Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 11 : RASA BERSALAH


__ADS_3

Ibram masuk ke dalam ruang kerjanya setelah hampir tiga jam meninggalkan Abel sendiri di sana. Begitu tiba di sana, Ibram bingung melihat keberadaan Abel tidak ada. Ibram menggeser tirai gorden dan melihat sebuah koper kecil berada di bawah brankar. Kemudian Ibram berbalik menuju pintu dan berdiri lama mencari keberadaan Abel, baik itu di sisi kanan, atau di sebelah kiri koridor depan ruangannya. Tidak ada tanda-tanda Abel.


Ibram menutup pintu ruangan kerjanya, memutuskan untuk mencari-cari keberadaan Abel sebentar pada sudut-sudut ruang yang masih dapat dia jangkau di saat waktu genting seperti ini pada jam kerjanya.


Tiba di lobi utama rumah sakit, Ibram hanya dapat berdiri di sana tanpa bisa melangkah keluar. Dia tidak bisa jika harus meninggalkan bangunan rumah sakit meskipun itu beberapa langkah, sementara daftar pasiennya masih panjang.


Benar saja. Baru Ibram hendak berbalik arah ke dalam lagi, seorang perawat sudah datang menghampirinya dengan langkah cepat. Belum berhenti di depannya, Ibram sudah melangkah lebih dulu.


“Dokter Ibram segera ke ruang anggrek dua. Pasien bernama Farhan mengalami kejang.”Perawat itu pun menjelaskan di tengah langkah kakinya menyamai Ibram di sampingnya.


***


Di waktu bersamaan dalam situasi berbeda, Ray dan Cindy buru-buru mengejar Abel dan berkali-kali mereka menyuarakan nama Abel di sepanjang trotoar. Tetapi Abel sama sekali tidak mengindahkan Ray dan Cindy. Gadis itu tidak peduli dan tetap berlari, yang paling penting dia bisa menjauh dari kedua orang di belakangnya. Sekuat tenaga Abel berlari kencang, sempat tersandung, tetapi berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya lagi.


Matanya terarah lurus ke depan ketika melihat barisan Kembang Sepatu yang sengaja dibentuk menyerupai pagar di antara beberapa pohon rindang, dalam jarak kurang lebih lima meter. Abel menoleh ke belakang sejenak, sebelum dia menambah kecepatan berlarinya untuk dapat menghilang dalam sekejap mata dari pandangan Ray dan Cindy.



Begitu waktunya tepat, Abel segera bersembunyi di balik salah satu pohon yang bersebelahan dengan dua buah bak sampah berwarna hijau dan merah. Punggungnya langsung disandarkan pada batang pohon yang kasar, dengan mata sesekali terpejam, dia menekan dadanya yang naik turun akibat sesak.


Hanya berselang beberapa detik Ray dan Cindy muncul dari arah yang sama dengannya. Abel langsung menutup mulut dan berjongkok secepat kilat, dia menyembunyikan dirinya dalam-dalam. Dia tidak akan berusaha mencoba untuk melihat keduanya, karena itu sama saja dia sengaja menunjukkan diri.


Abel menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan jam tiga lewat lima belas menit, sehingga dia memutuskan keluar dari persembunyiannya, ketika jam menunjukkan jam tiga lewat tiga puluh menit, dia akan meninggalkan pohon tersebut, karena dia yakin Ray dan Cindy pasti telah pergi jauh dalam waktu seperempat jam.



“Kenapa harus sembunyi kalo kamu menunjukkan diri.” Suara berat itu sontak membuat Abel menahan napas seketika. Dia tidak berani mengangkat wajah sama sekali untuk memastikan suara tersebut, tetapi salah satu tangannya tiba-tiba langsung ditarik dan membuatnya terpaksa angkat kaki dari balik pohon tersebut.



Ray. Laki-laki itu ada di depan Abel sekarang. Hanya dia seorang. Abel tercekat dan mematung. Tubuhnya dingin sampai tak berani menatap langsung mata Ray.


