Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 16 : TAKUT DAN KECEWA


__ADS_3

Hari itu akhirnya Abel ikut ke rumah Hugo dan Reni.


Keduanya lekas masuk ke dalam pekarangan rumah bercat abu-abu dan putih tersebut, pagar catnya berwarna hitam setinggi dua meter didorong Afreni.


Rumah itu tampak sepi. Setelah berada di dalam, Afreni mengajak Abel masuk ke ruang makan. Keduanya duduk berseberangan, dibatas oleh meja bundar tempat Hugo dan Afreni sarapan setiap pagi.


Abel memandang seluruh ruang semi outdoor tersebut, yang memperlihatkan halaman samping dan belakang yang asri, karena dindingnya seperti sengaja dibuat dari kaca, serta lantai dinding dihias oleh gorden putih yang dibuka lebar-lebar.


“Ray yang desain rumah ini.” Kata Afreni memecah pikiran Abel. Dia menjawab perhatian Abel ketika sedang memperhatikan setiap sudut rumah.


“Ooh.” Abel mengangguk-angguk. Abel tak bisa mengelak, bahwa setiap desain yang dibuat oleh tangan Ray selalu mengesankan. Bakat laki-laki itu dalam bidang arsitektur patut diacungi jempol.


“Bel.” Suara dan sentuhan tangan Afreni membuat Abel tersentak dari pikirannya.


“Iya, Kak?” Abel jadi kikuk, karena Afreni menatapnya begitu intens. Raut wajahnya pun berubah tegang.


“Kak Reni perhatiin, hubungan kamu, Ray, sama Cindy jadi tegang sekarang. Kenapa? ”


“Ooh...” Abel pun tersenyum tipis. “Abel nggak suka cara kak Ray sama Cindy.” Tanpa peduli status Afreni adalah saudara Ray. Dia mengungkap terus terang rasa kesal dalam hatinya.


Afreni mengangguk paham.“Emangnya mereka gimana? Ganggu kamu, kah?”


“Sangat ganggu. Abel merasa dikasihani, Kak. Diatur-atur. Abel nggak suka aja sama cara mereka, Kak. ” Bukan hanya kalimat dan suaranya, bola matanya pun serupa kesal.


Afreni terdiam sesaat.“Kamu masih sayang kan sama Ray?”


Abel terkejut dan sempat lama membisu mendengar pertanyaan Afreni barusan. Meskipun tidak perlu dijawab, Afreni pasti tahu jawabannya. Abel yang telah lama meringkuk sakit menahan perasaannya pada Ray. Bahkan waktunya habis menceritakan Ray di depan Afreni tanpa rasa malu dan sungkan. Namun akhirnya dia sadar, bahwa dia hanya ada di sebelah pihak selama ini.


“Oke. Jangan paksa diri kamu buat jawab.” Kata Afreni mengusap-usap lembut punggung tangan Abel di atas meja. Afreni pun bangkit dari kursi menuju lemari pendingin, diambilnya satu gelas air lalu diletakkan di depan Abel.


“Makasih, Kak.” Abel pun meminum air di depannya, lalu mengembuskan napas berat.


“Kamu udah yakin sama diri sendiri? Ray sama Cindy bersatu? Kamu nggak mau coba satu kali kesempatan lagi. Siapa tau Ray salah menempatkan hatinya.”


“Maksud Kak Reni?”


“Jangan diambil hati. Kak Reni cuma asal bicara.”


Abel mengangguk-angguk. Dia tampak menundukkan kepala dalam diam cukup lama untuk bicara lagi.“Abel masih belajar ikhlasin. Cuma, ya mereka aja masih resek ganggu Abel. Apa marah, salah Abel Kak? Abel menjauh bukan benci mereka, kok. Abel cuma lagi berusaha melindungi diri sendiri dari kenyataan yang ada sekarang. ”Abel tampak emosional.


“Ssshhh... Nggak ada yang benar. Kalian sama-sama salah. Kalian selalu pake emosi setiap berhadapan. Ini masalah sebenarnya dari kalian.”Kata Afreni penuh tekanan.


“Maaf, Kak. Abel cuma nggak suka diganggu mereka terus-terusan.”


“Ganggu gimana maksud kamu?”


