandang ke tempat Ray memarkirkan mobil. Begitu pula dengan dirinya. Abel refleks melepas tangannya dari Ray.


Ray tampak berbalik hendak menegur sikap Abel barusan. Namun begitu sadar pandangan Abel jauh ke ke arah lain, air muka Ray perlahan berubah tegang, tanpa perlu dia melihat pun, dia sudah dapat menebak seseorang di dalam mata Abel saat ini.


“Abel, kita jalan sekarang.”


“Tapi Ibram,” sebelum Abel benar-benar mengambil langkah meninggalkan Ray lebih dulu, Ray sudah lebih cepat menangkup kembali pergelangan tangannya. Tindakan Ray barusan menahan pergerakannya untuk pergi ke tempat Ibram. “Kak Ray... aku mau ke sana, ke tempat Ibram.” Pintanya dengan memohon.


“Nggak bisa.” Ray mengatakan itu dengan wajah kaku, dia jelas tidak senang dan memaksa Abel masuk ke dalam mobil.


“Tadi aku emang lagi nunggu Ibram di sana.”


“Tadi. Bukan sekarang. Kamu udah janji buat ikut, kan?” Ray menyelesaikan kalimatnya penuh tekanan, sengaja untuk membuat gadis itu tertekan atas janjinya baru saja.

__ADS_1


“Pliiisss. Sebentar aja. Ada yang harus kami bicarain.” Pinta Abel dengan sarat memohon.


Ray masih tetap bersikeras pada pendiriannya. Dia sama sekali tidak mengindahkan permintaan Abel barusan. Malah dia bertindak lain, didekatkannya bibirnya ke telinga Abel, hingga membuat gadis itu langsung menunduk. “Kalo kamu nggak mau dokter itu dipukul lagi, kamu harus nurut!”


Abel tersentak. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya, cemas, mendengar ancaman Ray baru saja. Sehingga, mau tidak mau dia menurut dan mengangguk dengan terpaksa.


Ray tersenyum puas. Lantas dia memandang Ibram sesaat, untuk sengaja bersikap pamer pada Ibram ketika mengacak puncak kepala Abel. “Ayo.”


“Iya.” Suara Abel nyaris tidak terdengar. Sekali lagi Abel menyempatkan memandang ke tempat Ibram, sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah sakit. Kejadian serupa persis dengan perasaannya waktu itu, saat meninggalkan Ibram di kepulauan Seribu. Tanpa kalimat apapun.


***


Tiga puluh menit kemudian mobil Ray yang membawa Abel tiba di sebuah toko perhiasan. Tempat di mana Ray dan Cindy melakukan pemesanan cincin pertunangan pada desainer perhiasan di sana.


Ray keluar dari dalam mobil, disusul oleh Abel. Begitu Abel melihat Ray menghampiri seseorang yang tidak asing di depan toko perhiasan, Abel serta-merta menyadari bahwa seseorang tersebut ialah Cindy. Keduanya berpelukan dalam jeda waktu sesaat, sebelum berbarengan berganti memandang ke arah dirinya.


Dengan langkah pelan, Abel pun melangkah pelan seperti terpaksa menghampiri, keduanya−menyambutnya dengan suka cita, terutama Cindy. Sepupunya itu pun langsung memeluk dirinya dengan rasa senang yang terpancar dari wajah serta gestur gadis itu.


“Akhirnya lo terima juga undangan kami. Gue lega. Gue kayak ngerasa lo balik kayak Abel yang dulu lagi.” Ujar Cindy masih dalam pelukan mereka.


Abel tersenyum tipis. “Iya.” Responsnya singkat seraya menatap Ray sekilas.


Keberadaan Ray benar-benar membuat Abel tidak nyaman dan tertekan dalam situasi apapun. Laki-laki itu sama sekali tidak memberinya ruang kebebasan barang satu detik pun dari darinya. Sehingga Abel sepertinya harus bersikap awas untuk kenyamanan serta kebebasan dirinya sendiri mulai dari sekarang.


