
Abel keluar dari taksi lantas langsung berlari cepat dan masuk ke dalam bangunan rumah sakit. Dia memutuskan berhenti sesaat di tempat pelayanan dan pendaftaran administrasi. Tepatnya pada ruang bercat krem dan putih. Ruang yang disebut lobi itu tampak sedang disesak oleh banyak keluarga serta pasien yang sedang menunggu. Mereka semua berkumpul di setiap barisan kursi tunggu yang tersedia.
Abel langsung buru-buru menghampiri suster yang berjaga dengan napas yang masih terengah-engah, Abel pun mulai bicara.
“Suster.”
“Iya ada yang bisa dibantu?”
“Dokter Ibram. Tugasnya sudah selesai?”
“Sebentar saya cek.” Suster itu pun mencari informasi terkait dokter Ibram di layar komputernya.
“Cepet, Sus!” Abel mendesak dengan perasaan cemas yang menyelimutinya. Dia khawatir Ray datang ke rumah sakit, makanya dia sesekali-sekali menoleh ke lobi di belakangnya, takut-takut Ray muncul di pintu utama rumah sakit. “Gimana, Sus?”tanya Abel lagi tak sabaran.
“Dokter Ibram mungkin sudah masuk ke ruang operasi sekarang, setelah itu beliau harus mengadakan rapat dengan Tim DPJP. Mungkin tugas beliau kira-kira baru selesai larut malam.”Terang suster tersebut dengan rinci dan jelas pada Abel. Seketika Abel lemas mendengar informasi tersebut.“Ada lagi yang bisa dibantu?”Suster bertanya kembali pada Abel.
“Saya bisa tinggalin pesan buat dokter Ibram?”suara Abel sudah berubah pelan.
“Silakan.” Suster menyertai dengan anggukan.
“Pinjam bolpoin sama kertasnya, Sus.”
Abel menerima sebuah bolpoin dan secarik kertas dari suster tersebut. Setelah itu dia menulis barisan kalimat, kemudian Abel menyerahkan kembali kertas di tangannya pada suster.
“Mohon dijelaskan, saya harus bilang apa sama dokter Ibram?” tanya suster.
“Kasih saja kertas ini selesai tugasnya. Dokter Ibram pasti paham maksud saya, Sus.”
“Baik.”
“Terima kasih, Sus.”
Setelah itu Abel segera masuk melalui lobi rumah sakit, Abel menyusuri setiap lorong koridor yang sempat membuatnya bingung dan hilang arah mencari ruang kerja Ibram. Sebab tadi, Ibram tidak membawa dirinya melalui lobi, melainkan jalan khusus. Untungnya kehadiran seorang suster tak jauh di depannya, membuatnya tak perlu berpikir panjang untuk bertanya. Setelah mendengar saksama penjelasan dari suster itu, Abel akhirnya berhasil menemukan ruang yang dicari.
“Akhirnya.”Abel merasa lega menemukan pintu ruang kerja Ibram. Dibukanya pintu itu lalu masuk ke ruangan.
Setelah berada dalam ruang kerja Ibram, Abel buru-buru mengambil koper berisi pakaian gantinya, sekalian sling bag serta ponselnya dari atas brankar.
__ADS_1
Abel memutuskan harus segera meninggalkan rumah sakit karena keberadaannya sejak awal telah dipantau oleh Ray dan Cindy tanpa sepengetahuannya. Sebelum keduanya berhasil menemuinya kembali di tempat yang sama, dia harus lebih dulu meninggalkan rumah sakit. Menuju suatu tempat yang tidak dapat ditebak oleh Ray dan Cindy untuk sementara waktu.
Sejenak pandangannya tertuju pada meja kerja Ibram. Dia ingat, laki-laki itu meletakkan kamera yang pernah dipinjamnya di sana. Abel mendekat ke meja tersebut yang di atasnya terdapat sebuah foto memajang potret Ibram dengan SUV putih membelakangkan pantai, tetapi dia sedang buru-buru, pikirannya tak bisa fokus ke sana lagi.
Kemudian dia mencari-cari letak kamera di dalam salah satu dari enam buah laci di balik meja. Kunci setiap laci terselip pada lubang kunci, sehingga dia tak perlu susah payah membongkar paksa setiap laci.
“Mana kameranya, ya? Di mana dia simpen?”Abel bicara sendiri terdengar tidak tenang dari suara serta sikapnya sambil membuka laci satu per satu.
Akhirnya pada laci ketiga, Abel berhasil menemukan tujuh buah kamera berbeda serta ipad yang biasa Ibram gunakan.
Kamera pertama adalah kamera saku berwarna silver yang terdapat warna biru pada setiap tepian vertikal serta horizontalnya. Kemudian untuk kamera kedua adalah kamera polaroid berwarna putih, kamera ketiga yaitu jenis camera recorder berwarna hitam, sementara kamera keempat yaitu jenis kamera waterproof, ada juga tiga buah kamera serupa, yakni DSLR dari merk berbeda.