“Abel pengin bebas, Kak. Abel harus cari hiburan buat diri sendiri sekarang ini. Tapi mereka kayak nggak suka lihat Abel bahagia. Setiap urusan Abel justru mereka ikut campur.” Ungkapnya berapi-api.


“Ray sama Cindy juga ngakuin rasa kecewa mereka tentang kamu. Mereka cerita sama Kak Reni dan Bang Hugo.”


Abel terkejut mendengar itu. “Masa sih, Kak?”


“Iya. Mereka nggak mau kamu berubah. Kalo kamu ikhlas, bersikaplah jadi diri kamu biasanya. Jangan coba-coba jaga jarak atau menciptakan huru-hara kayak sekarang. Mereka nggak suka.”


“Tapi hidup Abel diatur sama mereka, Kak. Abel bergaul sama siapa, mereka harus tau. Sikap mereka itu ngelebihin mama dan papa Abel di rumah. Orang tua kandung Abel sendiri.”


“Jangan sinis gitu.” Afreni tampak tidak senang atas reaksi Abel.


Abel mengembuskan napas keras.


“Mereka nggak lama lagi tunangan. Kalo bisa, tolong bantu mereka, harusnya kasih saran. Coba bersikap kayak dulu lagi, Bel. Nggak susah, kan?” ditatapnya Abel yang masih menyiratkan amarah dari sepasang mata gadis itu.


“Nggak tau deh, Kak. Abel masih sangsi.” Respons Abel masih tampak kesal. Pandangannya diarahkan ke halaman luar rumah Afreni, tanda bahwa dia tidak lagi ingin membahas Ray dan Cindy.


Afreni tersenyum. Dia paham perasaan Abel yang sedang sensitif saat ini, apalagi berhubungan dengan Ray dan Cindy. Afreni tidak akan memaksa Abel lagi untuk bicara lebih jauh. Afreni khawatir Abel ikut salah paham pada dirinya nantinya.


Hanya berlangsung sebentar kebisuan yang tercipta di antara keduanya. Kemudian suasana itu tiba-tiba buyar saat mendengar satu suara datang dari pintu utama. Keduanya menoleh memandang ke arah datangnya sumber suara tersebut. Tak lama, pemilik suara itu menunjukkan dirinya. Kehadiran seorang wanita paruh baya yang tidak asing─ibu dari Afreni dan Ray.


“Abel ada di sini.” Wanita paruh baya itu tersenyum hangat menyapa Abel sambil meletakkan dua buah kantong belanjaan di atas meja. Sikapnya tetap seperti biasa, meskipun hubungan beliau dengan mama dan papa Abel tidak lagi harmonis seperti sebelumnya.


“Iya, Tante.” Abel mengangguk sopan dan menyalami tangan beliau.


“Apa kabar? Udah lama Tante nggak lihat Abel.” Mama Ray pun mengambil tempat duduk pada kursi di sebelah Abel.


“Baik. Tante sehat?” tanyanya balik.


“Iya. Tante sehat, Nak.” Jawab mama Ray lembut.


“Syukurlah. Oh iya, Abel nggak bisa lama-lama, Tante. Abel masih harus ke bengkel bang Hugo. Di sana ada mobil Abel.” Terangnya seraya bangkit dari kursi.

__ADS_1


“Buru-buru gitu.” Afreni langsung merespons kecewa.


“Iya, Kak. Maaf.” Sesal Abel.


Afreni mengangguk mengerti. “Yaudah, Kakak pesenin ojek, ya? Biar nggak terlalu capek.”


“Nggak, Kak. Abel jalan kaki aja. Biar sekalian jalan-jalan.” Tolaknya halus.


“Yakin?” tanya Afreni sangsi.


“Iya, Kak.” Abel mengangguk tegas. Pandangannya berganti pada wanita paruh baya di sampingnya, disalaminya tangan beliau lagi. “Abel duluan, Tante.”


Mama Ray mengangguk, tetapi tidak langsung melepas tangan Abel. “Kita bicara sebentar di luar.” Ucapnya agak pelan.


Senyum Abel pun perlahan mengendur mendengar itu. Perasaannya tiba-tiba kurang baik. Tapi sudah terlanjur, sehingga mau tidak mau dia pasrah turut dengan mama Ray menuju teras.


“Boleh, Tante.”