“Masuk, yuk? Lo harus kasih saran cincin tunangan yang bagus buat kami. Gue sama Kak Ray udah dihubungin sih sama desainer perhiasannya kemarin, ada tiga pasang yang udah fix. Cuma kami masih belum bisa tentuin mana salah satunya. Lo harus bantu pokoknya.” Terang Cindy lebih jauh. Terlihat dia sangat berharap Abel bersedia membantu.


“Emang gue bisa bantu gitu? Gue kan masih awam.” Balas Abel tak acuh.


Cindy mengangguk tegas. “Lo kan jago mix and match pakaian sendiri. Jadi gue juga yakin, lo punya mata yang bagus buat tentuin cincin tepat buat kami.”


“Ooh.” Abel manggut-manggut. “Nggak bisa jamin sih. Itu kan baju bukan cincin. Lagian kalo bicara tentang mata, mereka juga sering bisa salah.” Ungkapnya agak sengit. Kalimat itu lebih terdengar meluapkan rasa jengkelnya.


“Gue yakin kok lo bisa.” Cindy menekankan. Dia tetap sabar, meskipun sikap Abel dingin. Lantas Cindy pun merangkul Abel, mereka masuk berbarengan ke dalam toko perhiasan tersebut.


***


“Abel, gimana? Menurut lo yang mana?” Cindy menegur Abel yang asyik memandang perhiasan-perhiasan di depannya saat ini. Gadis itu membuat kursinya lebih rapat dengan Cindy untuk dapat melihat desain tiga pasang cincin di depannya.


Desain cincin pertama, yaitu dihiasi batu safir biru dengan band unik seperti anyaman. Lalu cincin kedua, yakni cincin emas yang tidak dapat Abel tebak jumlah karatnya, namun memperlihatkan barisan berlian berbentuk half heart pada keduanya, sehingga akan tampak menyatu apabila disatu dipadukan. Pada cincin terakhir, hanya band bagian sisi depannya saja dedaunan, sebagai pemanis, ditambahkan lima buah berlian.


“Jumlah berlian itu disesuaikan sama bulan kami tunangan.” Kata Cindy, menjawab tanda tanya yang terlihat jelas di wajah Abel.


“Ooh. Bagusnya sih yang ketiga, ada maknanya kan.” Ucap Abel final.


“Menurut kamu gitu?” terdengar suara Ray memastikan.


Abel menatap Ray sekilas. “Iya.”


Setelah sepakat mengambil desain cincin yang terakhir, mereka pun meninggalkan toko perhiasan dengan lega dan suka cita menghampiri perasaan masing-masing.


Tetapi Abel masih belum melepas Ibram dari pikirannya sejak tadi, sehingga memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Dia sudah memikirkan caranya sendiri ke sana, tanpa perlu mengundang perhatian Ray.


“Kak Ray antar kalian ke rumah. Pertama kamu. Terakhir Abel. Berhubung kami tetangga. Nggak pa-pa kan, sayang?” Kata Ray sambil membukakan pintu untuk Cindy di kursi samping kemudi. Pergerakannya itu bersamaan dengan tangan satunya menahan tangan Abel sesaat, ketika gadis itu hendak membuka pintu belakang. Setelah Cindy berada di dalam, Ray baru melaksanakan tujuannya. Membukakan pintu untuk Abel.


Tanpa berkata apapun pada Ray, atau sekadar mengatakan ‘terima kasih’ pada laki-laki itu, Abel pun lekas masuk ke dalam mobil.


Selama dalam perjalanan pulang, Abel masih memilih bungkam dan memandang ke arah luar, meskipun Ray dan Cindy tampak asyik berbincang, bahkan kadang melibatkan dirinya. Paling Abel hanya menanggapi dengan senyuman dan kata-kata singkat dan pendek, semacam ‘iya’, ‘nggak’, ‘mungkin’, ‘ooh’. Hanya sebatas itu.