“Oh my God! Banyak banget kameranya! Ini belum semuanya dari cerita bang Hugo.”Abel geleng-geleng sesaat sembari memandang seluruh kamera tersebut. Dari yang musim lama hingga terbaru, ada di dalam laci tersebut. Tersusun rapi, terawat, dan bersih.
“Dia segila ini sama kamera?”Abel menyentuh satu per satu benda di hadapannya dengan jemarinya.“Dia punya semua jenis. Ada... satu, dua, tiga, empat, lima... tujuh!” jeritnya pada diri sendiri dengan suara kencang secara tak sadar. Abel berdecak-decak. Dia terkesima dengan sebagian koleksi itu.
Lantas diambilnya salah satu kamera DSLR yang pernah dipinjamnya saat itu, lalu memasukkan benda itu ke dalam pouch yang tersusun di laci. Setelah itu, Abel keluar dari ruang kerja Ibram melewati jalan yang sama dengan jalan saat Ibram membawa dirinya masuk ke dalam rumah sakit.
Dari sana, Abel masih harus melewati ruang parkir rumah sakit yang luasnya bukan tanggung-tanggung. Dengan perasaan gelisah dan pandangan tak berhenti bersikap awas, Abel akhirnya berhasil berada di luar dengan aman.
Sesaat, Abel berhenti di pos satpam untuk meminta tolong.
“Pak.” Tegurnya berbisik.
“Bisa tolongin saya carikan taksi, Pak?”
“Boleh. Sebentar saya carikan.”
Kurang lebih lima menit menunggu di pos satpam dengan jantung berdebar keras tak menentu dan perasaan kacau, bahkan untuk menarik napas pun Abel seolah lupa melakukannya.
Setelah melihat satpam dan mobil taksi datang menghampirinya, Abel baru bisa mengembuskan napas panjang. Dia tampak lega. Sambil membuat tubuhnya agak merunduk dia pun berjalan ke tempat taksi, sikapnya itu memancing perhatian dua orang satpam lainnya yang berjaga. Bahkan sopir taksi pun ikut memandang bingung dirinya.
“Terserah mereka mau mikir apa. Yang penting gue bisa pergi dari sini.”Ucap Abel dengan suara tertahan di dalam mulutnya yang terkatup. Begitu satpam tadi datang menghampirinya, dikeluarkannya selembar uang, lantas diberikan pada satpam yang ditugaskan olehnya barusan.
“Tolong kasih tau dokter Ibram, saya ambil kameranya. Udah itu aja. Terima kasih, Pak.” Kata Abel pelan untuk terakhir kali kepada satpam tersebut, lalu masuk ke dalam taksi.
***
Abel memilih menginap di sebuah hotel malam ini, besok pagi kira-kira jam tujuh dia akan langsung meninggalkan hotel tersebut menuju dermaga kapal Marina Ancol, kemudian menyewa speed boat ke lokasi tujuannya, yakni wisata kepulauan Seribu, yang jaraknya mungkin dapat memakan waktu satu setengah atau sampai dua jam naik kapal dari Jakarta.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam kamar hotel yang disewa, Abel membaringkan diri di atas kasur dan mendesah lega. Akhirnya dia berhasil melalui hari yang dia pikir begitu lelah dan panjang. Cukup lama dia berbaring di atas kasur, sebuah jam dinding menunjukkan angka lima lewat tiga puluh menit, membuat Abel akhirnya beranjak untuk membersihkan diri.
Tiga puluh menit kemudian, Abel membuka pintu kamar hotel penghubung dengan balkon, dia pun seketika merasakan dinginnya angin kencang menerpa dirinya, yang hanya mengenakan oversized sweatshirt dan hot pants putih. Kedua tangannya diletakkan pada pembatas besi balkon dan memandang pada lampu-lampu perkotaan dan gedung bertingkat khas kota besar.
“Ternyata Jakarta secantik ini. Apalagi diliat pas malam hari dan dari tempat tinggi kayak gini.”
Seketika Abel menarik napas dan mengembuskannya keras, seolah melepas beban bertubi-tubi yang sedang dihadapinya. Ingatannya kembali pada situasinya saat bersama Ray beberapa saat lalu. Laki-laki itu begitu keras dan begitu memaksa. Sosok berbeda dengan Ray yang dia kenal selama ini. Hanya saja bukannya bahagia, justru semua itu membuatnya merasa takut tadi. Tetapi, dia pun tidak bisa membohongi dirinya, karena hatinya masih milik laki-laki itu seutuhnya.
Abel memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya pada sisi kanan dan kirinya lebar-lebar. Dia menghirup dinginnya udara pada malam itu.
“Tolong bantu aku melupakan dia.” Abel sedang membicarakan dirinya sendiri. Sebuah jerit dari hatinya yang terdalam diucapkan tanpa suara.