Lalu mama Ray memandang Afreni. “Ren, Mama bawa bahan-bahan masak. Kamu susun dulu ke dalam lemari es.” Pinta mamanya. Membuat Reni paham bahwa mamanya tidak ingin dia turut dalam pembicaraan tersebut.


“Yaudah, Ma.”


***


“Kabar papa sama mama kamu gimana? Mereka sehat?” pertanyaan pertama yang Abel dengar dari mama Ray, setelah mereka duduk lima menit lalu dalam kebisuan.


Abel tersenyum. “Iya sehat, Tante.”Jawab Abel kaku.


“Kirim salam sama mereka. Tante nggak berharap ada ketegangan antara orang tua kamu, orang tua Cindy, Tante serta om. Kita semua keluarga. Selamanya tetap keluarga.”


Abel mengangguk. “Abel juga sama Tante.” Lalu Abel merasakan tangannya tiba-tiba digenggam oleh mama Ray. Membuatnya harus menatap mama Ray yang juga sedang menatapnya lurus-lurus.


“Tante dan om minta maaf, kami nggak pernah pilih kamu. Mungkin kamu merasa diabaikan selama ini. Tapi, semua nggak salah sebenarnya, Nak. Itu sudah jadi keputusan kami sebagai orang tua Ray.”


Abel kembali mengangguk, namun lebih pelan dari sebelumnya. Menelan rasa sakit yang bertubi-tubi menusuk perasaannya saat ini. Dia takut sekali apabila air matanya tumpah sekarang. Ditahannya mati-matian hal yang menyesak dadanya saat ini.


“Sejak awal kenal Cindy, Tante dan om sepakat... akan menjadikan Ray dan Cindy pasangan di kemudian hari. Beruntung sekali, tanpa harus capek menguras tenaga kami untuk mendekatkan keduanya, mereka malah sudah saling tertarik sejak lama.” Ada nada puas terdengar dari suara beliau saat mengatakan itu.


Hal itu semakin membuat tenggorokan Abel tercekik dan kepalanya tertunduk dalam. Dia takut air matanya tiba-tiba menutup seluruh bola matanya yang terasa mulai memanas.


“Iya Tante.” Abel menyahut dengan suara lirih.


Abel menggigit bibir bawahnya. Dia takut menangis. Baru sekarang dalam hidupnya dia takut akan menangis.


“Kamu paham, kan?”Mama Ray bukannya tidak tahu. masalah itu. Nyaris setiap waktu dia menyaksikan Ray dan Cindy tidak dapat bekerja dengan tenang. Apalagi membahas soal pertunangan. Keduanya selalu saja cemas dan membicarakan Abel tanpa henti. Bukannya tidak senang, namun mama Ray ingin putranya dan Cindy tidak menjadikan Abel sebagai pusat perhatian mereka saat ini. Di mana saat ini seharusnya mereka fokus pada pertunangan.


Abel mengangguk. Hanya itu yang dapat dilakukannya ketika merasakan ganjalan besar mencekik lehernya.


“Jangan lupa, kamu juga harus hadir di pertunangan mereka nanti. Undangan untuk papa dan mama kamu menyusul.”Kali ini mama Ray mengusap lembut bahu Abel.


Abel kembali mengangkat wajahnya. “Kapan... Tante?” tanyanya dengan suara terputus.


“Masih dua minggu lagi. Tante hanya mengingatkan Abel. Tante khawatir Abel menolak hadir. Apalagi sampai menjadikan ketegangan keluarga kita sebagai alasan nggak datang.”


“Hmm.”


Setelah meninggalkan rumah Afreni, Abel tak mampu lagi membendung air mata dan tangisnya yang ditahan mati-matian sejak tadi.


Gadis itu tiba-tiba merasa lunglai dan berjongkok, membenamkan wajahnya menghadap bumi, menahan rasa perih yang menikam jantungnya. Membuatnya ingin menjerit kencang meluapkan amarah yang menekan dadanya saat ini.


Di tepi jalan dekat dengan semak-semak tinggi di sisi kanannya. Gadis itu tak mempedulikan suara klakson yang menjerit di sekitarnya, entah karena melihat dirinya, atau sedang ada kendaraan lain datang dari arah berlawanan. Guncangan dari bahunya semakin meyakinkan orang-orang yang berlalu-lalang di jalan, bahwa Abel benar-benar sedang menangis.


