Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 9 : WAKTU YANG SUDAH LAMA DINANTIKAN


__ADS_3

Abel merasa lega setelah berhasil lolos dari Ray yang mengamuk padanya. Abel mengembuskan napas berat dan akhirnya dapat menyandarkan punggungnya dengan tenang di badan kursi mobil Ibram. Tingkah Ray dan Cindy barusan sangat mengganggu dirinya. Entah apa mau dari kedua orang itu darinya, padahal dia sudah membuat jarak. Tindakan itu dia lakukan hanya ingin melindungi dirinya dari rasa perih yang masih menggerogoti batinnya sampai saat ini. Dia masih belum siap. Apa salah?


Abel kembali mendesah berat dan berpaling ke arah luar jendela memandang kosong jalan raya.


Suasana yang tercipta di dalam mobil Ibram sejak meninggalkan bengkel Hugo hening, yang terdengar hanya suara napas berat Abel dan mesin mobil serta kendaraan melintas di jalan raya. Tidak tercipta satu percakapan saja antara keduanya. Abel seperti lupa dengan keberadaan Ibram di sampingnya, sementara Ibram tidak ingin mengganggu pikiran Abel dengan kalimat-kalimat yang dibuat dengan tujuan basa-basi atau mencairkan suasana mereka. Sebab, Ibram pun merasa tidak pandai melakukannya.


“Jangan pulang.” Pinta Abel tiba-tiba, di setengah perjalanan menuju rumah gadis itu menggunakan SUV putih Ibram.


“Jadi, kamu kemana sekarang?” tanya Ibram membuat mereka tampak tak punya tujuan.



“Terserah, kemana aja, asal jangan pulang. Aku nggak mau ketemu dua orang itu sementara ini.” Jawab Abel masih tampak lemas dan pucat.



“Mama kamu pasti khawatir.” Kata Ibram dan sesekali menatap cemas Abel.



Abel menggeleng pelan. “Aku bisa kasih alasan sama mama nanti. Yang penting kamu bawa aku sekarang, jauh dari dua orang itu.” Ditatapnya Ibram kali ini. “Pliiisss. Mau, ya?”



Lama Ibram diam menatap Abel.“Oke.” Ibram akhirnya memberi kesanggupan, lalu dia memutar balik arah mobilnya di perempatan depan, menuju rumah sakit.


***


Tiga puluh menit kemudian mobil Ibram tiba di rumah sakit, diambilnya ruang parkir paling sudut dekat dengan pos jaga. Posisi itu tidak jauh dari sebuah pintu masuk, sehingga mereka tidak perlu melalui lobi utama rumah sakit.


“Kita ke rumah sakit?”kalimat pertama Abel yang keluar begitu tiba sana. Dia menahan senyum seraya memandang Ibram disampingnya.


“Iya.”


“Kenapa?”tanya Abel menatap Ibram.



Ibram tersenyum tipis menatap Abel seraya membuka pintu mobilnya.“Kamu sakit.”


Senyum Abel mengendur perlahan begitu mendengar ucapan tulus Ibram. Laki-laki itu sangat peduli padanya. Abel tiba-tiba jadi teringat dengan ucapan Hugo yang menduga Ibram benar memiliki perasaan untuknya.


“Ikut aku.”Ibram meminta Abel untuk keluar mobil dan berjalan di sisi kanannya.


Abel tersentak, kemudian buru-buru keluar dan hendak berjalan mendekati Ibram, namun tiba-tiba Abel merasa limbung dan terhuyung jatuh.


Ibram buru-buru berlari menghampiri Abel yang terduduk lemas di sisi ban mobilnya. Tanpa bertanya, Ibram langsung mengangkat tubuh Abel dengan kedua tangannya di depan.


“Maaf. Aku lancang ambil tindakan ini.”Ibram bicara di tengah langkahnya menuju sebuah pintu.


Mendengar itu akhirnya senyum Abel tercetak tipis, pandangannya pun jatuh pada bagian sisi kiri wajah Ibram.“Makasih banyak.”


Perlahan bibir Ibram bergerak pelan membentuk senyum. “Sama-sama.”Jawabnya tanpa menatap Abel.“Tolong buka pintunya.”Ibram pun meminta Abel merentangkan tangan pada handle pintu.


“Iya.” Abel mengangguk pelan, lalu menjangkau handle pintu.“Sampe kapan aku harus di rumah sakit?”



“Sehari cukup.” Jawab Ibram singkat.



