Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 4 : SURPRISE YANG MENGESANKAN


__ADS_3

“Dokter Surya Brata Baskoro namanya.” Kata mamanya sambil mencari-cari ruangan dokter yang sebutkan.


Jam sepuluh pagi. Abel dan mamanya langsung meluncur menuju rumah sakit sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh rumah sakit untuk melakukan check up. Keduanya lekas menuju lantai tiga setelah menerima petunjuk dari suster, ruang yang harus mereka datangi.



“Dia dokter yang operasi Abel waktu itu, Ma?”



“Iya. Dokter Surya juga yang ambil kendali atas kamu selama check up.”



Abel manggut-manggut. “Ooh.” Pandangannya kembali melihat papan nama di tiap pintu pada sisi kanan dan kirinya.



“Bel, ini ruangannya.” Kata mamanya setelah berhasil menemukan pintu dengan papan nama dokter tersebut.



Tak seberapa lama seorang suster datang mendekat pada Abel serta mamanya. Suster itu pun meminta keduanya untuk masuk ke dalam ruangan, mengikut dirinya di depan. Setelah mengetuk dan terdengar respons dari dalam, ketiganya lekas masuk. Seorang dokter paruh baya menyambut Abel dan mamanya di ruang tersebut, keduanya duduk di seberang meja dokter dengan suster yang jadi pendamping.



Dokter Surya dan Abel serta mamanya bicara cukup panjang menyampaikan perkembangan kesehatan sejak meninggalkan rumah sakit. Kemudian dokter Surya meminta Abel dan mamanya keluar ruangannya menuju ruangan lain untuk melakukan tes menggunakan alat medis. Sebelum itu, Abel diminta untuk mengganti pakaian pasien.



“Sus, masih lama nggak?” tanya Abel setelah selesai mengganti pakaiannya.



Suster itu mengangguk dan tersenyum patuh, bukan pada Abel untuk merespons ucapannya, melainkan pada dokter yang telah siap menunggu di belakang Abel saat ini.



“Suster, bawa semua berkasnya.”



“Baik, Dok.”



Sadar, melihat perhatian suster bukan tertuju padanya, Abel pun berbalik melihat seseorang yang berada di belakangnya, sayangnya Abel terlambat, karena orang tersebut telah berbalik menghadap sebaliknya.



“Itu dokternya, Sus?” tanya Abel heran. Karena dokter yang berada dalam ruangan sama dengannya saat ini, berbeda dengan dokter Surya, meskipun itu dilihat hanya dari belakang. Dokter ini tampak lebih tinggi dan tegap, suaranya juga terdengar masih muda.



“Benar. Dokter Surya hanya mencantumkan nama dan pengawas karena beliau dokter besar di rumah sakit ini. Beliau juga yang bantu selama check up dengan dokter Ibram.”



“Ooh.” Abel manggut-manggut. Masih mengamati dokter yang bernama Ibram itu.



Pada saat Abel berhasil berhadap-hadapan dengan dokter bernama Ibram itu, Abel sangat menyayangkan karena dokter Ibram telah menggunakan masker. Abel jadi gemas sendiri sekarang. Di saat ada kesempatan, tetapi kesempatan itu tidak tepat.



Selama satu jam itu, ada dua orang dokter melakukan tes menggunakan alat medis pada Abel. Salah satunya dokter bernama Ibram. Tetap bergeming, Abel tak lepas menatap dokter Ibram yang begitu fokus padanya, yang lebih disayangkannya kembali, karena yang bisa dia lihat saat ini adalah kedua alis dan mata hitam pekat di wajah tersebut. Abel sangat ingin menyampaikan perasaannya supaya dokter Ibram membuka masker sekarang juga.



Setelah selesai melakukan semua serangkaian prosedur check up, Abel diminta mengganti pakaiannya lagi lalu menunggu sampai hasilnya keluar di lobi rumah sakit. Keduanya akan diminta kembali ke ruang dokter Surya setelah hasilnya diterima dari lab satu jam kemudian.



“Bukan dokter Surya di dalam tadi, Ma.” Kata Abel tampak heboh pada mamanya. Keduanya baru saja berada di lobi rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan keluar.


__ADS_1


“Memang bukan.” Mamanya malah merespons santai, seolah sudah tahu fakta itu.



“Mama udah tau?” Abel terkejut mendengar ucapan mamanya.



Mama Abel menatap Abel. “Dokter Ibram kan?” mamanya mengangguk-angguk membenarkan sorot mata putrinya. “Dokter Surya dan dokter Ibram adalah dua dokter berjasa di ruang operasi kamu hari itu.”



Abel masih sulit mencerna ucapan mamanya. “Tapi... selama dirawat di rumah sakit, Abel nggak pernah lihat dokter Ibram masuk ruang rawat, selalu dokter Surya sama asistennya.” Katanya heran.



“Ada-ada. Kamu belum siuman waktu itu.”



“Ooh.” Abel manggut-manggut. Dia kembali berpikir, kedua matanya bahkan menyipit. “Terus pas Abel siuman diganti dokter Surya?”



Mamanya tersenyum menatapnya. “Ada dokter Ibram juga.”



Membuat Abel bergeming, tak bisa lagi mengatakan apapun, karena dia benar-benar tidak ingat kapan dokter Ibram masuk ke dalam ruang rawat inapnya saat-saat itu.



“Dokter Ibram permisi.”



Satu suara dari sudut lain membuat Abel memalingkan wajah seketika. Saat sepasang bola matanya berhasil melihat dua orang laki-laki tak jauh di dekatnya sedang bicara. Sontak saja Abel menutup mulutnya seakan masih sulit percaya bahwa pemandangan yang dilihatnya saat ini tentang sosok dokter Ibram.