“Harus main kucing-kucingan dulu?”Ray bicara penuh tekanan dan menggenggam terlalu kuat tangan Abel.


“Aduuhh... Lepasin! Lepasin! Lepasin gue!” Abel pun berontak dari sergapan Ray mati-matian. Karena laki-laki itu menggenggam dengan paksa dan melepas dengan hentakan kuat. Tubuhnya seketika terdorong ke belakang sebelum merasakan tangan Ray menahan pinggangnya.


Kepala Ray perlahan mendekat ke sisi kanan wajah Abel.“Belakangan ini kamu menyebalkan.”Bisik Ray di telinga Abel.


“Kamu...”


Mata Ray menajam menatap tepat di manik mata Abel, seolah siap menelan Abel hidup-hidup.


“Apaan, sih? Minggir!”Abel mendorong dada Ray.


Ray kembali mendorong Abel. “Sembunyi di rumah sakit? Kamu pikir kami bodoh?”Ray menggeleng seakan mengejek.“Kamu lari dengan seorang dokter, kemana lagi kalian pergi? Selain ke rumah sakit yang sama tempat kamu pernah dirawat?” kata Ray tajam.


Abel menelan salivanya seketika tanpa sadar.


“Tapi nggak tau kenapa? Tiba-tiba aku merasa terhibur sama tingkah kamu belakangan ini.”


“Emang... Kenapa? Urusan lo sama gue apa, sih?” Abel bersuara dengan susunan kata tak tentu. Gadis itu sedang menekan rasa takutnya mati-matian, tetapi gemetar tubuhnya tetap dapat dirasakan oleh Ray.


Ray merasa terhibur menyaksikan rasa takut yang tergambar jelas dalam diri Abel saat ini.


Tiba-tiba Ray kembali menarik pergelangan tangan Abel lagi secara paksa, Ray menarik Abel untuk pergi dari sana. Cara kasar Ray itu nyaris membuat Abel terhuyung jatuh, tetapi Ray langsung sigap menahan tubuh Abel, agar dapat seimbang dengan dirinya selama melangkah di sepanjang. Keduanya melalui trotoar sampai akhirnya tiba lagi di depan minimarket tadi. Setelah itu tangan Ray tiba-tiba dihempaskan dengan kuat oleh Abel.


“ABEL!!!”


“LEPASIN GUE! LEPASIIINN!!!” Abel berteriak habis-habisan hingga mencuri perhatian orang di sekeliling mereka.



“APA-APAAN KAMU?!!!”suara Ray tak kalah kencang hingga membuat Abel bungkam seketika. Wajah laki-laki itu mengeras menatap Abel lurus-lurus, yang terlonjak ketakutan hingga mundur selangkah.“Kamu pergi sama laki-laki asing. Seseorang yang baru kamu kenal. Di mana rasa takut kamu? Sebagai perempuan.”Kata Ray dengan gigi gemeletuk hingga rahangnya bergerak keras dengan begitu jelas.



Abel sempat terdiam, sebelum bereaksi pedas.“Oya? Gue justru lebih takut sama lo, tuh sekarang! Jujur gue takut. Lo udah kayak monster!” balas Abel dengan suara membentak.


__ADS_1


Ray tertegun mendengar kalimat Abel barusan. Cukup lama dia bungkam. Lalu dia menghela napas berat, tetap ingin membuat Abel percaya padanya. Namun suaranya sudah lebih rendah dari sebelumnya. Dia sadar, sikapnya sudah membuat Abel merasa tertekan. Lantas, dia pun bergerak lebih maju, meletakkan kedua tangannya di atas bahu Abel dan menatap dalam tepat di manik gadis itu. Sorot matanya berubah lembut.


“Aku khawatir sama kamu. Aku tulus khawatir.” Ray berujar sungguh-sungguh.


Bibir Abel melengkung miring seolah mengejek kalimat Ray barusan.“Gue bukan orang istimewa yang harus lo khawatirkan. Kenapa harus repot-repot khawatir segala sama gue? Lepas!”Abel mundur dan menghempaskan tangan Ray dari bahunya.