Ketika merasakan sentuhan lembut di bahunya, Abel mengangkat kepala, memperlihatkan wajahnya yang merah dan sembab pada seorang wanita asing di depannya.


“Kamu nggak apa-apa?”


Abel lekas menghapus air matanya, dengan suara serak dia menjawab. “Iya, Bu. Saya baik-baik aja. Permisi.” Ucapnya sopan kemudian melalui ibu tersebut.


Abel masih menangis dan menghapus bulir bening yang mengalir di wajahnya dengan suara tangis halus, sementara dia melangkah terus di tepi jalan.


Bukan pertunangan itu yang membuatnya menangis sejadi-jadinya sekarang, melainkan penolakan terang-terangan atas dirinya untuk Ray yang dikatakan mama laki-laki itu tadi. Membuatnya semakin putus asa, meskipun tadinya Ray tidak memilih Cindy, orang tua laki-laki itu tetap berpihak pada sepupunya.


***


Abel bangun pagi-pagi sekali, matanya masih bengkak akibat menangis kemarin dan masih berlanjut hingga larut malam. Kepalanya pun terasa berat dan membuatnya nyaris jatuh dari atas kasur. Dilihatnya jam beker di atas meja yang menunjukkan lima lewat tiga puluh menit, gadis itu segera bangkit dari atas kasur menuju kamar mandi.


Wajahnya dibasuh dan digosok menggunakan kosmetik pencuci wajahnya yang tersusun rapi di atas wastafel, kemudian menyikat gigi. Abel mengembuskan napas lega setelah melihat wajahnya sedikit cerah di cermin. Lalu keluar dari sana menuju lemari, untuk mengambil pakaian training miliknya. Abel memutuskan pergi jogging di sekeliling blok agar suasana hatinya sedikit membaik.


Usaha itu seolah cara mengganti udara dalam paru-parunya yang terasa sesak sejak kemarin.

__ADS_1


Abel menuruni anak tangga lantas menuju dapur, satu gelas air putih dia habiskan, lalu satu botol air lain dia ambil untuk menekan rasa hausnya selama berkeliling dari blok satu ke blok lainnya.


Dihampirinya mamanya dan asisten rumah keluarganya─bik Sumi yang sedang sibuk memasak di dapur.


“Pagi, Ma.” Abel mencium sebelah pipi mamanya.


“Udah bangun?” tanya mamanya tanpa menaruh curiga, karena ketika Abel pulang, mamanya sudah terlelap di kamar. Abel sengaja pulang malam dan tentunya menghubungi mamanya dulu agar tidak menimbulkan kecemasan.


“Iya, Ma. Badan Abel gampang capek sekarang. Kayaknya butuh olahraga.”


“Yaudah buruan sana. Supaya pas check up besok kamu kelihatan fresh.”


“Yaampun iya juga. Abel jadi lupa gitu, Ma.” Abel baru ingat bahwa besok adalah jadwal terakhirnya melakukan check up kembali di rumah sakit. Dia berharap semoga ada kesempatan bertemu dengan Ibram di rumah sakit besok.


“Mau Mama masakin sarapan apa abis jogging?”


“Apa aja deh, Ma.”


“Yaudah. Hati-hati sayang.”


“Siap, Maaa.”


***


Setelah berkeliling, Abel berhenti di sebuah tanah lapang. Ini putaran hitungan belasan, yang Abel lakukan pada tanah lapangan rumput hijau itu. Letaknya di sisi taman bermain anak-anak perumahan rumahnya.


Sudah lama berputar, Abel seolah sengaja mengabaikan sesak yang tidak sebanding dengan perasaan yang mengganggunya belakangan. Meskipun mulai dirasakan sejak masuk dalam putaran ke tujuh bahwa rasa lelah sudah menerpa dirinya. Bahkan, keringat di tubuhnya pun telah bercucuran, dan rambut yang dikuncir kuda ikut menyerap keringatnya.


Akhirnya tubuh Abel menyerah. Abel merasa lemas tak terkendali lagi, sehingga membuat dirinya kehilangan keseimbangan karena tak sanggup menahan sesak di dadanya. Gadis itu pun jatuh, kedua lutut dan telapak tangannya membentur rumput hijau di bawahnya. Menahan tubuhnya agar tidak ikut ambruk ke bumi.