Abel menggeleng pelan. “Besok aku nggak mau pulang. Aku belum punya rencana secepat itu.”



“Bel, tolong bantu buka pintunya lagi.” Pinta Ibram lagi, meskipun begitu Ibram tetap mendengar kalimat Abel sebelumnya. “Bukan pulang?”


“Nggak.”


“Ooh.”


Reaksi pelit Ibram barusan mengundang senyum Abel. Dia pun berencana membalasnya jika laki-laki itu memiliki pertanyaan padanya.“Sebentar.”Satu tangan Abel lekas menjangkau handle begitu mereka berada di depan sebuah pintu lagi. Pintu tersebut berhasil terbuka. Di dalam ruangan tersebut, Ibram membaringkan Abel hati-hati di atas brankar. Setelah itu, dia mengambil alat medisnya dari dalam sebuah lemari kaca. Laki-laki itu serta-merta segera melakukan tugasnya sebagai dokter.


“Kamu punya maag?”



“Iya.”



“Jangan anggap sepele.”



“Iya.”



“Ini aku lagi serius.”



“Tau.”



Ibram jadi menatap Abel yang memang sedang tersenyum menatap lurus padanya. Sejak tadi jawaban gadis itu begitu singkat dan pendek. Membuat kesibukannya pun akhirnya ikut berhenti.


Abel tersenyum puas. Rencananya berhasil. Dia memang sengaja melakukan itu. Dia ingin perhatian Ibram kembali padanya. Hal itu membuatnya merasa senang.


“Aku tebus obat kamu, sebentar.” Kata Ibram dengan cepat mengubah topik. Saat dia hendak berbalik, tangannya lekas ditahan oleh Abel.



“Di sini dulu. Serius. Aku juga udah baikan.” Abel memohon.


Cukup lama Ibram diam untuk menurut. Laki-laki itu pun duduk pada kursi di sudut ruangan, di depan sebua meja, menyibukkan diri sendiri dengan sebuah bolpoin dan buku catatan medis di meja tersebut. Kedua benda itu pun disimpan ke dalam laci meja, berganti menjadi Ipad.


Dalam diam, Abel mengamati Ibram dari tempatnya, setelah mengenal langsung, yang dia lihat, laki-laki itu tidak banyak atau memang tidak suka mengekspresikan perasaan. Abel bahkan tidak pernah mendapatkan laki-laki itu bicara banyak, atau bicara melalui sorot mata serta raut wajah yang biasanya dapat dilihat dan dirasakan kebanyakan orang pada lawan bicara. Hanya sesekali, itu yang ditangkapnya tadi ketika laki-laki itu memapah tubuhnya. Entah karena pelit atau memang sudah menjadi pembawaan laki-laki itu sejak lama.


“Dia aslinya kayak mana sih?” ucapnya sendiri, tanpa melepas pandangan dari Ibram sedetik pun.


Laki-laki itu selalu saja fokus pada ipad di tangannya, entah apa yang membuat laki-laki itu selalu saja sibuk dengan benda tersebut. Masalahnya tak ada ekspresi yang ditunjukkan dari wajah tersebut.


Abel pun langsung mengubah posisinya menjadi duduk di atas brankar. “Dok.” Tegurnya pelan, sikapnya itu pun berhasil menarik perhatian Ibram untuk lepas dari ipad.


“Ada apa? Ada yang sakit?”suara Ibram terdengar khawatir.

__ADS_1


Abel tersenyum. Dia senang menangkap sikap cemas Ibram.“Aku boleh ganggu? Kamu sibuk nggak?”


“Belum.”Ibram menjawab seraya melihat jam pada dinding ruangan.


“Bisa minta tolong?”


“Apa?”


Abel mengangguk senang, reaksi Ibram mengatakan laki-laki itu menerimanya. “Tolong telepon mama.” Gadis itu pun menyerahkan ponselnya yang sedang dalam keadaan mati pada Ibram. Bibirnya tersenyum karena rencananya berhasil, laki-laki itu pun beranjak dari kursi untuk menghampirinya di brankar.


“Sini HP kamu.”Ponsel Abel diterima Ibram, laki-laki itu menghidupkan ponsel Abel lalu menatap gadis itu.


“Nama kontaknya?”


“Heaven.”


“Thanks.”


Detik berikutnya Abel melihat Ibram menunjukkan layar ponselnya yang telah terhubung dengan nomor ponsel mamanya.