“Harus orang istimewa yang dikhawatirkan?”



Abel mengangguk keras.“Selain keluarga tentunya. Bisa juga teman, sahabat, yang pasti kekasih. Dan gue bukan bagian itu semua di hidup lo. Paham, kan?”



“Kamu marah. Kamu masih belum bisa terima hubungan kami. Iya, kan?”tanya Ray telak membuat Abel bungkam. Ray tersenyum miring puas karena dugaannya tidak meleset.“Cindy bilang, dia bisa aja mengorbankan perasaannya buat kamu. Asal kamu bahagia. Dia lega.”


“Masa? Dia yakin sama ucapannya? Nanti kejadian, lho. Dia akhirnya nangis darah.”Abel bereaksi sinis.


Ray tersenyum geli menyaksikan sikap Abel yang berubah tajam sejak hubungannya dengan Cindy mencuat ke permukaan.


“Seandainya aku setuju? Aku tinggalin Cindy demi kamu.”


Abel bungkam seketika. Dia tidak menduga reaksi Ray yang santai menanggapinya.“Gila kamu!”Abel berbalik hendak pergi namun tangannya ditahan cepat oleh Ray lagi.“Apaan, sih?! Lepasin, nggak!”gadis itu kesal.


“Kamu pikir aku becanda?”


“Maksud kalian gue dikasihanin gitu? Semacam mau terima gue atas permintaan Cindy? Gue kok menyedihkan amat ya di mata lo berdua.”Abel semakin tidak terima dengan keputusan Ray dan Cindy yang dianggapnya gila.“Kalo pun lo datang ke gue, sekalipun itu ada sangkut-pautnya sama perasaan lo ke gue. Jangan harap itu terjadi, pasti gue tolak lo mentah-mentah.”



Ray maju selangkah.“Oya? Kamu yakin?”


Sikap Ray sontak membuat Abel refleks mundur merasa gugup. Dia masih saja belum bisa mengendalikan dengan baik perasaannya untuk Ray.



“Kamu kayak nggak yakin, Bel?” kata Ray seolah mengejek.



Telunjuk Abel langsung mengarah pada Ray.“Jaga jarak dari gue.”



“Kenapa?” Ray menyahut tenang. Dia senang menyaksikan Abel panik.



“Gue bilang diam di tempat lo!!!” jerit Abel.



Tiba-tiba satu tangannya sudah ditangkup Ray, hingga membuatnya terpekik seketika dan detik selanjutnya Ray malah menarik paksa dirinya untuk masuk ke dalam mobil laki-laki itu.



“Aku antar kamu pulang sekarang.”



“Apa?! Lepasin! Gue nggak mau!”Abel berusaha melepas diri namun usahanya sia-sia. Pintu mobil Ray sudah tertutup rapat.


Sementara Ray tidak pedulikan bantahan Abel, laki-laki itu langsung memutar dari bagian depan mobil dengan cepat dan menyusul masuk ke dalamnya. Ray duduk pada kursi kemudi. Ditatapnya gadis itu sesaat.“Cindy masih di sekitar tempat ini. Aku bilang, kalo dia nggak berhasil ketemu sama kamu, aku persilakan dia pulang pakai taksi. Menurut kamu kenapa? Tebak, dong. Nggak seru kalo kamu nggak tau.”


“Terserah!”


“Kamu pasti kaget kalo aku kasih tau.”Ray merapat dengan bicara dengan suara bisikan. “Aku tau kamu sembunyi di sana.” Ucapnya dengan tenang dan sontak memaksa mata Abel membulat menatapnya seketika.

__ADS_1


“Lo gila ya.” Balas Abel dengan suara pelan. Sulit percaya dengan ulah Ray kepada Cindy sudah kelewatan.



Ray tersenyum miring. “Aku gila gara-gara kamu belakangan ini.”


“Cindy itu sepupu gue. Dia juga calon tunangan lo. Apa lo nggak pikirin perasaan dia? Seandainya dia tau yang sebenarnya.”


“Kayaknya aku nggak suka liat kamu akrab sama laki-laki lain.”