Sebuah botol air mineral, dapat Abel rasakan disodorkan seseorang ke depannya. Abel mengangkat wajah lelahnya dan memandang orang tersebut.


Abel tersentak ketika melihat Ray sudah berdiri di hadapannya seraya mengulurkan tangan ke depan, bermaksud membantu dirinya untuk berdiri. Sempat ragu, tetapi akhirnya Abel menyambut tangan laki-laki itu. Dia tidak akan berusaha menghindar lagi. Dia harus mulai terbiasa menghadapi kenyataan pahit itu sekarang.


“Diminum airnya.” Ray menunjuk botol yang masih digenggam Abel.


Abel pun melakukannya hingga air dalam botol tersebut ludes tak tersisa. Setelahnya dia membuang botol kosong tersebut pada tong sampah berwarna merah di sisi kirinya dengan lemparan tepat mengenai sasaran.


Setelah itu, mereka memutuskan duduk bersama pada salah satu bangku taman di bawah pohon rindang yang menghadap lapangan hijau. Menikmati terik matahari yang mulai terasa membakar kulit meskipun masih pagi, pun embusan angin yang kadang terasa di kulit mereka.


“Getting better?”


“Hmm.”


Ray tersenyum menatap Abel. “Aku lega, kamu bersikap dewasa sekarang. Nggak perlu lagi ada adu mulut dan otot macam kemarin dan kemarinnya lagi juga kemarin... kemarin lagi dan ke─”


“STOP! Udah ya.” Abel langsung memutus kalimat Ray yang membuat laki-laki itu mengukir senyum. Laki-laki itu memang sengaja melakukannya, agar suasana di antara mereka sedikit mencair.


“Bel.”


“Iya?”


Ray tersenyum lega karena akhirnya Abel tidak menjerit kencang dengan volume suara keras untuk menolaknya.


“Kayak udah lama kamu nggak seramah ini.”


“Ooh.” Abel mengangguk samar.


“Mulai hari ini, jangan hindarin aku lagi. Itupun kalo kamu nggak kapok lihat aku macam orang gila kayak kemarin.” Ada tekanan kuat dan dominasi dari suara Ray barusan.“Kamu bisa janji, kan?” suara Ray kembali terdengar karena Abel belum merespons.


“Aku usahakan.”Jawab Abel dengan senyum hangat.


“Akhirnya,” ada kelegaan dari suara Ray. Membuat Abel menatapnya. Ray menjelaskan kalimatnya barusan.“Bahasa kasar kemarin kamu tinggal juga.” Jelasnya, sehingga wajah Abel jadi merah padam.


“Maaf, ya.”


“Aku juga.”


Mendengar Ray menyahut cepat rasa sesalnya atas sikap kekanak-kanakan dirinya waktu itu, Abel menatap laki-laki itu dengan senyum yang perlahan tercetak di bibirnya.


Pun Ray, tangan laki-laki itu terulur ke puncak kepala Abel, namun gadis itu lekas menghindar, sehingga senyum laki-laki itu lenyap seketika.


“Kita pulang aja, Kak. Udah jam delapan.” Ucap Abel seraya beranjak dari bangku, sempat membuat Ray tercenung cukup lama, dan buyar setelah mendengar suara Abel lagi. “Ayo, Kak Ray.”


“Iya.”


Abel berada tiga langkah di depan Ray yang berjalan santai dengan kedua tangan tenggelam ke dalam saku celananya, memandang Abel yang memunggungi dirinya. Tetapi pikiran Ray masih belum lepas atas reaksi Abel barusan padanya. Itu bukan sikap menghindar seperti sebelumnya, ini seperti bentuk penolakan yang tidak dapat dipahami dirinya sama sekali.


Ray gagal paham. Dia tidak sadar bahwa Abel menghindar bukan karena dia tidak suka atas kebiasaan yang dilakukan laki-laki itu seperti dulu. Namun, keadaan mereka telah berbeda sekarang. Laki-laki itu tidak akan bisa dia perlakukan sebebas dulu, sebab ada wanita lain di luar sana yang harus dia jaga perasaannya. Orang itu adalah sepupu Abel sendiri. Meskipun harus menekan dalam-dalam perasaan bergejolak yang semakin membuat hatinya tidak tenang, serta sulit memejamkan mata setiap malam.

__ADS_1


***


__ADS_2