Air matanya jatuh perlahan melalui kedua sudut matanya. Ditekannya mati-matian rasa perih yang menguap dalam dadanya. Ditelannya tangis dalam tenggorokan yang akan pecah sekeras-kerasnya. Direkatnya kuat-kuat kesepuluh jarinya hingga memutih. Seluruh perhatian yang diberi dan rasakan selama ini terasa sia-sia. Betapa bodohnya dia selalu menunjukkan gamblang perasaannya, namun akhirnya meninggalkan jejak sakit dalam dirinya.
Rintik-rintik hujan pun tiba-tiba Abel rasakan mengenai wajahnya, sehingga membuat dia harus melepas diri dari alam yang sedang menyambut suasana mendung dalam hatinya. Barusan itu masih belum cukup, itu bahkan belum sampai separuh beban di hatinya lepas.
Abel pun lekas masuk ke dalam kamar hotel kembali dan menutup rapat pintu serta gorden sepenuhnya.
Tak sengaja dilihatnya ponsel yang dia letakkan bersebelahan dengan sling bag miliknya. Tiba-tiba, dia ingat dengan mamanya.
“Halo, Ma.”
“Abel. Kamu ini kemana aja? Abis pulang dari rumah sakit Mama telepon tapi nggak bisa-bisa. Mama nggak tenang kamu buat. Sebenarnya kamu di mana? Lagi apa? HP juga nggak diaktifkan.” Mama Abel langsung melayangkan protes. Terdengar jelas kecemasan mamanya dari suara lembut itu.
“Maaf, Ma. Nomor lama udah Abel buang. Abel pake nomor ini sekarang. Cuma Mama, papa sama Abel yang baru tau. Abel nggak mau ada orang luar lagi yang tau.”
Mamanya langsung paham kemana arah pembicaraan yang dimaksud putrinya. Hanya karena dua keluarga yang ingin menyatukan putra serta putri masing-masing, putrinya sendiri jadi menderita. Dengan ditambah sikap dan perhatian kedua keluarga tersebut, seolah sengaja mengabaikan putrinya. Putrinya yang begitu lugu, manis, dan naif di hadapan semuanya.
“Yaudah nanti Mama kasih tau papa. Tapi janji sama Mama, kamu harus baik-baik?”
“Hmm. Abel baik, Ma. Pokoknya Abel pengin sendiri sementara.” Abel meyakinkan mamanya.
“Sama dokter Ibram, kan?” selidik mamanya.
“Kayaknya, Ma. Soalnya Abel lagi nggak bareng dokter Ibram sekarang.”
“Kenapa bisa nggak bareng? Lebih aman kan ada yang jaga kamu.”
Abel mengangguk membenarkan.“Dokter Ibram masih sibuk, Ma. Makanya Abel sendirian. Liat besok aja.”
“Ooh iya-iya Mama lupa. Yaudah nggak pa-pa orang kerja mau dibilang apa?”
Senyum Abel langsung tercetak jelas. “Mama tuh kayaknya suka banget sama dokter Ibram. Mama langsung percaya sama dokter Ibram buat jagain Abel. Kita kan baru kenal dia.”
“Jiwa dokter itu lembut. Makanya Mama suka dan percaya sama dokter Ibram.”Jawab mamanya terdengar begitu percaya dengan sosok Ibram.
Sejak pertama kenal sebagai salah satu dokter putrinya, mama Abel sangat kagum dengan sikap telaten serta cekatan dari Ibram dalam memperlakukan Abel sebagai pasien. Mama Abel seolah merasa Ibram tidak sedang menjaga pasien, melainkan kekasih. Pernah tak sengaja, mama Abel menyaksikan Ibram seperti berbisik di telinga Abel saat kesadaran putrinya belum kembali. Entah apa. Sayangnya, mama Abel tidak dapat mendengarnya saat itu.
Suara Abel pun langsung mengembalikan pikiran mama Abel yang sedang mengingat sosok Ibram barusan.
“Mama tuh bisa aja, deh.” Meskipun begitu, Abel juga membenarkan ucapan mamanya tentang Ibram. Laki-laki itu memang memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati, sejauh dia mengenal dan menghabiskan momen bersama-sama belakangan ini. Tetapi laki-laki itu kadang terlihat misterius juga, seperti ada yang sengaja disembunyikan dari semua orang, yang Abel tidak dapat tebak, bahkan mungkin orang lain juga. Ini yang sangat ingin Abel cari tau.
“Yaudah kamu tidur sekarang. Istirahat yang cukup. Jangan lupa minum obat. Ada di dalam koper yang Mama bawa siang tadi.”Pesan mamanya.
“Iya Mama. Abel nggak lupa.”
__ADS_1
Setelah sambungan telepon Abel dan mamanya usai, Abel mematikan lampu kamar, lalu lekas membaringkan dirinya di atas kasur, bibirnya tersenyum mengingat sosok Ibram sesaat, namun rasa kantuknya mengalahkan hal itu, sehingga dia memejamkan matanya perlahan hingga terlelap sampai esok paginya.
***