***


Di rumah Cindy, Abel sempat bertemu dengan tante dan omnya, atau orang tua Cindy di halaman rumah mereka. Keduanya masih bersikap sama padanya, hangat dan lembut, berbeda jauh dengan mama dan papanya saat menyambut Cindy datang ke rumahnya. Dingin dan kaku.

__ADS_1


“Abel sehat kan? Tante udah lama nggak lihat Abel. Kamu jadi jarang ke sini.” Tantenya menyampaikan rasa sedihnya belakangan. Apalagi sejak ketegangan yang terjadi dalam keluarga mereka.


“Cindy yakin, abis ini Abel pasti rajin ke rumah kita lagi, Ma.” Cindy langsung merespons dengan suara yakin dan lepas.


“Abel usahakan, Tante. Soalnya mulai senin, Abel udah masuk kerja lagi. Udah dua minggu juga kan Abel istirahat.” Katanya menerangkan. Meskipun sebenarnya dua minggu tersebut tidak pantas disebut “istirahat” karena Abel lebih sering berada di luar rumah. Menciptakan kegiatan asyik lain yang dibuatnya sendiri.


Tantenya melepas senyum, makna yang Abel lihat yaitu gurat rasa bersalah pada senyum dan wajah itu. “Tante minta maaf kalo sikap Tante dan Om, juga Cindy, mungkin sudah menyinggung perasaan kamu selama ini.”


“Banyak sih Tante.” Kata Abel membuat air muka tante dan omnya, Cindy serta Ray tampak kaget.


Abel sangat menikmati wajah-wajah kaget itu sekarang. Namun dengan cepat dia mengubah ekspresi wajahnya. Perlahan senyumnya tampak tercetak di bibirnya. “Tapi udah berlalu. Abel udah maafin semuanya.” Ujarnya setelahnya, serta-merta menunjukkan kelegaan di wajah orang-orang di depannya sekarang. Padahal niatnya hanya bercanda, tapi malah gagal, karena dianggap menjadi hal serius.


“Salam sama papa kamu. Om nggak bisa lihat tali persaudaraan kandung kami selesai gara-gara masalah ini.” Terdengar suara omnya menyampaikan rasa rindunya pada sang adik─papa Abel.


“Iya, Om. Abel sampaikan nanti.”


Setelah itu, Ray dan Abel berpamitan untuk pulang pada Cindy serta kedua orang tua gadis itu. Ketiganya melepas Ray dan Abel sampai kendaraan roda empat milik Ray menghilang dari ujung jalan.


***


“Kamu suka sama dokter itu?”


Tiba-tiba suara Ray memecah pikiran Abel yang masih saja tak lepas dari Ibram. Dia sedang memikirkan cara agar Ray tidak terus mengawasinya, tetapi dia tak sadar bahwa keresahannya dapat dibaca oleh Ray sejak tadi. Bahkan kebisuannya yang menyiratkan dengan jelas.


“Iya?”


Ray mengangguk-angguk, wajahnya turut mengeras. “Itu udah cukup jadi jawaban kamu.” Ucap laki-laki itu, bahkan genggaman tangannya pada setir mengencang. Tanpa sadar, tangannya satunya berada pada kopling dan menginjak pedal gas semakin dalam, membuat jarum spidometer pun melesat cepat bergerak ke atas.


Abel menatap Ray yang fokus memandang ke depan. “Kenapa? Normal kan?” katanya santai. Apa yang perlu dikhawatirkan ketika wanita tertarik dengan pria? Bukankah itu alasan Tuhan menciptakan Hawa, karena Adam butuh teman, kekasih dan pasangan supaya nggak kesepian. Untuk Abel itu bukan jadi masalah yang mesti diperkarakan.


Lain dengan Ray.