Abel membisu seketika menatap laki-laki yang tidak dapat dia paham wataknya sekarang. Merasa kesal, Abel berniat keluar dari mobil, namun yang terjadi adalah pintu di sampingnya sudah terkunci otomatis dibuat Ray. Gadis itu pun menatap Ray seolah tidak percaya dengan yang baru saja dilakukan laki-laki itu.



“Buka pintunya.” Kata Abel penuh tekanan.



“Aku nggak mau kamu kabur.” Ray menyahut tenang, lalu mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun perlahan berubah menjadi tinggi setelah mobil keluar dari area parkir minimarket. Membuat Abel langsung mencari pegangan kuat menahan tubuhnya.



“Kak Ray! Jangan macem-macem! Jangan pikir gue takut lompat dari mobil ini, ya?” ancam Abel seketika.



Ray pun menginjak rem mendadak mendengar ancaman Abel barusan. Sebelum tubuh gadis itu terhempas cepat ke depan, Ray langsung menahannya, membuat tatapan keduanya beradu dan menciptakan atmosfer tidak biasa dalam diri Abel. Gadis itu langsung mendorong Ray agar menjauh cepat dari dirinya. Dia merasa tidak nyaman. Terutama perasaannya.



“Kenapa? Kamu suka tantangan, kan? Aku tau kamu suka sama petualangan belakangan ini.” Lantas Ray mendekatkan bibirnya di telinga Abel.“Jangan lupa. Aku salah satu orang yang paling kenal sama kamu, Bel.”



Abel kembali mendorong Ray. “Jaga jarak dari gue.” Kata gadis itu tanpa berani menatap Ray.



Ray malah menahan tubuh Abel, Ray seolah sengaja membunuh jarak di antara mereka. Membuat Abel menahan napasnya ketika merasakan laki-laki itu kian dekat ke wajahnya. Abel pun menunduk cepat, sehingga membuat rambutnya yang tergerai jadi sedikit bergeser ke depan menutup sebagian wajahnya. Abel tau tujuan laki-laki itu kemana, tetapi dia menolaknya. Meskipun dia sangat menginginkannya. Hanya saja, hatinya yang tidak sanggup berkhianat pada Cindy.



Ray tampak geram menyaksikan penolakan Abel. Lalu, dengan perasaan kesal, Ray tetap mengunci Abel dengan ucapannya.“Kamu nggak bisa mencintai laki-laki lain, selain aku.” Bisik Ray dengan nada puas.


Abel tetap memilih menolak bersuara.


Ray masih tetap tidak puas. Dia menatap lekat-lekat wajah sisi kanan Abel, sebab gadis itu tetap menolak balas menatapnya. Hal itu memancing amarahnya. Ray kembali mengikis jarak yang tercipta antara wajahnya dengan Abel, pandangan Ray turun berpindah pada sepasang bibir mungil milik Abel yang mengatup rapat. Membuat Ray mengubah posisi kepalanya untuk dapat mendekatkan bibirnya dengan bibir Abel. Namun usaha Ray itu justru berakhir dengan bibirnya yang bertemu dengan pipi Abel ketika Abel menghindar dengan cepat dari Ray.


Sebuah senyum miring tercetak di bibirnya atas penolakan itu lagi.


“Tolong buka pintunya. Gue mau keluar.” Pinta Abel pelan.



“Aku nggak bisa.”Tolak Ray.



“Buka! Buka! Bukaaaa!!!”Abel menjerit kencang.



Sebelah alis Ray bergerak seakan mengejek Abel. Laki-laki itu bergeming tetap menatap Abel tenang. Abel lekas mendorong Ray dan mengambil kesempatan itu untuk membuka kunci serta pintu di sampingnya secara otomatis, lalu segera keluar dan berlari menjauh dari mobil laki-laki itu. Saat menoleh melihat Ray juga hendak mengejarnya di belakang, Abel lekas menyeberang jalan dan menghentikan taksi pertama yang dilihatnya.



“Buruan jalan Pak!”


***

__ADS_1


__ADS_2