“Makasih.”


***


“Beberapa hari kayaknya. Pokonya Abel di luar dulu, Ma. Abel males pulang. Boleh, ya?”



“Sampe kapan? Di mana? Nanti papa cemas sama kamu. Mama nggak punya alasan ke papa.” Terdengar jelas suara mamanya cemas.



Abel tersenyum lembut mendengar suara mamanya yang selalu saja membuatnya tenang. “Mungkin sehari sebelum Abel mulai kerja lagi, Ma. Abel pastiin Abel udah di rumah.”



“Itu kan masih satu minggu lagi, Sayang. Mending kamu pulang aja. Kamu bisa tiduran di kamar.”



“Nggak bisa, Ma. Pasti Cindy dateng. Abel lagi nggak mau diganggu sekarang.”



Terdengar mamanya mendesah. Bukannya tidak sadar dengan tujuan putrinya itu untuk pergi dari rumah. Beliau tau betul karena semua mulanya dari situasi rumit antara tiga keluarga yang menimbulkan situasi tegang sampai hari ini.


“Yaudah. Tapi emangnya kamu nggak butuh pakaian buat ganti selama seminggu?”mama Abel akhirnya mengalah.


“Mama nggak bisa minta tolong orang rumah buat antar ke rumah sakit?”


“Rumah sakit?! Kamu sakit?”suara mama Abel terkejut.



Abel spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.“Abel numpang aja, Ma. Bukan sakit. Ada dokter Ibram di sini.” Abel menatap Ibram setelah selesai pada kalimatnya.



“Dokter Ibram? Apa hubungannya? Mama perhatikan kok kamu makin akrab sama dokter Ibram.” Mamanya tak sadar suaranya seperti berbisik.




“Yaudah tapi hati-hati. Mama bisa bicara sama dokter Ibram?”



Abel mengangguk lalu menyerahkan HP miliknya pada Ibram. “Dok, mama mau bicara.”



Ibram pun menerima ponsel Abel, kemudian didekatkan pada telinganya.“Halo?”



“Dokter Ibram ada sama Abel sekarang?”



“Iya, Bu. Kami di rumah sakit.”



“Nanti Ibu antar pakaian Abel ke rumah sakit. Boleh, Dok?”



“Boleh silakan, Bu.”



“Terima kasih banyak, Dok. Apalagi, sudah bersedia bantu Abel di situasinya sekarang. Dokter mau tidak mau malah ikut campur sama masalah pribadi Abel. Ibu jadi nggak enak sama dokter Ibram.”Mama Abel terdengar sungkan.



“Iya, Bu. Saya akan bantu selagi mampu.”



“Terima kasih sekali, Dok. Yaudah. Ibu siap-siap dulu.”



“Baik. Ibu langsung hubungi setiba di rumah sakit.”



“Iya, Dok.”



Sambungan telepon ketiganya pun berakhir. Ibram juga mengembalikan ponsel Abel kepada pemiliknya.



“Kamu... nggak keberatan kan aku repotin gini?”tanya Abel sungkan.


__ADS_1


“Nggak.”



Abel malah tersenyum geli. “Kamu tuh pelit ngomong ya. Susah banget lagi buat senyum.” Ungkap Abel akhirnya terus terang. Tetapi sekali ini Abel salah, karena Ibram akhirnya tersenyum efek dari ucapannya barusan.



“Aku senyum.” Kata Ibram membela diri. Jarinya bergerak melingkar membentuk senyum di depan bibirnya.


Abel sontak tertawa geli.“Baru ini, kan?” ditunjuk Abel wajah merah padam Ibram.


Ibram tak mampu menyembunyikan perasaannya sekali ini. Bibir laki-laki itu terus tersenyum karena ulah usil yang dilakukan Abel padanya. “Ada yang lucu?”


“Ya kamulah.”Abel terus menunjuk wajah Ibram.


Tiba-tiba Ibram menangkup jari telunjuk Abel di depan wajahnya, lantas diturunkannya tangan gadis itu perlahan ke bawah. Saat hendak melepas tangan mereka, gantian Abel yang menahan cepat tanpa melepas tautan jari mereka.


“Kamu tuh emang gitu, ya? Maksud aku... irit bicara sama ekspresiin perasaan sendiri di depan orang lain.”



Ibram terdiam, air mukanya kembali serius.“Aku gitu, ya?” sebelah alisnya terangkat.