Atas perkataan Abel barusan, justru memiliki efek kuat yang mengganggu pikiran Ray seketika. Laki-laki itu menginjak rem hingga menimbulkan bunyi decitan tajam, nyaris membuat tubuh Abel terlempar ke depan jika tangannya tidak langsung cepat menggapai dasbor.


Abel serta-merta menatap Ray kesal. “Kak Ray bisa nggak sih pelan-pelan?!” ungkapnya dengan nada marah. Gadis itu terlonjak keras setelahnya, karena Ray memukul setir dengan keras. Laki-laki itu menatapnya dengan sorot mata tajam yang tak biasa dan letupan amarah yang juga tidak dimengerti Abel.


“Kamu berani ya sekarang.” Ray mengatakan itu bersamaan gigi yang gemeletuk keras.


“Di mana salahnya penumpang minta pengemudi berhati-hati?! Di mana?!” suara Abel meninggi.


“Kamu salah! Salah!!!” Ray memukul berkali-kali stir mobilnya.


Abel menahan napas menyaksikan letupan amarah dari dalam diri Ray saat ini. Matanya melebar merasa shock dengan amarah yang seakan sudah lama dipendam oleh laki-laki itu.


“Apa sih maksud Kak Ray? Abel nggak paham. Bicara yang jelas. Bukan marah-marah nggak jelas kayak gitu.”


“Barusan itu apa?” suara Ray diredam, bahkan Abel bisa melihat tangan laki-laki itu mengepal dengan keras hingga buku-bukunya memutih. Tampak jelas bahwa laki-laki itu sedang menahan mati-matian amarahnya yang akan meledak.


Abel merasa tidak tahan. Dia tidak ingin terus berada di dekat Ray. Tampak tersirat jelas amarah besar di mata laki-laki di depannya saat ini. “Kak Ray berubah. Bukan seseorang yang Abel kenal dulu. Abel beruntung, bukan Abel di posisi Cindy sekarang.” Ucapnya dengan suara gemetar menahan tangis.


“KAMU!”


Abel tak mengetahui bahwa lapisan bening dari matanya telah jatuh dan menyusuri wajahnya yang pucat. Meskipun yang terlihat dia kuat dan berani menantang Ray, namun tubuhnya berkata lain. Begitu menyaksikan amarah besar dalam diri Ray sepanjang jalan, kelemahan dirinya sebagai wanita keluar tanpa keinginannya. Hal itu membuat Ray seakan baru sadar, bahwa tindakannya sudah terlampau jauh. Laki-laki itu merasa menyesal, akibat emosinya yang nyaris tak dapat dikendalikan olehnya, dia bisa kehilangan Abel sekali lagi.


Ray membuka seat belt dari dirinya, dia mengikis jarak antara dirinya dan Abel, lalu membawa gadis itu perlahan ke dalam pelukannya. Menenggelamkan gadis itu dalam-dalam yang entah mengapa membuatnya semakin tersiksa mendengar tangis itu pecah. Tubuh mungil itu berguncang dalam dekapannya, menciptakan rasa perih yang mencekik dalam dirinya, bahkan sesak yang membuatnya kian bersalah.


“Maaf. Tolong jangan begini.” Suara Ray begitu lirih tepat di puncak kepala Abel. Mengecup lembut puncak kepala Abel berkali-kali dan menenangkan gadis itu. Kini dia menangkup wajah pucat dan sembab gadis itu, menatap sepasang mata yang telah sayu itu dalam-dalam.


“Kak Ray.” Suara Abel serak. Menatap balik mata milik Ray yang telah berubah total. Berganti dengan sorot mata cemas dan lembut.


Membuat kedua tangan Abel bergerak tanpa perintah untuk melingkar di pinggang Ray, menenggelamkan dirinya dalam pelukan itu seperti yang sudah sering dilakukan laki-laki itu dulu. Kembali merasakan hangat dan rasa nyaman yang masih tersimpan erat dalam hatinya, yaitu cintanya untuk laki-laki itu.

__ADS_1


***


__ADS_2