Ada seorang laki-laki mengenakan jas putih dan pria paruh baya asing berkaos coklat garis-garis, tampak serius bicara saling berhadap-hadapan. Alasan kuat yang membuatnya tercengang adalah sosok yang mengenakan jas putih tersebut. Dokter Ibram. Laki-laki pemilik kamera yang pernah bertemu dengannya di bengkel Hugo. Mendadak menegangkan seluruh otot dan sendi dalam tubuhnya dalam sekejap.



***


Abel meremas ujung pakaiannya tanpa sadar selama duduk menunggu bersama mamanya di ruang dokter Surya. Abel menunduk dalam dan begitu resah karena dalam hitungan menit, bisa saja detik, hasil pemeriksaan kesehatannya sampai. Entah siapa yang akan membawa masuk ke dalam ruang tersebut, Suster? Dokter Surya kah? Atau dokter Ibram.



Terdengar suara pintu di belakangnya didorong. Abel menahan napas mendengar langkah kaki yang semakin dekat itu, perlahan dia mengangkat wajah dan setelah pandangannya beradu dengan dokter di depannya. Abel membeku.



Dokter Ibram. Minus maskernya. Lantas segalanya terasa lepas, menjawab rasa penasaran dan puas Abel. Akhirnya memperlihatkan dan meyakinkan Abel bahwa dokter Ibram adalah orang yang sama dengan sosok yang bertemu dengannya di bengkel Hugo. Laki-laki itu tersenyum ramah pada mamanya dan duduk pada singgasana milik dokter Surya.



“Gimana perkembangan Abel, Dok?” tanya mamanya tampak harap-harap cemas.



Dokter Ibram begitu lembut dengan sorot mata hitamnya yang hangat memberikan dan menjelaskan hasil laboratorium kesehatan Abel secara jelas. Bahkan Abel yang merasa telinganya tak lagi berfungsi dengan baik, masih dapat menangkap samar-samar sedikit hasil dari kesehatannya tersebut dari dokter Ibram.



Sekarang akhirnya Abel sadar, alasan dokter Ibram menyinggung kesehatan dan obatnya saat di bengkel Hugo waktu itu. Karena dokter Ibram adalah dokternya selama di rumah sakit. Dokter Ibram yang telah mengenalnya lebih dulu sebelum dia mengenal dokter tersebut.



“Saya lega, Dok. Syukur. Terima kasih. Berkat kerja keras dokter Surya dan dokter Ibram, Abel sembuh.” Mama Abel begitu senang setelah mendengar kabar baik yang diterangkan dokter Ibram.



Abel masih bergeming, dia baru sadar setelah merasakan sentuhan dari mamanya di tangan. Mamanya langsung memberi isyarat padanya untuk mengatakan rasa ‘terima kasih’ dan ‘senang’.


__ADS_1


“Oh... iya. Terima kasih, Dok.” Ucap Abel kikuk.



“Sama-sama... Adinda Abelia.”



Abel tersenyum mendengar nama lengkapnya disebut dokter Ibram. Lalu Abel dan mamanya pun keluar ruangan tersebut, masih bergeming, sibuk dalam pikirannya, tetapi baru meninggalkan beberapa langkah ruang dokter, langkah kaki Abel mendadak berhenti, membuat mamanya heran dengan sorot mata tanya.



“Mama duluan aja ke parkiran. Abel sebentar aja kok. Oke?” gadis itu mengangguk lantas buru-buru kembali menuju ruang dokter Surya. Tak lagi dihiraukannya kesopanan, Abel langsung membuka pintu ruangan tersebut, memperlihatkan dokter Ibram yang sedang bicara serius dengan suster.



Perhatian dokter Ibram dan suster pun langsung berpindah, memandang ke arah pintu datangnya Abel kembali. Sementara di tempatnya, Abel melihat dokter Ibram kembali bicara dengan suster, hanya lima detik, suster itu pun keluar, ganti meminta Abel untuk masuk.



“Maaf, Dok. Saya lancang.” Sesal Abel kikuk.



“Ada yang bisa saya bantu... Adinda Abelia?”



Abel tersenyum lagi mendengar nama lengkapnya disebut dokter Ibram. “Cukup Abel, Dok.” Katanya memberitahu.



Dokter Ibram mengangguk. “Rasanya orang asing seperti saya belum pantas sebut nama keseharian kamu.”



Abel melangkah perlahan, mendekat. “Sekarang kan udah tau. Jangan lagi sebut nama lengkap saya, Dok.” Pintanya sungguh-sungguh.



“Oke.” Dokter Ibram menerima permintaan Abel.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya mengulang pertanyaan sebelumnya.


“Oh!” Abel mengangguk seakan teringat tujuannya datang kembali. “Dokter Ibram kenal sama bang Hugo juga?” tanyanya penasaran.



“Iya.” Jawab dokter Ibram.



Mata Abel melebar. “Oya? Kapan? Di mana?”



“Kapan kira-kira.” Dokter Ibram mengingat-ingat. Matanya bahkan turut menyipit. “Awal kelas XI SMA.”



“Ooh pantas aja akrab.” Abel manggut-manggut. “Yaudah saya penasaran tanya itu aja, Dok. Terima kasih waktunya. Maaf kalau sebelumnya ganggu.”



“Oke.”



“Permisi.”Abel melangkah mundur ke belakang secara perlahan tanpa melepas pandangannya dari dokter Ibram.



“Hati-hati. Di belakang kamu ada pintu.” Dokter Ibram mengingatkan.



Masih dalam posisi sama, tangan Abel memutar handle pintu, lalu keluar bersamaan sebuah lekuk senyum di bibirnya.

__ADS_1


***


__ADS_2