“Jadi kamu nggak tau?!” mata Abel sampai melebar mengatakannya.



“Aku tau.” Balas Ibram pendek. Pandangannya saat ini berpindah pada tangannya yang masih bertautan dengan tangan Abel. Gadis itu seperti menolak melepasnya. Entah sengaja atau tidak.



“Serius tau?” gadis itu terkejut.“Artinya betul, ya?Kamu irit bicara.”Katanya puas karena dugaannya benar. Belum satu jam dia bersama Ibram, tetapi laki-laki itu berhasil membuatnya tenang dan melupakan dua orang yang tidak ingin dia sebut namanya untuk saat ini.


“Kata siapa?”


“Kamu barusan.”


“Aku becanda.”


“Becanda apanya, sih? Mana ada becanda ekspresi kamu serius gitu.”


“Yaudah. Lepasin tangan aku sekarang.”


“Nggak mau.”Abel malah jahil pada Ibram.



“Pliss.”



“Nggak.”Abel malah sengaja mengurung tangan Ibram dalam dekap kedua telapak tangannya.



Sementara Ibram sudah kewalahan dibuat ulah Abel, namun Ibram tetap tenang menghadapinya, dia malah tidak ingin mengambil tindakan sendiri menarik tangannya untuk menyakiti perasaan gadis itu.



“Jadi, dilepasin nggak, niiihh?”


“Mm.”


“Senyum dulu, dooongg. Kayak gini.”Abel kemudian menunjukkan barisan gigi putihnya di depan Ibram.“Kalo nggak mau ya nggak aku lepasin.”Abel seolah sengaja, menahan tautan jemari mereka, gadis itu sangat ingin membuat laki-laki itu mengeskpresikan perasaannya.


“Yakin? Kamu nggak menyesal?”suara dan raut wajah Ibram tiba-tiba berubah serius. Ibram perlahan menarik kembali jemari mereka, Abel tak juga mau melepaskan. Meskipun begitu, sebenarnya bisa saja Ibram melakukannya dengan sekali gerakan lebih keras. Tapi tidak untuk perempuan.


“Ada yang mau aku tanya sama kamu, kalo kamu mau aku lepasin tangan kita.”


“Apa?”


“Waktu aku kecelakaan... selain dokter Surya, kamu juga ada di ruang operasi, kan?” tanya Abel, suaranya kembali normal.


“Iya.”


“Kenapa nggak kamu jelasin? Waktu di bengkel bang Hugo. Kamu cuma minta aku habiskan obat. Mana aku paham maksud kamu.”


“Aku khawatir waktu itu. Baru sehari keluar rumah sakit, kamu langsung beraktivitas.”


Senyum Abel perlahan muncul di bibirnya. Sekali lagi dia dapat merasakan sikap peduli laki-laki itu untuk dirinya.


“Makasih.”Akhirnya melepas tautan tangan mereka.


“Sama-sama.”


“Waktu aku siuman, juga hari-hari berikutnya, kenapa ya aku nggak pernah lihat kamu? Selalu dokter Surya. Jujur aku shock banget waktu tau kamu juga salah satu dokter aku.” Abel tetap bertanya meskipun tautan jari mereka sudah lepas.



“Aku... datang di waktu kamu tidur.” Jawab Ibram tanpa berani menatap Abel.


“Sengaja? Supaya aku nggak tau?”


“Sama sekali nggak. Dokter Surya adalah dokter utama kamu. Jadi itu memang tugas beliau. kecuali, beliau yang minta digantikan. Ketika waktunya aku diminta ke kamar kamu, sayangnya kamu tidur.”Ibram menjelaskan keberadaannya saat itu.


“Akhirnya aku tau juga.” Abel manggut-manggut puas. Rasa penasarannya selama ini akhirnya terjawab.



Perbincangan keduanya tiba-tiba harus berhenti ketika mendengar bunyi dering ponsel Abel. Gadis itu menjawab panggilan telepon dari mamanya yang mengatakan telah berada di lapangan parkir rumah sakit.



“Aku keluar dulu temuin mama.”Abel turun dari atas brankar dan berjalan menuju pintu.



“Hati-hati.”



“Iya.”



Setelah Abel berada di luar jauh darinya, Ibram justru terhuyung dan merasa lemas tiba-tiba, dia menyentuh bagian kiri dadanya, tepat pada tempat yang menyimpan sejuta perasaan setiap manusia ketika memilih diam.

__ADS_1


***


__ADS_2